Wednesday, 2 November 2011
Dua Kunci Sukses
Friday, 7 October 2011
FF Perjuangan -Secangkir Kopi
Tak..tak...tak...tak...
Suara itu masih saja terddengar jelas di telingaku. Kulirik jam yang tegantung di tembok. Aih sudah lewat jam 2 pagi, masih saja kamar ini dipenuhi suara-suara itu.
Aku beranjak, tak enak juga rasanya mendengar suara tak-tak-tak itu, sementara aku lelap tertidur. Kubuka kamar, lalu melangkah menuju dapur. Kuintip senyapnya kota lewat jendela dapur. Sepertinya hanya sedikit perbedaan suasana antara siang dan dini hari. Sangat berbeda dengan perbedaan suasana Jakarta di siang dan dini hari, batinku dalam hati.
Aku bergegas mengisi air dalam ceret listrikku. Hanya mengisinya setengah penuh lalu meletakkannya di atas besi berbentuk lingkaran. Kutekan tombol on pada ceret listrikku itu.
Brsss....brsss..... suara air mulai menunjukkan titik didihnya. Kubuka lemari dekat kulkas, mengambil sesachet kopi lalu menuangnya ke dalam cangkir hijau bergagang. Tak lama kemudian tombol di ceret listrik berbunyi, tanda sang air sudah sampai pada puncak titik didihnya.
Kutuang air mendidih tersebut ke dalam cangkir, mengaduknya dan langsung membawanya kamar.
"Sudah hampir seminggu seperti ini"
"Maaf ya sayang, namanya juga kuli di negeri orang, jadi harus perform yang bagus", kata laki-laki dihadapanku, "Makasih ya karena udah selalu support aku, hehe", sambungnya nyengir, tangannya lalu meraih cangkir yang aku sodorkan.
Kutatap laki-laki di hadapanku ini. Ah ya... yang namanya hidup, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang memang butuh perjuangan. Dan salah satu bentuk kecil perjuanganku adalah dengan membuatkan secangkir kopi kepada laki-laki di hadapanku, yang tengah berjuang ini.
Thursday, 29 September 2011
Pengalaman Diinterogasi
Jadi ceritanya sodara-sodara, saya dan suami pernah "digiring" untuk disidang saat berniat memasuki kembali wilayah singapur.
Begini ceritanya, ramadhan kemarin, saya dan suami masih memakai visit pass untuk tinggal di Singapur karena kebetulan saat itu suami berhenti kerja dan sedang dalam proses mencari kerja. Visit Pass ini cuma berlaku selama 30 hari. Jadi, waktu itu ceritanya visit pass kami habis.
Pergilah kami menuju rumah seorang family yang ada di Johor Bahru, tepatnya di daerah Sri Pulai. Kami hanya bermalam sehari di sana. Saat keluar singapur dan masuk malaysia-nya gak ada masalah. Tapi saat keesokan harinya waktu mau masuk singapur, petugas imigrasi singapur bertanya-tanya pada a' delta karena sudah lebih dari 2 kali menggunakan visit pass. Aa' pun menjelaskan bahwa saat ini ia sedang dalam proses mencari kerja.
Ketatnya prosedur masuk dari wilayah Johor ini membuat petugas tersebut tidak serta merta memberikan cap izin tinggal selama 30 hari. Saya yang waktu itu berada di belakang A' Delta udah deg-degan gak karuan. Takut banget kalo emang ternyata kami gak boleh masuk dan diharuskan pulang ke Indo saat itu juga. Saya mikir, gimana nasib barang-barang kami yang ada di flat.
Tapi ternyata kami malah diminta untuk mengikuti salah satu petugas menuju ruang "sidang". Saya yang baru sebulan di Singapur jelas bukan main takutnya. Tiba-tiba terbersit suasana interogasi seperti di film-film itu (ahahaha, terkonstruksi sama media ini mah :p). Dan memang penjagaan super lapis membuat saya bener-bener jiper saat itu. Terlebih saya khawatir dengan kendala bahasa karena english saya yang masih amburadul.
Kami memasuki sebuah ruangan dengan keamanan berlapis. Saat masuk ke ruangan tersebut, sang petugas harus menggesek kartu acsess card terlebih dahulu, persis seperti yang saya lihat di film-film (sumpaaah, hal ini semakin menakutkan saya
Ruangan tersebut lumayan "ramai". Saya dan A' Delta duduk di bangku baris kedua dari depan. "Abang tunggu di sini ya...", kata petugas tersebut.
Saya dan A' Delta pun duduk. Berkali-kali saya bertanya sama A' Delta perihal yang akan ditanyakan di dalam ruangan tersebut. Saya berusaha menghafal alasan yang akan diutarakan dengan english *maklum, english saya kan jelek.
A' Delta menyuruh saya tenang, "Mendingan Al-Matsuratan aja, Sayang... biar gak deg-degan", begitu katanya. Saya pun nurut dan mulai melafalkan Al-Matsurat.
Dan tibalah giliran A' Delta dipanggil untuk masuk ruang interogasi. Saya menunggu di luar dengan perasaan was-was dan deg-degan yang menghebat.
Tak berapa lama kemudian, A' Delta pun keluar, dan seorang petugas wanita chinese memanggil nama saya, "Puti Ayu Setiani".
A' Delta menatap saya, "Tenang dek, pake bahasa Indonesia aja, ada yang bisa bahasa melayu ko".
Degup jantung saya menghebat. Saya pun memasuki sebuah ruangan kecil. Ruangan itu terdiri dari satu lemari, meja, komputer dan dua kursi, satu kursi penginterogasi, dan satu lagi kursi "terdakwa".
Seorang petugas yang duduk di kursi menanyakan nama saya, "Puti Ayu Setiani?". "Yes", jawab saya singkat.
"Ini sapa?", tanyanya sambil menunjukkan paspor A' Delta.
"My Husband", jawab saya dalam english (jieee
Lalu petugas perempuan yang mengantar saya tadi ikut bertanya
Lalu petugas yang di kursi kembali bertanya kepada saya, "Suami lalu kerja di singapuur?", "Yes at Accenture", kata saya. "Ok, Finish".
Saya sempat bengong, eh udah gini doank? (ahahaha, belagu!). Dan saya pun diminta kembali mengikuti nona chinese ke luar ruangan.
Betapa leganya saya ketika bertemu Aa' di luar ruangan. "Gak susah kan?", tanya suami saya. Saya cuma nyengir kuda.
Saya dan suami masih deg-degan akan hasil keputusannya, apakah kami dibolehkan masuk singapur atau justru kami harus balik ke Indo saat itu juga. Tak berapa lama kemudian paspor kami pun tengah di proses di
Saya pikir acara interogasinya sudah selesai, tapi ternyata di bagian tsb (
Alhamdulillllah............. Saya bersyukur dalam hati karena sebenernya saya lupa nomer flat kami, hihihi (harusnya saya bilang 650 B #9 260).
Beberapa detik kemudian sang petugas membubuhkan cap izin tinggal selama 30 hari. Alhamdulillah....................
Dan kami pun keluar ruangan tersebut dengan perasaan lega luar biasaaaaaaaa. Saat keluar ruangan itu, juga ada 2 orang abang lainnya. Yang satu diperbolehkan masuk singapur, tapi yang satu lagi harus balik pulang ke Johor.
Kejadian itu betul-betul pengalaman yang tidak akan terlupakan. Hehehe. Dan ternyata, ruang interogasi imigrasi singapur gak seseram apa yang saya bayangin. Kalo kata A' Delta, niat kita kan baik (untuk kerja di singapur), jadi gak usah takut.
Yaa...betul.Selama niat kita baik dan di jalur yang benar, maka pikiran negatif bagaikan benalu di dalam hati, cuma bikin cemas luar biasa aja maksudnya

[Batam FF Rindu - Panggilan Rindu]
Hari 1
Kembali kulihat layar HP. Tak ada tanda-tanda masuknya pesan ataupun panggilan. Ah sayang, sibukkah dirimu dengan kehidupan di negeri sana? Sampai-sampai kau lupa memberi kabar padaku?
Hari 2
Dia masih juga belum menghubungiku. Setelah berpisah jarak selama empat tahun, kini ia kembali meninggalkanku dalam bentangan jarak ribuan kilometer. Sedang apa ya ia disana? Betahkah ia ditempat barunya?
Hari 3
Aku masih saja menunggu kabar darinya. Tak bosan-bosannya aku menatap layar HP Samsung seri lamaku. Dahulu aku merasa bisa dengan ikhlas melepasnya jauh dari pelukanku, tapi nyatanya…. Ah, aku memang sangat mencintainya.
Hari ke 6
Hari ini weekend, hari dimana seharusnya ia punya waktu luang lebih untuk menelponku. Atau..atau… dia sudah melupakanku ya? Aku menatap langit dan berbicara pada Tuhan, “Allah, semoga ia masih menyimpanku dalam hatinya”. Baru saja aku membatin, tiba-tiba sebuah nomor asing masuk ke layar HPku,
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumSalam, Ibu…. Apa kabar? Maaf ya baru bisa nelpon sekarang. Kemarin riweh beberes rumah dan ngurus beberapa dokumen izin di sini. Terus baru sempet beli pulsa telpon, Bu. Jadinya baru bisa nelpon Ibu deh. Kemarin Dinda kirim sms, tapi keknya nyasar karena lupa pake nomer kode Negara, hehe… Ibu sehat kan? Dinda sama Mas Alhamdulillah sehat di sini………”
Aih, betapa bahagianya mendengar suaramu, Dinda, putri semata wayangku. Ah, nak rasanya baru kemarin aku mentitahmu dan sekarang aku harus bisa merelakanmu untuk berbakti kepada orang lain di sebuah negeri nan jauh di sana.
Duhai Allah, jagalah selalu buah hatiku di manapun ia berada.
Info lomba bisa dilihat di sini.
[Batam FF Rindu - Panggilan Rindu]
Hari 1
Kembali kulihat layar HP. Tak ada tanda-tanda masuknya pesan ataupun panggilan. Ah sayang, sibukkah dirimu dengan kehidupan di negeri sana? Sampai-sampai kau lupa memberi kabar padaku?
Hari 2
Dia masih juga belum menghubungiku. Setelah berpisah jarak selama empat tahun, kini ia kembali meninggalkanku dalam bentangan jarak ribuan kilometer. Sedang apa ya ia disana? Betahkah ia ditempat barunya?
Hari 3
Aku masih saja menunggu kabar darinya. Tak bosan-bosannya aku menatap layar HP Samsung seri lamaku. Dahulu aku merasa bisa dengan ikhlas melepasnya jauh dari pelukanku, tapi nyatanya…. Ah, aku memang sangat mencintainya.
Hari ke 6
Hari ini weekend, hari dimana seharusnya ia punya waktu luang lebih untuk menelponku. Atau..atau… dia sudah melupakanku ya? Aku menatap langit dan berbicara pada Tuhan, “Allah, semoga ia masih menyimpanku dalam hatinya”. Baru saja aku membatin, tiba-tiba sebuah nomor asing masuk ke layar HPku,
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumSalam, Ibu…. Apa kabar? Maaf ya baru bisa nelpon sekarang. Kemarin riweh beberes rumah dan ngurus beberapa dokumen izin di sini. Terus baru sempet beli pulsa telpon, Bu. Jadinya baru bisa nelpon Ibu deh. Kemarin Dinda kirim sms, tapi keknya nyasar karena lupa pake nomer kode Negara, hehe… Ibu sehat kan? Dinda sama Mas Alhamdulillah sehat di sini………”
Aih, betapa bahagianya mendengar suaramu, Dinda, putri semata wayangku. Ah, nak rasanya baru kemarin aku mentitahmu dan sekarang aku harus bisa merelakanmu untuk berbakti kepada orang lain di sebuah negeri nan jauh di sana.
Duhai Allah, jagalah selalu buah hatiku di manapun ia berada.
Info lomba bisa dilihat di sini.
Sunday, 8 May 2011
Masak-masak (Chicken Drum Stick)
Saturday, 7 May 2011
Pelukan (FF)
“Harusnya aku gak ngelakuin itu ya a’? Kenapa aku bisa begitu bodoh sih?”
Lelaki itu masih setia mendengarkan keluhku, ia tak beranjak meski malam kini telah larut
“Manusia itu wajar kalo salah, Sayang. Kalo bener terus gak belajar donk?”
Aku terdiam, bulir-bulir air mata ini masih tetap saja mengalir
“Duh, jangan nangis donk, kalo kamu nangis aku sedih nih”
Lelaki itu mendekatkan tangannya, mencoba menyeka air mataku, “Sini..kupeluk dulu deh”, sedetik kemudian ia memberikan sebuah boneka beruang kehadapku
Aku tersenyum meski tak ada yang kurasakan, hanya angin yang membelai tubuhku, “Hampa, a’…”
“Ah, Dek. Andai aku bisa menerobos layar ini…”
Inilah Awal Bermula

Jika kau tanya kenapa aku memilihmu,
Itu karena Allah memberiku Cinta yang ditujukan padamu*
Aih, udah lama rasanya gak ketak-ketik di blog, hehe. Baiklah saatnya memperbaharui lagi isi 'rumah' ini. Berhubung Alhamdulillah kini status saya sudah double, makannya kali ini rumahnya mau diisi dengan cerita perjalanan cinta saya sampai bertemu suami… (:”>)
Pertemuan kami terbilang cukup unik, bahkan bisa dibilang agak ajaib. Orang-orang mungkin menyangka pertemuan saya dengan suami diperantarai oleh pasangan yang adalah juga teman kami, jadi si laki-laki merupakan junior suami saya di kampus, sedangkan si perempuannya merupakan senior saya di kampus. Tapi, ternyata scenario Allah untuk kami lebih dahsyat dari itu… dan di sini saya ingin berbagi, mudah-mudahan yang membaca tulisan ini dapat mengambil hikmah dari kisah perjalanan pertemuan saya dan suami.
Sebelumnya ingin berkenalan, saya dan suami saya memiliki beda usia 2 tahun. Suami saya merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi di Singapura, sedangkan saya mahasiswa psikologi UI. Kami bukan senior dan junior di SMA, SMP, atau bahkan SD. Bahkan kami tidak tinggal di satu wilayah yang sama. Dan kisah pertemuan saya dan suami bermula dari sini…
Ramadhan, 2010
Saat sedang ‘ngasong’ menyebar kuesioner di daerah cipulir, seorang teman sepe-‘ngasongan’ tiba-tiba bertanya tentang kesiapan saya untuk menikah, jleg…tentu saja keinginan menikah itu ada, tapi saya gak pernah ngebayangin akan ditawari ketika masih menjalani kuliah. Ia mengatakan ada seorang ikhwan, lulusan luar yang sedang mencari istri, maka di hari itu, saat masih berada dalam kebimbangan saya menjawab akan memikirkan dulu tawaran ini
Dan singkatnya ternyata hati saya masih ragu, pun ketika berbincang dengan orangtua saya, mereka masih keberatan, terlebih mengetahui kemungkinan saya akan diboyong ke luar. Dan sayapun memberi jawaban untuk saat ini saya masih belum mau berproses untuk menikah.
Dua bulan setelahnya,
Saya menjalani hari-hari seperti biasanya, dan didua bulan ini pula saya berusaha menjernihkan hati dan pikiran saya. Di titik ini pula saya mulai merasa bahwa saya butuh menikah (alasan tentang itu termuat dalam tulisan mengenai kisah taaruf yang saya kirim ke sayembara menulis asma nadia. Makannya doain tulisan saya dimuat ya biar bisa baca, hehehe ^^v). intinya di sini saya berazzam, Allah jikalau memang engkau mengirimkan siapapun kepada saya, maka insya Allah saya bersedia berproses dengannya.
November, 2010
Dan di akhir bulan yang sama itu pula Allah langsung mengijabah doa saya. Saat itu saya kembali bertanya kepada teman yang waktu itu ingin memproseskan seorang kenalannya pada saya. Dan ternyata ia kembali ingin memperantarai orang yang sama dengan yang di bulan ramadhan itu. Yah, begitulah…inilah scenario Allah yang sama sekali tidak bisa kita prediksi. Saya mana pernah terpikir akan berproses dengan seorang ikhwan yang dua bulan lalu juga di propose kepada saya. Ya, inilah scenario Allah. Maka pertukaran biodata anatara kami terjadi. Dan dari sinilah segalanya bermula…
Proses yang kami lalui terbilang singkat. Sebelum menikah, kami hanya bertemu sebanyak dua kali, saat bertemu diproses ta’aruf, dan saat proses khitbah. Jika ada yang bertanya pada saya kenapa saya bisa begitu yakin, jawabnya hanya satu, saya merasa Allah memberi saya cinta yang ditujukan kepadanya. Cinta itu diwujudkan dalam suatu bentuk ketenangan dan kenyamanan selama berlangsungnya proses. Pun tidak ada alasan bagi saya untuk menolak ikhwan ini, terlebih dari sisi agama dan akhlaknya.
Februari, 2011
Dan jadilah di tanggal 5 Februari 2011 ini sebuah mitsaqan ghaliza terucap darinya. Dan di tanggal inilah awal bermula bagi kami untuk mendewasa bersama
Dan semoga pernikahan kami selalu diberkahi olehNya, dengan ketentraman dan juga keberkahan, seperti doa yang terlantun dari penulis favorit saya:
To: Delta & Puti,
Semoga Sakinah Senantiasa**
*Asma Nadia, Muhasabah Cinta seorang Istri
**Asma Nadia, dalam sebuah doa yang diberikan di buku Sakinah Bersamamu

Peran Baru
Hiyaaa....
jujur ini peran yang gak gampang, dan saya masih terus belajar tentunya...(yaiyalah)
tapi seneng juga sih, bener juga kalo kata kakak kelas saya bahwa menikah itu adalah proses untuk sama-sama berdewasa...
yup..yup, n ternyata emang bener banget...
ini beberapa hal yang terjadi dan menurut saya merupakan hal yang sangat memproses kedewasaan kita:
- belajar berbagi, yang namanya sudah dikaruniakan teman hidup, bahkan oleh Allah suami istri diumpakan layanya pakaian, yang namanya berbagi adalah hal yang memang ada di dalam kehidupan rumah tangga ini. Berbagi perasaan, berbagi kasih sayang, berbagi gundah gulana, berbagi kesedihan, bahkan berbagi rezeki,
- saling sabar, gak selamanya bahtera ini akan berjalan mulus, yang namanya tinggal berdua, pasti deh ada gesekan-gesekan yang terjadi. Untungnya suami saya termasuk tipe orang yang sabar dalam menghadapi istrinya yang ekspresif ini (Alhamdulillah). Dan kami punya cara tersendiri jika singgungan tersebut sedang terjadi. Jadi, kalo kami sedang dalam keadaan 'bersinggungan', misal suami saya marah sama sikap saya, maka dia akan lebih memilih untuk diam. Eits, tapi diam di sini bukannya dipendam aja ya, karena kalo dipendam aja kan nanti jadi bom waktu. Diam di sini maksudnya adalah diutarakan kemarahannya ketika marahnya sudah reda. Soalnya kalo kata suami saya, kalo langsung marah saat itu juga khawatirnya marahnya dibarengi syahwat (syetan), hehe. Dan Alhamdulillah, ini sudah berhasil kami terapkan dalam perjalanan pernikahan kami yang sudah 3 bulan ini.
- saling menasehati. Hihi, dengan saling menasehati ini maka konsekuensinya saya juga harus senantiasa memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk saya. Misalnya kalo suami saya yang berada di seberang pulau sana terlambat makan, maka pasti saya langsung 'marah' dan menyuruhnya makan, dan mau gak mau saya juga akan 'bergerak' untuk segera makan (maklum, soalnya saya juga suka nunda-nunda makan, hihihi
). Kan biar gak Kaburomaktan
Aih, semoga selalu belajar dalam setiap derap langkah bersamanya...
Meyapa kembali
Aaaaah............ *teriak mode:on
lama banget rasanya gak menyinggahi rumah saya sesungguhnya...
baiklah, mulai sekarang akan bertekad untuk selalu menambah aksesoris (tulisan sih maksudnya) rumah saya ini minimal sebulan sekali...
emang kemane aje sih, Neng ampe lupa ngurus rumahnya?
hihihi, maklum kemarin-kemarin disibukan urusan persiapan penggantian status (nikah maksudnya), ditambah lagi merawat si skripsweet agar 'terlahir' dengan baik...(mohon doanya ya makannya,
alright, sekarang waktunya ketak-ketik lagi di sini...banyak sekali ide-ide yang menunggu untuk ditumphkan. mudah-mudahan selalu diberi keistiqomahan dalam menulisnya...
yoyoyo, mari mengucap Welcome Back to Multiply.........