Wednesday, 2 November 2011

Dua Kunci Sukses

Tadinya bermaksud menulis ini di perpus  Jurong West, tapi berhubung hujan tak apalah ya nulisnya di rumah aja. :D

Kali ini saya akan berbagi tentang kisah Nabi Yusuf a.s. Apa yang anda pikirkan ketika nama Yusuf a.s disebutkan? Ketampanan, Kisah cinta (yang sebenernya saya masih mencari-cari ke-valid-an jodohnya Yusuf dan Zulaikha), pengirisan tangan yang dilakukan oleh perempuan yang menatap yusuf sangking takjubnya, atau tafsir mimpinya?

Hampir semua orang mengasosiasikan hal-hal di atas dengan Yusuf a.s. Ketampanan Yusuf a.s memang sudah terkenal sebanding dengan ketampanan setengah penduduk dunia (inilah yang kemudian berhasil menggoda imroatul Aziz). Selain itu Yusuf juga diberi mukjizat oleh Allah SWT menafsirkan mimpi, dan mukjizat  inilah yang kemudian yang menghantarkan Yusuf keluar dari penjara dan menjadi pembesar.

Itulah sebagian hal yang kita kenal atau banyak diceritakan tentang Yusuf a.s. Akan tetapi tahukah bahwa ternyata kisah Nabi Yusuf a.s merupakan satu-satunya kisah nabi yang di dalam Al-Qur’an dikisahkan secara lengkap oleh Allah SWT. Yusuf secara lengkap dikisahkan mulai dari masa kecil hingga dewasa, dan menjadi raja. Di sini  Allah ingin memberi pengajaran kepada kita bahwa roda kehidupan manusia terus berputar.

Semasa kecil, Yusuf (dan benyamin) menjadi anak kesayangan orangtuanya. Saudara-saudaranya pun merasa iri akan hal ini. Yusuf pun kemudian dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Ia lalu ditemukan oleh musafir dan Yusuf pun dijual sebagai budak kepada salah seorang pembesar mesir. Yusuf  kemudian diangkat sebagai anak oleh pembesar itu. Saat dewasa Yusuf pun tertimpa fitnah dengan istri dari pembesar mesir tersebut (Imroatul Aziz). Peristiwa itu kemudian menghantarkan Yusuf ke penjara (karena ia lebih memilih dimasukkan ke dalam penjara). Di penjara inilah ia kemudian memperoleh mukjizat mampu menafsirkan mimpi. Singkat cerita berkat tafsir mimpinya ini Yusuf kemudian menjadi seorang pembesar (raja) di Mesir.

Alur kisah Yusuf ini mengajarkan kepada kita tentang naik-turunnya kehidupan (nasib) seorang manusia. Hikmah dari kisah yusuf adalah bahwa kenikmatan yang kita peroleh saat ini bisa saja dengan cepat tercerabut jika Allah menghendakinya. Sebagai seorang mukmin kita diperintahkan untuk mengibaratkan hidup di dunia seperti seorang pengembara. Sabda Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata: Rasulullah SAW memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda:” Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.” Ibnu Umar berkata: “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu” (H.R Bukhari).

Oleh karena itu ketika seorang mukmin sedang diuji oleh Allah SWT dengan kesulitan maka tidak sepatutnya kita kecewa dan merasa berkecil hati karena memang semua yang dimiliki saat ini merupakan “pinjaman” dari Allah SWT. Sebaliknya, jika seorang mukmin sedang diuji dengan kenikmatan sudah sepatutnya bersyukur dan tidak boleh merasa sombong dengan apa yang sedang diperolehnya. Nabi Yusuf a.s mengajarkan kepada kita untuk selalu sabar dan taqwa di dalam kondisi apapun. Seperti yang diterangkan di dalam surah Yusuf: 90

"Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. 

Kunci kesuksesan yang dilakukan Yusuf di alur naik dan turun hidupnya adalah dengan bersabar dan bertaqwa. Dan dua kunci kesuksesan ini  dapat diperoleh oleh seorang mukmin salah satunya melalui P U A S A. Semoga kita bisa meneladani Nabi Yusuf a.s dan menjadikan sabar dan taqwa sebagai kunci dalam mengarungi hidup ini. Aamiin.



*tulisan ini merupakan hasil obrolan bersama suami yang merupakan materi ceramah seorang ustadz di KBRI kala Ramadhan

** Subahanakallahumma wabihamdik, Asyhaduanla ilaha illa ant, Astaghfiruka, waatubu ilaik.

Friday, 7 October 2011

FF Perjuangan -Secangkir Kopi


Tak..tak...tak...tak...

 

Suara itu masih saja terddengar jelas di telingaku. Kulirik jam yang tegantung di tembok. Aih sudah lewat jam 2 pagi, masih saja kamar ini dipenuhi suara-suara itu.

 

Aku beranjak, tak enak juga rasanya mendengar suara tak-tak-tak itu, sementara aku lelap tertidur. Kubuka kamar, lalu melangkah  menuju dapur. Kuintip senyapnya kota lewat jendela dapur. Sepertinya hanya sedikit perbedaan suasana antara siang dan dini hari. Sangat berbeda dengan perbedaan suasana Jakarta di siang dan dini hari, batinku dalam hati. 

 

Aku bergegas mengisi air dalam ceret listrikku. Hanya mengisinya setengah penuh lalu meletakkannya di atas besi berbentuk lingkaran. Kutekan tombol on pada ceret listrikku itu.


Brsss....brsss..... suara air mulai menunjukkan titik didihnya. Kubuka lemari dekat kulkas, mengambil sesachet kopi lalu menuangnya ke dalam cangkir hijau bergagang. Tak lama kemudian tombol di ceret listrik berbunyi, tanda sang air sudah sampai pada puncak titik didihnya.

 

Kutuang air mendidih tersebut ke dalam cangkir, mengaduknya dan langsung membawanya kamar.

 

"Sudah hampir seminggu seperti ini"

 

"Maaf ya sayang, namanya juga kuli di negeri orang, jadi harus perform yang bagus", kata laki-laki dihadapanku, "Makasih ya karena udah selalu support aku, hehe", sambungnya nyengir, tangannya lalu meraih cangkir yang aku sodorkan.

 

Kutatap laki-laki di hadapanku ini. Ah ya...  yang namanya hidup, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang memang butuh perjuangan. Dan salah satu bentuk kecil perjuanganku adalah dengan membuatkan secangkir kopi kepada laki-laki di hadapanku, yang tengah berjuang ini. 


Thursday, 29 September 2011

Pengalaman Diinterogasi

Hihihi, rasanya geli sendiri kalo inget kejadian ini.

Jadi ceritanya sodara-sodara, saya dan suami pernah "digiring" untuk disidang saat berniat memasuki kembali wilayah singapur.

Begini ceritanya, ramadhan kemarin, saya dan suami masih memakai visit pass untuk tinggal di Singapur karena kebetulan  saat itu suami berhenti kerja dan sedang dalam proses mencari kerja. Visit Pass ini cuma berlaku selama 30 hari. Jadi, waktu itu ceritanya visit pass kami habis.

Pergilah kami menuju rumah seorang family yang ada di Johor Bahru, tepatnya di daerah Sri Pulai. Kami hanya bermalam sehari di sana. Saat keluar singapur dan masuk malaysia-nya gak ada masalah. Tapi saat keesokan harinya waktu mau masuk singapur, petugas imigrasi singapur bertanya-tanya pada a' delta karena  sudah lebih dari 2 kali menggunakan visit pass. Aa' pun menjelaskan bahwa saat ini ia sedang dalam proses mencari kerja.

Ketatnya prosedur masuk dari wilayah Johor ini membuat petugas tersebut tidak serta merta memberikan cap izin tinggal selama 30 hari. Saya yang waktu itu berada di belakang A' Delta udah deg-degan gak karuan. Takut banget kalo emang ternyata kami gak boleh masuk dan diharuskan pulang ke Indo saat itu juga. Saya mikir, gimana nasib barang-barang kami yang ada di flat.

Tapi ternyata kami malah diminta untuk mengikuti salah satu petugas menuju ruang "sidang". Saya yang baru sebulan di Singapur jelas bukan main takutnya. Tiba-tiba terbersit suasana interogasi seperti di film-film itu (ahahaha, terkonstruksi sama media ini mah :p). Dan memang penjagaan super lapis membuat saya bener-bener jiper saat itu. Terlebih saya khawatir dengan kendala bahasa karena english saya yang masih amburadul.

Kami memasuki sebuah ruangan dengan keamanan berlapis. Saat masuk ke ruangan tersebut, sang petugas harus menggesek kartu acsess card terlebih dahulu, persis seperti yang saya lihat di film-film (sumpaaah, hal ini semakin menakutkan saya ).

Ruangan tersebut lumayan "ramai". Saya dan A' Delta duduk di bangku baris kedua dari depan. "Abang tunggu di sini ya...", kata petugas tersebut.

Saya dan A' Delta pun duduk. Berkali-kali saya bertanya sama A' Delta perihal yang akan ditanyakan di dalam ruangan tersebut. Saya berusaha menghafal alasan yang akan diutarakan dengan english *maklum, english saya kan jelek.

A' Delta menyuruh saya tenang, "Mendingan Al-Matsuratan aja, Sayang... biar gak deg-degan", begitu katanya. Saya pun nurut dan mulai melafalkan Al-Matsurat.

Dan tibalah giliran A' Delta dipanggil untuk masuk ruang interogasi. Saya menunggu di luar dengan perasaan was-was dan deg-degan yang menghebat.

Tak berapa lama kemudian, A' Delta pun keluar, dan seorang petugas wanita chinese memanggil nama saya, "Puti Ayu Setiani".

A' Delta menatap saya, "Tenang dek, pake bahasa Indonesia aja, ada yang bisa bahasa melayu ko".

Degup jantung saya menghebat. Saya pun memasuki sebuah ruangan kecil. Ruangan itu terdiri dari satu lemari, meja, komputer dan dua kursi, satu kursi penginterogasi, dan satu lagi kursi "terdakwa".

Seorang petugas yang duduk di kursi menanyakan nama saya, "Puti Ayu Setiani?". "Yes", jawab saya singkat.

"Ini sapa?", tanyanya sambil menunjukkan paspor A' Delta.

"My Husband", jawab saya dalam english (jieee ).

Lalu petugas perempuan yang mengantar saya tadi ikut bertanya dengan nada ramah, "Lihat KTP". Sayapun mengeluarkan KTP saya dari dalam dompet. Ia pun lalu melihat berapa sgduang yang saya miliki. Saya lalu mempersilahkannya melihat isi dompet saya. "Oh, 100 SGD, Ok", katanya.

Lalu petugas yang di kursi kembali bertanya kepada saya, "Suami lalu kerja di singapuur?", "Yes at Accenture", kata saya. "Ok, Finish".

Saya sempat bengong, eh udah gini doank? (ahahaha, belagu!). Dan saya pun diminta kembali mengikuti nona chinese ke luar ruangan.

Betapa leganya saya ketika bertemu Aa' di luar ruangan. "Gak susah kan?", tanya suami saya. Saya cuma nyengir kuda.

Saya dan suami masih deg-degan akan hasil keputusannya, apakah kami dibolehkan masuk singapur atau justru kami harus balik ke Indo saat itu juga. Tak berapa lama kemudian paspor kami pun tengah di proses di terlihat seperti  bagian receptionist di ruangan itu. A' Delta pun kemudian dipanggil. Dan tak berapa lama kemudian saya juga ikut dipanggil.

Saya pikir acara interogasinya sudah selesai, tapi ternyata di bagian tsb (yang terlihat sepertireceptionist, red), saya kembali ditanya (sebelumnya A' Delta juga sudah diinterogasi sebelum petugas tersebut memanggil saya). Di bagian itu saya ditanya tanggal lahir dengan menggunakan english. Alhamdulillah saya bisa menjawabnya. Tapi begitu ditanya alamat tinggal, saya betul-betul lupa. Alhasil karena emang deket sama Pioneer MRT, maka saya bilang aja "At Pioneer", dan seketika saya lupa mengucap dengan english, maka keluarlah bahasa tarsan , 6 (jari angka 6), 5 (jari angka 5), 0 (jari angka 0) B, storey 9 ....", baru mau melanjutkan, tiba tiba sang petugas bilang, "Ok, that's enough" (si petugas bilang itu sambil nyengir pula )

Alhamdulillllah............. Saya bersyukur dalam hati karena sebenernya saya lupa nomer flat kami, hihihi (harusnya saya bilang 650 B #9 260).

Beberapa detik kemudian sang petugas membubuhkan cap izin tinggal selama 30 hari. Alhamdulillah....................

Dan kami pun keluar ruangan tersebut dengan perasaan lega luar biasaaaaaaaa. Saat keluar ruangan itu, juga ada 2 orang abang lainnya. Yang satu diperbolehkan masuk singapur, tapi yang satu lagi harus balik pulang ke Johor.

Kejadian itu betul-betul pengalaman yang tidak akan terlupakan. Hehehe. Dan ternyata, ruang interogasi imigrasi singapur gak seseram apa yang saya bayangin. Kalo kata A' Delta, niat kita kan baik (untuk kerja di singapur), jadi gak usah takut.

Yaa...betul.Selama niat kita baik dan di jalur yang benar, maka pikiran negatif bagaikan benalu di dalam hati, cuma bikin cemas luar biasa aja maksudnya .

[Batam FF Rindu - Panggilan Rindu]

Hari 1

Kembali kulihat layar HP. Tak ada tanda-tanda masuknya pesan ataupun panggilan. Ah sayang, sibukkah dirimu dengan kehidupan di negeri sana? Sampai-sampai kau lupa memberi kabar padaku?

Hari 2

Dia masih juga belum menghubungiku. Setelah berpisah jarak selama empat tahun, kini ia kembali meninggalkanku dalam bentangan jarak ribuan kilometer. Sedang apa ya ia disana? Betahkah ia ditempat barunya?

Hari 3

Aku masih saja menunggu kabar darinya. Tak bosan-bosannya aku menatap layar HP Samsung seri lamaku. Dahulu aku merasa bisa dengan ikhlas melepasnya jauh dari pelukanku, tapi nyatanya…. Ah, aku memang sangat mencintainya.

Hari ke 6

Hari ini weekend, hari dimana seharusnya ia punya waktu luang lebih untuk menelponku. Atau..atau… dia sudah melupakanku ya? Aku menatap langit dan berbicara pada Tuhan, “Allah, semoga ia masih menyimpanku dalam hatinya”. Baru saja aku membatin, tiba-tiba sebuah nomor asing masuk ke layar HPku,

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumSalam, Ibu…. Apa kabar? Maaf ya baru bisa nelpon sekarang. Kemarin riweh beberes rumah dan ngurus beberapa dokumen izin  di sini. Terus baru sempet beli pulsa telpon, Bu. Jadinya baru bisa nelpon Ibu deh. Kemarin Dinda kirim sms, tapi keknya nyasar karena lupa pake nomer kode Negara, hehe… Ibu sehat kan? Dinda sama Mas Alhamdulillah sehat di sini………”

Aih, betapa bahagianya mendengar suaramu, Dinda, putri semata wayangku. Ah, nak rasanya baru kemarin aku mentitahmu dan sekarang aku harus bisa merelakanmu untuk berbakti kepada orang lain di sebuah negeri nan jauh di sana.

Duhai Allah, jagalah selalu buah hatiku di manapun ia berada.

 

total kata: 243

FF ini diikutsertakan dalam lomba FF yang diadakan MP'ers Batam.
Info lomba bisa dilihat di sini

[Batam FF Rindu - Panggilan Rindu]

Hari 1

Kembali kulihat layar HP. Tak ada tanda-tanda masuknya pesan ataupun panggilan. Ah sayang, sibukkah dirimu dengan kehidupan di negeri sana? Sampai-sampai kau lupa memberi kabar padaku?

Hari 2

Dia masih juga belum menghubungiku. Setelah berpisah jarak selama empat tahun, kini ia kembali meninggalkanku dalam bentangan jarak ribuan kilometer. Sedang apa ya ia disana? Betahkah ia ditempat barunya?

Hari 3

Aku masih saja menunggu kabar darinya. Tak bosan-bosannya aku menatap layar HP Samsung seri lamaku. Dahulu aku merasa bisa dengan ikhlas melepasnya jauh dari pelukanku, tapi nyatanya…. Ah, aku memang sangat mencintainya.

Hari ke 6

Hari ini weekend, hari dimana seharusnya ia punya waktu luang lebih untuk menelponku. Atau..atau… dia sudah melupakanku ya? Aku menatap langit dan berbicara pada Tuhan, “Allah, semoga ia masih menyimpanku dalam hatinya”. Baru saja aku membatin, tiba-tiba sebuah nomor asing masuk ke layar HPku,

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumSalam, Ibu…. Apa kabar? Maaf ya baru bisa nelpon sekarang. Kemarin riweh beberes rumah dan ngurus beberapa dokumen izin  di sini. Terus baru sempet beli pulsa telpon, Bu. Jadinya baru bisa nelpon Ibu deh. Kemarin Dinda kirim sms, tapi keknya nyasar karena lupa pake nomer kode Negara, hehe… Ibu sehat kan? Dinda sama Mas Alhamdulillah sehat di sini………”

Aih, betapa bahagianya mendengar suaramu, Dinda, putri semata wayangku. Ah, nak rasanya baru kemarin aku mentitahmu dan sekarang aku harus bisa merelakanmu untuk berbakti kepada orang lain di sebuah negeri nan jauh di sana.

Duhai Allah, jagalah selalu buah hatiku di manapun ia berada.

 

total kata: 243

FF ini diikutsertakan dalam lomba FF yang diadakan MP'ers Batam.
Info lomba bisa dilihat di sini

Sunday, 8 May 2011

Masak-masak (Chicken Drum Stick)

Yipppiee.......yak, jadi ceritanya Alhamdulillah weekend kemarin kesampean juga belajar masak sama ibu. Ini bukan belajar masak biasa saudara-saudara, tapi khusus mencoba resep-resep yang menurut saya gak biasa (maksudnya kalo belajar masak biasa itu kayak masak ayam goreng, bikin sop, soto, gitu-gitu  *belagu: mode: on) . 

Jadi, masak apa sih sebenernya???

Yah, pake nanya...itu kan di judulnya udah ada (*ini apa sih gw nanya sendiri jawab sendiri, hihihi)

Yup...yup... dan kali ini saya ingin berbagai resep rahasia dapur keluarga saya (eh, gak juga rahasia denk, biar keren aja, wkwkwkwk)

Resep pertama, Ayam Sayap Pentul a.ka Chicken Drum Stick. Kenapa dinamain kek gitu? karena memang bentuknya seperti pentul korek atau mirip2 stick drum (eh emang iyaya? ). Kenapa namanya ada sayapnya? Ya, karena emang berasal dari sayap ayam..hihihi

oke, lah tancap...........

Ini bahan2nya:

1 kg sayap ayam
garam secukupnya
lada sesuai selera
3 siung bawang putih 
2 buah jeruk nipis
2 sdt kecap Inggris (tapi karena kemarin gak ada diganti sama kecap manis dicampur kecap asin, hihihi)
3 butir telur (untuk menggulingkan, kocok lepas)
tepung panir untuk membungkus (ini pakenya bisa yang kasar bisa yang halus, tapi biasanya kalo saya pake yang halus)..
kaldu penyedap rasa (kalo kemarin saya sih tapinya ndak pake ini, hihi)
minyak untuk menggoreng

and then it's show time.....
1. pertama-tama cuci sayap ayam sampe bersih, buang lemak-lemaknya ya...
2. peraskan jeruk nipis, lalu biarkan selama beberapa menit (fungsinya kalo kata ibu supaya keset)
3. setelah itu cuci kembali ayam
4. potong ayam menjadi 3 bagian (ini pas di sendinya gtu ya motongnya). nah potongan yang paling ujung tidak dipakai (jadi, yang dipake 2 bagian aja. Yang ujungnya jangan dbuang ya, bisa buat masak sop ayam besok, hehe)
5. nah, setelah itu bentuk 2 bagian sayap ayam yang yang lain seperti drum stick, ya kira-kira gambarnya kek gini...


Membentuk ini sebenernya yang agak susah untuk pemula seperti saya. Tapi setelah mengerjakan lebih dari 10 potong, lama-lama jadi mudah juga

lanjut-lanjut ya...

haluskan garam, lada, bawang putih. Lalu campur ke dalam potongan ayam yang sudah berbentuk. Tambahkan kaldu penyedap, kecap Inggris, lalu aduk sampai rata. Setelah itu, bungkus drum stick yang telah dibumbui dengan kertas roti. Ikat di bagian sticknya. Kukus kurang lebih selama 30 menit

Setelah matang, angkat, Buka ikatannya dan mulailah menyelupkan chicken drum stick dengan telur lalu digulingkan ke tepung panir. Yang lebih bagus katanya sebelum dicelupkan ke dalam telur, ada baiknya ke tepung terigu dahulu (tapi saya gak ngelakuin ini kemarin, hihihi. Ah, enak-enak aja rasanya...)

Setelah semua beres, goreng deh di dalam minyak sampai agak cokelat. Tapi jangan gosong ya...Dan Hasilnya...jeng...jeng...jeng...

*mohon maaf, ini tanpa garnish sama sekali, hihihi....Tapi tetep Yummy...pastinya...Apalagi dicocol pake saos sambal....


**Oh ya, kalo emang belum mau di goreng semua, bisa dimasukin ke kulkas, ayam yang udah selesai ditepungin. Kalo mau disimpen berhari-hari, bisa dimasukkin ke freezer. Katanya sih kalo dimasukkin ke freezer bisa tahan 2 minggu.

Alright.....Selamat Mencoba.... 

Saturday, 7 May 2011

Pelukan (FF)

“Harusnya aku gak ngelakuin itu ya a’? Kenapa aku bisa begitu bodoh sih?”

 

Lelaki itu masih setia mendengarkan keluhku, ia tak beranjak meski malam kini telah larut

 

“Manusia itu wajar kalo salah, Sayang. Kalo bener terus gak belajar donk?”

 

Aku terdiam, bulir-bulir air mata ini masih tetap saja mengalir

 

“Duh, jangan nangis donk, kalo kamu nangis aku sedih nih”

Lelaki itu mendekatkan tangannya, mencoba menyeka air mataku, “Sini..kupeluk dulu deh”, sedetik kemudian ia memberikan sebuah boneka beruang kehadapku

 

Aku tersenyum meski tak ada yang kurasakan, hanya angin yang membelai tubuhku, “Hampa, a’…”

 

“Ah, Dek. Andai aku bisa menerobos layar ini…”

Inilah Awal Bermula






Jika kau tanya kenapa aku memilihmu,

Itu karena Allah memberiku Cinta yang ditujukan padamu*

 




Aih, udah lama rasanya gak ketak-ketik di blog, hehe. Baiklah saatnya memperbaharui lagi isi 'rumah' ini. Berhubung Alhamdulillah kini status saya sudah double, makannya kali ini rumahnya mau diisi dengan cerita perjalanan cinta saya sampai bertemu suami… (:”>)

 

Pertemuan kami terbilang cukup unik, bahkan bisa dibilang agak ajaib. Orang-orang mungkin menyangka pertemuan saya dengan suami  diperantarai oleh pasangan yang adalah juga teman kami, jadi si laki-laki merupakan junior suami saya di kampus, sedangkan si perempuannya merupakan senior saya di kampus. Tapi, ternyata scenario Allah untuk kami lebih dahsyat dari itu… dan di sini saya ingin berbagi, mudah-mudahan yang membaca tulisan ini dapat mengambil hikmah dari kisah perjalanan pertemuan saya dan suami.

 

Sebelumnya ingin berkenalan, saya dan suami saya memiliki beda usia 2 tahun. Suami saya merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi di Singapura, sedangkan saya mahasiswa psikologi UI. Kami bukan senior dan junior di SMA, SMP, atau bahkan SD. Bahkan kami tidak tinggal di satu wilayah yang sama. Dan kisah pertemuan saya dan suami bermula dari sini…

 

Ramadhan, 2010

Saat sedang ‘ngasong’ menyebar kuesioner di daerah cipulir, seorang teman sepe-‘ngasongan’ tiba-tiba bertanya tentang kesiapan saya untuk menikah, jleg…tentu saja keinginan menikah itu ada, tapi saya gak pernah ngebayangin akan ditawari ketika masih menjalani kuliah. Ia mengatakan ada seorang ikhwan, lulusan luar yang sedang mencari istri, maka di hari itu, saat masih berada dalam kebimbangan saya menjawab akan memikirkan dulu tawaran ini

Dan singkatnya ternyata hati saya masih ragu, pun ketika berbincang dengan orangtua saya, mereka masih keberatan, terlebih mengetahui kemungkinan saya akan diboyong ke luar. Dan sayapun memberi jawaban untuk saat ini saya masih belum mau berproses untuk menikah.

 

Dua bulan setelahnya,

Saya menjalani hari-hari seperti biasanya, dan didua bulan ini pula saya berusaha menjernihkan hati dan pikiran saya. Di titik ini pula saya mulai merasa bahwa saya butuh menikah (alasan tentang itu termuat dalam tulisan mengenai kisah taaruf yang saya kirim ke sayembara menulis asma nadia. Makannya doain tulisan saya dimuat ya biar bisa baca, hehehe ^^v). intinya di sini saya berazzam, Allah jikalau memang engkau mengirimkan siapapun kepada saya, maka insya Allah saya bersedia berproses dengannya.

 

November, 2010

Dan di akhir bulan yang sama itu pula Allah langsung  mengijabah doa saya. Saat itu saya kembali bertanya kepada teman yang waktu itu ingin memproseskan seorang kenalannya pada saya. Dan ternyata ia kembali ingin memperantarai orang yang sama dengan yang di bulan ramadhan itu. Yah, begitulah…inilah scenario Allah yang sama sekali tidak bisa kita prediksi. Saya mana pernah terpikir akan berproses dengan seorang ikhwan yang dua bulan lalu juga di propose kepada saya. Ya, inilah scenario Allah. Maka pertukaran biodata anatara kami terjadi. Dan dari sinilah segalanya bermula…

 

Proses yang kami lalui terbilang singkat. Sebelum menikah, kami hanya bertemu sebanyak dua kali, saat bertemu diproses ta’aruf, dan saat proses khitbah. Jika ada yang bertanya pada saya kenapa saya bisa begitu yakin, jawabnya hanya satu, saya merasa Allah memberi saya cinta yang ditujukan kepadanya. Cinta  itu diwujudkan dalam suatu bentuk ketenangan dan kenyamanan selama berlangsungnya proses. Pun tidak ada alasan bagi saya untuk menolak ikhwan ini, terlebih dari sisi agama dan akhlaknya.

 

Februari, 2011

Dan jadilah di tanggal 5 Februari 2011 ini sebuah mitsaqan ghaliza terucap darinya. Dan di tanggal inilah awal bermula bagi kami untuk mendewasa bersama

 

Dan semoga pernikahan kami selalu diberkahi olehNya, dengan ketentraman dan juga keberkahan, seperti doa yang terlantun dari penulis favorit saya:

To: Delta & Puti,

Semoga Sakinah Senantiasa**

 

*Asma Nadia, Muhasabah Cinta seorang Istri

**Asma Nadia, dalam sebuah doa yang diberikan di buku Sakinah Bersamamu



Rumah Bahagia ^__^

http://keluargahanif.blogspot.com

Peran Baru

Baiklah postingan pertama, eh.. kedua denk akan saya isi dengan curhatan saya mengenai menjadi seorang istri...

Hiyaaa....
jujur ini peran yang gak gampang, dan saya masih terus belajar tentunya...(yaiyalah)

tapi seneng juga sih, bener juga kalo kata kakak kelas saya bahwa menikah itu adalah proses untuk sama-sama berdewasa...

yup..yup, n ternyata emang bener banget...

ini beberapa hal yang terjadi dan menurut saya merupakan hal yang sangat memproses kedewasaan kita:
  1. belajar berbagi, yang namanya sudah dikaruniakan teman hidup, bahkan oleh Allah suami istri diumpakan layanya pakaian, yang namanya berbagi adalah hal yang memang ada di dalam kehidupan rumah tangga ini. Berbagi perasaan, berbagi kasih sayang, berbagi gundah gulana, berbagi kesedihan, bahkan berbagi rezeki,
  2. saling sabar, gak selamanya bahtera ini akan berjalan mulus, yang namanya tinggal berdua, pasti deh ada gesekan-gesekan yang terjadi. Untungnya suami saya termasuk tipe orang yang sabar dalam menghadapi istrinya yang ekspresif ini (Alhamdulillah). Dan kami punya cara tersendiri jika singgungan tersebut sedang terjadi. Jadi, kalo kami sedang dalam keadaan 'bersinggungan', misal suami saya marah sama sikap saya, maka dia akan lebih memilih untuk diam. Eits, tapi diam di sini bukannya dipendam aja ya, karena kalo dipendam aja kan nanti jadi bom waktu. Diam di sini maksudnya adalah diutarakan kemarahannya ketika marahnya sudah reda. Soalnya kalo kata suami saya, kalo langsung marah saat itu juga khawatirnya marahnya dibarengi syahwat (syetan), hehe. Dan Alhamdulillah, ini sudah berhasil kami terapkan dalam perjalanan pernikahan kami yang sudah 3 bulan ini.
  3. saling menasehati. Hihi, dengan saling menasehati ini maka konsekuensinya saya juga harus senantiasa memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk saya. Misalnya kalo suami saya yang berada di seberang pulau sana terlambat makan, maka pasti saya langsung 'marah' dan menyuruhnya makan, dan mau gak mau saya juga akan 'bergerak' untuk segera makan (maklum, soalnya saya juga suka nunda-nunda makan, hihihi ). Kan biar gak Kaburomaktan
Sebenernya masih banyak nih pelajaran-pelajaran yang saya temui saat menjalani peran baru ini. Tapi tiga hal di atas menjadi yang terbesar dalam proses mendewasa ini...

Aih, semoga selalu belajar dalam setiap derap langkah bersamanya...

Meyapa kembali

Bismillah...

Aaaaah............ *teriak mode:on
lama banget rasanya gak menyinggahi rumah saya sesungguhnya...

baiklah, mulai sekarang akan bertekad untuk selalu menambah aksesoris (tulisan sih maksudnya) rumah saya ini minimal sebulan sekali...

emang kemane aje sih, Neng ampe lupa ngurus rumahnya?

hihihi, maklum kemarin-kemarin disibukan urusan persiapan penggantian status (nikah maksudnya), ditambah lagi merawat si skripsweet agar 'terlahir' dengan baik...(mohon doanya ya makannya, )

alright, sekarang waktunya ketak-ketik lagi di sini...banyak sekali ide-ide yang menunggu untuk ditumphkan. mudah-mudahan selalu diberi keistiqomahan dalam menulisnya...

yoyoyo, mari mengucap Welcome Back to Multiply.........