Kutahu pilihan dan keputusan Allah pasti selalu yang terbaik
Malam telah larut. Ya, lagi-lagi aku terpaksa pulang malam hari ini. Sore tadi tiba-tiba salah satu teman lingkar kecilku mengabarkan, ia dirawat di rumah sakit karena kecelakaan yang dialaminya tadi siang. Huff, untungnya tak ada luka serius yang menimpanya. Beruntung karena aku saja bergidik ngeri melihat mobilnya yang rusak parah.
Dua cahaya kecilku pasti sudah tidur. Aku mendatangi kamar mereka setelah mandi dan menunaikan shalat isya. Kamar Asma dan aisha masih kusatukan tapi dengan dua tempat tidur yang berbeda tentunya, sesuai dengan tuntunan Rasul. Meskipun mereka satu jenis kelamin, tapi tetap tak boleh berada di dalam satu selimut. Maka mas fathi dan aku memutuskan untuk memisahkan tempat tidur mereka sedari kecil.
Perlahan aku membuka pintu kamar mereka agar tidak mengeluarkan denyit. Aish kecilku tampak terlihat pulas. Namun sebuah suara kemudian menyapaku…”bunda udah pulang…”
Ahh, asmaku, ternyata ia belum tidur. Aku menghampirinya kemudian membelai rambutnya yang panjang. “asma gak marah
Asma tersenyum, ahh senyumnya manis mewarisi senyum ayahnya. “kenapa asma harus marah sama bunda? Bunda
Jawaban itu sungguh melegakan hatiku. Aku takut asma mempunyai pikiran seperti dani. Ya, aku baru tahu mengapa dani sering membolos akhir-akhir ini.
Ohh…terima kasih Allah karena Engkau telah menitipkan dua cahaya ini padaku….
“Bunda…bunda jaga kesehatan ya? Bunda jangan sampai sakit. Kasihan dek aish nanti kalo bunda sakit gak ada yang jagain…”
Aku menatap asma, tak biasanya ia berkata seperti itu. Padahal ia sering menenangkanku dengan pernyataan kesediaannya untuk selalu menjaga aish.
“aku sayang sama bunda…”, asma kemudian merengkuh tubuhku. Memelukku dengan erat…erat sekali.
“aku juga sayang dirimu cahaya hatiku….”, kukecup dahinya. Ahh, entah mengapa tiba-tiba aku merasa seperti akan berpisah sangat jauh dengannya.
“udah, bunda istirahat. Bunda pasti capek
“Iya….selamat tidur ya sayang. Semoga mimpi indah. Jangan lupa berdoa ya!”
***
Aduh, kepala asma pusing sekali. Sepertinya berat sekali untuk bangun. Duh, gak boleh lemah asma. Kamu harus kuat. Jangan ngerepotin bunda, kasian bunda udah banyak kerjaan.
“Pagi sayang…” sapa bunda pada asma di dekat meja makan.
“Pagi bunda…” jawab asma sembari menahan sakit kepala ini.
“bunda asma mau bangunin dek aish dulu ya…”, asma kemudian bergegas menuju kamar untuk membangunkan dek aish.
“Adek udah bangun ko, kak”, suara kecil dek aish menghentikan langkah asma.
“Hmm, anak pintar. Tuh Bunda… berarti gak perlu kak asma lagi
***
Deg.
Lagi, mengapa pernyataan asma kali ini membuatku gusar kembali. Mas Fathi andai kau ada di sini pasti aku akan membagi kegusaran ini denganmu. Uhh, gak boleh Zahra, kamu gak boleh ganggu mas Fathi dulu. Ia sedang bertugas menjalankan amanahnya.
***
Duh, kepalaku masih terasa pusing. Berat sekali rasanya. Hmm, tapi aku gak boleh mudah ngeluh. Kasian pasti nanti bunda cemas kalo aku ceritain rasa pusing ini. Ahh, paling bentar lagi juga sembuh. Ayo asma kamu pasti kuat! Kamu
***
Allah, mengapa hari ini aku sangat gelisah. Uhh, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mas Fathi. Ohh, Allah lindungi suamiku dalam perjalanan pulangnya menuju depok.
***
Huff, Alhamdulillah akhirnya selesai juga amanahku dalam dauroh kali ini. Rindu sekali rasanya dengan Zahra, serta dengan dua princess kecilku, asma dan aisha. Hmm, tapi sepertinya aku sangat merindukan asma kali ini. Uhh, asma…ayah bawain oleh-oleh gamis dengan warna biru kesukaanmu loh. Pasti ia akan sangat senang menerima ini. Tidak sabar rasanya melihat senyum manisnya yang pasti akan merekah indah menghiasi wajahnya.
***
Allah…kepala asma pusing banget. Duh, asma gak kuat rasanya. Pengin cepet-cepet sampai di rumah terus tidur. Allah, jangan sampai sakit ini ngebuat bunda dan ayah sampai repot.
***
Alhamdulillah, hari ini aku bisa sampai rumah di pukul 4 sore. Hmm, kangen juga udah lama gak jalan-jalan sore bareng asma dan aish.
Rumah sepi. Kemana gerangan dua cahaya hatiku?
Aku kemudian menuju kamar mereka. Kulihat asma tertidur, tak biasanya ia tertidur sampai lewat waktu ashar. Aku mendekatinya. Ahh, mengapa wajahnya begitu pucat? Kupegang dahinya. Allah…. Mengapa panas sekali.
Aku mengguncang-guncang tubuh asma, sembari memanggil-manggil namanya, “Asma…asma….bangun nak?”. Namun asma tak bangun jua. Aku panik. Benar-benar panik. Cahayaku, ada apa denganmu, Nak?
“Bi Imah… Pak Yasir….!” Aku berteriak memanggil dua khadimatku. Tergopoh-gopoh mereka datang memenuhi panggilanku.
Tanpa sempat mereka mempertanyakan, aku langsung memberikan komando, “Pak Yasir, cepat keluarin mobil, kita akan ke rumah sakit bunda. Bi imah, tolong cari aish, segera nyusul begitu aish ketemu.”
***
Aku tak sempat menginjakkan kakiku di bumi cimanggis karena telepon Zahra yang menyuruhku untuk segera datang ke rumah sakit Bunda. Asmaku, ia terbaring lemah. Terserang DBD kata dokter. Ohh, Allah, sembuhkan Asmaku, sembuhkan princess kecilku…
***
Ohh, aku merasa menjadi ibu yang gagal yang tidak peka terhadap anaknya. Dokter bilang asma sudah terkena DBD di titik yang sangat kritis. Allah, mengapa ia tak pernah bilang tentang sakitnya ini. Mengapa Allah… mengapa asmaku harus menderita penyakit ini?
***
Hmm, dimana asma? Asma tak mengenal tempat ini?
Ohh, tapi asma mendengar lantunan merdu tilawah bunda. Tenang sekali rasanya. Ahh, asma juga mendengar suara ayah. Mengharukan dan sangat dalam. Ayah dan bunda teruslah mengaji seperti ini. Asma merasa tentraaam…. sekali mendengarnya.
***
Tak ada tanda-tanda keadaan asma membaik. Bahkan kata dokter tadi kondisinya semakin parah. Pembuluh darah asma terancam pecah karena DBD yang sudah berada di titik puncaknya.
Kulihat Zahra, ahh aku tahu hal ini pasti sangat menyiksanya. Ibu mana yang tega melihat penderitaan anaknya seperti ini. Seluruh badan asma sudah dipenuhi alat-alat medis.
Zahra masih terus saja melantunkan surah yasin di telinga asma. Sesekali diiringi juga dengan isak tangisnya. Allah, aku sungguh tak tega melihat dua orang wanita yang kucintai harus mengalami keadaan ini.
***
Suara bunda masih asma dengar melantun dengan indahnya. Akan tetapi, asma mendengar bunda juga menangis. Allah, asma gak mau bunda menangis gara-gara asma. Maafin asma ya bunda karena udah ngerepotin dan membuatmu menangis. Allah, asma gak mau ngerepotin bundaa….
***
Allah, kuikhlaskan asma jika memang Engkau menghendakinya demikian. Sungguh, aku sangat tak tega melihat cahaya kecilku menderita seperti ini. Nak, jika boleh aku menukar, maka lebih baik aku yang berada dalam posisimu ini.
Allah… berikan yang terbaik untuk asmaku.
***
Pukul 3 dini hari
Aku masih terlarut dalam sujud panjangku malam ini. Memohon agar Allah memberikan keputusan yang terbaik untuk asmaku. Zahra lalu datang menghampiriku di mushola rumah sakit ini. Ahh, semoga ia datang dengan membawa kabar terbaik.