Saturday, 30 August 2008

CANGKIR (binCANG Kastrat In heRe)

Start:     Sep 13, '08 09:00a
End:     Sep 13, '08 4:00p
Location:     Auditorium Gd. H Fakultas Psikologi UI
BEM Fakultas Psikologi UI Proudly Present



CANGKIR 2008
bertemakan :

"MENCARI PEMIMPIN BANGSA INDONESIA YANG IDEAL"

deskripsi acara:
1. Dua buah seminar
2. lomba orasi mahasiswa
3. hiburan

seminar akan mengangkat dua tema, yaitu:
1. KAJIAN KEPRIBADIAN PEMIMPIN YANG IDEAL, oleh pakar psikologi dan juga tokoh pers (Gunawan Muhammad)
2. PEMIMPIN YANG IDEAL, dari kacamata tokoh politik nasional


-->lomba orasi akan diadakan dengan tema yang diberikan oleh panitia

-->hiburan dari bintang tamu yang akan membawakan lagu-lagu nasional (Izzis)



Ditujukan untuk:
# all of the people in Indonesia who cares about our beloved country

# mahasiswa UI dan Masyarakat umum

Don't missed it ! and be there!


*dalam konfirmasi

Holocaust



Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

imageAlasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

***

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.

http://www.fpp.co.uk/online/std/images/FaurisnLcht210488.JPG
Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

imageAlasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

***

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.

http://www.fpp.co.uk/online/std/images/FaurisnLcht210488.JPG

Sepertinya Akan Hujan...

 

Langit tangerang lagi gelap banget nieh dari tadi. Udah mulai ada suara-suara petir. Aroma hujanpun sudah membaui hidungku...Aku sih seneng kalo hujan, tapi kalo ujan gede biasanya rumahku kebanjiran nieh, hks...hiks...hiks....

Ya...Mudah-mudahan gak sampai banjir deh....

Friday, 29 August 2008

Bahkan Kucing pun Mempunyai Malu...




Kucing aja punya malu, jadi kalo manusia sampai gak punya malu ketika bermaksiat, bisa jadi dia lebih rendah daripada kucing...

Sejuta Cinta Untuk Adik-adikku...

Huff, senin ini aku akan kembali ke rutinitas sebagai mahasiswa, bergelut dengan banyaknya tugas kelompok, dan tentunya kembali masuk ke kelas untuk mendengarkan ceramah para dosen .

Ya, memang sudah tiga bulan ini aku libur. Hmm, tapi aku tak merasakan apa itu yang namanya libur. Terjebak oleh SP dan rutinitas kehidupan kepanitiaan. Hehe, tapi aku masih sempet “melarikan” diri selama sekitar 2 minggu. Seminggu untuk refresh pikiran dengan mengunjungi kampoeng halaman orangtuaku, dan seminggu lagi atas izin Allah yang memberi aku sakit (hehe, jadinya sekalian untuk istirahat ).

Alhamdulillah, libur semester kali ini banyak memberikan pelajaran padaku. Aku merasa semakin percaya diri dan merasa otakku “berisi” saat aku mendapatkan materi dari program MENGGEMA UI nya ZCA+Akprop BEM UI. Gak tau, pokoknya jadi ngerasa punya keberanian yang cukup tinggi setelah mengikuti kegiatan itu. Entah karena aku telah “termakan”  omongan-omongan  dari para pembicaranya dengan materi nya yang yahud punya, atau memang sebenarnya aku baru menemukan siapa diriku sebenarnya.

Selain MENGGEMA UI, ada satu hal lagi yang membuatku merasa bermanfaat sebagai manusia. Ketika Teh Yunda menawariku untuk membantunya mengajar di sekolah MasTer  (Masjid Terminal)  Depok, sungguh banyak pelajaran yang kuambil di sana. Belajar tentang kesabaran dalam arti sebenarnya (hehe, maklumlah di sana aku mengajar anak-anak yang bisa dibilang liar), belajar untuk berbagi cinta (yah, karena mereka tak cukup menerima cinta dari lingkungannya), belajar tentang perjuangan hidup (hidup yang benar-benar butuh perjuangan), serta belajar untuk selalu tersenyum saat kepala serasa hampir mau pecah (maklumlah, meladeni 10 orang anak dengan permintaan yang macem-macem pula, ditemplokin, cari perhatian, merengek gara-gara gak mau nulis, dan masih macem-macem lagi). Tapi aku senang karena ternyata mereka juga menyayangiku dan merindukanku.

Mengapa aku bisa bilang mereka menyayangiku dan merindukanku? Hehe, jadi ceritanya karena harus bertugas sebagai mentor dalam PSAF Psikologi, selama 4 hari aku gak pergi ke sana. Terus kata Teh Yunda banyak anak-anak yang nayain aku (huhu, terharu T_T), terus waktu hari kamis kemarin aku datang, mereka menyambutku dengan penuh suka cita. Bahkan, aku melihat perubahan yang cukup baik dari Mario. Ya, semenjak peristiwa aku ingin menjitaknya (hehe, tapi gak jadi ko), aku sudah mengancamnya bahwa jika ia terus merengek karena gak mau nulis (lebih tepatnya nih anak caper banget!!!), aku gak mau datang lagi ke sana. Dan ternyata memang selama 4 hari aku kan gak datang, jadi waktu kemarin aku ke sana surprise banget nih anak udah kagak ngerengek-ngerengek lagi waktu nulis. Udah gitu hari ini dia nyubit pipiku lagi (Aduh, ternyata pipiku punya magnet yang cukup kuat ya?!), dan tau gak waktu aku pelototin dia gara-gara itu, dia bilang “Abis gemes sama kaka”, hahaha...dasar tuh anak.

Ada satu hal lagi yang membuatku senang hari ini, jadi waktu itu saat eki ingin mengembalikan pulpen kepadaku tau gak dia bilang apa? Dia ngomong gini “Kakak Cantik ini pulpennya...”. Wahahaha, aku dibilang cantik, jadi enak nih!

 

Oh, Rabbi...

Tapi kali ini aku harus meninggalkan mereka (sementara). Ya, karena jadwal kuliahku yang tak memungkinkan untukku dapat mengajar di sana. Semester ini setiap hari aku harus masuk jam 8 pagi, padahal biasanya pasti ada hari liburnya, kalo gak senin ya jumat. Haruskah aku kehilangan saat-saat indah bersama mereka? Saat dimana aku merasa bermanfaat sebagai manusia, saat dimana aku belajar untuk memahami mereka, saat dimana naluri keibuanku (ya meskipun belum jadi ibu sih) sedikit demi sedikit terasah di sana, saat dimana aku merasa begitu bersyukur sebagai manusia (dibandingkan dengan keadaan mereka yang sangat memprihatinkan)...

Yah, mudah-mudahan ini hanya sementara. Toh saat merasa penat dengan beban akademis, sekali-kali aku bisa “kabur” untuk mengunjungi mereka (hehehe, udah diniatin banget keknya). Tapi yang pasti aku tak kan pernah melupakan mereka. Yah, mereka bagian dari puzzle-puzzle indah dalam hidupku. Saat merasa jatuh terpuruk, hatiku sembuh dengan sebuah senyuman dan celoteh riang mereka. Yah, pasti aku akan sangat merindukan saat-saat indah bersama mereka.

Rabbi...

Kutitipkan sejuta cinta untuk mereka padaMU

 

Thursday, 28 August 2008

Julukan Baru...



Waktu PSAF (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas) tanggal 25-26 kemarin, aku dapet julukan baru. Huu...cuma gara-gara wajahku begitu terlihat polos dan sangat menggoda untuk jadi bahan ledekan alias dijahilin mulu, walhasil julukan "bullyable" pindah ke aku.

Hiks...hiks...tadinya julukan itu sebenernya milik nanda kecil, eh tapi gara-gara malik bilang ke ka Kiki kalo ternyata aku tuh lebih pantas menerima julukan itu, jadinya seharian itu aku di "bully" melulu sama rekan sesama mentor. Di jutekin lah, diomelin, dicubitin pipinya....Uh...,mentang-mentang tubuhku imut-imut. Sebellllllllllllll!!!!!!!










Sunday, 24 August 2008

Selaksa Luka


Purnama di atas gelombang
Bergemuruh dalam nyanyian cinta




-puisiyangsingkatbanget-
*ada yang mau coba tebak makna yang tersirat di dalamnya?
.

Wednesday, 20 August 2008

Mars Psikologi

aku lagi seneng banget neh sama lagu mars psikologi. Meskipun gak terlalu hapal, karena emang jarang dinyanyiin, tapi ada satu bait yang aku suka dari lagu ini...
"Menjunjung keluhuran ilmu budaya bangsa, memegang teguh keadilan tegakkan kebenaran..."

Nadanya tuh enak banget waktu dinyanyiin...Lov u lah Psikologi!!!!

Monday, 18 August 2008

Hari Ini...

Alhamdulillah, meskipun peserta yang datang sedikit, tapi lomba mewarnai dan menyusun huruf hari ini berjalan lancar.

Ada hikmahnya juga sih pesertanya sedikit, yang pertama kita2 gak terlalu direpotin ,hehehe. Dan yang kedua, kita jadi lebih mengenal keluarga serta kisah hidup sebagian anak. Ada m****, anak semata wayang (karena ayah,adik, dan kakaknya sudah meninggal). Ada R****, bocah pintar yang punya dua orang adik yang masih kecil. Serta U*** dengan beragam kisah hidupnya (mulai dari cerita dipalakin preman, ngamen sampai jam 12 malem, dsb).

Ada satu perkataan menarik saat aku bertanya pada U*** tentang rasa takutnya. "Kamu gak takut apa pulang ampe jam 12 malem?" dan dia dengan santai dan penuh kepastian menjawab "Ngapain takut ka? takut mah sama yang di Atas aja (baca: Allah). Duh kakaknya malah diajarin. Tapi aku salut loh sama dia, 6 tahun dah bisa jawab kaya gitu. ^_^d

Ada lagi nih yang bikin aku seneng di hari ini. Setelah selesai lomba, anak-anak dijanjiin nonton film. ama ka Bule. Dan ternyata film yang ditonton adalah...
Upin dan Ipin (lengkap sampai 6 episode). Wah, aku malah yang paling girang pas tau filmnya tuh itu. Apalagi ada episode 4 nya(soalnya aq blm nonton yang episode 4).

Hehehe, akhirnya kesampaian juga neh nonton Bareng film Upin dan Ipin ama bocah-bocah. ^_^

Terima kasih Allah telah memberi kesempatan padaku hari ini, untuk bisa bersama mereka....

Sunday, 17 August 2008

Penggambar Dadakan

Aku lupa kalo hari ini dan besok tanggal merah, itu berarti rental print gak ada yang buka. Walhasil gambar2 buat lomba besok buat adik2ku di terminal harus digambar manual pake tangan.

Jadi deh aku n teh yunda jadi penggambar dadakan...Huahaha, mudah2an gambarku bisa dimengerti oleh adik2 besok, coz mereka harus menyusun huruf pada gambar tersebut. Asal jangan ada yang menganggap sapi yang kugambar adalah kambing, hehehe...

Ayo semangat coz masih ada 60 lagi yang harus digambar!!! Lembur2 deh...

Asyik..nonton sang MR

Akhirnya udah ada yang punya juga film sang MR. Yah,walaupun aq sendiri belum punya,tapi setidaknya aq dah bisa nonton coz salah satu akhwat fakultasku dah ada yang punya...

Insya Allah akan segera ditonton..
Tapi berikutnya harus punya sendiri nih...

Gampanglah, ada masku ini..suruh aja dia beli,hihihi^_^

Asyik..nonton sang MR

Akhirnya udah ada yang punya juga film sang MR. Yah,walaupun aq sendiri belum punya,tapi setidaknya aq dah bisa nonton coz salah satu akhwat fakultasku dah ada yang punya...

Insya Allah akan segera ditonton..
Tapi berikutnya harus punya sendiri nih...

Gampanglah, ada masku ini..suruh aja dia beli,hihihi^_^

Syndrome Ipin

Semenjak nonton film upin dan ipin (ampe berkali-kali), cara ngomongnya jadi ikut2an si Ipin deh. Logat melayu terus diulang sampai 3 kali dengan cepat.

Gak cuma temen-temen se kostan, bahkan beberapa anak psiko juga udah pada nonton film ini. Hihihi, pokoknya lagi jadi populer banget neh...

Hebat,hebat,hebat!(tetep pake gaya ipin

Saturday, 16 August 2008

Asa Untuk Negeriku

Alhamdulillah sudah 63 tahun negeriku merdeka...
Meskipun terus menerus dilukai oleh para pemimpinnya yang zolim
Meskipun terus menerus dikotori oleh para tikus2 busuk
Meskipun terus menerus menangis karena banyak nyawa yang mati akibat kebodohan pemimpinnya
Meskipun terus menerus menaggung malu karena kemaksiatan yang terus merajalela
Meskipun terus menerus menjadi sasaran musuh-musuh yang tak menyukai negeriku ini

Tapi aku percaya negeriku masih dapat kembali tersenyum
Karena masih banyak putera-puteri bangsa yang mencintainya

Selama matahari bersinar
Selama kita terus berjuang
Selama kita selalu berpadu
Aku yakin Harapan untuk melihat kembali negeriku tersenyum masih ada

Selama para pecinta negeriku memegang teguh kebenaran
Selama para pecinta negeriku membuang jauh keserakahan
Dan rela berkorban dengan jiwa dan raga
Kuyakin harapan itu masih ada

Maka, mari kawan kita tatap tegak masa depan
Tersenyum untuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Membangun Negeri kita, Indonesia*

(terinspirasi dan mengambil beberapa bait dalam Bangkitlah Negeriku nya ShouHar)

Friday, 15 August 2008

Malam Penuh Canda

Hehehe, dah jam segini tapi masih berkumpul2 ria di kamar kakak Biri-biri wool. Setelah abis sholat Isya berjamaah, kami telah sepakat menyiapkan alat-alat lomba 17an buat bocah-bocah di terminal.

Sampai sekarang belum selesai..hiks2,mudah2an segera selesai deh...Ayo semangat...


Kosanku Tercinta, 22.25 WIB
(semoga selalu membawa keberkahan bagi penghuninya)

Bermain (bersama) hujan

Hehehe,barusan aku main hujan2an. Padahal lagi kurang enak badan, tapi begitu ngeliat hujan langsung deh keinginan untuk bermain2 ria keluar begitu kuat. Udah dibilangin juga ama abang rental, kalo ujannya deres, tapi dasar bandel, hihihi jadinya nekat deh untuk nerobos hujan. Maklum udah lama kagak ketemu hujan.

Pas sampai di gang damai, genangan air telah menyambut kedatanganku. Jujur, aku lupa kalo hujan pasti jalanan dari gang damai ampe mahali cukup tergenang. Tapi apa mau dikata, wong udah terlanjur jadi sekalian nyebur deh.

Uh, susah juga ya nyebrang jalan pas hujan. Penglihatannya jadi agak kabur. Walhasil aku yang pada dasarnya agak susah kalo nyebrang jadi butuh waktu yang lebih lama untuk menyebrang kali ini. Tau sendiri margonda kayak gimana!

Alhamdulillah bisa nyebrang juga tanpa harus kesrempet motor, soalnya waktu itu pernah punya pengalaman keserempet nieh. Sampai di kosan tercinta gak taunya keadaan gelap gulita. Keknya emang aku sendiri makhluk di sini. Lalu aku mencoba nyari2 sakelar lampu. Setelah kupencet gak nyala. Aku langsung aja berpikir kalo mati lampu. Tapi warung depan ko nyala ya lampunya? Jangan2 turun?

Gak lama teh Anis dateng. Aku langsung seneng coz jadinya aku gak sendirian di tengah kosan yang gelap gulita. Teh anis langsung meriksa sakering, ya siapa tau aja turun. Tapi semua dalam keadaan baik. Karena penasaran, ia kemudian memencet sakelar, dan ajaib lampunya nyala.

Mau tau gak kenapa pas tadi aku pencet gak nyala? Ternyata aku malah mencet sakelar yang gak ada lampunya, hehehe;)

Si lucu Upin dan Ipin yang Menggemaskan

 

*sebuah film yang penuh hikmah

 

Ramadhan akan segera hadir. Dan pastinya bulan tersebut akan menjadi ramadhan pertama bagi anak-anak yang baru mulai belajar puasa sehari penuh.

Terus apa hubungannya sama upin dan ipin?

Upin dan Ipin adalah salah satu film (kartun animasi) buatan Malaysia. Kartun ini benar-benar diperuntukkan bagi anak-anak (karena definisi kartun Indonesia adalah semua film kartun=filmnya anak-anak). Kartun yang penuh hikmah. Bercerita tentang 2 orang bocah yatim-piatu yang tinggal bersama nenek dan kakak perempuannya. Saat ramadhan tiba, mereka diajarkan untuk berpuasa satu hari penuh. Banyak komentar-komentar lucu (khas anak-anak) yang terlontar dari mulut cerdas mereka. Saat hari pertama puasa dikisahkan tentang bagaimana susahnya membangunkan sahur mereka berdua. Lalu pada pagi harinya mereka tetap mencari sarapan dan menanyakan ke kakaknya “Ka Ros, hari ini taka de sarepen, ke?”. Ya, mereka lupa kalo mereka sedang berpuasa.

Lalu mereka memutuskan untuk bermain di luar. Bisa ditebak, saat selesai bermain di tengah udara yang panas, godaan untuk membatalkan puasa sangat besar. Tapi mereka berhasil melewatinya. Lucunya ketika waktu berbuka, sangking laparnya mereka hanya membaca bismillah dan langsung ingin menyerbu makanan. Namun nenek mereka dengan sigap berkata “Ape itu? Itu dua orang laper?” (pokoknya pake logat melayu gitu dah). Yawda deh, walhasil mereka mengulang membaca doa beneran (doa berbuka puasa).

 

Ada hal yang lucu lagi, ketika mereka tahu bahwa ternyata mereka harus berpuasa selama satu bulan. Mau tau apa yang mereka katakan? “Hah, kalo kaye gini, mati leh...”

 

Sungguh, ini nieh beneran film yang bagus bagi anak-anak untuk mengajarkan apa itu puasa, hikmahnya dan lain-lain sebagainya. Udah gitu dialog film ini lucu banget. Aku aja ampe ngakak mendengar gaya berbicara si ipin yang pasti harus diulang sampai berkali-kali. Contohnya: saat upin bilang “Banyak banget kita maken malam itu...sedap...! Ya  ken Ipin?” terus si ipin menjawab “Sedap...sedap...sedap...” (dengan logat yang lucu dan cepat), cara ngomongnya itu asli lucu banget. Apalagi si ipin tuh selalu membawa tulang ayam saat bercerita dengan temannya (maklum, neh anak ceritanya amat menyukai ayam...)

 

Duh, pokoknya ini film yang bagus deh buat anak-anak. Edukatif plus menghibur abissss!!! Coba ini bias ditayangin di TV Indonesia ya???

 

*Hehehe,jadipunyarencananontonbarengamabocah-bocahdikompleksku

Thursday, 14 August 2008

Catatan Dari Lapangan [ ketika menjadi time keeper dalam sebuah pertandingan futsal]

 

Emang aneh ya kalo seorang akhwat berada di tengah-tengah lapangan futsal??? Eh, bukan di tengah lapangan deng, maksudnya di tengah tribun....

Ya...kemarin tuh ceritanya aku ikut bantuin panitia Trophy jadi time keeper pertandingan. Nah, saat pertandingan akan dimulai, sang wasit 1 (karena wasitnya ada 2) menanyakan kelengkapan tim teknis (maksudnya kayak siapa yang nyatet skor, time keeper, dll). Saat ditanya siapa time keepernya, ia mengulang sampai 3 kali.

Kira-kira gini dialognya:

Wasit 1: “Ini siapa yang megang time keeper?”

Panitia T: “Ini ka, Puti...!”

Wasit 1 : “Eh, siapa neh yang jadi time keepernya??”

Panitia T : “ Puti ka, Puti...”

Wasit 1 : “ Oh...Siapa...siapa...?” Sambil melihat ke arahku.

Aku: “ Puti...ka, Puti.....!”

Entah kenapa ya dia mesti ngulangin pertanyaan itu ampe 3 kali. Apa emang dia gak ngeh sama keberadaan aku, atau dia emang ngerasa aneh bin sangsi kalo ada makhluk kayak aku yang jadi time keeper...?(pemandangan yang langka mungkin??)

Ah, aku sih gak ambil pusing, coz aku cuma ingin ngebantu temanku yang emang meminta bantuan kepadaku. Meskipun awalnya aku agak2 dodol melaksanakan tugasku, Alhamdulillah semua berjalan lancer. Selain itu pertandingannya seru juga loh....Tim cewek psiko menang loh atas cewek teknik (keren kan...keren... kan!!!) tapi, tim cowoknya kalah, hiks2.

Pokoknya the best banget dah pertandingan kemarin. Dan kalo kata Chai, hari itu adalah harinya keeper, coz banyak banget penyelamatan2 cantik yang dilakukan keeper2 khususnya pada pertandingan cowok.

THE BEST DAH POKOKNYA!!!^_^

Catatan dari Jalanan (dari Depan gedung sebuah Lembaga [yang ngakunya ] Dewan Perwakilan Rakyat [ tapi nyatanya kayaknya Dewan Pengkhianat Rakyat deh?!])

 





Tanggal 12 Agustus kemarin, kembali aku mengikuti aksi. Isu yang diangkat kali ini adalahsoal RUU BHP yang tinggal menunggu waktu saja untuk disahkan. Padahal sudah hampir 4 tahun RUU ini diperjuangkan untuk ditolak oleh mahasiswa. Karena jika pendidikan saja akan di privatisasi, mau jadi apa bangsa ini kedepannya. Padahal pendidikan merupakan kunci utama untuk bangkit serta membangun sebuah bangsa. Ketika dahulu bangsa Jepang di bom atom, kaisar Jepang pada saat itu tidak menanyakan berapa tentara yang tersisa, akan tetapi ia bertanya berapa guru yang masih hidup. Itu tandanya pendidikan memang sangat penting untuk membangun sebuah bangsa yang maju.

Entahlah aku tak tahu apa yang terjadi di negeriku. Padahal menurut pembukaan UUD 1945, tertulis bahwa tujuan dari dibentuknya Negara Indonesia ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. UUD Negara Republik IndonesiaPasal 28 C : “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan. Serta Pasal 31 ayat (1) : “Setiap warganegara berhak mendapatkan pendidikan”. Tapi nyatanya....


Lantas, bagaimana bangsa ini bisa cerdas jika pendidikannya pun dikomersialisasikan?!

Ada satu kisah yang sangat menyentuh dari aksi kemarin. Jadi ceritanya ka Randi (setelah selesai shalat dzuhur) membeli ketupat sayur di dekat gedung MPR/DPR. Nah si bapak penjual itu bertanya “Mau demo apa Dek?”. “Oh ini Pak, BHP” (dan lalu ka Randi menjelaskan panjang lebar mengenai BHP), tahukah teman apa yang dikatakan bapak itu “Wah, kalo gitu saya boleh ikut demo gak dek? Saya juga sedang membiayai anak saya di SMA dan SMK. Katanya ada apa tuh? Dana BOS ya? Tapi tetep aja saya harus daftar ulang dengan jumlah yang besar, sedangkan sehari-hari aja saya kesulitan, makannya dek, boleh gak saya ikutan demo?” . “Wah, kalo bapak ikutan demo, nanti siapa yang jualan pak? Kan Bapak juga harus mencari nafkah hari ini buat keluarga bapak?” (kira-kira begitu deh dialognya...).

Mendengar itu, aku jadi semakin yakin bahwa ini hal benar yang harus dilakukan kami mahasiswa. Bahwa ternyata masih ada harapan-harapan yang menggantung pada kami. Bahwa perjuangan kami di sini ternyata sangat didukung oleh rakyat yang telah terampas hak-haknya. Sebelum RUU BHP di sahkan saja, sudah banyak orangtua yang susah membiayai pendidikan anak-anaknya, dan sudah banyak pula kasus anak yang lebih memilih untuk mati gantung diri karena tidak mau membebani orangtua yang menanngung pengeluaran akibat biaya pendidikan mereka yang besar.

Harus berapa anak lagi yang meninggal hingga anggota2 DPR itu mau mendengar jerit hati rakyat???

Sebel banget pokoknya...kemarin tuh gak ada anggota dewan dari komisi 10 yang nemuin kami coz katanya sedang dalam masa reses. Yang lucunya, ketika perwakilan dari kami bergerilya untuk mencari anggota dewan, mereka bertemu dengan dua orang anggota dewan. Tahukah teman apa yang dikatan anggota dewan tersebut, “Mau negebahas soal apa, BPH ya?”...weitz...keseleo lidah ato emang gak tau tuh kalo ada yang namanya RUU BHP???. Ato jangan-jangan selama ini mereka gak tau lagi apa yang mereka bahas selama ini???


Entahlah, ku harap sih masih ada anggota2 dewan di sana yang benar2 menjadi anggota dewan yang mewakili rakyatnya. Bukan menjadi pengkhianat2 terhadap suara yang memilihnya.



Broken Heart Versi 2

 

*dilarang komentar sebelum membaca!!!

Sebenernya aku bukan orang yang punya pengalaman tentang ini. Tapi gak tau pengin aja nulis tentang ini setelah baca buku “La Tahzan For Broken Haerted MUSLIMAH” nya Asma Nadia, dkk. Buku yang penuh hikmah, dan kita para muslimah pasti akan banyak mendapatkan pelajaran berharga dari kisah-kisahnya (and mungkin ikhwan juga, biar gak jadi seperti kayak ikhwan2 yang ada dalam kisah ini).

Ya, semua orang pasti pernah patah hati, meskipun tingkatannya berbeda-beda. Akupun pernah ko patah hati, tapi Alhamdulillah masih dalam skala kecil hehehe. Jadi, ceritanya ketika sepupuku yang keren (baca: cerdas), alim, n gentle abis itu, memberi kabar bahwa ia akan menikah, langsung deh hatiku luluh lantah (eh, gak sampai ancur deng, cuma retak2 kecil keknya?!). Anehnya setelah aku tahu calonnya itu emang tepat buat dia (jago bahasa Arab n punya hafalan Qur’an yang menakjubkan) aku jadi ikutan seneng karena Lelaki yang baik, pasti akan mendapatkan perempuan yang baik pula (ya, ini jadi salah satu motivasi aku juga untuk selalu memperbaiki diri).

Balik lagi ke soal patah hati. Setelah baca buku tersebut, ko aku jadi sebel banget ya sama ikhwan2 yang dengan ringannya bisa melukai hati akhwat. Malah ada yang bener-bener nyepelein. Coba bayangin, dia bilang dia Cuma BERCANDA saat menjalani proses taaruf. And belakangan diketahui kalo pada saat yang sama dia juga sedang menjalani proses taaruf dengan akhwat lain (jadi dia berproses dengan dua akhwat sekaligus...!),nyebelin!!! Ngeselin!!![ baca aja deh cerita lengkapnya di buku tersebut].

Tapi aku sangat banyak belajar dari kisah saudariku-saudariku ini:

  1. Jangan pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi pada makhluk Allah

  2. Ikhwan juga manusia, jadi jangan terlalu terpesona dengan simbol2.

  3. Harus belajar menata hati agar tidak bermain2 dengan hati dan harus punya tekad yang kuat agar hanya mencintai suami kita kelak (bukan calon, dan lain2 sebagainya)

  4. Yakin, pasti Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk kita! (janji Allah kan pasti!, Tul2?)

Karena aku masih merasa kecil (atau memang kecil ya?!) untuk masalah seperti itu, (sekali lagi Alhamdulillah hanya dalam skala kecil patah hatinya, dan mudah2an jangan sampai pada skala besar) jadi aku dapat dengan lantang berkata bahwa selain memikirkan cinta terhadap lawan jenis, ternyata masih banyak cinta yang mungkin telah kita singkirkan dari hati kita. Cinta kepada Allah (dimana seharusnya ini harus selalu berada dalam posisi tertinggi), cinta kepada Ayah-Ibu kita (ingat teman, sudah berapa besar mereka memberikan cinta yang tulus buat kita?), cinta kepada saudara kita, cinta kepada bocah-bocah jalanan yang sangat haus cinta (dan pasti mereka akan sangat membuka lebar-lebar pintu hati mereka saat kita memberikan sedikit cinta untuk mereka,apalagi kalau banyak), cinta kepada teman-teman kita (Lihatlah teman, masih banyak teman-teman yang membutuhkan pertolongan kita untuk membantu meringankan beban masalah yang dihadapinya), cinta kepada rakyat (berapa banyak teman, rakyat yang masih terdzolimi di negeri ini, dan mereka sangat butuh ‘perhatian’ dan ‘pengorbanan’ dari kita untuk terus memperjuangkan hak-haknya yang telah di rampas, dan cinta kepada negeri yang terluka (karena negeri ini telah terlumuri oleh banyak kotoran, dan saatnya kita harus bangkit membersihkan negeri ini!!!).

So, teman jangan patah semangat karena patah hati, apalagi kalo kamu berpikir bahwa hidupmu sudah tidak berguna akibat patah hati. Semoga Allah selalu menjaga hati-hati kita dan semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik buat kita, baik untuk dunia dan baik untuk akhirat, yang mencintai keluarga kita, yang akan menerima kelebihan dan kekurangan kita, dan yang bisa membimbing kita agar selalu berada dalam ketaatan kepada Allah, saat kita menapaki hari-hari bersama mereka dalam bingkai kehidupan kelak.

Amiin...

Biarkan semua menjadi indah pada saat waktunya....


Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan. Kamu tidak perlu mengambilnya dari seseorang untuk memberikannya kepada orang lain karena kamu selalu memiliki lebih dari cukup untuk diberikan kepada orang lain” [diambil dari novel dalam mihrab cinta]

Broken heart versi 1

 

*dilarang komentar sebelum membaca!!!!


Hari ini aku kembali mengharapkan bertemu dengannya. Si ganteng itu emang selalu ngangenin. Meskipun kadang-kadang suka nyebelin, tapi tetep aja dia selalu punya magnet yang membuat aku selalu merindunya.

“Azfa...!”, panggilku setiba dirumahnya. Mendengar suaraku yang merdu ini (hehehe), ia langsung saja beranjak menemuiku. Tak peduli dengan tubuhnya yang gempal, ia langsung memelukku sampai aku hampir terjatuh dibuatnya.

“Tante..., katanya mau ajak nonton Ar-Ruhul Jadid?”

Duh, iya...kemarin aku kan pernah janji ya mau nonton konser nasyid bersamanya. Meskipun baru berumur 5 tahun, tapi keponakan kecilku ini sangat senang dengan nasyid2 haroqi, dan nasyid favoritnya yaitu...Ar-Ruhul Jadid. Pernah suatu hari, ketika sedang bertamu ke rumahku, kakakku yang biasa mengajaknya bermain PS sedang tidak di rumah, walhasil tuh “pipi bapau” agak BT dan kamarkulah yang menjadi sasaran empuknya. Karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kamarku, aku langsung saja segera menyetelkan kaset ‘semangat baru’, dan Alhamdulillah kamarkupun dapat terselamatkan (karena dia sibuk bernyanyi sambil berjingkrak2).

Iya, insya Allah...!” ucapku padanya.



Dari dulu aku emang suka dengan anak-anak. Bahkan teman-temanku pun sampai heran, ko bisa ya si iput tuh ramah and sabar banget sama anak kecil. Hehehe, aku sih asik2 aja. Toh emang tingkah mereka selalu lucu dan menggemaskan, tapi tak dapat dipungkiri juga kalo kadang2 nyebelin. Pernah suatu ketika saat aku pergi bersama dina, dan mamapir makan ketoprak di pinggir jalan, di sebelahku duduk seorang ibu muda dan anaknya yang berusia3 tahun. Entah mengapa naluri keibuanku (hahaha, gaya2!) lansung saja keluar. Aku langsung menyapanya (anak kecil tersebut) dan mengajaknya ngobrol. Ibunya pun akhirnya juga ikut mengobrol bersamaku. Melihat itu dina langsung berujar “Ko bisa sih lo langsung bisa deket kayak githu?” (hehehe, Alhamdulillah)



Tapi tak semua pengalamanku menyenangkan bersama anak-anak. Ketika membantu mengajar anak jalanan, kesabaranku menghadapi merekapun banyak diuji. Banyak dari mereka yang agresif, tapi aku tetap saja tidak bisa marah secara berlebihan. Abis setiap mau dimarahi mereka langsung saja menemplok kayak cicak. Walhasil emosi negatifku yang udah meletup2 langsung surut seketika. Yawda deh, akhirnya gak jadi marah.



Pengalamanku (yang sebenernya sih baru sedikit) membuat aku semakin percaya diri untuk menjadi guru pengganti di salah satu playgroup milik kakak iparku (ceritanya lagi libur kuliah). Guru aslinya lagi cuti menengok orangtuanya yang sakit. So, selama seminggu ini walhasil aku ditugasin deh sama kakakku untuk menggantikannya.



Biasanya aku gak pernah deg2an kalo harus mengajar anak2 kecil, tapi entah hari ini ko rasanya tremor (meminjam bahasa ka ira) banget ya? Sudah hampir pukul 7. Aku mencoba mendekati salah seorang anak yang sedang digendong oleh orangtuanya. Kakak iparkupun mengiringi aku untuk memperkenalkan diriku kepada ibu sang anak.

“Assalamu’alaikum bu Cintia, perkenalkan ini adik saya, insya Allah dia yang akan menjadi pengganti sementara bu Lina”.

“Assalamu’alaikum, Bu. Saya Putri Mahasiswa semester 3 fakultas psikologi”

“Wa’alaikumussalam, Cintia, mamanya Ariel”

“Oh, jadi si ganteng ini namanya Ariel ya?”, Aku mulai mengeluarkan jurus saktiku. Tapi asli nih anak emang ganteng banget. Muka2 indo githu deh, mungkin ayahnya orang luar kali ya???

Ayo Ariel salaman sama ibu guru baru. Ibu Putri ini yang akan gantiin bu Lina, sayang...”

“Yah, aku pokoknya maunya diajarin sama Bu Lina...”

Loh, emang kenapa...? Nanti ibu juga akan mengajari kalian bernyanyi, bermain, dan membacakan dongen juga buat Ariel...”argumenku menenangkannya.

“Gak mau, aku maunya sama Bu Lina...Aku gak mau sama ibu guru yang ini...!”

Duh nieh anak satu rese juga. Sabar, iput sabar...namanya juga anak-anak.

Iya, sementara ibu guru ini dulu ya yang ngajarin..., emang kenapa sih Ariel maunya Cuma sama bu Lina?”, Tanya kakakku penasaran.

Ariel Cuma mau diajarin sama ibu guru yang cantik...Kan Bu Lina Cantik..!”

DEG!! Rasanya hatiku begitu luluh lantah. Baru kali ini aku ditolak oleh seorang bocah. Terus alasannya ini loh yang lebih menyakitkan hati. Itu berarti ia menganggap diriku yang imut2 ini tidak cantik donks? Huaa....Nyebelin...!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kulihat ekspresi kakakku. Ih...malah cekikikan!!!Bukannya berusaha membesarkan hatiku, malah ikut2an mentertawai lagi...hiks2!

Broken Heart dah Gua!!!

Saturday, 9 August 2008

Raihlah Ilmu Sampai Duitmu Habis....*

*sebuah kalimat dalam selebaran seruan aksi dari BEM UI

Akankah kalimat tersebut menjadi kenyataan ketika RUU BHP disahkan????
Kemungkinan besar memang ya. Pasalnya ketika RUU BHP disahkan menjadi BHP, maka terbuka lebarlah pintu masuk KOMERSIALISASI & KAPITALISASI PENDIDIKAN.... Padahal dalam pasal 4 ayat 1 UU. no. 10 tahun 2003 (SisDikNas) disebutkan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Bagaimana hal ini (baca: berkeadilan) bisa diwujudkan jika pada akhirnya biaya pendidikan hanya bisa terjangkau oleh golongan ekonomi atas.

Bahkan UI saja yang menyandang status BHMN masih pontang-panting membiayai dirinya sendiri (bisa dilihat dari RKAT UI tahun 2006, agak lama tapi bisa jadi sedikit bukti). Lalu bagaimana nantinya jika lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai SMA tiba-tiba "bangkrut" dikarenakan kurangnya biaya operasional bagi kelangsungan hidup mereka.

Apakah pendidikan di Indonesia akan semakin terpuruk lagi???
Berapa banyak lagi anak-anak yang akan putus sekolah???




So, Saatnya Untuk Kita, Agar TIdak Hanya Berpangku Tangan!!!!!












































Wahai Wanita....Engkau Sungguh Berharga....






Ketika Tuhan menciptakan wanita, DIA lembur pada hari ke-enam.







Malaikat datang dan bertanya,”Mengapa begitu lama, Tuhan?”







Tuhan menjawab:“Sudahkan engkau lihat semua detail yang Saya buat untuk menciptakan mereka?"



***





“ 2 Tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan… , dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini ”

***





Malaikat itu takjub.







“Hanya dengan dua tangan?....impossible!“







Dan itu model standard?!







“Sudahlah TUHAN, cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya“.



***



“Oh.. Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit SAYA”.







“O yah… Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja 18 jam sehari”.







Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita-ciptaan TUHAN itu.





***



“Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN ?”





“Yah.. SAYA membuatnya lembut. Tapi ENGKAU belum bisa bayangkan kekuatan yang SAYA berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa.“



***





“Dia bisa berpikir?”, tanya malaikat.







Tuhan menjawab:







“Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi."



***



Malaikat itu menyentuh dagunya....





“TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya.”







“Itu bukan lelah atau rapuh....itu air mata”, koreksi TUHAN







“Untuk apa?”, tanya malaikat





TUHAN melanjutkan:







“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspressikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan.”







“Luar biasa, ENGKAU jenius TUHAN” kata malaikat.







“ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, wanita- ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!"





***



Ya mestii…!







Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki.







Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.







Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.







Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.









***



Dia berkorban demi orang yang dicintainya.







Mampu berdiri melawan ketidakadilan.







Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.







Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.







Cintanya tanpa syarat.



***



Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.







Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa .







Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.



***



Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian.







Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup.







Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.





***



Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:











Dia lupa betapa berharganya dia...





















Forwarkan mail ini kepada wanita di sekeliling kita. Ingatkan mereka, karena terkadang mereka perlu diingatkan..!!!
Interprated by :
Lins_View inspires Y’all from any sources
Deeply Humble
www.lintong.s5.com










































































Catatan Dari Terminal 1 (Bocah- Bocah Haus Cinta)


“Puti ayu berangkat…!”, teh Yunda kembali memanggilku.
“Wah, namaku kan emang Puti Ayu teh, hehehe!”
“Udah, cepetan yuk, udah jam 8 kurang 15 nih, nanti kita terlambat lagi”
“Eh, iya…iya teh, tapi aku ke kamar mandi dulu yap”
“Huu…dasar neh anak setiap mau pergi pasti harus mampir ke kamar mandi dulu…”
Hehehe, aku hanya tersenyum menanggapi omongan Teh Yunda. Tau neh selalu saja seperti itu.
Lima menit kemudian aku sudah benar-benar siap berangkat. Loh, ko sepi ?! Kemana neh Teh Yunda and Teh Anis. Sambil mengunci pintu kamar, aku kemudian memanggil mereka, “Teh Yunda….Teh Anis….!, udah berangkat ya?” Duh, kalo udah berangkat mana mungkin ya mereka bisa jawab, hihihi.
“Iya udah berangkat…”, teriak Teh Yunda dari ruang tamu.
“Hehehe, yuks berangkat…” Sambil terkekeh-kekeh aku membuka pintu kosan.
“Udah…udah ayo cepetan!”

***


Hari ini suasana terminal tak beda dari biasanya. Saat turun angkot D11, bau pesingpun langsung menyambut kami. Heran, kenapa ya rata-rata terminal pasti bau pesing?! Aku, Teh Yunda, dan Teh Anis kemudian berjalan diantara bus-bus dan angkot yang sedang ngetem. Tempat belajar ini memang berada tepat di belakang terminal depok. Yah, memang tak layak untuk bisa disebut sekolah. Tapi hanya inilah tempat yang bersedia memberikan ilmu bagi anak-anak jalanan yang tak dapat bersekolah. Bagaimana mungkin mereka bisa membayar biaya pendidikan yang kian lama semakin mahal, sedangkan untuk makan saja mereka begitu kekurangan.

***

Pukul 08.05 WIB kami tiba di kelas. Jangan pernah membayangkan ada meja, kursi, lemari, dan suasana belajar yang nyaman di sana. Karena apa yang kusebut kelas tadi adalah sebuah ruangan yang berisi meja seperti yang ada di TPA-TPA, dua buah papan tulis, dua buah lampu neon, serta rak-rakan tempat menaruh buku-buku yang telah usang. Ruangan ini dibagi menjadi dua kelas yang hanya dipisahkan oleh sedikit jarak. Walhasil ketika mengajar, antar kelaspun saling “mengganggu” satu sama lainnya.
Kelas ini pada pukul 08.00-10.00 dipakai oleh anak-anak kelas satu. Kelasnya dibagi berdasarkan yang sudah bisa membaca dan yang belum bisa membaca. Aku, Teh Yunda, dan Teh anis mengajar di kelas yang anak-anaknya belum bisa membaca, sedangkan Tami, dan dua orang rekannya mengajar di kelas yang sudah bisa membaca.

“Assalamu’alaikum”, ucap ku saat memasuki ruangan kelas.
“Wa’alaikumsalam”
Langsung saja uluran tangan-tangan kecil menyambut kedatangan kami.
“Udah selesai belum ngajinya?”, Tanya Teh Yunda pada mereka
“Udah Ka…”
“Yawdah, yuk kita masuk yuk…”

***

Dimulainya kelas diawali dengan membaca surat Al-Fatihah lalu dilanjutkan dengan doa mau belajar. Tapi sebelum memulainya, seperti biasa Teh Yunda menanyakan kepada mereka siapa yang bersedia menjadi pemimpin doa. Langsung saja teriakan-terikan yang ingin mengajukan diri memenuhi ruangan itu. Namun, lagi-lagi dua bocah perempuan, Aan dan Viska yang sudah maju duluan ke depan yang memimpin berdoa di pagi itu.
Setelah berdoa, Teh Yunda kemudian sibuk menulis kalimat ejaan di depan kelas. Aku dan Teh Anis memantau keadaan kelas. Menegur kalau-kalau ada yang masih memainkan keong di dalam kelas.
“Ayo, sekarang kita baca sama-sama ya…i-n.i ni, dibacanya…..”
Setelah belajar mengeja bersama kemudian mereka disuruh menyalinnya ke dalam buku mereka sehalaman penuh. Tapi ternyata rengekan ketidaksetujuan membuat suasana kelas kembali gaduh.
“Ya kaka…setengah aja ya ka, aku kan nanti capek…” Egi merajuk manja padaku.
“Ya, nanti kalo tulisannya gak penuh ya gak dapet bintang…” Aku berusaha memotivasinya.
Teh Yunda memang menerapkan sistem reinforcement berupa bintang jika adik-adik itu menulisnya rajin, tidak berantem, tidak menangis, tidak memukuk-mukul meja, dan bisa lancar saat sesi membaca. Sebenernya Teh Yunda juga gak ingin menjadi seorang behavioris karena ingin memperlakukan mereka secara humanis (ralat ya Teh kalo salah), tapi sepertinya adik-adik ini harus dipacu dengan cara seperti ini deh.

***

“Kaka…Dimas nih ka…!”, teriak salah seorang adik
Duh, lagi-lagi anak ini mengganggu temannya. Bocah yang satu ini memang sering sekali menjadi tersangka utama ketika ada yang menangis. Terdakwa utama saat kegaduhan melanda kelas, dan provokator utama untuk mempengaruhi teman-temannya untuk tidak menuruti perintah kami. Mungkin bocah ini termasuk ke dalam kategori anak agresif. Karena dalam buku Psikologi perkembangan anaknya Reni Akbari-Hawadi yang kubaca, tipe anak agresif diantaranya: cenderung menampilkan sikap yang menyerang, mengejek-ngejek, senag bermusuhan, serta tidak mempedulikan harapan dan hak orang lain.

***

“Apa lo…!”, kulihat dimas sedang memulai pertengkaran dengan Gilang. Karena sedang mengajari Andi membaca, aku hanya mengamati mereka dari kejauhan. Akan tetapi yang terjadi kemudian adalah adegan tendang-tendangan mulai mewarnai perkelahian mereka. Dimas yang memiliki badan yang lebih besar mendaratkan tendangannya ke paha Gilang yang jauh lebih kecil darinya. Walhasil Gilang langsung menangis meratapi pahanya yang sakit.
“Dimas…!!” teriakku.
“’Abis dia duluan tuh ka yang nendang saya…”, ujarnya membela diri.
“Udah-udah, mana tulisan kamu? Belum selesai kan? Cepet selesaiin sekarang!”, ujarku sedikit emosi.Aku lalu menghampiri Gilang yang sedang menangis. “Udah ya, Lang, sekarang mendingan duduknya pindah di sana yuk, biar gak diganggu sama Dimas”. Kubujuk gilang agar duduk menjauh dari Dimas. Namun ni bocah satu malah enggan beranjak dari tempat duduknya. Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya aku memutuskan untuk menunggui Dimas sampai selesai menulis. Baru saja aku ingin menghampirinya, namun kudengar pertengkaran lagi, kali ini Udin lawan Dimas+Agung+Wawan.
“Hei…hei…hei…kenapa lagi ini?” Aku geleng-geleng kepala.
“Itu tuh ka, Dimas nyoret-nyoret buku saya…”, Udin mengadu padaku.
“Dia duluan tuh ka..” seperti biasa, Dimas membela diri.
“Iya tuh ka, udin juga ngatain orang tua saya, pengemis-pengemis, daripada elo din, mungutin gelas!” Agung menimpali omongan dimas.
“Yee, emang bener ibu lo pengemis…”
“Udah-udah, gak boleh saling ngata-ngatain. Sekarang mana tulisan kalian? Dimas tadi kakak suruh apa? Udin juga mana tulisannya? Wawan, Agung?”
“Aku baru segini ka…” Dimas kemudian menunjukkan setengah halaman yang berisis tulisannya padaku. Karena mereka tetep keukeuh tidak mau dipindahkan duduknya, kuputuskan untuk duduk diantara Udin dan Dimas. Agung dan Wawan berada di sebelah Dimas.

Melihat aku duduk disebelahnya, tanpa dikomando, Udin dan dimas langsung meneruskan pekerjaan mereka, namun tidak dengan Wawan dan Agung. Mereka bersikeras untuk hanya menulis setengah halaman. Aku sudah kehabisan akal membujuk mereka.
Aku memperhatikan ketika Dimas menulis. Meyadari dirinya diperhatikan, tiba-tiba saja sikapnya berubah menjadi lebih manis, “Kaka, abis ini huruf A ya?”
“Iya sayang….”, ucapku penuk kemesraan.
Udinpun seperti tak mau kalah, “Ka, nulisnya sampai bawah ya?”
“Iya-iya, sampai bawah”
Aku terus saja mendampingi mereka sampai selesai mengerjakan pekerjaannya.
Kayaknya mereka emang haus perhatian deh. Terbukti saat duduk di antara mereka berdua, yang ada hanya sikap manis dan rajukan-rajukan manja. Sesekali memang kuacak-acak rambut mereka dan kucubit pipi mereka saat salah menulis huruf. Entahlah, aku jadi semakin bertekad menaklukkan keagresifan anak-anak ini. Jadi termotivasi untuk mengambil peminatan psikologi perkembangan dan pendidikan deh. Hihihi

[bersambung]












































































Friday, 8 August 2008

aNtaRa TeGal dan PurwekerTo

Ini nih oleh2 cerita + foto2 waktu aku pulang ke kampung halaman kemarin.







Di tunggu yah cerita selengkapnya [jadi ceritanya ini iklan dulu, hehehe]

futSaL oh FuTsal...

Hiks2, pengin deh bisa maen futsal, bisa nendang bola pake tekhnik, n macem2 lainnya.

Tapi kayaknya taun ini aku gak bisa gabung di FC 08 deh?! dan taun2 berikutnya keknya juga gak bisa (soalnya nanti dah ketuaan).

Yah, gak papa deh seenggaknya aku masih bisa bantuin jadi panitia di kompetisi nanti, hihihi^_^

Thursday, 7 August 2008

lagi-lagi diomelin...

hehehe,dasar emang aku anak bandel kali ya, jadinya kena omel mulu dah sama kakakku...

Barusan buka fs, eh ada comment omelan dari kakakku
Mas marah gara-gara aku lagi-lagi masang foto di fs, hihihi..maklum abis penyakit narsisnya belum sembuh neh...

yawda dewh walhasil kena omel lagi...
ini baru lewat comment, gak tau deh nanti kalo di rumah..takut...

kemesraan ini...

Kembali aku bertemu dengannya
Rajukan manja
Tangisan
Celotehan-celotehan nakal
Kegaduhan yang kalian buat ketika berlarian saat belajar
Dan semua tingkah pola yang kalian lakukan di saat itu

Meskipun kadang membuatku kesal dengan kemalasan kalian untuk menulis, keengganan menuruti kata-kataku, dan kegaduhan yang kalian buat hingga suaraku serak dibuatnya
Namun aku bersyukur Allah telah mengizinkan aku bertemu dengan kalian

Dari kalian aku banyak belajar tentang kehidupan
Bersyukur atas semua karunia yang telah Allah berikan kepadaku
Dan belajar untuk berbagi karunia itu dengan kalian

Semoga Allah selalu mengistiqomahkan aku,agar selalu tetap berada di samping kalian...

*Teruntukadik2kuditerminal
**Rabb,istiqomahkan aku untuk selalu berada di samping mereka (amiin...)