Hari 1
Kembali kulihat layar HP. Tak ada tanda-tanda masuknya pesan ataupun panggilan. Ah sayang, sibukkah dirimu dengan kehidupan di negeri sana? Sampai-sampai kau lupa memberi kabar padaku?
Hari 2
Dia masih juga belum menghubungiku. Setelah berpisah jarak selama empat tahun, kini ia kembali meninggalkanku dalam bentangan jarak ribuan kilometer. Sedang apa ya ia disana? Betahkah ia ditempat barunya?
Hari 3
Aku masih saja menunggu kabar darinya. Tak bosan-bosannya aku menatap layar HP Samsung seri lamaku. Dahulu aku merasa bisa dengan ikhlas melepasnya jauh dari pelukanku, tapi nyatanya…. Ah, aku memang sangat mencintainya.
Hari ke 6
Hari ini weekend, hari dimana seharusnya ia punya waktu luang lebih untuk menelponku. Atau..atau… dia sudah melupakanku ya? Aku menatap langit dan berbicara pada Tuhan, “Allah, semoga ia masih menyimpanku dalam hatinya”. Baru saja aku membatin, tiba-tiba sebuah nomor asing masuk ke layar HPku,
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumSalam, Ibu…. Apa kabar? Maaf ya baru bisa nelpon sekarang. Kemarin riweh beberes rumah dan ngurus beberapa dokumen izin di sini. Terus baru sempet beli pulsa telpon, Bu. Jadinya baru bisa nelpon Ibu deh. Kemarin Dinda kirim sms, tapi keknya nyasar karena lupa pake nomer kode Negara, hehe… Ibu sehat kan? Dinda sama Mas Alhamdulillah sehat di sini………”
Aih, betapa bahagianya mendengar suaramu, Dinda, putri semata wayangku. Ah, nak rasanya baru kemarin aku mentitahmu dan sekarang aku harus bisa merelakanmu untuk berbakti kepada orang lain di sebuah negeri nan jauh di sana.
Duhai Allah, jagalah selalu buah hatiku di manapun ia berada.
Info lomba bisa dilihat di sini.
kirain hr keenam, yg telp/manggil tnyata dr kbri, anaknya tnyata sudah dihukum mati *jd nyambungin k ff saya :D
ReplyDeleteGileee dah, serem amat kak....hihihi
ReplyDelete*baru nyadar, ternyata ini ke post dua kali ya? ahahaha