Tuesday, 23 June 2009

asmaku dalam naungan surga (bag 2)

Kutahu pilihan dan keputusan Allah pasti selalu yang terbaik

Malam telah larut. Ya, lagi-lagi aku terpaksa pulang malam hari ini. Sore tadi tiba-tiba salah satu teman lingkar kecilku mengabarkan, ia dirawat di rumah sakit karena kecelakaan yang dialaminya tadi siang. Huff, untungnya tak ada luka serius yang menimpanya. Beruntung karena aku saja bergidik ngeri melihat mobilnya yang rusak parah.

Dua cahaya kecilku pasti sudah tidur. Aku mendatangi  kamar mereka setelah mandi dan menunaikan shalat isya. Kamar Asma dan aisha masih kusatukan tapi dengan dua tempat tidur yang berbeda tentunya, sesuai dengan tuntunan Rasul. Meskipun mereka satu jenis kelamin, tapi tetap tak boleh berada di dalam satu selimut. Maka mas fathi dan aku memutuskan untuk memisahkan tempat tidur mereka sedari kecil.

Perlahan aku membuka pintu kamar mereka agar tidak mengeluarkan denyit. Aish kecilku tampak terlihat pulas. Namun sebuah suara kemudian menyapaku…”bunda udah pulang…”

Ahh, asmaku, ternyata ia belum tidur. Aku menghampirinya kemudian membelai rambutnya yang panjang. “asma gak marah kan sama bunda karena hari ini bunda gak nepatin janji?”

Asma tersenyum, ahh senyumnya manis mewarisi senyum ayahnya. “kenapa asma harus marah sama bunda? Bunda kan berbuat kebaikan?”

Jawaban itu sungguh melegakan hatiku. Aku takut asma mempunyai pikiran seperti dani. Ya, aku baru tahu mengapa dani sering membolos akhir-akhir ini. Penyebabnya Ia ingin diperhatikan oleh orangtuanya. Orangtuanya sering melanggar janji yang diucapkannya karena kesibukan kerja yang membelenggu mereka. Maka dani membolos dengan harapan orangtuanya lebih memperhatikan dirinya. Aku baru melihat dani menangis siang itu. Dani, anak lelaki yang berumur 17 tahun itu menangis seperti anak kecil.  Ia menangis karena merasa tidak diperlakukan sebagaimana anak diperlakukan oleh orangtuanya.

Ohh…terima kasih Allah karena Engkau telah menitipkan dua cahaya ini padaku….

“Bunda…bunda jaga kesehatan ya?  Bunda jangan sampai sakit. Kasihan dek aish nanti kalo bunda sakit gak ada yang jagain…”

Aku menatap asma, tak biasanya ia berkata seperti itu. Padahal ia sering menenangkanku dengan pernyataan kesediaannya untuk selalu menjaga aish.

“aku sayang sama bunda…”, asma kemudian merengkuh tubuhku. Memelukku dengan erat…erat sekali.

“aku juga sayang dirimu cahaya hatiku….”, kukecup dahinya. Ahh, entah mengapa tiba-tiba aku merasa seperti akan berpisah sangat jauh dengannya.

“udah, bunda istirahat. Bunda pasti capek kan? Asma juga mau tidur. Ngantuk bunda…udah lima watt nih matanya”, ia terkekeh. kuacak-acak rambutnya dan kemudian aku mencium keningnya.

 “Iya….selamat tidur ya sayang. Semoga mimpi indah. Jangan lupa berdoa ya!”

 

***

Aduh, kepala asma pusing sekali. Sepertinya berat sekali untuk bangun. Duh, gak boleh lemah asma. Kamu harus kuat. Jangan ngerepotin bunda, kasian bunda udah banyak kerjaan.

“Pagi sayang…” sapa bunda pada asma di dekat meja makan.

“Pagi bunda…” jawab asma sembari menahan sakit kepala ini.

“bunda asma mau bangunin dek aish dulu ya…”, asma kemudian bergegas menuju kamar untuk membangunkan dek aish.

“Adek  udah bangun ko, kak”, suara kecil dek aish menghentikan langkah asma.

“Hmm, anak pintar. Tuh Bunda… berarti gak perlu kak asma lagi kan untuk ngebangunin dek aish?”

 

***

Deg.

Lagi, mengapa pernyataan asma kali ini membuatku gusar kembali. Mas Fathi andai kau ada di sini pasti aku akan membagi kegusaran ini denganmu. Uhh, gak boleh Zahra, kamu gak boleh ganggu mas Fathi dulu. Ia sedang bertugas menjalankan amanahnya.

 

***

Duh, kepalaku masih terasa pusing. Berat sekali rasanya. Hmm, tapi aku gak boleh mudah ngeluh. Kasian pasti nanti bunda cemas kalo aku ceritain rasa pusing ini. Ahh, paling bentar lagi juga sembuh. Ayo asma kamu pasti kuat! Kamu kan bukan anak yang manja dan lemah.

 

***

Allah, mengapa hari ini aku sangat gelisah. Uhh, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mas Fathi. Ohh, Allah lindungi suamiku dalam perjalanan pulangnya menuju depok.

 

***

Huff, Alhamdulillah akhirnya selesai juga amanahku dalam dauroh kali ini. Rindu sekali rasanya dengan Zahra, serta dengan dua princess kecilku, asma dan aisha. Hmm, tapi sepertinya aku sangat merindukan asma kali ini. Uhh, asma…ayah bawain oleh-oleh gamis dengan warna biru kesukaanmu loh. Pasti ia akan sangat senang menerima ini. Tidak sabar rasanya melihat senyum manisnya yang pasti akan merekah indah menghiasi wajahnya.

 

***

Allah…kepala asma pusing banget. Duh, asma gak kuat rasanya. Pengin cepet-cepet sampai di rumah terus tidur. Allah, jangan sampai sakit ini ngebuat bunda dan ayah sampai repot.

 

***

Alhamdulillah, hari ini aku bisa sampai rumah di pukul 4 sore. Hmm, kangen juga udah lama gak jalan-jalan sore bareng asma dan aish.

Rumah sepi. Kemana  gerangan dua cahaya hatiku?

Aku kemudian menuju kamar mereka. Kulihat asma tertidur, tak biasanya ia tertidur sampai lewat waktu ashar. Aku mendekatinya. Ahh, mengapa wajahnya begitu pucat? Kupegang dahinya. Allah…. Mengapa panas sekali. Ada apa dengan asma kecilku?

Aku mengguncang-guncang tubuh asma, sembari memanggil-manggil namanya, “Asma…asma….bangun nak?”. Namun asma tak bangun jua. Aku panik. Benar-benar panik. Cahayaku, ada apa denganmu, Nak?

“Bi Imah… Pak Yasir….!” Aku berteriak memanggil dua khadimatku. Tergopoh-gopoh mereka datang memenuhi panggilanku.

Tanpa sempat mereka mempertanyakan, aku langsung memberikan komando, “Pak Yasir, cepat keluarin mobil, kita akan ke rumah sakit bunda. Bi imah, tolong cari aish, segera nyusul begitu aish ketemu.”

 

***

Aku tak sempat menginjakkan kakiku di bumi cimanggis karena telepon Zahra yang menyuruhku untuk segera datang ke rumah sakit Bunda. Asmaku, ia terbaring lemah. Terserang DBD kata dokter. Ohh, Allah, sembuhkan Asmaku, sembuhkan princess kecilku…

 

***

Ohh, aku merasa menjadi ibu yang gagal yang tidak peka terhadap anaknya. Dokter bilang asma sudah terkena DBD di titik yang sangat kritis. Allah, mengapa ia tak pernah bilang tentang sakitnya ini. Mengapa  Allah… mengapa asmaku harus menderita penyakit ini?

 

***

Hmm, dimana asma? Asma tak mengenal tempat ini?

Ohh, tapi asma mendengar lantunan merdu tilawah bunda. Tenang sekali rasanya. Ahh,  asma juga mendengar suara ayah. Mengharukan dan sangat dalam. Ayah dan bunda teruslah mengaji seperti ini. Asma merasa tentraaam…. sekali mendengarnya.

 

***

Tak ada tanda-tanda keadaan asma membaik. Bahkan kata dokter tadi kondisinya semakin parah. Pembuluh darah asma terancam pecah karena DBD yang sudah berada di titik puncaknya.

Kulihat Zahra, ahh aku tahu hal ini pasti sangat menyiksanya. Ibu mana yang tega melihat penderitaan anaknya seperti ini. Seluruh badan asma sudah dipenuhi alat-alat medis.

Zahra masih terus saja melantunkan surah yasin di telinga asma. Sesekali diiringi juga dengan isak tangisnya. Allah, aku sungguh tak tega melihat dua orang wanita yang kucintai harus mengalami keadaan ini.

 

***

Suara bunda masih asma dengar melantun dengan indahnya. Akan tetapi, asma mendengar bunda juga menangis. Allah, asma gak mau bunda menangis gara-gara asma. Maafin asma ya bunda karena udah ngerepotin dan membuatmu menangis. Allah, asma gak mau ngerepotin bundaa….

 

***

Allah, kuikhlaskan asma jika memang Engkau menghendakinya demikian. Sungguh, aku sangat  tak tega melihat cahaya kecilku menderita seperti ini. Nak, jika boleh aku menukar, maka lebih baik aku yang berada dalam posisimu ini.

Allah… berikan yang terbaik untuk asmaku.

 

***

Pukul 3 dini hari

Aku masih terlarut dalam sujud panjangku malam ini. Memohon agar Allah memberikan keputusan yang terbaik untuk asmaku. Zahra lalu datang menghampiriku di mushola rumah sakit ini. Ahh, semoga ia datang dengan membawa kabar terbaik.

asmaku dalam naungan surga...(bag 1)

Suara hati – karena sebenarnya aku rindu

Pagi ini kembali kulihat jadwal dalam agendaku. Hmm, ternyata ada dua kajian yang mesti aku isi hari ini. Siang ini di sebuah majelis ta’lim, dan sorenya mengisi di sebuah kajian keputrian di SMA.

Huff, sepertinya hari ini pun tak ada waktu untuk dua cahaya hatiku. Ahh, tak…tak…tak boleh mengeluh karena ini adalah jalan yang telah kupilih.

Aku lalu berjalan menuju dapur. Seperti biasa bersiap mempersembahkan bekal special untuk dua cahayaku, ahh…dan tentu saja  juga untuk pangeran hatiku. 

“bunda, kali ini bekal untuk asma apa?”, sebuah suara lembut menyapa di tengah aktivitasku mencincang potongan Bombay.

Asma menarik-narik gamisku, ia hendak melihat olahan bahan bekal yang berada di atas meja.

“bunda mau bikin spaghetti  untuk bekal hari ini sayang….”

Mata kubilnya mengerjap, ia kemudian memainkan lidahnya, menyapu bibir atasnya lalu berkata, “Hmm, pasti sedap….”

Aku kemudian mengacak rambutnya, “cahaya hatiku, bunda bisa minta tolong?”

Asma mengangguk kecil.

“Tolong bangunin dek aish ya… sekalian temenin dia mandi, kamu minta bantuan sama bi imah ya sayang…”

“Oke bos…” celoteh asma riang sambil mengacungkan jempolnya.

Ya, aku memang membiasakannya untuk mengasuh adiknya. Tak sepenuhnya mengandalkan khadimat (pembantu), agar tali kasih tumbuh makin erat di antara mereka.

Yap, hal ini aku terapkan karena aku ingin kedua cahaya hatiku mandiri sejak kecil. Dari dahulu khadimat kuanggap sebagai orang yang hanya benar-benar membantu. Sejatinya memang akulah yang menjadi pelaku dalam rumah tangga ini.

Saat asma lahir, akupun berusaha untuk mengasuhnya sendiri sampai batas waktu cutiku habis. Profesiku sebagai seorang guru BP memang memungkinkanku untuk mengasuh cahaya hatiku di siang harinya. Meskipun terkadang panggilan dakwah kerap mengambil waktuku di saat seharusnya aku  bercengkrama dengan mereka. Bukan suatu halangan memang, karena aku berhasil memainkan peranku sebagai ibu dengan baik. Buktinya tak pernah ada protes dari dua cahaya hatiku ketika bundanya tak dapat menemani hari-hari mereka, bahkan saat umur asma telah menginjak angka 11 tahun dan aisha yang berusia 6 tahun. Komunikasi yang baik yang menjadi kunci utamaku. Walaupun terkadang mereka protes saat aktivitasku sudah melampui batas. Namun aku senang, karena mereka telah memahami aktivitasku dan mas Fathi yang memang berada di atas jalan kebenaran.

***

Asma senang karena hari ini bunda ngebuatin spaghetti untuk bekal. Uhh, masakan bunda emang selalu ngebuat lidah asma merasa ketagihan. Asma kagum sama bunda, di tengah aktivitasnya yang padat bunda masih sempat membuatkan sarapan plus bekal buat ayah, asma, dan dek aish. Bunda juga selalu menyempatkan waktu untuk bercerita dan menanyakan aktivitas kami menjelang tidur.

Bunda asma emang wanita hebat. Pantes aja banyak orang yang selalu minta nasihat sama bunda. Bunda orang yang amat bijak. Bunda gak pernah ngebentak dan marahin asma walaupun terkadang asma udah ngelakuin kesalahan. Bunda sabar… banget ngadepin asma dan dek aish. Pokonya asma sayang bunda. Asma akan selalu nurutin apa kata bunda karena perkataan bunda yang emang selalu benar. Bunda selalu mempersembahkan yang terbaik buat asma dan dek aish. Makannya asma malu kalo berperilaku manja sama bunda. Asma gak mau ngerepotin bunda. Kasian bunda, banyak kerjaan yang menunggunya. Hmmm, asma juga harus ngajarin dek aish agar bisa mandiri dan gak ngerepotin bunda. Aku dan dek aish sayang… banget sama ayah dan bunda. Makasih Allah udah ngasih ayah dan bunda yang baik buat asma dan dek aish.

***

Aroma tumisan bawang mengharum di area sekitar dapur rumahku. Ahh, ini pasti masakan Zahra, isteriku tercinta. Ya, wanita yang telah kunikahi empat belas tahun silam. Susah juga awalnya meyakinkan dia untuk mau menikah denganku di tengah kesibukan pembuatan skripsinya. Akan tetapi dengan sedikit usaha dan doa akhirnya Zahra luluh juga. Yup, aku meyakinkannya bahwa pasti kami akan dapat membangun sebuah madrasah peradaban di tengah amanah yang sedang dijalaninya. Meskipun pada kenyataannya aku menikahinya 3 hari pasca sidang skripsinya.

Proses yang kami jalani memang terbilang unik. Aku dan dia adalah senior dan junior saat di SMANSA depok. Dan kami berdua adalah lulusan dari satu almamater yang sama. Namun kami baru kenal ketika tergabung dalam satu wadah alumni SMA. Dan baru benar-benar berkenalan di saat proses ta’aruf dahulu.

Zahra memang tak secantik viola (akhwat jurusan yang sempat aku taksir saat kuliah). Akan tetapi pribadinya memalingkan duniaku. Mungil dengan percaya diri yang tinggi. Dan menurutku ia memang wanita yang tepat untuk menjadi madrasah pertama dan yang utama bagi anak-anakku kelak. Kutahu dari teman-temannya, Zahraku adalah wanita yang aktif dan sangat kritis ketika di kampus. Akan tetapi ia bisa menjadi sangat lembut dan penyayang jika sudah berhubungan dengan dunia anak-anak. Dan terbukti, ia dapat memainkan perannya dengan baik di tengah seabreg aktivitas yang digelutinya. Ia sangat mandiri, sampai-sampai kedua princess kecil ku pun sekarang sudah mulai menunjukkan kemandiriannnya. Hal itu tentu saja karena bundanya yang mengajarkan mereka untuk berlaku demikian.

***

Hufff, aku menghela nafas lagi. Yup, yup…hari ini ternyata banyak kasus yang harus aku tangani. Hmm, ikhlas…Zahra…ikhlas. Memang ini bukan yang kau inginkan? Mencoba membantu menyelesaikan masalah yang menimpa anak-anak “istimewa” ini?

Aku membuka buku agenda. Tertera dengan jelas bahwa aku menjadwalkan bertemu dengan orangtua Dani hari ini. Sudah dua hari dalam minggu ini Dani bolos sekolah. Sebenarnya ia bukan tipe anak pembangkang menurutku. Prestasinya cukup baik, termasuk 10 besar umum di sekolah. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini penyakit bolosnya sering kambuh. Kemarin, aku sudah mencoba berbincang dengannya. Tapi dani bungkam. Ia  masih enggan menceritakan penyebab dibalik perilaku bolosnya itu. Maka akhirnya kuputuskan untuk memanggil kedua orangtuanya.

***

Yiee….hari ini Asma berhasil dapet 100 lagi di ulangan matematika. Alhamdulillah, bisa ngasih hadiah lagi buat ayah dan bunda hari ini. Padahal ulangannya lumayan susah. Cuma sekitar 40 persen loh siswa yang dapet nilai di atas enampuluh. Tapi asma kemarin belajar mati-matian, sambil ditemanin bunda tentunya. Asma ngutak-ngatik soal matematika sedangkan bunda larut dalam pekerjaannya. Gak papa, yang penting bunda ada di samping asma. Kalo ayah di rumah, pasti ayah juga nemenin asma. Sayangnya ayah lagi gak ada, lagi keluar kota. Ahh, kalo ayah teman-teman asma keluar kota karena dinas, tapi kalo ayah keluar kota karena harus ngisi dauroh. Hehe, ayah asma kan penjual bakso, jadi mana mungkin ke luar kota karena dinas. Wong warung cabangnya aja baru punya 4, dan itu adanya di daerah depok dan Jakarta doank, hihihi. Bakso ayah enak loh…! Resep khusus dari Kendal.

***

Sudah pukul 14.00. tiga puluh menit lagi waktunya asma dan aisha pulang. Duh, aku gelisah, sepertinya hari ini aku akan gagal lagi menjemput mereka ke sekolah. Padahal aku sudah rindu menjemput mereka. Orangtua Dani tadi cukup lama berbincang denganku sehingga jadwal mengisi kajian pun terpaksa kumolorkan  selama satu jam. Untungnya para akhwat ini maklum. Tapi imbasnya lagi-lagi aku tidak dapat menjemput asma dan aisha di sekolah. Maafin bunda ya dua cahaya kecilku….

***

“Kak…bunda gak jadi jemput kita ya?”, dek aish terus saja memberondong asma dengan pertanyaan ini. Tadi pagi bunda memang telah berjanji untuk menjemput kami karena katanya kajiannya hanya akan berlangsung sampai pukul 2 siang ini. Hmm, tapi 5 menit yang lalu asma menerima sms dari  bunda. Bunda meminta maaf bahwa kali ini ia tak dapat menepati janjinya. Hanya Pak Yasir yang akan menjemput kami lagi.

“bunda lagi nolong orang,dek. Makannya bunda gak bisa jemput kita…”, asma gak bohong kan sama dek aish? Emang bener bunda sedang menolong orang untuk mendapatkan kebenaran lewat kajian yang diberikannya kan?

Dek aish menunduk tapi sesaat kemudian matanya berkeliling. Tiba-tiba ia menunjuk seorang ibu dan anaknya yang tengah bergandengan tangan, mesra sekali.

“Ko, kita jarang bisa kayak gitu ya ka sama bunda…”, suara dek aish terdengar lirih hingga menyayat lubuk hati asma yang paling dalam.

Duh, dek aish… kak asma sebenarnya juga rindu dengan bunda. Akhir-akhir ini bunda emang terlihat sibuk banget. Bahkan kak asma sampai tak tega melihat wajah kisutnya saat sampai di rumah ketika rembulan sudah bertengger di peraduannya.

 Asma menarik nafas, mencoba mengumpulkan segenap kekuatan asma. Asma gak boleh lemah, asma harus tetap berada di sisi dek aish. Jangan sampai ia merasa kesepian. Asma memeluk dek aish yang tingginya hanya  setengah dari asma.

“Kamu harusnya bangga dek, punya bunda yang hebat, yang disayangin banyak orang…” asma mencoba menghibur dek aish.

Asma lihat kemudian mata dek aish berbinar. Nampaknya kata-kata asma membuatnya sedikit lega. Yup, bunda memang termasuk salah seorang ustadzah yang terkenal di lingkungan kami. Bahkan teman-teman dek aishpun sangat mengidolakan bunda karena keahlian bunda yang pandai mendongeng. Ya, bunda waktu itu pernah menjadi salah satu pengisi acara dalam festival sekolah kami.

Ahh, bunda hanya ini yang bisa asma lakukan untukmu.

 

-puti ayu setiani-

Friday, 5 June 2009

Sebuah Naungan keberkahan di Wisma Barokah



Dahulu, butuh perjuangan dan kesabaran untuk memasuki wisma ini. Kos-kosan yang terletak di salah satu gang yang ada di jalan margonda. Rumah sederhana dengan cat krem dan coklat pada kusen pintu dan jendelanya. Yup, itulah wisma Barokah. 

Jika kau datang ke Wisma ini kawan, maka kau akan disambut oleh aura ketenangan di wisma ini. Mereka yang datang pertama kali ke wisma ini akan merasakan betapa nyamannya berada di wisma ini.

Selama aku berada di wisma ini, canda, tawa, bahkan duka selalu menemani hari-hari penghuninya.

Ada kehangatan, persaudaraan yang begitu erat, kasih sayang yang mungkin tak akan aku dapatkan di kos-kosan lainnya.
Apalagi saat Ramadhan. Ya, meskipun aku baru melewati satu Ramadhan di wisma ini, namun kuharap keberkahan ini akan terus berlanjut di malam-malam Ramadhan berikutnya.
Maka, ketika bulan Ramadhan tiba, kau akan mendapatkan kami sahur bersama di depan ruang TV. Saling membangunkan sahur antara satu penghuni dan penghuni lainnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah di depan TV. Sempat aku mengusulkan untuk mengadakan kultum setelah shalat, hehe. Tetapi hal tersebut masih belum dapat terealisasikan.

Lalu, saat tarawih, kami akan pergi bersama-sama ke MUI. Dan saat malam sepuluh terakhir akan segera tiba, maka kami akan disibukkan untuk memutuskan kemana kami akan beritikaf.

Namun kawan, hal tersebut tak hanya terjadi saat hari-hari di bulan Ramadhan. Semua hari di wisma Barokah adalah hari-hari seperti Ramadhan. Ketika kami memang berkumpul di kosan, shalat Jamaah adalah hal yang akan kami lakukan. Saling terbangun untuk shalat Lail, dan saat senin-kamis pun adalah hari puasa bagi sebagian penghuninya.

Yup, itulah kos-kosanku. Maka aku tak akan pernah melupakan acara masak nasi goreng bersama di dapur. Terkadang aku yang memasakkan untuk mereka, namun terkadang pula mereka yang memasakkannya untukku. Di sini, kami sudah seperti keluarga. Jika ada yang sakit, maka secara otomatis semua akan bergantian merawat si sakit. Entah itu menyiapkan secangkir teh hangat, membelikan makan sampai merekomendasikan dan membelikan obat apa yang harus diminum. Dan saat ada yang belum pulang saat jam menunjukkan pukul 8 malam, maka kami akan mencari tahu kemana gerangan perginya ia.

Atau ketika ada yang sering meminum kopi atau makan mie instant, pengingatan sebagai tanda cinta langsung akan menghujam si tersangka.

Yap, itulah kos-kosanku. Ada Fariz, ka de2w, aku, teh yunda, teh anis, teh Rayi, Adel, Inez, Mba Debi, Mba Deli, Nurul, ka Dewi, dan mba yang selalu merawat wisma ini, mba Iis. Orang-orang baik dan menyenangkan. Ahh, semoga meskipun akan ada yang pergi dan yang datang di wisma ini, naungan keberkahan itu tetap akan ada di wisma ini. Ya, hal yang sangat aku syukuri…Sebuah Naungan Keberkahan di Wisma Barokah.