Thursday, 26 August 2010

who wants to be a good daddy?

terik matahari semakin mengganas di luar kelas. huff, untunglah kelas ini sangat 'terbuka' di sisi dindingnya sehingga aku tak perlu mengibas2kan tangan ke arah diri. kulihat anak2 masih tetap asyik masyuk dengan gambar dan karangan yang dibuatnya.

aku lalu menghampiri sekelompok panglima2 kecil. kulihat corat-coretan mereka. meskipun belum tergambar sempurna namun aku masih bisa menangkap sedikit2 maksud yang mereka ingin sampaikan. lalu, aku tertarik melihat gambar dimas, muridku yang paling ganteng dikelas, hehe. kemudian aku mencoba menanyakan apa yang sedang dipikirkannya untuk tema kelompok kali ini.

aku: ayah yang hebat menurutmu seperti apa, dim?
dimas: *ayah yang aku mau...itu seperti ayahku, ditambah seperti ayahnya mildan, ditambah ayahnya oka, dan ayahnya reynarld, itu baru oke bu.
aku: waw...banyak sekali gabungannya, bisa ceritakan ke ibu kenapa kamu mau jadi ayah hebat seperti gabungan semua itu?
dimas: ayah mildan itu oke bu. ia tau segala macem tentang motor.

memang dari dulu dimas sangat ingin bisa naik motor, tetapi selalu dilarang ayahnya karena masih kecil. maklumlah dimas memang masih berusia 9 tahun. namun ayah mildan tak pernah menunjukkan sikap yang mengecilkan dimas. kalo dimas datang ke bengkel kecil miliknya, dia selalu menerangkan dan membolehkan dimas mencoba. seperti mengegas, belajar mengendurkan sekrup, naik di atas motor yang sedang direparasi, menyalakan mesin, dan mereka suka berteriak-teriak di tengah deru gas yang dimainkan oleh dimas

ayah mildan tak pernah mengecilkan mereka. ayah mildan selalu menerangkan, sebelum bisa menaiki motor, maka yang harus dimiliki adalah ilmu mengenai motor, penyakit2nya, cara mengatasinya, proses bekerjanya motor, serta cara merawatnya.

dimas: iya bu, aku suka sama ayah mildan solanya dia selalu ngasih nasihat sama ku soal motor. trik2, dan macem2. ia pernah bilang " ama motor, kita mesti kenal dulu, jangan ampe dia jatohin kite, kayak kuda yang masih liar. motor juga punya rahasia. kagak kayak anak2 yang nekat noh..pada berani nekat doank. pada ngebut2an, eg giliran jatoh baru tuh pada nyesel.die kire naik motor bisa seenaknya. kagak dim..nih makannya belajar dari ahlinye..." gitu, bu. aku sih ya bu sebenernya juga udah tau kalo anak kecil belum boleh naik motor. tapi kalo ama ayah mildan aku tuh seneng, aku gak pernah dilarang untuk nyoba naik motor. bahkan aku diajarin macem2 bu.

aku manggut2. oh ternyata anak kecil juga tidak suka dikecilkan ya oleh orang dewasa. mrereka harus diposisikan sebagai orang yang ingin dihargai dan dihormati seperti orang dewasa. anak-anak memang harus diberikan sebuah ruang yang nyaman untuk memenuhi rasa penasarannya. tanpa mengecilkan tapi tetap menjaga mereka dari kenekatan-kenekatan dan kekeliruan. ooh, jadi ini nih tipe ayah yang baik.

aku: terus, kalo ayah oka kenapa?
dimas: aku seneng sama ayah oka soalnya setiap aku main ke rumah oka, ayahnya selalu memanggil aku dengan panggilan2 aneh bu. terus tiba2 aku disambut dengan tosan2 aneh, gaya2 yang aneh kaya tari2 indian, macem deh bu. ayah oka tuh menyenangkan banget.

hmm, aku kembali manggut2. ya, ya. ayah oka memang seorang entrepreneur. pantas saja ia bisa sering berjumpa dengan teman anak2nya ketika mereka sedang bermain ke rumah oka. ayah oka memang terlihat ramah. terbukti saat pengambilan raport semester awal hampir semua anak lelaki di kelas ini kenal dengan ayah oka. bahkan mereka seperti bertemu dengan temannya sendiri. ooh, menjadi seperti teman dan membuat kedekatan dengan julukan dan gayayang menyenangkan, itu salah satu kuncinya lagi.

aku: terus kalo dari ayahnya reynard apa dim?
dimas: kalo ayah reynard itu dia pinterrr...banget. dia selalu tau bu soal apa aja. kalo aku main ke rumah reynard, pasti ayahnya banyak bercerita soal kehidupan binantang, penelitian luar angkasa, UFO, alien, HP terbaru, kesenian dan budaya...pokoknya apa aja dia tau bu...aku seneng jadinya, kalo diajak ngobrol asik banget, meskipun gak serame ayahnya mildan dan oka. tapi aku suka kalo ngobrol sama ayah reynard"

aku kembali manggut untuk kesekian kalinya. ooh..ohh..jadi ini toh gambaran seorang ayah hebat yang dimiliki oleh seorang dimas.

dimas: makannya bu, kalo aku besar nanti aku mau jadi kayak mereka

aih, subhanallah. anak sekecil ini sudah mempunyai gambaran seorang ayah yang hebat didirinya.


ayah hebat untuk anak yang hebat

seorang ayah memang memiliki peranan yang sangat penting. setidaknya hal ini pernah saya ungkapkan di sebuah notes saya. Kelekatan dan keterlibatan seorang ayah dengan anaknya berasosiasi dengan perkembangan kognitif serta social anak. kelekatan emosi antara ayah dan anaknya dapat mempengaruhi kesejahteraan anak, perkembangan kognitif, serta perkembangan social secara positif Bahkan keterlibatan seorang ayah juga berkorelasi positif dengan kecerdasan yang dimiliki oleh anaknya.

untuk melakukan pendidikan dan membentuk karakter anak dalam pengasuhan, gak mungkin lah peran seorang ibu akan optimal kalo gak pernah didukung dengan seorang ayah yang hebat. seorang ibu yang sudah semaksimal mungkin dalam kegiatan pengasuhan tetap tidak akan optimal peran dan fungsinya kalo tidak mendapatkan pasokan perhatian, keterlibatan, serta keterikatan ayah dalam hal pengasuhan anak. dan bukankah peran seorang ayah juga sudah tertulis dalam sebuah peristiwa di zaman Umar bin kHatab:

Seorang datang kepada Umar r.a. berkata: "Puteraku ini durhaka kepadaku." Maka datang Umar r.a. berkata kepada anak lelaki itu: "Apakah kau tidak takut kepada Allah s.w.t? Engkau telah berbuat durhaka terhadap ayahmu, engkau tahu kewajiban anak untuk orang tuanya ......(begini dan begitu). Lalu anak itu bertanya: "Ya Amirul mu'minin, apakah anak itu tidak berhak terhadap ayahnya?" Jawab Umar: "Ada hak yakni harus memilihkan ibu yang bangsawan, jangan sampai tercela kerana ibunya, harus memberi nama yang baik, harus mengajari kitab Allah s.w.t." Maka berkata anak itu: "Demi Allah, dia tidak memilihkan untukku ibuku, dia membeli budak wanita dengan harga 400 dirham dan itu ibuku, dia tidak memberi nama yang baik untukku, saya dinamai kelawar jantan dan saya tidak diajari kitab Allah s.w.t. walau satu ayat." Maka Umar r.a. menoleh kepada ayahnya dan berkata: "Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia durhaka kepadamu. Pergilah engkau dari sini."

jadi sekali lagi, untuk membentuk seorang anak yang hebat, tak hanya ibu yang harus hebat, tapi ayahnya juga harus hebat. intinya saling bantu membantulah...

dan...yuk dari sekarang wahai para calon orangtua, mari rumuskan akan menjadi orangtua yang seperti apa kita nantinya dan akan mendekatkan diri dengan anak dengan cara yang seperti apa...tapi kalo ibu mah saya yakin akan lebih mudah terlibat emosinya dengan anak, secara 9 bulan satu tubuh plus menyusui selama 1 tahun gitu.


namun, yang ayah jangan khawatir, mari rumuskan dari sekarang dan bersiap to be a good daddy...





*hasil kolaborasi pemikiran saya dan kisah yang diambil dari artikel kongres ayah dalam buku semua ayah adalah bintang (neno warisman)

Topeng Kewajaran

hari ini saya mengikuti suatu jalasah ruhiyah di tangerang dengan tema merenungi kematian. pertama kali melihat perilaku ustadznya, terkesan galak dan tegas, hehe. tapi ternyata begitu banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari jalasahh ruhiyah kali ini.

sang ustadz pertama kali membuka dengan berbagai kesepakatan, kesepakatan yang hampir membuat semua peserta bertanya-tanya apa gerangan yang akan diminta oleh ustadz ini. sekaligus membuat saya sangat deg-degan dan penasaran tentang kesepakatan tersebut.

dan ternyata sang ustadz membuat kesepakatan bahwa simulasi yang akan dilakukan tidak boleh diceritakan kepada orang selain di ruangan itu. maka dengan hati deg-degan sekaligus penasaran para peserta pun menyepakati kesepakatan tersebut. (karena simulasinya rahasia maka tidak akan saya ceritakan ya, hehe)

pasca simulasi kemudian sang ustadz pun merangkum apa yang sesungguhnya akan disampaikannya hari ini. yang pertama kali beliau singgung adalah soal hadist mengenai iman. kalian tahu kan tentang hadist ini? ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban).

ustadz tersebut menanyakan seperti ini:
ustadz: iman itu wajar gak naik dan turun?

dan seluruh peserta pun dengan kompak menjawab: wajar

lalu sang usatdzpun berkata dengan keras: Nah itu tuh salah kaprah memaknai hadist tersebut, makannya jadi gak masalah kalo imannya turun terus, karena pada dasarnya pikiran kita sudah membenarkan, sehingga yang terjadi turunnya banyak, tapi naiknya gak seberapa

saya pun tersentak, wew...apa iya ya selama ini kata wajar tersebut yang kemudian membuat saya menjadi begitu maklum ketika terjadi penurunan keimanan, misalnya ibadah saya salah satunya

sang ustadzpun kemudian berucap lagi: coba kalo kita maknai begini, bahwa hadist tersebut adalah suatu peringatan "Woy, hati2 jaga iman tuh jangan sampe turun"

ya ampuun, betapa bodohnya saya selama ini yang menganggap penurunan iman adalah suatu kewajaran, padahal kalo kata ustadz itu, terjadinya penurunan iman hanya satu karena kita kebanyakan maksiat

astagfirullah, lagi-lagi saya hanya bisa beristighfar

sang ustadzpun kemudian berucap lagi: terus nanti apa pertanggungjawaban kita saat di yaumil hisab nanti, mau nyalahin setan nih karena dia yang ngajak kita bermaksiat? padahal jelas-jelas Allah sudah mengingatkan manusia dengan firmanNya di surah Ibrahim : 22: Berkata Syaithan “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan padamu janji yang benar,dan akupun telah menjanjikan kepadamu,tetapi akau menyalahinya.Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu (manusia),melainkan (sekedar) aku menyeru kamu,lalu kamu mematuhi seruanku,,Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku ,tetapi cercalah dirimu sendiri.Aku sekali kali tidak dapat menolongmu,dan engkaupun tidak dapat menolongku .Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukanku (dengan Allah) sejak dahulu.Sesungguhnya orang yang zalim itu mendapat siksaaan yang pedih"

astagfirullah...

mungkin selama ini saya masih belum bisa memaknai apa arti dari sebuah komitmen menjaga keimanan. betapa ternyata peningkatan serta penurunan keimanan adalah sebuah pilihan. betapa selama ini mungkin saya telah banyak tertipu dan terlenakan oleh hal-hal duniawi, sampai2 menomorduakan masalah bagaiamana cara saya tetap menjaga keimanan saya ini dari segala tipu daya dunia dan isinya, menjadikan Al-quran benar-benar menjadi nomor satu di hati dengan melakukan banyak interaksi dengannya. betapa saya masih tidak menggantungkan seluruh kehidupan saya hanya pada Allah, karena orientasi hidup saya yang mulai bergeser dari baik-buruk menjadi untung- rugi. astagfirullah...

karena yang namanya komitmen itu simpel saja menurut saya,lakukan tanpa banyak alasan, kata sang ustadz lagi, semoga Allah selalu memberikan nikmat hidayah kepada setiap diri ini, agar kita dapat sama-sama terus berusaha menjalani komitmen kita menjadikan Allah saja di hati, doa sang ustadz

dan saya pun mengaminkan. ahh, semoga ini menjadi awal saya membentuk komitmen terhadap diri sendiri, untuk terus meningkatkan dan menjaga keimanan. terlebih dalam  menghadapi rammadhan ini...


semoga tulisan ini bermanfaat.

maafkan jikalau ada salah-salah kata. semoga Allah memaafkan kesalahan dan kekhilafan saya.

*25 Juli 2010

Monday, 23 August 2010

Be Logic, Please!

Di setiap hari rabu, SADE memang mengagendakan aktivitas-aktivitas seru yang memupuk jiwa kepemimpinan serta ketangguhan fisik anak-anaknya, maka setiap hari rabu aktivitas bisa diisi dengan ragam acara tersebut, seperti tracking menyusuri alam bedahan (bisa sampe nyebur di sungai bahkan terjun ke lumpur), outbond (dari yang mudah sampe yang tersulit bagi seumuran mereka bahkan mungkin saya, seperti manjat ban, spider web climbing, naik di simpul tali yang diikat (lupa namanya), berjalan di atas tambang di atas ketinggian 1,5 meter, sampai flying fox yang membelah sekolah), serta yang tak kalah mengasyikkan adalah berenang.

Kali ini di rabu pertama, aktivitas tersebut adalah TRACKING. Yup kali ini jalur tracking adalah menyusuri kelurahan bedahan melewati tempat pemancingan dan peternakan ayam. Jalur yang di tempuh lumayan berat menurutku, apalagi bagi teman-teman di SD1 dan SD 2. Aku saja yang sudah lumayan akrab dengan jalur tracking di puncak merasa kelahan juga. Jadi bisa dibayangkan betapa lumayan capeknya aktivitas kali ini.

Akan tetapi ternyata sebagian besar teman2 yang memang sudah berasal dari SADE (TKA dan TKB di sana maksudnya) sangat menikmati perjalanan tersebut. Mereka justru malah sibuk bermain2 dengan lingkungan sekitar. Apalagi ketika mereka harus melewati jembatan yang hanya terdiri dari 2 batang pohon palem yang dijejerkan. Hanya sebagian kecil yang merasa takut ketika melewati jembatan tersebut.

Dan ketika sampai di sebuah padang ilalang yang juga dipenuhi oleh hamparan tanah merah, mulailah mereka melakukan aktivitas yang membuat udara menjadi penuh tertutupi oleh debu tanah. Langsung saja salah seorang guru meminta mereka untuk menghentikan permaianan tersebut, “Maaf teman-teman, berjalan saja agar tanahnya tidak berterbangan”.

Dalam perjalanan di padang ilalang, aku mendampingi seorang teman SD1, sebut saja namanya Timy. Ketika berada di gundukan tersebut kulihat timy menyeret botol minumnya. Ia hanya memegang tali dan membiarkan tempat minumnya terseret bagai sebuah koper yang biasa dibawa di bandara-bandara. Akupun kemudian menegurnya agar ia mengambil dan mengalungkan tempat minum tersebut di lehernya.

“Maaf Timy, tidak menyeret tempat minummu, nanti kotor”, ucapku

Namun dengan santainya ia menjawab,”kalo kotor kan bisa dicuci, Bu”

Jleb. Sontak aku kaget “teguranku” dibalikkan dengan telak olehnya. Iya ya, bener juga ya kan kalo kotor bisa dicuci. Gitu aja kok repot.

Aku kemudian terdiam. Tak tahu harus merespon apa. Aku takut salah jika aku meladeni jawaban timy.

Akan tetapi tiba-tiba seorang guru ikhwan menghampiri Timy dan kemudian berkata, “Timy, kira-kira kalo tempat minumnya diseret seperti itu bagus tidak?”

Timy pun kemudian menjawab, “enggak”

Sang guru pun kemudian melanjutkan ucapannya, “terusi kalo tidak baik, kira-kira apa yang harus dilakukan?”

Dan ajaib. Timy pun langsung mengambil tali tempat minumnya dan menggantungkan di lehernya tanpa menyanggah lagi.

Yup, ini salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan saat tracking. Bahwa untuk memberitahukan seorang anak tentang suatu kesalahan bukan dengan melarangnya berbuat tersebut, namun mencoba membuatnya memahami dan menyadarkan kesalahan yang telah ia buat. Dan berusaha mengarahkannya untuk berpikir laku apa yang harus dilakukan kemudian untuk memperbaikinya. Dan saya belajar bahwa seorang bocah juga bisa diperlakukan seperti layaknya seorang dewasa. Mengajaknya berpikir untuk kemudian memutuskan hal yang baik bagi dirinya.

Satu lagi pelajaran berharga yang aku petik, tak sekedar hanya main larang, namun mengarahlan pada alasan logis, bahkan untuk seorang anak kecil sekalipun. Be Logic, Please!

Kerinduan Ayah [FF Lomba]

Lelaki tua itu masih memandangi foto di dekat telepon. Seorang Pria berkemeja biru yang tengah berdiri di depan prasasti Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala. Di tangannya ia juga menggenggam secarik kertas bertuliskan nama dan nomor handphone area Jakarta.

Ia sudah terlalu lama memendam rindu. Sampai suatu hari lima orang pemuda seumuran anaknya datang dan menjadi pelipur lara baginya selama satu bulan.

Tsunami, telah menyesapkan duka yang mendalam baginya. Anak semata wayangnya menghilang dan sampai saat inipun jasadnya tak pernah diketahui keberadaannya.

Seorang wanita yang sudah mendampinginya selama hampir 30 tahun kemudian menghampirinya, "telpon saja, Pak. Tidak usah ragu", ucapnya lembut.

Lelaki tua itu masih memandangi secarik kertas tersebut, tangannya hampir meraih gagang telepon, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya lagi, "Aku takut mengganggu mereka."

Wanita itu tersenyum, "Mereka sudah menganggap kita sebagai orangtuanya selama sebulan penuh di sini"

Ucapan tersebut kemudian membuat sang lelaki tak ragu lagi menekan tombol angka di telepon. Terdengar nada memanggil di sana.

Tak lama, suara pemuda yang dituju pun terdengar, "Assalamu'alaikum, maaf ini siapa ya?"

Gugup bercampur senang, lelaki itu kemudian berkata, "Ini Pak Hasan, Pak Hasan yang waktu itu jadi Home Stay di Sabang"

"Ohh...Ayah toh, apa kabar , Yah?"

Mendengar dipanggil ayah, tak terasa bulir bening jatuh dari mata sang lelaki tua itu. Ayah, sebutan yang sudah lama ia rindukan semenjak kepergian anak semata wayangnya 4 tahun yang lalu. Ayah, sebuah permintaan agar ia dipanggil seperti itu oleh anak-anak mahasiswa K2N UI saat melepas mereka di bandara satu bulan yang lalu.

Dengan terbata kemudian ia berkata, "Ayah baik-baik saja, Nak", ucapnya dengan penuh keharuan.



*Artikel kedua yang aku ikutkan dalam lomba FFnya mba Intan. Kali ini bertema Ayah-Anak
cekidot http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

Sunday, 22 August 2010

Pengingatan dari Teman Kecil

Ramadhan hari ke-13, tapi fisikku telah payah oleh lelah. Lelah yang ditimbulkan oleh management hidup yang kurang baik. Beraktivitas full di kampus, tapi tak ditopang oleh asupan gizi yang baik saat sahur dan berbuka.

Fisikkpun rasanya tak kuasa untuk beribadah, bahkan untuk sekedar membaca Al-Quran. akhirnya kuputuskan untuk mendengar lantunan suara Misyari Rasyid dalam 3 surat yang menjadi favoritku akhir-akhir ini, abasa, as-shaff, dan al-insaan. Lantunan tersebut membawaku terlelap dalam tidur sehabis subuh ini. Mungkin panadol biru juga mengambil andil dalam tidurku kali ini.

Jam 10.00. Astagfirullahaldzim, kepalaku masih berat. Ingin rasanya aku bangun dan bersegera menunaikan dhuha, tapi apa daya, berat di kepala terlalu mendominasi untuk tidak bersegera melakukannya. Allah, padahal ini Ramadhan....

Tiba-tiba dari earphone yang kupakai terdengar suara sms. Kulihat nama sang pengirim di layar. dari Mba Andhar, supervisorku saat magang di Sekolah Alam Depok.

Aslm. Innalillahi wa inna ilaihi roo'jiun.Tlah berpulang ke Rahmatullah,puteri qta tercinta,Shobrina Taqiyya Fakhrurrazi,SD-2 Bimasakti,sekitar pukul 4 karena dbd di RSCM.Semoga Allah m'berikan tempat terbaik untuknya.Aamin.

Shobrina, teman kecilku yang saat tahfidz merayuku untuk murajaah hanya dari surah al-zalzalah. Shobrina, yang mengkoreksiku ketika aku salah melafalkan namanya, "panggilnya Shabrina, Bu, tapi tulisannya Shobrina".

Tiba-tiba kekuatan untuk bersegera bangun muncul. Aku bergegas pergi ke kamar mandi, dan bersegera menunaikan dhuha dan sholat gaib untuknya. Sambil mendoakannya kemudian aku berjanji dalam hati untuk tidak menyia-nyiakan waktuku di Ramadhan kali ini, karena sungguh kita tak akan pernah tahu kapan kematian akan datang menjemput.

*tulisan ini kudedikasikan untuk Shobrina yang telah berpulang menemui Rabbnya. Semoga kelak kita akan bertemu di JannahNya

**tulisan ini juga kuikutkan pada lomba http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF