Monday, 29 December 2008

Penyerangan ke Jalur Gaza (Sebuah Kado akhir tahun dari Bush)

28 Desember Jam 04.55 WIB, sebuah sms masuk ke handphone ku. Pengirimnya bukan orang yang biasa meng-smsku. Penasaran apa gerangan yang membuat dia meng-smsku di subuh ini. Ternyata sebuah kabar duka dari Palestina yang berbunyi “Aslm. Minimal 200 orang wafat (terus bertambah), 400 terluka seiring serangan udara zionis Israel ke gaza, sabtu kemarin. Angkat tangan anda. Kirimkan senjata (do’a) kita.”

Lagi-lagi, Yahudi laknat itu mengobrak-abrik jalur Gaza. Bahkan penyerangan kali ini adalah penyerangan terparah sejak 60 tahun terakhir. Memang tak akan pernah ada kedamaian di Palestina sebelum Israel benar-benar dihapuskan dari peta dunia. Tak akan pernah ada perjanjian damai yang akan berhasil sejak dulu sampai sekarang. Karena Israel akan tetap mencari-cari alasan untuk menyerang Palestina. Menteri Pertahanan Israel meminta masyarakat internasional paham bahwa ini merupakan bentuk pertahanan diri dari Hamas. Oh, tampaknya ia telah buta bahwa  target sasaran penyerangannya justru pemukiman-pemukinan masyarakat sipil. Dasar, bangsa licik!!

Amerika (Bush) yang katanya polisi dunia itu, malah meminta Sekjen PBB mencabut kecaman atas penyerangan Israel. Dasar, teroris sejati! Si Bush itu memang orang yang haus perang . Bahkan Azwar Hasan dari Pengajar pemikiran Islam Timur Tengah Univ. Hassanudin mengatakan bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza merupakan sebuah kado akhir tahun dari Bush bagi kepentingan Israel sebelum ia benar-benar lengser dari jabatannya.

Tak akan pernah ada kedamaian sebelum bangsa laknat itu keluar dari palestina. Mau perjanjian sampai ribuan kali pun, Israel tak akan pernah menepati janjinya. Maka, hanya ada satu kata untuk mereka, LAWAN!!!!  KHAIBAR-KHAIBAR YA YAHUD, JAISYU MUHAMMAD SOLFAYA’UD!

Tuesday, 23 December 2008

Bersama Teman-teman...




Foto bersama teman-teman.
1. Kelmpok Pemberian bantuan +achie, - anies
2 & 3. bersama sebagian kelompok Metpenstat 2 di Gd.H lantai 4

Monday, 22 December 2008

Cintaku Padanya...

Ibu, sebuah panggilan yang indah, yang setiap perempuan pasti menginginkan panggilanindah itu. Menjadi ibu bukanlah persoalan mudah, karena dari tangannyalah akan terbentuk seorang calon pemimpin, perubah, bahkan seorang penjahat sekalipun. Ya, itulah seorang ibu, madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Ibuku, seorang wanita yang tangguh, dan selalu rendah hati. Ibuku seorang pekerja keras, pendidik yang baik, dan seorang yang menjadi sandaran yang menyejukkan.

Ibuku, hanya sempat bersekolah di SMP. Tetapi, hal tersebut tidaklah menjadi halangan baginya untuk mendidik kami dengan baik. Ketika kecil, ibu selalu menomorsatukan pendidikan agama bagi kami. Mengajari kami sopan-santun, serta mengajari kami untuk selalu berprestasi di tengah keterbatasan. Dahulu pernah, ketika aku malas mengaji di TPA, ibu menyubitku dengan cubitan yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Amat sakit, sehingga mampu membuatku menangis selama 1 jam. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi untuk malas mengaji, dan akupun berterima kasih kepada beliau, karena aku sangat menikmati buah dari ketegasan beliau sampai sekarang.

Ibuku, selalu rendah hati. Baginya, kesuksesan (meskipun memang terlalu dini untuk dibilang sukses) yang diperoleh anak-anaknya, sama sekali bukan karena usaha keras beliau. Ibu, selalu merasa tidak pernah memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Selalu merasa tidak membahagiakan kedua anaknya. Meskipun di mata para tetangga ibuku adalah seorang yang berhasil karena mempunyai dua orang anak yang pintar. Anak pertama yang dapat berhasil masuk STAN, sekolah yang menurut tetangga-tetanggaku hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang cerdas, dan anak keduanya yang dapat memasuki UI, dengan segala keterbatasan biaya yang dimiliki.

Seperti yang aku bilang, ibuku tak pernah merasa membahagiakan kedua anaknya, karena menurut beliau, anak-anaknya berhasil dengan jerih payah mereka sendiri. Kakakku, selama SMP mendapat beasiswa sehingga ibu tak perlu mengeluarkan uang untuk membayar SPP tiap bulannya. Dan saat akan memasuki bangku kuliahpun, ibu merasa bahwa kakakkulah yang berusaha dan berlelah sendiri, mulai dari proses (mencari uang) untuk pendaftaran, sampai ia lulus dari sekolah tersebut. Dan ketika aku juga akan memasuki bangku kuliah, ibu juga merasa tidak memberikan hak yang seharusnya dimiliki oleh anak-anaknya untuk dapat bersekolah setingi-tingginya. karena kuliah ku pun dibiayai oleh kakakku serta beasiswa yang aku cari.

Tapi bagi kami, ibu adalah seorang yang hebat. Karena ia bersabar di tengah keterbatasan uang yang diberikan oleh bapak untuk kehidupan kami. Dari dulu sampai sekarang, ibu selalu dapat menutupi dan memenuhi kebutuhan pokok hidup kami dengan usahanya, mulai dari menjahit sampai dititipi anak tetangga.  

Dan sekarang, ketika kami telah beranjak dewasa, sama sekali ibu tak pernah berhenti mencurahkan kasih sayangnya kepada kami. Saat aku dan kakakku lupa memberi kabar sampainya kami di tempat masing-masing (depok dan bandung), maka hal tersebut akan membuatnya kehilangan nafsu makan dan berusaha menelpon kami, bahkan sampai puluhan kali ketika kami tidak sengaja tidak mengangkat telpon tersebut. Bahkan di tengah aktivitas kemahasiswaanku, ibu selalu menanyakan kabarku. Saat ia mengetahui akan ada aksi dari televisi, maka ia langsung mengkonfirmasi keikutsertaanku dalam aksi tersebut. Ketika terjadi pembunuhan di dekat UI, ibu yang tahu bahwa aku yang seringkali harus pulang malam karena rapat dan mengerjakan tugas di kampus, langsung menanyakan kabarku dan memastikan bahwa aku pulang ke kosan tidak sendirian dan sampai dengan selamat. Ketika beberapa minggu terakhir ini aku hanya seperti menumpang tidur di rumah, karena hanya berada di rumah dari jam 6 di sabtu sore, dan harus kembali ke depok jam 6 paginya, ibu selalu saja menyiapkan segala kebutuhan yang sama sekali kadang aku lupakan, menyiapkan perbekalan, dan memaklumi kelelahan anaknya dengan menyuruhku untuk segera tidur saat beliau menangkapku masih berada di depan laptop pada pukul 1 pagi.

Ya...itulah ibuku...
Maka, maafkan aku ibu, jika aku selalu meyepelekan untuk tidak memberi kabar padamu,
Maafkan aku ibu, jika aku tidak pernah bisa selalu menjadi tempat curahan hatimu
Maafkan aku ibu, jika sampai saat ini aku masih selalu menyusahkanmu
Maafkan aku ibu, jika sampai saat ini aku belum bisa membahagiakanmu
Maafkan aku ibu, jika dengan segala keegoisanku telah meyakiti hatimu yang lembut
Satu hal, Kau tak akan pernah akan tergeser setelah Allah dan Rasulnya, dalam cinta di relung hatiku...

SELAMAT HARI IBU...
Semoga kelak aku dapat menjadi sepertimu, memberikan keteladanan bagi anak-anaknya kelak dan dapat menjadi madrasah pencetak jundi-jundi Illahi...
Allah...jagalah selalu ibuku...

Bagaimana dengan kisahmu dan ibumu, teman???

*akhirnya berhasil diposting...

Saturday, 13 December 2008

Mereka Orang-Orang Spesial…

*Seri yang senior….


Ya, kuberi judul demikian karena memang mereka orang-orang special  yang diberikan Allah untuk menghiasi langit hidupku…

1.       Ibu dan Ayahku, mereka yang paling aku sayang.

2.       Masku , orang yang selalu rela berkorban untuk adik kecilnya. Ia yang sudah bersedia membiayai kuliahku. Ia yang dengan rela meminjamkan laptopnya untuk tugas-tugas kuliahku, bahkan sekarang memberikannya padaku. Ia yang sudah bersedia begadang untuk membetulkan laptopku ketika berkali-kali error akibat virus-virus yang berkeliaran di Psikologi. Sewaktu kami bertengkar, ia yang kemudian membelikan ice cream untuk meredakan ketegangan-ketegangan itu. Ia... The Best pokoknya.

3.       “Mba-mbaku”. Yang selalu mentransfer ilmunya padaku. Mendengar segala keluh kesahku. Menjawab semua pertanyaan-pertanyaan bodohku.

4.       Teteh-Tetehku di SMAN 2. Khususnya tetehku sayank, teh Yunda, Psikolog pribadiku. Menumpahkan segala permasalahan padanya, membuatku selalu kembali bersemangat.

5.       Kakak-Kakakku di Psikologi. Ka Dewi, kepintarannya selalu membuat kagum diriku. Logika berpikirnya, yang selalu menjatuhkan argumenku. Ka De2w, Kakak kedua di kosanku. Bersamanya, selalu menyenangkan. Curhat, memasak, seneng banget pokoknya. Ka Farzu, yang selalu membuatku bersemangat. Mengelilingi UI dengan Bikun bersamanya, membuatku dapat  melupakan sejenak beban yang tengah menghimpit. Selalu ada setiap aku membutuhkannya. Teh Heggy, enerjik, cerdas, dan pintar. Pemikiran serta sensitivitasnya terhadap permasalahan ummat membuat aku sangat mengaguminya. Ka Cune, kritis, pintar, dan perhatian.Sayank sama dia pokoknya. Kakak  yang  sangat baik di BEM psiko, ibunya anak-anak. Tak ketinggalan juga ka Ira dan Ka Nisa...

6.       Kakak-kakak (cowok). Ka Edwin, sang ketua BEM UI. Dari saat ia mengajar di NF, mengobarkan semangatku untuk hidup independen. Motivator yang baik, entrepreneur sejati. Ka Haryo, sang pangkostrad, baik banget tapi juga kadang-kadang nyeremin, hehehe. Ka Aldia, gokil, tapi pemikirannya keren. Ka Didit, kebaikannya pada semua orang tak bisa diragukan lagi, penolong yang baik. Ka Vita, dokter laptop SC.  Bro Jodhi, yang perhatian sama semua orang. Ka Budi, yang jail abis. Ka Riky, yang kadang-kadang suka aneh. Ka mumu yang baik hati...,Dan masih banyak lagi…

 

Mereka semua….the best lah pokoknya…..

Thursday, 11 December 2008

Tak Hanya Sekedar Mau…(seminar Pranikah bag.2)

“Tapi bila kuraba dalam hati
Datang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini
Berdegup jantung di dada kendalikan diri
Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuat kuingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya

Akhirnya aku segera tersadar
Hanya pada Allahlah tempat aku bersandar”

*Hasrat hatiku: Suara persaudaraan

Hmm…Hmm..Hmm…hanya ingin menekankan sebelumnya, aku nulis ini hanya ingin berbagi ilmu dari seminar pranikah kemarin loh…!

Ya, dulu sewaktu SMA selalu ngebayangin, nanti mau menikah ah pas umur 20….Hehehe, maklumlah namanya juga anak SMA, taunya mungkin yang indah-indah doank tentang pernikahan. Apalagi bacaannya Nikah Dini Keren-nya Haekal Siregar sama Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahannya Salim A Fillah. Hoho, jadi ceritanya udah gak punya keinginan untuk nikah dini neh? 

Eits…eits…tunggu dulu…tunggu dulu…jangan ngambil kesimpulan gitu dulu donk. Ada baiknya baca dulu bahasan tentang pertanyaan yang aku ajukan kemarin ke Akh Salim.

“Bagaimana cara membedakan menyegera dalam menikah dengan tegesa-gesa dalam menikah…?” 

Aku memecah kesunyian auditorium psiko kala itu dengan pertanyaan pembukaan yang dahsyat (hehe, itu sih menurutku). Ya, abis bingung sih membedakan menyegera dengan tergesa-gesa. Pasalnya, akhir-akhir ini aku lagi membicarakan pernikahan dini (saat kuliah) dengan beberapa orang. Seperti biasalah, ada yang pro ada yang kontra. Yang pro bilang “kenapa mau melaksanakan kebaikan mesti ditunda?”. Hehe, aku sih sepakat bahwa yang namanya kebaikan gak boleh ditunda. Tapi coba denger pendapat yang kontra “Realistis aja deh, mau hidup pake apa nanti, zaman lagi sulit begini…” Huff, aku juga tak menampik pendapat ini. Iya, juga ya, kalo dua-duanya sama-sama lagi kuliah ataupun si laki-laki udah kerja, tetep aja dia mesti nanggung hidup + biaya kuliah mereka berdua/ istrinya. Kan otomatis orangtua udah lepas tanggung jawab. Ah, jadi bingung…Eh, ko malah ngalor ngidul begini sih???

Lanjut ya ke pertanyaan yang aku ajuin ke Akh Salim. Taukah kawan, dia menjawab apa? Ukuran tergesa-gesa atau menyegera itu subjektif. Hehehe, yaiyalah…karena persepsi orang kan berbeda-beda ya?

Hmm, tapi Akh Salim menjelaskan bahwa perlu ada beberapa persiapan menuju pernikahan, yaitu:

1. Persiapan Ruhiyah

Meliputi kesiapan mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggungjawab, bersedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada coz kan kalo udah nikah udah hidup berdua dengan orang lain (istri/suami). Sabar dan Syukur serta menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya

2. Persiapan Ilmu

Bersiap menata rumah tangga. Bagi akhwat, harus menjadi seorang manajer handal, coz dialah yang akan mengelola keuangan rumah tangga. Ilmu tentang komunikasi, ilmu tentang Ad-diin, ilmu tentang menjadi orangtua yang baik (parenting). Hehe, Akh Salim sendiri katanya mempelajari ilmu Parenting sejak SMA. (Huhu, bagi kami anak Psikologi, ini mah udah jadi makanan sehari-hari, hehehe).

3. Persiapan jasadiyah

Yang punya penyakit2, harus segera diobati 

4. Persiapan Maadiyah (material)

Komitmen untuk segera mandiri

5. Persiapan Ijtima’iyyah (social)
Hmm, ini nih gak kalah penting, coz pasti kita juga akan terjun ke masyarakat bukan? Dan yang pasti harus memiliki visi dan misi kebaikan di lingkungan masyarakat kelak.

Nah, itu tuh persiapan-persiapan yang harus dilakukan. Tapi, yang namanya persiapan, artinya sebuah proses yang tiada henti. Maka, ukuran sampai mana harus dicapai sebelum menikah adalah juga relative. Hualah…dari tadi relative mulu? Hehehe, tapi ada satu parameter yang jelas dari Rasul, lohh…

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian telah bermampu Ba’ah, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna ba’ah di sini menurut sebagian besar ulama adalah kemampuan biologis (yah, taulah..). Adapun makna tambahannya,menurut Imam Asy Syaukani adalah al-mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ulama lainnya adalah penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamanya adalah yang pertama.

Hehe, jelas kan. Yang diperintah adalah bagi mereka yang mampu, kalo belum mampu…ya Puasa aja. Tapi, bagi mereka yang mampu, maka janganlah menunda-nunda! 

Huaa…udah ah. Sebenernya masih banyak lagi yang mau di share, tapi nanti2 aja ya…! Oh, iya, gara-gara pertanyaan ini, aku dapet buku gratis dari panitia loh! (Si Tam2 juga, coz kita berdua emang udah niat banget nanya biar dapet bukunya, hihihi. Alhamdulillah, Allah mendengar keinginan kami….). Bukunya Salim A Fillah lah tentunya, yang judulnya “Bahagianya Merayakan Cinta”. Hehehe. Lumayan, jadinya tak usah merogoh kocek buat melengkapi koleksi buku-bukuku. Tinggal beli Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, sama Gue Never Die, dan menunggu orang yang meminjam Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, mengembalikan bukunya padaku, abiss…lupa siapa yang minjem. Hayooo ngaku….siapa yang minjem???


Thursday, 4 December 2008

Aku mau suami yang…..(sebuah pelajaran dari seminar pranikah kamis kemarin) bag 1

Bagi kita yang belum menikah, terkadang mempunyai keinginan untuk mendapatkan suami atau istri yang mendekati sempurna menjadi harapan yang ingin dicapai. Tapi taukah kawan, ternyata tak selamanya yang terlihat baik dan alim pada awalnya akan tetap sama sampai di akhir nanti karena manusia itu dinamis. Hmm, mempunyai expectacy yang berlebihan terhadap calon suami atau istri kita justru malah akan membuat kita sakit hati nantinya ketika ternyata ia sangat jauh dari harapan.

Contohnya, seorang akhwat menginginkan menikah dengan ikhwan x karena ia terkenal dan terlihat alim, bagus hafalannya, dan baik interpersonal skillsnya. Ia membayangkan indahnya shalat berjamaah berdua, Qiyamul lail berdua, romantisme saat diajari membaca dan murojaah Al-Qur’an. Pokoknya kalo suaminya si X pasti aku akan lebih terupgrade, begitu dalam pikirannya.

Tapi pada kenyataannya, ternyata suami yang alim itu malah susah diajak QL berjamaah, malah marah ketika dibangunkan untuk shalat subuh berjamaah, bahkan sampai-sampai tak punya waktu untuk mengajarinya mengaji apalagi melakukan murajaah bersama.

Apa yang didapat oleh akhwat ini? Sakit hati tentunya karena suami yang ia harapkan dapat membimbingnya malah sama sekali jauh dari expectacynya. 

Akhwat ini pada awalnya sudah terlalu mengandalkan suaminya untuk mencapai perbaikan bagi dirinya sendiri. Sudah terlalu menggantungkan harapan yang terlalu tinggi pada suaminya untuk perubahan amalannya sendiri.

Maka dari itu, ketika memutuskan untuk menikahi seseorang, jangan terlalu menggantungkan harapan yang berlebihan karena peng-upgrade-an diri merupakan tanggungjawab kita masing-masing. Kita dapat menjadi sholeh bukan karena si dia yang akan selalu memonitor kita. Namun hendaknya kesadaran untuk memperbaiki diri berada pada diri kita masing-masing.

Dan Barakahlah bagi keduanya. Saling mengingatkan dan mengisi tanpa ada yang bergantung pada salah satunya. Karena memperbaiki diri pada dasarnya adalah tugas dan tanggungjawab masing-masing makhlukNya.


Tuesday, 4 November 2008

Antara Akademis, Futsal, dan Organisasi

Ya, di psiko aku banyak nemuin teman-teman serta kakak kelas yang hebat-hebat. Tapi dalam curahan kali ini, khusus aku tujukan pada sahabat-sahabat seangkatanku yang keren...

1. Jayaning Hartami, akhwat yang keren abis. Akhwat yang punya banyak kesibukan, tapi aktivitasnya tak menghalangi untuk mendapatkan IPK yang cumlaude. Saat ini aja (semester 3) IPK nya masih berkisar diatas 3,7. Jago bahasa Inggris, aktif di kampus juga di SMAnya (mengurus adik2 kelasnya). Keren banget...meskipun agak-agak “pecicilan” hehehe. Ya tapi pasti lebih pecicilan aku dibanding dia. Makannya sekarang lagi menjalani program menjadi akhwat yang baik bareng do’i. Oh iya, sekarang dia lagi menjalani masa-masa kampanye menjadi WaKa BEM Fakultas Psikologi UI loh...(keren kan....!) mendampingi ka akhyar. No. Urutnya no. 1 (hehehe, promosi dah gua!)

2. Nabila Dian atau biasa kupanggil ia dengan diance (kecenderungan untuk merubah nama orang, ^^v). Dian juga keren abisss....! Pinter dalam sisi akademis, punya social skills yang bagus, mudah berteman dengan siapa saja, jago main futsal (hehehe, akhirnya waktu psyGames bisa juga main futsal bareng do’i walaupun kalah 5-3 dan aku diomel-omelin mulu sama dia, hihihi maklum gak bisa nendang tapi nekat ikut tanding). Oh, iya dia juga guru privat ku loh....!khususnya dalam mata kuliah PsiBang. Yayaya, meskipun sebagai gantinya aku harus memasakkan nasi goreng special untuknya (lunas ya, Di...maap kemarin kalo nasgornya kepedesan!). Uh, tapi ada yang nyebelin dari dian, do’i ternyata pandai “memancing” nih. Walhasil kemarin banyak deh “rahasia” yang kebuka sama dia.

3. Ijut, nama kerennya Izza Dinillah (hahaha). Akhwat yang ngaku-ngaku cerdas (hihihi, iya ko, Za...). punya segudang keaktifan di organisasi dan kepanitiaan. Sekarang sedang menjabat sebagai PO suksesi. Hehehe, keknya bakal calon KaBEM untuk tahun depan nih anak.

4. Dea atau biasa dipanggil Dey. Akhwat yang punya aura ketenangan yang oke. Hehehe, makannya kalo ada masalah aku suka cerita ke do’i. Juga punya resiliensi yang tinggi. Sekarang sedang ingin mewujudkan cita-citanya menuju ke K##. Semoga terlaksana ya, Dey!

5. Teri, akhwat yang bijaksana. Kaka bagiku. Punya pemikiran yang oke. Dia juga punya aura ketenangan. Ya, makannya cocok untuk meredam segala kepanikan yang dihasilkan olehku.

6. Pradina nama aslinya. Biasa dipanggil prad atau dincuy. Nih anak kadang-kadang emang suka aneh (hehehe) tapi punya pemikiran, yang oke punya (sebenernya dia cocok nih kalo jadi kastrat!). Bisa main piano (keren deh...!) juga punya kreativitas tinggi dalam hal gambar-menggambar.

Huhu, masih banyak loh...sahabat-sahabat keren yang kumiliki....Tapi, segini aja dulu dah coz essay psisos sudah memanggil-manggil minta diperhatiin. Hehehe.....;p

Eh, nambah....Terus, kalo aku gimana ???? Hahaha, kalo sahabat-sahabatnya aja hebat, so pasti yang nulis juga hebat lah....! (narsistik tingkat tinggi mode: On)



Kamar kosan, 9.04 WIB
Ketika harus bolos psibel demi essay psisos
(dasar anak psiko, gak keren banget sih, bolos kalo gak untuk ngerjain tugas alesan lainnya ya buat ngerjain penelitian, hehehe....)





















Monday, 3 November 2008

Monday, 6 October 2008

Hari Pertama masuk Kuliah (setelah lebaran....)

Hari ini, hari pertama masuk kuliah....

pagi-pagi udah berjibaku ama tugas psidik (lagi..)

terus...pas metpenstat 2 gak bawa kacamata, padahal belajar tentang rumus penting...

terus, nyari masalah juga gagal total, skripsi yang jadi referensi alat ukur jyga kagak ada di perpus...

terus, akhirnya seperti biasa ke SC aja, ngenet, ngepost buat undangan salam duta...

terus...rapat soal PDKM, diomelin (lagi) ama ka aldia, udah gitu di-cengin gara-gara belum nonton laskar pelangi...

terus...belum makan dari pagi...(bahkan sampai saat menulis blog ini)...Laperrr...

terus...pas mau pulang, ujan....sebenernya seneng karena bisa ujan-ujanan, tapi karena bawa miu ku (laptop) jadi gak jadi...

Tapi, ada senengnya juga...Alhamdulillah, salah satu teman di Peer ku hari ini pakai jilbab, dan insya Allah seterusnya...n tadi dia ke sini sama saudara kembarnya...hehehe, jadi dapet kenalan baru deh...

Semangat!!!!!

Clip(3).avi

Thursday, 25 September 2008

Kabur....?!

Huff, sampai kapan ya aku harus seperti ini. Keknya hidup gak tenang benget, dikejar-kejar deadline tugas, jarkom rapat inilah-itulah. Rasanya pengin deh sebentar aja gak diganggu dulu. Kalo gini terus lama-lama bisa frustasi aku. Tapi kalo aku ninggalin begitu aja, kasian anak-anak aku tinggal. Eh, tapi masa aku gak bisa sih minta tolong sama mereka untuk ngegantiin tugas aku. Toh, dari kemarin-kemarin aku udah banyak ngambil alih tugas-tugas mereka. Ya, minimal untuk seminggu inilah. Sebodo amat sama anggapan orang-orang yang nantinya bilang kalo aku nih ga tanggungjawab.  Pokoknya aku mau pakai  jatah bolos ah seminggu ini. Kebetulan, minggu ini gak ada kuis, lagian deadline tugas akademis masih minggu depan.

 

 

Udara dingin dengan semilir angin yang sepoi-sepoi, gemericik air kolam dengan ikan-ikan yang selalu ikhlas walaupun berada di kolam yang sempit ini. Huaa...ini nih tempat yang tepat buat nenangin pikiran. Hehe, untung rumah bude gak jauh-jauh amat, jadinya aku gak perlu minta anterin sama kakakku yang rese itu. Duh, kalo ketauan aku bolos kuliah sama ibu dan ayah, bisa-bisa jatah bulananku dipotong besar-besaran nih.

“Dek, kamu lagi ada masalah apa sih?” suara sesosok laki-laki membuyarkan pikiranku.

“Loh, Mas Faris?! Ko, ada disini sih??” Tanyaku heran

Masih dengan wajah yang dibuat-buat lugu mas Faris menjawab, “Ye...suka-suka mas donk mau ke sini, ini kan rumah orangtua mas Faris, ada juga mas yang nanya sama kamu, gak libur, gak ada acara apa-apa pake main-main ke sini??”

Aku hanya bisa tersenyum kepadanya. Waduh, kalo gini mah mau gak mau harus cerita sama nih bocah..eh masku yang satu ini.

”Gak, mas...lagi kangen aja sama ikan-ikan...eh, sama bude-pakde gitu maksudku...!”

Sambil pura-pura marah dan bertolak pinggang mas Faris berujar, “Ih, kamu, masa bude sama pakde bisa ketuker sama ikan sih!”

Aku cuma bisa cengengesan. Maap mas, aku kan gak sengaja kepeleset lidah, ujarku dalam hati.

“Udah deh, cepetan cerita, kamu lagi kenapa sampai kabur-kabur ke bogor segala?” mas Faris bertanya dengan nada tak sabar.

Aku masih enggan untuk berbagi cerita dengannya. Duh, harus cari-cari alasan nih biar gak usah cerita sekarang.

“Mas Faris, mba Aisnya mana? Gak enak loh mas kalo kita cuma ngobrol berdua, kita kan bukan mahram mas, lagian ntar mba Ais cemburu loh...!”, hahaha...akhirnya dapet juga nih kalimat ngelesnya.

“Dek...dek...ya gak mungkin juga kan kalo kita nikah, wong aku juga dah nikah ko. Lagian bentar lagi mba Ais juga nyusul. Udah deh cepetan cerita...daripada dipendem sendiri ntar malah jadi sakit loh...!”

Hua, gatot banget nih alasanku. Huff, kalo udah kayak gini mah terpaksa dah cerita sama ni bocah satu. Tapi, takut diomelin nih nantinya.

“Gak, sih mas. Aku cuma lagi jemu aja sama kehidupan kampus dan organisasi. Hehe, parah ya aku, mana bisa jadi seorang yang survival of the fittest di jalan juang kalo kayak gini...!”

Duh, gawat deh pasti nih orang akan ceramahin aku lagi deh.

“Wajar ko dek, mas juga pernah gitu...”

Gubraks, gak nyangka ternyata mas Faris juga pernah ngalamin kaya aku.

“Tapi, mas gak ampe kabur-kaburan gini kaya kamu, mas  kan bukan pengecut!”

Uh...buntutnya gak enak banget tuh. Berarti aku dibilang pengecut donk sama mas Faris.

“Ye...aku bukan pengecut ko mas, kan cuma mau nenangin pikiran aja sebentar...”

“Tapi amanahmu belum sepenuhnya selesai kan?” selidik mas Faris. Duh, sorot matanya membuatku tak bisa mengelak.

“Ia mas, belum selesai..., tapi kan aku dah minta tolong sama teman-temanku buat ngerjain tugasku!” aku masih berusaha membela diri.

“Dek...dek...itu malah kamu berbuat zolim lebih dari sekali, pertama kamu ninggalin tanggungjawabmu, terus kamu menzolimi teman-temanmu dengan mereka harus ngerjain tugasmu...”

“Ah, mereka juga pernah ngelimpahin tugas mereka ke aku ko...” aku masih berusaha membela diri.

“Mas Tanya, kenapa mereka ngelimpahin tugas mereka ke kamu?”

“Kenapa ya?, Arni waktu itu lagi sakit, terus lidya juga katanya lagi ada masalah di keluarganya, Rian gara-gara dia masih punya utang tugas psisos ke dosen jadinya tugasnya aku kerjain sementara...”

“Kira-kira kenapa mereka ngasihnya ke kamu, kenapa gak ke orang lain...?”

“Kenapa ya?? Mungkin karena aku emang jadi PJ-PJ di dua kepanitiaan itu, terus aku juga ketua kelompok tugas...”

“Nah, itu tandanya kamu emang punya kelebihan diantara mereka. Badanmu sehat kan gak sakit kaya...siapa tuh...Arni ya? Terus kamu juga punya otak yang cukup encer sehingga tugas akdemismu pun sudah beres semuanya kan...disamping itu kamu juga jadi orang kepercayaan mereka karena mereka anggap kamu tuh mampu dek...!” ulas mas Faris panjang lebar.

“Ya, tapi kan aku juga mau santai sedikit mas...!”

“Loh, ketika kamu memutuskan untuk ikut kepanitiaan, atau jadi pengurus BEM kamu udah sadar kan dengan konsekuensinya?”

“Iya...iya...” aku tak bisa berkutik lagi deh.

“Hmm, coba deh perlakukan mereka sebagai manusia...!”

Heh, aku garuk-garuk kepala...”Maksud mas apa sih?”

“Ya, selama ini kamu udah memperlakukan mereka sebagai manusia belum, sampai-sampai mereka harus menyerahkan tugas-tugas mereka kepadamu?”

Aku makin gak ngerti...

“Gini loh dek manis, coba seandainya kamu tahu waktu Arni udah punya gejala-gejala mau sakit, kan kamu bisa aja memberikan sedikit bantuan agar ia tidak terlalu memporsir energinya, sehingga ia tidak jatuh sakit. Kan kalo ia jatuh sakit, otomatis kamu kan yang ngambil alih semua-mua tugasnya?”

“Terus, coba kamu bisa lebih peka sama Lidya, mungkin ketika kamu sadar atau mau memahami dan menjadi pendengar aktif bagi masalahnya, mungkin ia gak akan sestress itu sampai-sampai juga harus melimpahkan semua tugasnya sama kamu. Terus sama juga soal Rian, coba kamu bisa lebih peka dan mau ngebantu dia untuk sekedar ngingetin atau malah menyumbangkan ide untuk menyelesaikan tugasnya, mungkin ia tak jadi terlambat ngerjain tugas sampai-sampai tugasnya juga harus dilimpahin sama kamu....!”

Aku Cuma bisa manggut-manggut. Duh, ternyata payah bener ya aku sebagai pemimmpin. Aku belum bisa mempraktekkan ilmu yang aku dapet nih.

“Coba tanamkan pada dirimu dek, kamu tuh sedang bekerja sama dengan manusia dan kamu juga gak bekerja sendiri..., mereka juga punya masalah, punya kelebihan dan kekurangan, tempat salah dan lupa...!”

Uh, Rabbi...ampuni aku ya kalo ternyata aku ini sudah menzolimi teman-temanku.

“Apalagi kamu dipilih sebagai pimpianan mereka dek, itu tandanya mereka menaruh kepercayaan dan mereka juga tak pernah meragukan  kemampuanmu...”

Huaaa, jadi kangen sama temen-temenku...

“Nah, jadi gimana...? hari ini langsung balik ya ke depok?”

“Yah, mas...aku kan baru nyampe...masa dah disuruh balik sih...?”

“Kasian teman-temanmu...nanti kalo mereka butuh kamu gimana?”

Duh, bener juga sih kata mas Faris. Ntar kalo tugas kelompok gak selesai aku juga yang rugi, ntar kalo bidangku kacau, aku juga yang dimarahin PO.

“Iya deh, aku pulang,,,tapi ntar malem aja ya mas, terus mas juga mesti nganterin aku...!” aku merajuk padanya.

“Ye...enak aja...datang tak dijemput, pulang tak diantar donk...!!”

Aku manyun, huuu...emangnya aku jelangkung apa....

“Emangnya mas mau apa kalo adikmu yang lucu ini jalan sendirian malam-malam, ntar kalo aku kenapa-napa gimana?”

“Hehehe, iya...iya dek manis, ntar mas anterin, sekalian mas mau nganterin Mba Ais ke rumah temennya...”

“Asyik....”

Dan langit di hatikupun kembali cerah. Tak lagi ada badai yang bergemuruh di sana. Ya...ya aku harus siap menerima konsekuensi. Aku harus bersikap lebih dewasa menyikapi ini. Bukan dengan kabur atau ngambek-ngambekan kaya gini.

Mba Ais pun lalu datang dengan tiga gelas orange jus yang memikat hati, ditambah dengan setoples kerak nasi yang sudah digoreng. Hehehe, melihatnya, langsung saja cacing-cacing di perutku berloncat-loncat kegirangan....Serbu.....!!!! Sebelum dihabisin sama mas Faris. Soalnya kami berdua maniak kerak nasi!!!!

 

 

Wisma barokah, 25 september 2008

Pukul 22.19 WIB

Ditengah deadline tugas yang menumpuk saat liburan menjelang (refreshing soalnya udah “gatal” buat nuangin ide...) ^_^

Sunday, 14 September 2008

Kala UI gelap Gulita

Yup, malam ini baru pertama kali ngeliat UI yang gelap gulita. Waktu memasuki gerbang di Barel terlihat jelas kalo ada yang aneh dengan kampusku itu. Lampu jalanan nyala, tapi ko gedung FH sama sekali tak nampak. Ada yang aneh, jangan-jangan MUI juga ikutan gelap nieh.

Dan....ternyata emang bener, MUI pun ikut-ikutan gelap gulita. Tapi ko ya aku malah seneng, coz langit di atas MUI nampak sangat indah malam ini.

Hihihi, serasa shalat di dalam gua. coz bener-bener gelap banget. Cuma ada cahaya-cahaya kecil yang berasal dari lampu HP.

Terus sehabis Isya tiba-tiba kepikiran, ko jadi kayak acara muhasabah di dauroh-dauroh ya?. Hehehe, jadi kangen nih sama temen-temen seperjuanganku.

Tapi ternyata keadaan ini tak berlangsung lama.Karena tiba-tiba lampu nyala, diiringi sorak-sorai bergembira anak-anak yang ikutan tarawih juga....Ya, gak jadi pulang cepet deh, abis ternyata setelah tarawih satu kali, ceramahnya diadain lagi. Padahal udah berharap pulang cepet, hehehe....

Monday, 1 September 2008

Munajat Seorang Hamba...

Rabbi...

Entah apa yang terjadi pada diriku

Hatiku merasa terbebani sesuatu

Bantulah hambamu ini, Rabb...

Ringankanlah beban hati dan pikiranku

 

Sudah kurindu bermunajat kepadaMu

Seperti waktu dahulu

Menumpahkan segala keluh kesah diriku

Terhadap segala problema dunia yang selalu menghimpitku

 

Sambutlah niatku, Rabb...

Sambutlah harapanku

Sambutlah segala rintihan tangisku

Agar esok ku jelang

Tanpa ragu dan bimbang

 

 

*”semangat ...“100x, Ramadhan nieh!!

[Sebuah lagu anak-anak] Ayo Tepati Janji....

Ini ada sebuah lagu anak-anak. Tujuan dari lagu ini mengajarkan tentang pentingnya menepati janji. Nadanya kayak lagu cicak-cicak di dinding. Semoga bermanfaat....

 

Jika kita berjanji

Jangan lupakan diri

Siapa kalau berjanji

Hai...harus tepati

 

Jangan suka berjanji

Kalau memang tak pasti

Sering ingkari janji

Hai...Nanti dibenci

Saturday, 30 August 2008

CANGKIR (binCANG Kastrat In heRe)

Start:     Sep 13, '08 09:00a
End:     Sep 13, '08 4:00p
Location:     Auditorium Gd. H Fakultas Psikologi UI
BEM Fakultas Psikologi UI Proudly Present



CANGKIR 2008
bertemakan :

"MENCARI PEMIMPIN BANGSA INDONESIA YANG IDEAL"

deskripsi acara:
1. Dua buah seminar
2. lomba orasi mahasiswa
3. hiburan

seminar akan mengangkat dua tema, yaitu:
1. KAJIAN KEPRIBADIAN PEMIMPIN YANG IDEAL, oleh pakar psikologi dan juga tokoh pers (Gunawan Muhammad)
2. PEMIMPIN YANG IDEAL, dari kacamata tokoh politik nasional


-->lomba orasi akan diadakan dengan tema yang diberikan oleh panitia

-->hiburan dari bintang tamu yang akan membawakan lagu-lagu nasional (Izzis)



Ditujukan untuk:
# all of the people in Indonesia who cares about our beloved country

# mahasiswa UI dan Masyarakat umum

Don't missed it ! and be there!


*dalam konfirmasi

Holocaust



Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

imageAlasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

***

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.

http://www.fpp.co.uk/online/std/images/FaurisnLcht210488.JPG
Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

imageAlasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

***

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.

http://www.fpp.co.uk/online/std/images/FaurisnLcht210488.JPG