Tuesday, 27 January 2009

Pipit Kecil Yang Beranjak Dewasa

ahulu pipit kecil ini tak pernah mempunyai keberanian untuk meninggalkan sangkarnya

Bahkan ia takut mengepakkan sayapnya, menerjang angin, dan menatap cahaya matahari yang akan mengkilaukan sayapnya
Ia sangat takut memikirkan jatuh ke debaman tanah yang keras saat ia memutuskan untuk terbang
Ahh, tapi itu dahulu…
Sekarang, pipit kecil ini sudah berani terbang, melayang di langit biru yang terlihat cerah
Melayang membersamai angin yang berhembus
Melayang bersamaan dengan cerahnya mentari yang menemani
Melayang, dan tidak takut lagi dengan debaman tanah yang menanti
Ahh, tapi kini aku khawatir…
Karena akhir-akhir ini sang pipit kecil terbang menuju ke dunia tanpa batas
Aku khawatir ia tak akan menemukan dan mendarat di lembah yang hijau dan menyejukkan
Bahkan malah akan terhempas ke jurang
Ahh, semoga ini hanya kekhawatiranku saja


Manusia dewasa karena masalahnya, dewasa karena ia berani mencoba, dewasa karena ia berani menyelesaikan bukannya malah meninggalkannya. Dan aku juga akan belajar menuju ke kedewasaan itu…




Sunday, 25 January 2009

My ShOW!

http://heggyangunikdanbedadanhebat.blog.friendster.com

jam_pasir_unik

http://jampasirunik.blogspot.com/

For a Fighting Idea

http://jundurrahman.wordpress.com

Karena kutahu, kau ada bukan untuk diriku (edisi Revisi)


 Hmm...senangnya kalo lagi acara kumpul keluarga besar. Ketemu sepupu-sepupu yang gokhil abis. Bisa becanda bareng, main basket bareng, and yang paling seru main tebak-tebakan bareng menjelang tidur. Ya, kami biasa tidur bareng-bareng kayak pepes di ruang tamu, hehehe. Setiap lebaran rumah mbahku memang selalu kayak pasar karena kedatangan cucu-cucunya yang cerewet. Yup, ritual main tebak-tebakan di malam hari adalah favoritku. Seperti biasa, dalam acara tebak-tebakan bareng, Mas Faris selalu jadi bintangnya. Anak dari budeku ini emang orang yang menyenangkan banget. Selain pintar (karena ia adalah mahasiswa ITB jurusan teknik Elektro), ia juga sholeh and ramah banget sehingga selalu menjadi teladan bagi saudara-saudara yang lainnya. Semua orang tua akan bilang ke anak-anaknya, “Tuh...kayak Mas Faris, keluyurannya ke Masjid, pinter lagi.... Yayaya, Mas Faris emang the bestlah....

 “Teh nya mau dituangin?”, suara Mas Faris mengagetkanku. Hehehe, dari tadi aku memang sedang bersusah payah menuangkan teh panas dari poci yang besar. Maklumlah, kalo di rumah, ibu selalu menuangkannya untukku. Duh, jadi malu deh sama Mas Faris, nuang teh aja gak bisa, padahal aku kan udah kelas 1 SMA.

 “Eh, iya Mas, boleh banget. Malah dari tadi nungguin bantuan”, ledekku kepadanya.

 Sambil menuangkan teh Mas Faris kemudian berujar, “Makannya Dek, jadi perempuan itu jangan takut panas, hehehe...gak ada hubungannya ya?”

 Ih, mulai lagi neh jahilnya. Meskipun Mas Faris lebih tua lima tahun dari aku, tapi ia selalu asyik kalo diajak bicara. Ia selalu saja berhasil menemukan topik yang menarik untuk mengobrol denganku, bahkan ia selalu bisa menjahiliku. Duh, pokoknya beda banget sama kakakku yang selalu menganggap aku anak kecil, hingga membuatku malas untuk mengobrol dengannya.

 “Mas Faris kenapa sih, ko sekarang gak mau salaman sama Khansa lagi ?”, akhirnya keluar juga pertanyaanku tentang sikapnya yang berubah akhir-akhir ini. 

 “Loh, iyaya? Abis tangan adek selalu kotor sih waktu mau Mas ajak salaman...!” Mas Faris berkilah. Duh, senangnya ia memanggilku dengan sebutan adek. Hehe, bahkan kakakku saja tidak memanggilku dengan sebutan adek. Cuma mas Faris...Ya, cuma dia.
 Tau kalau ia tak sungguh-sungguh dengan jawabannya, akupun memasang wajah cemberut,

“Ih, mas mulai lagi deh jahilnya....”

 “Duh, jangan marah donk Adek manis....Gini-gini, Mas gak mau salaman karena Mas menghormati kamu....”, Ia memberi alasan.

 “Maksud Mas Faris?”, tanyaku heran.

 ”Gini, Dek kecil, kita ini kan sepupuan, dan itu tandanya kita bukan mahram, jadi haram kalo sentuh-sentuhan”.

 “Woh, apaan tuh mahram, Mas?”, aku pura-pura tidak tahu.

 “Mahram itu kayak kamu sama ayah ibumu, kakakmu, pamanmu dari pihak ayah, sama yang berjenis kelamin sama denganmu, nah kalo sepupu itu bukan mahram dan gak halal kalo bersentuhan. Kan kita berbeda jenis kelamin, bukan?” Jelas Mas Faris.

 Aku hanya manggut-manggut. Yah, aku lumayan paham lah tentang apa yang namanya mahram, tapi aku baru tahu kalo sepupu ternyata bukan mahram ya? Pantesan dari kemaren diajak salaman, tapi Mas Faris cuma menelungkupkan tangan di depan dadanya.

 “Eh, Dek. Katanya kamu mau pakai jilbab ya?” Tanya Mas Faris tiba-tiba.

 “Iya, Mas, Insya Allah mulai awal semester 2 ini. Kan kata Mas Faris cewek itu lebih anggun kalo pakai jilbab, terus aku pikir-pikir ia juga sih. Lagian Mas, aku males aja dengan pandangan laki-laki yang selalu menikmati putihnya kulitku, hehehe...”, seloroh aku.

 “Iya Dek, makannya kecantikanmu gak usah dipamerin, biar buat suami aja ya nanti, hehehe!”, duh nih Mas satu mulai lagi deh.

  Aku senang pagi ini bisa mengobrol banyak dengan sepupu kesayanganku itu. Sudah lama juga ya aku tak bertemu dengannya. Entah kenapa pagi ini aku merasakan semangat yang sangat besar.

***

 “Assalamu’alaikum...”, sapa Mas Faris dari seberang telepon.

 “Wa’alaikumussalam, Mas Faris, Ya?” Terkaku.

 “Iya, Dek. Apa kabar? Gimana rasanya udah setahun pakai jilbab? Nyaman kan?” Tanyanya penuh semangat.

 “Eh, iya, Mas Alhamdulillah. Mas Faris apa kabar? Gimana kuliahnya?”

 “Alhamdulillah mas baik-baik aja, kuliahnya lancar, lagi nyiapin skripsi, doakan ya biar dimudahkan dan lulus tahun ini”

 “Oh, pasti mas, tapi biarpun gak lulus tahun ini gak papa lah...Wajar anak teknik mah, hehehe....”, candaku padanya.

 “Ih, ko kamu jahat gitu sih sama Mas! Eh, kakakmu ada di rumah gak? Atau masih di jalan?”

 “Oh, ada, Mas. Tadi barusan nyampe. Tunggu bentar ya...!”. Aku pun pergi memanggil kakakku. Entah apa yang mereka obrolkan, nampaknya urusan mahasiswa. Soalnya wajah kakakku begitu serius sekali ketika bicara dengannya. Atau sesama anak teknik emang serius ya kalo ngobrol?, hehehe. Tak tahulah.

***

 “Ayah, Ibu, hari senin nanti Ayash ikut aksi ya?”, pinta kakakku ketika kami sedang makan malam bersama.

 “Aksi dimana, Yash?”, tanya Ayah.

 “Itu, Yah, aksi kasus Akbar Tanjung, biar pengadilannya gak memihak..., Mas Faris juga ikut ko, Yah”, kakakku menjelaskan.

 “Ya udah, tapi kamu mesti hati-hati ya, Nak. Ayah khawatir rusuh...”, ujar Ayah.

 “Iya, nak. Kalo bisa kamu jangan di depan ya! Emangnya yang aksi darimana aja?”, tanya Ibu.

 “Pastinya dari UI, BEM jakarta Raya, terus BEM Bandung Raya juga.”

 “Wah, hati-hati ya, Ka. Pasti bakal rame banget tuh!”, nasehatku.

 “Yaiyalah, Neng! Kalo gak rame namanya gak pake raya atuh!!!!!”

 Hehehe, aku Cuma nyengir kuda. Sebenernya takut juga nih sama niat mas Faris dan Kakakku untuk ikutan aksi. Kalo udah rusuh kan polisi sukanya mukul dengan tak berperasaan. Ah, tapi bagi anak teknik kali ya, eh salah denk, bagi mas Faris dan kakakku lebih tepatnya, jadi border mah udah biasa. Huu...entahlah, tapi aku salut sama mereka. Ya, kalo kata Mas Faris setidaknya dengan mengikuti aksi mereka menunjukkan rasa cintanya terhadap tanah air, biar orang-orang kotor gak melulu bisa bebas dari jeratan hukum dan bisa bertindak seenaknya. 

***

 “Innalillahi...Terus gimana keadaannya?”, suara ibu terdengar gemetar ketika berbicara di telpon.

 “Alhamdulillah sekarang udah boleh pulang kok, Bu. Insya Allah gak serius banget!”, ujar kakakku.

 Duh, ada apa sebenarnya ini? Siapa yang terluka? Kakakku atau Mas Faris? Ya Allah lindungi mereka....

 Akupun langsung bertanya kepada ibu sesaat setelah beliau menaruh gagang telponnya, “Bu, siapa yang terluka?”

 Ibu mengambil nafas, berusaha menenangkan dirinya, “Mas Faris kena pukul aparat, kata Ka Ayash sih dia gak papa, tapi ibu gak tau pasti, tenang aja, Ayah udah ada di sana ngurusin Mas Faris. Budemu belum tahu soal Mas Faris. Biar nanti Ibu saja yang memberi kabar ke Bogor, tapi nanti setelah Ayah dan kakakmu membawa Mas Faris kesini”, Ibupun berusaha menenangkanku.

***

 Lima jam kemudian terdengar suara mobil. Oh, itu pasti Ayah. Aku langsung buru-buru membuka pagar. Kulihat kakakku membukakan pintu mobil untuk Mas Faris, lalu membantunya berjalan menuju ke dalam rumah. Alhamdulillah, ia masih dapat berdiri, karena aku tak melihat luka di kepala atau kakinya. Tapi, ternyata tangannya di perban. Duh, mudah-mudahan Ia gak papa.

 Setelah memasuki rumah, ibu langsung saja membuatkan secangkir teh hangat untuk Ayah, Ka Ayash, serta Mas Faris. Setelah menaruh tehnyadi atas meja, Ibu tak sabar mendengar cerita tentang apa yang sebenarnya menimpa Mas Faris.

 “Ko bisa sampai kaya gini toh, Ris?” Tanya Ibu cemas.

 “Gak Papa ko, Buk Lek, Cuma luka di tangan saja...”, jawab Mas Faris berusaha menenangkan Ibuku.

 “Gak papa apanya! Orang tanganmu remuk githu ko dibilang gak papa!!!”, ujar Ka Ayash kesal.

 “Masya Allah, ko bisa Mas?”, tanyaku sedikit panik.

 “Iya, tadi tuh Mas Faris coba ngelindungin akhwat yang mau dipukul sama aparat, eh jadinya malah kena pukul deh sama pentungan!”, kakakku malah yang menjawab.

 Subhanallah, Mas Faris. Betapa tidak aku bertambah kagum padamu. Uh, kau benar-benar seorang lelaki sejati, Mas. Gak sia-sia aku menjadi sepupunya.

 “Sudahlah, memang sudah takdir Allah kalo aku yang kebetulan menjadi pelindung mereka. Lagian, semua sudah terjadi...”, jawab Mas Faris.

 “Terus, akhwatnya gak papa, Ris?”, tanya ibuku.

 “Alhamdulillah, mereka baik-baik saja...”
 Sungguh, akupun terkesima mendengar cerita masku yang satu ini. Duh, Mas Faris. Bagaimana aku tak selalu bertambah mengagumimu, karena begitu banyak alasan buatku untuk mengagumi pribadimu.

***

 Tadi pagi Mas Faris mengabarkan kepada keluargaku, bahwa Ia akan diwisuda hari ini. Akhirnya setelah enam tahun berjibaku dengan tugas-tugas kuliah, sekarang ia bisa menikmati manisnya perjuangan itu. Meskipun tak lulus cumlaude, karena IPknya Cuma 3,35, tapi tetap saja Ia adalah orang hebat dimataku. Wong, lulusan Teknik Elektro ITB, IPk 3,35, gimana gak hebat!!!. Hmm, kudengar sebelum wisudapun beberapa perusahaan asing telah mengincarnya. Malah ada satu perusahaan Amerika yang berani menawarkan gaji yang lumayan besar bagi seorang fresh graduate, agar mau bekerja di perusahaannya. Tapi, Mas Faris tetaplah Mas Faris. Komitmennya begitu kuat untuk tidak mau bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang secara tidak langsung telah menjajah Indonesia. Akhirnya ia hanya bekerja pada sebuah perusahaan milik pribumi di daerah Batam.

 Setelah beberapa bulan bekerja, Mas Faris dikirim ke Amerika untuk menunaikan tugas belajar. Mas Faris...betapa semakin hari aku semakin mengagumimu. Mendengar ceritamu ketika tiba di Amerika, ditahan di bandara selama tiga jam lamanya hanya karena membawa buku-buku bernafaskan islam, seperti tafsir Ibnu Katsir dan sebagainya, hati ini rasanya semakin tak dapat dikendalikan lagi olehku. Oh, Mas, aku tahu, aku tak akan pernah mungkin bisa menjadi pendamping hidupmu. Tapi, salahkah aku karena mencintaimu?

***

 Tak terasa, sudah enam bulan lamanya Mas Faris berada di sana. Katanya bulan ini ia akan pulang. Wah, sepertinya hari kepulangannya akan berdekatan dengan pengumuman SPMB ku. Duh, aku tak sabar menunggu datangnya hari tu.

 Dan Mas Farispun akhirnya datang berkunjung ke rumahku, setelah satu minggu kepulangannya. Sekarang sikapnya sudah sangat berbeda kepadaku. Ia sudah tak mau lagi bercanda denganku, bahkan menatap wajahku pun tidak. Sepertinya ia menjaga jarak denganku. Entah karena aku yang sekarang sudah bertaransformasi menjadi seorang akhwat, ya, benar-benar akhwat sehingga mas faris terlihat begitu menjaga dirinya. Duh, aku tahu Mas kalo kita harus menjaga pandangan karena kita bukan mahram. Akan tetapi, aku belum siap, Mas kehilangan candaan dan senyuman manismu. Oh, Rabbi...salahkah aku jika mencintainya?

***

 Hari pengumuman SPMB pun tiba. Alhamdulillah, aku diterima di Teknik Sipil ITB. Aku bangga karena akhirnya aku bisa satu almamater dengan Mas Faris, meskipun sekarang ia sudah lulus, namun setidaknya aku akan mempunyai bahan obrolan ketika bertemu dengannya. Rasanya sudah tak sabar aku ingin memberitahunya.

 “Assalamu’alaikum...Mas Faris apa kabar? Lagi di mana, Mas? Di Bandung atau di Batam?”, sapaku dengan nada riang.

 “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Alhamdulillah baik, Dek. Sekarang Mas udah pindah ke Bandung ko. Eh, gimana hasil SPMB mu?” , tanyanya.

 “Alhamdulillah, Mas. Aku diterima di Teknik Sipil ITB. Kita satu almamater deh jadinya. Sayang sih, Mas udah lulus, hehehe...!”, candaku.

 “Wah, Subhanallah...Hari ini ternyata ada dua kebahagiaan yang hadir!”

 “Ehmm...Maksud Mas apa?”, tanyaku tak mengerti. Ahh, suasana hatiku tiba-tiba berubah drastis, ahh mudah-mudahan hanya perasaanku saja yang tak enak.

 “Iya, Dek. Alhamdulillah sebentar lagi kamu akan punya Mbak, insya Allah akad nikahnya bulan depan”, Mas Faris terdengar nampak ceria.

 Deg, jantungku tiba-tiba serasa berhenti. Hatiku begitu kacau, “Maksudnya, Mas akan...”, aku tak sanggup meneruskannya.

 “Iya, Mas sudah menemukan calon pendamping. Akhwatnya calon Hafidzhoh loh, Dek! Sudah hafal 20 juz, Subhanallah Ya?” Ia terdengar begitu bahagia.

 Tiba-tiba napasku sesak. Ingin rasanya aku menangis mendengar berita itu, namun aku sadar, aku tak pantas menangisi sesuatu yang memang bukan merupakan hakku. Sejak dahulu aku sudah sadar, bahwa Mas Faris pasti akan mendapatkan pendamping yang setara dengannya, bahkan lebih. Ya, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Kutarik napas dalam-dalam. Aku mencoba mengontrol suaraku agar tak terdengar seperti suara orang yang menahan tangis. Kucoba tegar menghadapi kenyataan ini, dan perlahan kuucapkan, “Selamat ya Mas, semoga mendapat keberkahan dari Allah...”.



Depok, 19 Mei 2008 pukul 21:43 WIB
Direvisi tanggal 16 januari 2009






Saturday, 24 January 2009

Bidadari Surgaku....

“Umm… kenapa aku diberi nama Haura”
“Karena Kami ingin kau menjadi bidadari…”

***

Hari mulai memasuki senja, tapi bagi penduduk kampung Shalahuddin, berjalannya waktu hampir tak ada bedanya bagi kami. Toh tetap saja kami tak dapat menjalani kehidupan seperti kebanyakan orang. Ahh, mungkin inilah keistimewaan bangsa palestina. Diuji dengan kesabaran keimanannya.

Langkah-langkah kecil terdengar bersamaan dengan seruan salam untukku. Ahh, itu pasti bidadari kecilku yang baru pulang menuntut ilmu di madrasah. 

“Umm….Assalamu’alaikum…”

 “Wa’alaikumussalam…sudah pulang,Nak?”

“iya…Umm…” 

Ahh, bidadariku, ia terlihat sangat riang. Ya, ia memang sangat menyukai saat-saat mengaji dengan Syeikh Azis. Ah, ya, hanya itulah yang dapat menyenangkan hatinya di tengah kehidupan kami yang penuh terror.

“Umm, tau gak, tadi kata Syeikh, umat Islam itu satu tubuh, jadi kalau satu terluka maka yang lainnya akan merasakan sakit….emang bener ya, Umm?”

“Mmm… Iya...”, 

“Berarti kalo kita diserang sama tentaraYahudi, umat islam yang lain akan merasa terluka juga ya, Umm?”

Ahh, bidadariku yang cerdas….harus kujawab apa pertanyaanmu? Aku pun tak tahu apakah saudara-saudara kita sesama muslim di belahan bumi yang lain ikut merasakan sakit yang sama saat kita dilukai oleh kaum Yahudi itu.

Ahh, tapi aku tak mau melukai hati bidadari kecilku, “Iya, insya Allah mereka juga ikut merasakan penderitaan kita…”

“Tapi, Umm..mengapa saat abi dan ka Fath ditangkap oleh tentara Yahudi tak ada satupun yang membela mereka, terus waktu rumah kita di Az-Zaitun dihancurkan oleh tank-tank yahudi, mengapa tak ada satupun yang menyalahkan kaum Yahudi itu Umm…?”

Ahh, kesangsian akhirnya keluar juga dari mulut cerdasnya.

“Bahkan, saudara-saudara muslim di sekitar kita pun tak pernah menentang pemboikotan atas kita, padahal mereka melihat kita hidup tak layak, padahal mereka dengan jelas melihat pengusiran dari rumah kita sendiri, padahal mereka melihat kita di sini hidup berkawan dengan penderitaan….”

Ahh, bidadari kecilku, penjajahan ini telah membuat pemikiranmu tak seperti anak yang berusia 8 tahun. 

“Dan saat Ka Faris dan teman-temannya diberondong dengan peluru oleh tentara-tentara yahudi itu, tak ada satupun dari saudara-saudara kita yang membela, padahal mereka hanya mengetapel tentara-tentara itu dengan batu, Umm…” 

Ahh, bidadari kecilku, kau masih saja mengingat peristiwa itu. Ya, satu persatu anggota keluargaku memang telah Syahid. Suami dan anak pertamaku, ia ditangkap oleh tentara yahudi karena disangka anggota Brigade Izzudin Al-Qassam. Ah, aku tahu itu hanya akal-akalan mereka saja. Karena tujuan mereka yang sebenarnya adalah menghabisi satu persatu warga palestina. Satu minggu setelah penangkapan itu aku mendengar kabar bahwa mereka telah Syahid, semua yang ditangkap disiksa oleh para tentara Yahudi, sampai izroil datang mencabut nyawanya. Anak keduaku, ahh…ia dan teman-temannya memang pantas disebut jundi Illahi. Ia bergabung dengan pemuda-pemuda palestina lainnnya “mengganggu” tentara Israel yang tengah berpatroli di dekat perkampungan kami di Az-Zaitun. Dan ratusan peluru pun mengantarkan mereka syahid menuju surga. Maka di bumi yang diberkahi ini, tinggallah aku dan bidadari kecilku. 

Dua bening Kristal satu persatu mulai keluar dari mataku…Ahh, cukuplah hanya Allah pelindung dan penolong kami….

Tangan kecil hauraa menyeka bulir air mataku yang jatuh, mulut kecilnya kemudian berucap lagi….”Ohh, Ummi maafkan aku…Pasti kau sedih ya, Umm mengingat peristiwa-peristiwa itu…? Ahh, Umm, sekali lagi maafkan aku….”

Bidadariku, sungguh aku justru bahagia karena kita telah mempunyai tabungan syuhada, karena aku yakin orang-orang yang kita sayangi telah bahagia di sisi Rabbnya. Aku menangis karena aku tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan padamu. Aku tak tahu mengapa saudara-saudara sesama muslim di sekitar kita seakan-akan menutup mata dengan perjuangan kita….ahh, sungguh aku benar-benar tak tahu….

“Sudah yuk Umm, kita makan….ini tadi aku diberi roti oleh Syeikh Aziz, roti ini yang diselundupkan dari terowongan oleh para pejuang….Alhamdulillah ya Umm, sekarang kita bisa makan setelah seharian kemarin kita menahan lapar….”

***

Buuumm…..Bummm….

Ahh, lagi-lagi kembali ada serangan. Tak punya nuranikah mereka menyerang kami bahkan di malam yang telah larut ini.

Aku langsung saja menyambar jilababku, mengambil sebuah tas dan memasukkan sisa roti yang tadi diberikan oleh Syeikh Aziz melalui hauraa. Oh, Hauraa….aku tak menemukan ia berada di sampingku….!!!

“Hauraaa…..Hauraaa….”

Aku berteriak di tengah dentuman bom yang memekakkan telinga. Ya, kami harus keluar dari rumah jika tak ingin menunggu giliran terkena reruntuhan bom…. 

“Hauraa…Hauraa….,dimana kamu , Nak?”, kembali aku memanggil haura.
Tergopoh-gopoh Haura kemudian datang, dengan memeluk sesuatu….
“Hauraa, ayo lekas kau berkemas….kita harus pergi dari sini…!”

Aku dan Haura pun bergegas keluar dari rumah. Langit gaza yang hitam kini diwarnai oleh semburan kembang api. Ahh, tapi tentu saja itu berasal dari bom curah yang dimuntahkan oleh pesawat-pesawat tempur Yahudi. Ya, akhir-akhir ini mereka menyerang dengan menggunakan bom itu. Bom yang tak mengenal rumah siapa yang dijatuhinya. Tapi, memang semua nyawa penduduk Gaza adalah target mereka. Tak peduli mereka termasuk kelompok Hamas, Jihad Islam, atau warga sipil. 

Dentuman demi dentuman terus saja terdengar menemani langkah-langkah kami bersama dengan warga lainnnya. Sejujurnya, kami tak tahu harus lari kemana. Karena lari keperbatasanpun kami akan disambut oleh pengusiran tentara-tentara Yahudi itu. 

Setelah agak lama aku dan Haura, juga bersama dengan puluhan warga Gaza berlari tanpa tujuan, akhirnya dentuman-dentuman bom berhenti juga. Entahlah aku tak tahu apakah kami mesti kembali ke kampung kami atau harus mengungsi ke kamp pengungsian. Ahh, tapi ini tanah air kami…. Ini adalah hak kami, maka setelah dirasa suasana sudah kembali aman, kami memutuskan untuk kembali ke rumah kami.

Puluhan rumah terlihat hancur dan luluh lantah dengan tanah. Maka, mereka yang rumahnya hancur lalu akan hidup menumpang ke rumah-rumah yang masih dapat ditempati. Di sini, kami memang sudah senasib sepenanggungan. Bahkan orang yang rumahnya masih dapat ditempati, dengan senang hati menawarkan tempat tinggal untuk mereka yang rumahnya telah hancur. Dan aku termasuk ke dalam orang-orang yang rumahnya masih “selamat”. Maka sekarang, aku hidup berbagi dengan Ummu Yahya beserta dua orang anaknya, Yahya dan Salma yang umurnya sebaya dengan Haura. Juga berbagi dengan Ummu Ahmad yang sudah sebatang kara.

***

“Haura… kemarin kamu mencari apa sampai-sampai ummi harus berkali-kali memanggilmu?”

Senyum Haura kemudian mengembang. Ia lalu pergi ke belakang mencari tasnya. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan memeluk sesuatu. 

“Aku mengambil harta yang paling berharga bagiku… Ini Umm…”, tangannya lalu menyerahkan sebuah bingkai foto kepadaku.

Kuraih bingkai foto itu. Foto utuh keluargaku. Foto yang diambil lima tahun yang lalu. Di sana suamiku, Khalid, duduk disampingku. Nampak gagah sekali ia. Fathi dan Faris remaja, yang juga terlihat gagah berdiri di belakang ayahnya, serta Haura yang sedang tertawa yang berada dalam pangkuanku. 

“Aku rinduu…, Umm. Aku rindu dengan mereka….”
Kutaruh bingkai itu, lalu langsung saja kudekap haura dengan kedua tanganku. Aku mendekapnya erat. Ahh, Haura aku juga sangat merindukan mereka. Aku terus mendekapnya tanpa bisa berkata-kata. Hanya isak tangis yang keluar dariku. Kudengar juga isakan tangis Haura. Maka, hari itu kami larut dalam kerinduan kami pada orang-orang terkasih. Kami rindu kapankah Allah berkenan memanggil kami agar kami dapat segera berkumpul dengan mereka. Agar kami dapat menyelesaikan semua perniagaan yang telah dijanjikan ini.

***

Setelah satu minggu sejak penyerangan, keadaan kembali normal. Ahh, meskipun aku tak 

tahu apakah kehidupan yang kami jalani bisa dikatakan normal. Tapi tiba-tiba dentuman keras kembali terdengar.

Buumm….Bummm….

Asap tebal membumbung tinggi, menutupi langit gaza yang cerah.Maka seketika itu pula langit gaza tertutupi awan kelam. Oh, Rabb….daerah mana lagi yang diserang? Oh, asapnya berada disebelah barat rumahku. Allah… sepertinya berada di dekat madrasah. 

Ahh, Hauraku… bukankah ia juga sedang menuntut ilmu di sana?

Hatikupun lalu dihantui rasa kekhawatiran yang luar biasa. Tanpa berpikir lagi aku langsung berlari menuju madrasah. Tak peduli dengan keselamatanku sendiri. Aku hanya ingin tahu apa yang telah dikenai oleh bom laknat Yahudi. Haura… apakah dirimu baik-baik saja…?

“Anakku, berbahaya di sana…”, Paman Abdul berteriak, berusaha menghentikan langhkahku.

“Sudahlah, ikhlaskan saja, Anakku… tak ada yang tersisa, semua yang berada di sana pasti telah Syahid, karena bangunannya luluh lantah dengan tanah”, kali ini Paman Abdul berhasil menghentikan langkahku. 

Aku tak mengerti ucapan paman Abdul, ikhlaskan? Memang apa yang telah diluluhlantahkan oleh Bom Yahudi?

Seakan mengerti suara hatiku paman Abdul kemudian berbicara lagi… "Kali ini madrasah yang menjadi sasaran, nampaknya tentara-tentara Yahudi itu sengaja menyerang ke sana karena ingin menghabisi penerus-penerus perjuangan pembebasan Palestina di masa depan"

Mendengar itu seketika saja kakiku lemas. Allah, anak-anak itu…. ? Biadab kalian bangsa Yahudi! Aku tertunduk dan terduduk diikuti dengan isakan tangisku yang keras. Ummu Yahya kemudian datang dan merengkuh tubuhku. Ia memelukku, lalu iapun juga menangis… “Sudahlah Ummu Fath, ini sudah takdir Allah, tidakkah kau harusnya gembira karena semua anggota keluargamu telah syahid di Jalan Illahi….”

Mendengar perkataan Ummu Yahya, tiba-tiba saja hatiku menjadi tegar. Ya, aku bangga, semua anggota keluargaku telah menjemput Syahid, sebentar lagi perniagaan dengan Rabbku pun akan segera selesai.

***

Setelah keadaan dirasa sudah cukup aman, aku segera berlari menuju madrasah tempat haura belajar. Ah, Haura bagaimana keadaanmu sekarang?. Kulihat medrasah yang tadinya berdiri kokoh kini sudah rata dengan tanah. Beberapa orang tengah mengevakuasi korban. Berpuluh jasad-jasad kecil sudah dijejerkan di dekat bangunan yang tidak terkena bom. Ahh, kucari tubuh haura. Tidak, tak ada Haura diantara jasad-jasad kecil yang terjejer di sana. Ahh, Haura, apakah kamu selamat, Nak?

Ummu Yahya datang mendekap jasad Salma, teman sekelas Haura, “Semua hancur, aku khawatir tak ada satupun dari mereka yang selamat?” 

Ahh, gadis kecil, wajahnya dipenuhi luka akibat serpihan bom, tangannya mengalami luka bakar yang sangat parah. Lalu Haura, bagaimana keadaanmu Nak?

Aku mengais reruntuhan madrasah itu. Kuangkat batu demi batu yang menimbun jasad-jasad kecil di sana. Setelah cukup lama mengais, aku menemukan sepotong jilbab berwarna hijau. Ahh, bukankah ini milik haura?

***

“Umm, mengapa aku diberi nama Haura?”

Pertanyaan itu kembali terngiang dalam ingatanku.

“Nama itu adalah sebuah doa anakku, maka kami beri kau nama Haura karena kami ingin kau menjadi salah satu bidadari di surgaNya kelak…”

Dan, Allah telah mengabulkan doaku. Maka, tunggulah aku untuk segera menyusul ke SurgaNya. Agar kita dapat berkumpul dan menjalani kebahagiaan abadi di sana.

Tangerang, 22 Januari 2009

22:41 WIB

Teruntuk saudaraku di sana

maaf, karena hanya ini yang dapat kupersembahkan...

*Puti Ayu Setiani


Thursday, 22 January 2009

Kemenangan Obama, Kemenangan Kaum Yahudi

Bagi Yahudi Amerika, kemenangan Barack Obama menjadi lambang kemenangan mereka. Para Yahudi AS itu mengatakan, perjalanan hidup seorang Obama yang berasal dari keturunan imigran kulit hitam hingga berhasil mencapai kursi kepresidenan AS, mirip dengan perjuangan kaum Yahudi yang datang ke AS sebagai imigran yang mencari kehidupan yang lebih baik setelah mereka selalu menjadi kaum terusir di berbagai penjuru dunia.

Salah seorang tokoh Yahudi AS yang beranggapan seperti itu antara lain David Axelrod penasehat senior Gedung Putih dan kepala strategi kampanye Obama, yang selalu berusaha menutup-tutupi latar belakang ke-Yahudi-annya. Dalam sebuah pesta untuk Obama yang didanai sejumlah organisasi Yahudi di AS, Axelrod mengatakan, prestasi Obama merupakan satu lagi langkah maju kaum Yahudi dalam perjalanan Amerika Raya, yang sebelumnya telah dilakukan ayah dan kakek neneknya ketika mengungsi dari Bessarabia ke AS.

"Mereka datang ke AS bukan cuma untuk mencari tempat yang aman, tapi mereka juga mencari tempat yang menjanjikan dan memberikan kesempatan. Dan Amerika adalah lambangnya," kata Axelrod.

Ia mengungkapkan harapannya, suatu saat nanti bukan hanya Obama yang bisa terpilih ke Gedung Putih, tapi anak-anak Yahudi lainnya seperti Rahm Emanuel yang ditunjuk Obama sebagai kepala staff Gedung Putih. Axelrod menyebut Emanuel sebagai "putera dari para imigran Israel."

Axelrod mengaku sangat puas dan bangga begitu melihat hasil pemilu kemarin, dan melihat besarnya dukungan Yahudi AS pada Obama. Yang menurutnya merupakan dukungan terbesar pada Partai Demokrat dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

Tokoh Yahudi lainnya yang memiliki pandangan sama dengan Axelrod dah ikut hadir dalam acara perayaan untuk Obama adalah aktor Bryan Greenberg. Ia mengaku hadir dalam perayaan itu untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pemerintahan baru AS ini membina hubungan dengan komunitas Yahudi dan menanggapi isu-isu ke-Yahudi-an. Buat Greenberg, kepentingan Israel harus tetap nomor satu.

Greenberg menceritakan bagaimana nenek moyangnya berhasil lolos dari Jerman pada masa holocaust dan pengalaman perjalanannya ke Israel. Dari pengalamannya itu, Greenberg merasa betapa pentingnya bagi Yahudi memiliki satu tempat, setelah terusir dari satu tempat ke tempat lain selama ribuan tahun.

Rekan Greenberg, Debra Winger, salah satu pendukung Obama dan pendukung Yahudi mengatakan bahwa doa mereka telah dikabulkan dengan terpilihnya Obama. Bahkan Abner Mikvner, juru bicara kaum Yahudi Zionis, mantan anggota Kongres, mantan hakim federal yang juga mentor Obama berkomentar,"Obama adalah presiden Yahudi pertama".

Tak heran, jika Barack Obama menunjukkan dukungan butanya pada Israel seperti juga presiden-presiden AS sebelumnya. Dan sama sekali tidak mengeluarkan pernyataan apapun melihat tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Melihat fakta yang terang benderang ini, bisakah Obama diandalkan menjadi pemimpin AS yang membawa perubahan bagi perdamaian dunia, terutama dunia Islam? (ln/JP)


sumber:http://www.eramuslim.com/berita/dunia/sukses-obama-suksesnya-kaum-yahudi.htm

Lagi-lagi Hilang.....

Arghhh...............

Lagi-lagi flashdisk biruku hilang...

Ini sudah yang ketiga kalinya....

waktu hilang pertama kali, tiga hari kemudian ia kembali melalui tangan seorang temanku....

Yang kedua kali, ia juga kembali setelah seminggu menginap di de ja vu

Maka yang ketiga.....

Ah, mudah-mudahan ia kembali lagi...

Karena ada beberapa file yang belum sempat kuhapus di sana....

Thursday, 15 January 2009

Banjir.....




Ya, foto ketika jalanan di rumahku tergenang air hujan...
Alhamdulillah belum sampai masuk ke dalam rumah...
tapi, kalo di jalanannya bisa-bisa sampai sebetis nih...hehehe

Ahh...betapa aku hanya bisa menghela nafas...

Hari ini aku kembali lagi ke sana...

Ahh, sudah lama rasanya tak mengunjungi adik-adikku di terminal...

Dengan setelan kaos putih + rok hitam, pagi tadi aku melangkah bersama teh yunda...

Ahh, rasanya senang...masihkah mereka inget padaku...?! Kakak mereka yang sudah lama tidak berbagi ilmu....

Dan saat tiba di terminal, dengan penampilanku (baca:bajuku) yang mirip setelan anak SMP, seorang supir angkot meneriakiku  "Woy, anak sekolah mater ye?...anak sekolah master ye?.."

Ah, pantaskah ia disebut sekolah....

Ah, aku pun hanya bisa menghela nafas...

Kekurangan kelas, kekurangan meja, kekurangan bangku, kekurangan buku, kekurangan pengajar...

Ahh, tapi ia memang tempat menimba ilmu anak-anak jalanan itu...

Ya...bagi mereka, ini adalah sekolah....

Ah...hari ini....

Yup, hari ini semua jadwal sebulan yang udah aku susun berantakkan....

Nyebelin!!!!!! 

Yah, gini kali ya nasib jadi jundi, hehehe

Semuanya harus di jadwal ulang, padahal semua udah tinggal jalan (eh, yakin gak ya tinggal jalan?!)

Yayayaya....

Hufff.....

Hidup memang tak selamanya sesuai harapan....

Sabar....sabarrr......

Buat Yang Masih Belum Tahu...

Palestina selalu menjadi pentas konflik agama dan politik antara bangsa-bangsa dalam kurun waktu yang lama. Kionflik ini berhenti setelah palestina berada dalam pelukan Islam. Khalifah Umar bin Khatab, masuk ke kota Al-Quds (dahulu bernama Elia) pada tahun 16 H. beliau masuk untuk membuka kota itu dan memberi jaminan keamanan bagi penduduk Al-Quds yang beragama nasrani dan pemeluk agama lainnya. Untuk selanjutnya apa yang dilakukan umar terkenal dengan nama “Deklarasi Umar” yang juga disaksikan oleh beberapa sahabat Rasulullah yang Agung. 

Akan tetapi ternyata konflik kembali berkobar di Palestina. Apalagi penyebabnya kalau bukan bergesernya harmonisasi dari tiga agama langit (Islam, Yahudi, dan Nasrani) yang punya akar sejarah di sana. Negeri ini dan penduduknya, dengan agama dan masa yang berbeda, pernah hidup tenang dan damai dibawah naungan hokum islam dengan kesaksian semua orang sepanjang sejarah. Itulah agama yang menghormati semua agama langit. Tak ada bukti lebih kuat dibandingkan dengan deklarasi Umar terhadap penduduk Elia, pendeta Yahudi, dan Nasrani, yang melindungi jiwa, harta, anak, rumah tinggal, serta tempat ibadah mereka. 

Sebaliknya, penduduk negeri ini mengalami sekian banyak penderitaaan ketika dijajah dan dikuasai oleh kaum Salibis pada akhir abad XI hingga akhir abad XII Masehi. Sejarah membuktikan bahwa darah kaum muslimin yang ditumpahkan kaum salib di Palestina tak terhitung banyaknya. Kemudian Shalahudin Al-Ayyubu, pahlawan Muslim yang unik ini mampu membebaskan Al-Aqsa untuk kedua kalinya dan mengembalikan Al-Aqsa dalam naungan keamanan dan kedamaian dibawah pangkuan Islam dan kaum muslimin.

Hari dan tahun mulai bergulir. Mendung penjajahan kembai menerpa langit Palestina setelah perang dunia I tahun 1914-1918. Inggris dan sekutunya menjadi pemenang dan Daulah Utsmaniah merugi dan hancur. Palestina jatuh dalam penjajahan Inggris. Komandan perang Inggris, Admond Alanbe masuk Palestina tahun 1918. Dan sejarah mencatat, ketika komandan ini masuk kota Al-Quds, ia mengatakan “Hari ini perang Salin telah Usai”.

Seperti lazimnya sebuah kolonialisme, penjajahan Inggris di Palestina menyebabkan kerusukan di bumi serta bagi manusia yang menghuninya. Kejahatan dan kezaliman Nampak ketika Inggris memberikan janji kepada Yahudi untuk mendirikan sebuah Negara nasional di Palestina. Janji tersebut dikenal dengan nama janji Balfour pada tanggal 2 september 1917 yang lebih tepat disebut “orang yang tidak memiliki (apa-apa), memberikan sesuatu kepada yang tidak berhak. 

Mulailah eksodus Yahudi besar-besaran ke Palestina dari penjuru eropa berkat kemudahan yang diberikan oleh koloni Inggris. Tidak berhenti di sini, Inggris bahkan mulai memberikan kucuran dana, materi, senjata, dan memberikan latihan militer kepada Yahudi. Jumlah Yahudi pun kian bertambah dan mengancam penduduk Palestina . Pengaruh mereka semakin kuat di bawah perlindungan koloni Inggris. 

Ketika benar-benar yakin Yahudi telah kuat, terlatih, melindungi diri, dan mendirikan sebuah Negara, Inggris mengumumkan meninggalkan Palestina dan membiarkan penduduknya menentukan nasib mereka sendiri. Langkah jahat Inggris memuluskan jalan bagi Yahudi untuk memproklamirkan berdirinya Negara Israel di sore hari, di hari yang sama saat Inggris menarik diri meninggalkan Palestina pada tanggal 15 Mei 1948.

Lalu David Ben Gurion memproklamirkan berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, dan sekaligus ia menjadi perdana menteri pertama Israel. Sepuluh detik usai proklamasi itu, Uni Soviet dan Amerika Serikat mengakui secara sah Negara tersebut. Hal ini menegaskan bahwa da konspirasi penjajahan terhadap rakyat Palestina yang tidak berdaya.

Negara Israel telah berdiri, maka dimulailah kezaliman yahudi setelah sebelumnya kezaliman kaum salibis Inggris. Israel mulai menyembelih kaum laki-laki, perempuan, seta anak-anak yang terkucilkan. Mereka diteror dan diusir dari rumah mereka, seperti yang terjadi di Der Yasin, Al-Quds, Haifa, Qabiah, Aka, dan di kota atau desa lainnya si pelosok Palestina. 
Rakyat Palestina yang terlucuti senjata dan perbekalan (kecuali senjata keimanan dan keyakinan akan kemenangan keadilan) terpaksa harus melakukan perlawanan sendiri dengan “tubuhnya yang telanjang” dan batu-batu yang menjadi senjata paling kuat bagi mereka. Tak ada yang punya senjata api, kecuali sangat sedikit.

Pada tanggal 8 desember, meletuslah intifadhoh I tang menjadi awal percikan api yang membakar kolonialisme. Inti gerakan Intifadhoh ini adalah rakyat palestina mempunyai hak untuk membela diri, tanah air, dan kehormatannya yang sudah terpenjara di bawah kaki najis musuhnya.

Maka intifadoh bergulir dengan massif dan meluas. Yang pertama kali menggulirkannya adalah sekelompok tokoh yang dikenal public Palestina sebagai orang yang tulus dan cinta terhadap Negara dan agamanya. Sepekan usai Launching gerakan Intifadhoh, mereka mengeluarkan siaran pernyataan pertama Intifadhoh pada tanggal 15 Desember 1987. Di dalamnya mereka mengajak rakyat Palestina untuk bersabar, bersabar menghadapi musuh, bersatu dan melakukan jihad. Bersamaan dengan itu, mereka mengumumkan berdirinya gerakan Perlawanan Islam (Hamas) yang menjadi pioneer Intifadhoh ini bersama dengan faksi-faksi perlawanan lainnya.

Ya, sampai saat ini kita dapat melihat bahwa perjuangan Hamas tak pernah mengenal kata henti. Bahkan dengan dalih melenyapkan Hamas, Israel yang frustasi karena selama lebih dari 60 tahun tak bisa melenyapkan warga Palestina) melakukan serangan yang membabi buta. Menembaki anak-anak dan wanita, agar kelak tak akan ada penerus yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina.


(diambil dari Biografi Abdul Aziz Al-Rantisi oleh Center for Midle East Study)


Sunday, 11 January 2009

YA Allah...Cuma telat 2 menit...

 Jam menunjukkan pukul 00.02WIB

Ya AMPUN....GA DAPET MATKUL PILIHAN...

GILA...GILA...GILA.....

CUMA TELAT 2 MENIT BUKU SIAK....

UADAH POSISI KE 100....

HADOH....HADOH...

BAGAIMANA INI?????

Sunday, 4 January 2009

Al-Qassam: Dalam 24 Jam Kami Tewaskan 11 Serdadu dan 1 Komandan Israel

[ 05/01/2009 - 02:18 ] 
 



Gaza – Infopalestina: Sumber Batalion Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas menegaskan Ahad malam kemarin bahwa mereka berhasil membunuh 11 serdadu Israel dan melukai 48 lainnya dalam 24 jam sejak operasi darat Israel dimulai di Jalur Gaza. 

Sumber-sumber di Al-Qassam menyebutkan, lima serdadu Israel tewas malam Sabtu malam lalu dan enam lainnya luka-luka. Di antara korban yang tewas itu ada seorang komandan dengan pangkat kolonel yang sudah pernah terluka di perang Libanon dan ikut kembali dalam perang baru di Jalur Gaza. Peristiwa itu terjadi ketika pertempuran sengit antara perlawanan Palestina dan serdadu Israel di sejumlah titik perlintasan. 

Sementara itu, Muhammad Nazzal, anggota biro politik gerakan Hamas menegaskan bahwa 60 pasukan Israel antara tewas dan luka sejak operasi darat dilakukan dan terjadi pertempuran hebat antara serdadu Israel dan perlawanan Palestina, terutama Batalion Izzudin Al-Qassam. 

Dalam live di TV Aljazeera, Nazzal menegaskan bahwa dalam data lapangan yang dihimpun, jumlah serdadu Israel yang tewas dan luka-luka adalah 60 pasukan dan ada 11 serdadu terbunuh dan sekitar 48 luka-luka. Ditambah satu wakil komandan satuan perang di regu 52 Ggolani. Ia berpangkat kolonel yang pernah itu dalam perang Libanon tahun 2006. ia terbunuh di perkampungan Zaitun. 

Di sisi lain, Nazzal memberikan apresiasi terhadap pidato Amir Hamd bin Khalifah dan menyebutnya sebagai kemajian politik. Ia juga menilai bahwa pidato Amir Qatar itu mewujudkan bahwa menyampaikan kritik pedas dari pemimpin Arab terhadap reaksi pemerintah-pemerintah yang tidak berdaya. Nazzal berharap pidato itu akan menjadi langkah politik penting. Tidak adanya KTT dalam mereaksi peristiwa Gaza adalah titik hitam yang menegaskan bahwa Arab tidak memiliki tanggungjawab, imbuh Nazzal. Ia juga mengungkapkan bahwa kini sudah ada kontak dan reaksi dari Eropa dan lainnya yang meminta Hamas melakukan gencatan senjata. Namun Nazzal menegaskan bahwa gencatan senjata tidak ada terjadi jika permusuhan Israel tidak dihentikan dan perlintasan dibuka kembali. (bn-bsyr)