Thursday, 28 May 2009

Cukuplah pahami bagaimana cara saudaramu mencintaimu…

Cinta....
kata yang indah dan pasti disukai oleh kebanyakan manusia...

Dan kupikir tiap manusia mempunyai caranya sendiri untuk mengekspresikan cintanya...

maka disetiap larangan itu pasti ada cinta...
seperti masku yang melarangku memajang foto pada profile picture di tiap jejaring sosial yang aku miliki...Ya, itu dia lakukan karena ia mencintai adiknya yang bandel ini. 

maka disetiap perhatian itu ada cinta...
seperti perhatian ka dewi yang sering membuatkan nasi goreng di pagi hari sehabis ku berjibaku dengan segunung cucian
atau seperti perhatian kakak-kakak yang menyuruhku untuk tidak pulang malam karena khawatir dengan kemampuan menyebrangku yang berada pada level rendah...

maka di setiap teguran itu da cinta...
seperti teguran-teguran yang sering dilontarkan ka niso saat aku berperilaku terlalu lebay...

maka di setiap nasehat itu ada cinta...
seperti nasehat yang sering diberikan oleh ka tery...dengan kata-kata bijaknya, dengan segala kelembutannya. tak menyalahkanku...tapi menyadarkanku...

maka di setiap panggilan aneh itu ada cinta…
seperti teman-teman peerku yang memanggilku putimen…
atau seperti dea yang memanggilku cibuy…
atau seperti ke de2w yang memanggilku tembem
atau seperti iza yang memanggilku anak ayam
atau seperti kakak-kakakku yang lain yang memanggilku anak kecil…

maka di setiap “kekerasan” itu ada cinta…
seperti cubitan-cubitan yang selalu mampir pada pipi tembamku..
atau seperti “tabokan”ka kirun yang kadang menyakitkan, hehehe

maka di setiap tatapan mata itu ada cinta…
seperti tatapn sinis ka ira…hehehe, kalo ngeliat aku mulai melewati batas…

maka di setiap diam itu kuyakin ada cinta…
Ya…seperti seorang tetehku di kala itu…
Yang mendiamkan ku…ketika menurutnya aku telah berbuat kesalahan…
Ya, karena ia ingin aku mernyadari kesalahan itu…
Karena ia ingin aku merenungi kesalahan itu…


Maka…
Cukuplah pahami bagaimana saudaramu mencintaimu…
Hingga tak perlu ada lagi duri-duri yang menancap dalam bunga ukhuwah ini….




Tuesday, 26 May 2009

bingung....kecewa...ah, entahlah...

Arghh.....

Entahlah...

Minggu ini bener-bener ujian bagi hati.....

sangat merasa kecewa....

sakit....

tapi bingung karena ini hanya sekedar rasa empati...

Ahhh....entahlah...

gak jelas...

Ka Tery......TOLONG AKU.....!!!!!

Friday, 15 May 2009

Kasih Ibu Secantik Mutiara

“Emang ibu gak percaya kan sama aku…emang ibu pilih kasih kan sama aku!”“Brakkk…!!!, Ara membanting pintu kamarnya . untuk yang kedua kalinya dalam minggu ini ia bertengkar dengan ibunya. ‘emang ibu pilih kasih, sayangnya sama mas doank…apa-apa aku gak boleh, ah apa mungkin ya aku anak pungut? Jadinya ibu lebih sayang sama Mas Bagas’. Ara kembali bermain dengan pikirannya… Di dalam kamar ia merenungi nasibnya, menangis, sampai ia lelah, dan kemudian lelap tertidur.


“Huuu...hu…”, bayi dalam gendongannya kembali menangis. Ah, sedari pagi ia memang terus menangis. Sang Ibupun sepertinya kebingungan dan terlihat begitu khawatir. Ia tak tahu apa yang dirasakan anaknya. ‘Allah, jika Engkau berkenan memindahkan rasa sakitnya, maka biarkan aku yang merasakannya, jangan anakku, Allah’, sang ibu membatin dalam hati.

Sangat terlihat jelas dalam raut mukanya. Guratannya menggambarkan kelelahan yang luar biasa. Bayi dalam gendongannya memang sedang sakit. Sudah tiga hari ini sang Ibu terus menerus menggendong bayinya, tanpa lelah, dan tanpa sedikitpun mengeluh.

Matahari telah sepenggalan naik. Ara terbangun, namun ia terkejut karena berada di tempat yang tak ia kenal. Ini bukan kamarku, pikirnya dalam hati. Ara kemudian melangkah menuju pintu kamar yang sedikit terbuka. Kemudian ia mendengar suAra yang memekakkan telinga.

Ahh, suAra bayi yang menangis, sangat menyebalkan, pikirnya dalam hati.

Ara kemudian keluar dari kamar itu, berusaha mencari asal suAra yang menjengkelkan. Tapi kemudian ia terkejut saat melewati sebuah bupet. Ia kemudian mengamati sebuah bingkai foto. Ahh, itu kan aku waktu kecil, kenapa bisa ada di sini ya? Dimana sih sebenernya aku sekArang?, Tanya Ara dalam hati.

Ara kembali menyusuri rumah itu. Masih mencari asal suAra tangisan bayi. Ara kemudian berhasil menemukannya. Ia kemudian menemukan seorang wanita muda yang tengah berusaha mendiamkan anak dalam gendongannya. Ahh, itu kan ibu, tapi kok lebih muda dan terlihat lebih gemuk ya? Aduh, sebenernya dimana aku ini?? 

Ara makin bingung, ia tidak semakin tidak mengerti ada dimana ia sekArang? Ia kemudian mencoba memberanikan diri menegur wanita yang mirip dengan ibunya.

“Ibu…ibu…ini ibu kan? Ibu lagi gendong siapa?”

 “Ara sayang, ibu tahu kamu kesakitan, sudah ya sayang, jangan khawatir, ibu ada di sini ko, gak akan kemana-mana…”, sang ibu kembali menenangkan bayinya. 

“Ibu…ibu…”, Ara kembali memanggil ibunya, namun kelihatannya Ibunya tidak mengindahkan panggilannya. “Bayi siapa itu, Bu?”

 “Cup…cup sayang, tenang ya…”, sang ibu terus mencoba menenangkan bayinya. Ia tak mempedulikan pertanyaan Ara.

“Ara sayang, yang kuat ya… Ibu yakin kamu sebentar lagi sembuh ko… kamu kan Mutiara Azizah, makannya kamu harus kuat”

Ara kaget, ia makin tak mengerti. Benarkah bayi yang berada dalam gendongan ibu adalah dirinya? Lalu dimanakah ia sekarang berada?



Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Sang ibupun kemudian memutuskan masuk ke dalam sebuah kamar, masih tetap dengan bayi dalam gendongannya.

Ara kemudian mengikutinya. Ahh, meskipun ia tidak mengerti sedang berada di manakah ia? Dan sedang berada di alam apakah ia? 

Sang ibu kemudian mencoba membangunkan seorang lelaki yang tampaknya tertidur pulas. Tapi sebelum tangannya menjangkau tubuh lelaki itu, ia terlihat ragu, namun kemudian dengan suara penuh kelembutan ia membangunkan suaminya, “Mas, aku mau tidur sebentar, kamu bisa gak bantuin ngegantiin aku gendong Ara?”

Lelaki itupun kemudian bangkit dari peraduannya. Tapi ia hanya terduduk di tempat tidur, tak beranjak. “emang Aranya rewel?”

“dia udah tidur, aku khawatir kalo ditaruh ia akan bangun dan nangis lagi, kasihan ia, seharian ini nangis melulu, sepertinya ia Nampak kesakitan sekali”

“Udah kamu minumin obat belum?”

“Sudah, mas… makannya sekarang ia tertidur”

“Yaudah kalo gitu kamu taruh aja, lagian ia udah tidur ini kan? Udah ya aku ngantuk nih, capek, besok takut kesiangan, kan mesti berangkat pagi-pagi”, dan dengan tenangnya laki-laki itu kemudian menarik selimutnya. Kembali tidur meninggalkan istrinya yang sudah sangat kelelahan.

Sang Ibu hanya menarik nafas… terlihat jelas pada raut mukanya ia nampak kecewa, namun ia tak mau menzalimi suaminya yang mengeluh kelelahan. Maka malam ini sekali lagi ia mengalah untuk tidak tidur demi kenyamanan buah hatinya.

Ara terlihat geram melihat adegan tersebut. Rasanya ia ingin berteriak, memaki sang lelaki yang adalh ayahnya sendiri. Ah, bahkan kau tak mengetahui istrimu jauh lebih lelah dengan semua aktivitas yang ia jalani. Ia mengurusi segala keperluan anak-anakmu. Menyuapinya, memandikannya, bahkan masih tetap menggendong anak lainnya yang sedang sakit. Ahh, tahukah kau bahwa ia masih sempat juga memikirkan akan makan apa kamu malam ini.

Padahal jelas terlihat gurat kelelahan pada wajahnya. Padahal jelas terlihat pada kantung matanya yang membesar akibat tak cukup tidur.

Sang Ibu kemudian mencoba untuk duduk. Melepaskan kelelahannya sejenak. Namun, bayi dalam gendongannya kemudian menangis, seakan tak rela ibunya tertidur sejenak untuk berhenti menjaganya. Maka, Ibupun kembali berdiri. Mengayun-ngayun mencoba mendiamkan bayinya agar kembali tertidur.

Melihat pemandangan itu, tak terasa air mata Ara keluar. Oh, Ibu… begitu besarnya rasa sayangmu sampai kau rela terjaga demi melihat pulasnya anakmu tertidur. Air mata Ara kemudian mengalir deras, bahkan isakannya semakin keras, memecah keheningan malam hari itu.

“Ara…Ara bangun, Nak! Kenapa nangis sampai sesenggukan gitu…?”, Ibu terlihat khawatir, ia menggoncang-goncangkan tubuh Ara agar segera terbangun.

Ara perlahan-lahan mencoba membuka matanya. Betapa bahagianya ia melihat wajah ibu di depannya. Dengan serta merta Ara kemudian memeluk ibunya , “Huu..hu, Ibu maafin Ara ya? Maafin kalo tadi Ara udah ngebentak ibu… Ara nyesel Bu. Ara tahu ibu sayang sama Ara, Ibu takut kan penyakit paru-paru Ara kambuh, makannya Ara gak dibolehin naik gunung. Maafin Ara ya Bu?”

Ibupun kemudian tersenyum mendengar penuturan Ara. Ia merengkuh tubuh anaknya yang sedang terisak dalam tangisnya. Menghapus air matanya, kemudian memeluknya.

“Ara sayang, dari kemarin ibu udah maafin kamu ko! Insya Allah ibu gak pernah dendam. Ibu juga minta maaf karena terlalu mengekang kebebasanmu. Ibu sadar ketakutan Ibu terlalu berlebihan. Ibu Cuma takut kehilangan kamu lagi”

Ara memang sempat disangka meninggal waktu kecil akibat penyakit yang dideritanya. Akan tetapi sungguh suatu berkah, ia kembali bernafas dan menggerakkan jari-jari mungilnya. Dan setelah keberkahan itu, penyakitnya pun kemudian berangsur-angsur sembuh.

Ara sekarang tak lagi peduli apakah ia diizinkan mendaki gunung atau tidak. Baginya membuat ibunya tidak lagi khawatir jauh lebih penting dibandingkan dengan pengalaman memetik edelwise di puncak gunung yang sudah lama diimpikannya. Sekarang hanya satu tekadnya, berusaha menyenangkan hati ibunya dengan tidak membuatnya khawatir. Karena ia tahu kasih ibu tak pernah dusta, karena ia tahu kasih ibu secantik namanya, Mutiara Azizah. 



*kupersembahkan untuk ibuku tercinta
Juga untuk semua ibu yang penuh cinta 
Untuk para calon ibu yang sedang memupuk cinta
Dan juga untuk para calon pendamping ibu yang akan membuktikan cinta

_Puti Ayu Setiani_

Saturday, 9 May 2009

Tak Harus Selalu Menyembunyikan Luka

 

Pernahkah kalian memendam amarah?  Kemarin hal tersebut sempat aku lakukan tapi ternyata… aku tak kuat memendam begitu banyak hal yang menyesakkan di dada. Maka tumpahlah tangisanku ke pundak seorang kakak, kakak yang aku anggap cukup bijak mendengarkan segala keluh-kesah.

Minggu kemarin sepertinya semua masalah tumplek blek jadi satu, mulai dari masalah akademis (laporan-laporan yang deadlinenya hampir bersamaan), organisasi (MPM dan juklak-juknis PMB) tak luput juga masalah yang ada dalam ladang amal (PKM ku maksudnya). Ahh, berniat ingin memendam semua rasa kecewa dan amarah, karena aku hanya ingin memperlihatkan keceriaan kepada saudaraku. Tapi ternyata aku kalah juga. Maka tumpahlah isakan tangisku di Gd.H lantai 3. maka keluarlah segala ungkapan rasa kecewa. Di pundak seorang kakak, ya kakak yang tentunya halal bagiku.

Sempat terpikir untuk mencurahkan segala keluh kesah ini kepada ‘kakak’ lainnya. Ahh, tapi hati kecilku berontak. Tak pantas memang kalo aku mencurahkan kepada yang bukan tempatnya. Ya, bahkan aku tersadar, apalah artinya sebuah kelegaan jika ternyata membuat Allah murka. Maka aku memutuskan menumpahkannya pada pundak seseorang yang memang seharusnya. Dan setelah melepas segala gundah, hatiku pun tentram. Entah karena kelegaan mengalirkan segala duka atau karena nasihatnya yang telah membuat ku tentram.

Tak boleh lagi memakai persona, maka ungkapkan, jadilah seorang genuine karena kamu hanyalah manusia. Jangan salahkan saudaramu jika mereka tak tahu tentang lukamu akibat perbuatan mereka, maka kau tak bisa menuntut, karena kau tak mengungkapkannya, begitu katanya. Ya, nasihatnya membuat aku sadar. Bahwa tidak seluruh masalah harus dipecahkan dalam diam. Ada saatnya untuk bicara. Maka aku akan diam untuk menetralkan, bukan untuk menghindar. Maka akan  aku ungkapkan setelah aku diam. Ya diam memang emas, tapi tak berguna jika membuat lukamu semakin berkarat. Be genuine, mencoba memakai  I Massage. Yap aku akan mencoba untuk mengkomunikasikan semuanya, semua masalah yang ada dalam sebuah ikatan kebersamaan. Yup, muslim sejati tak selalu harus menyembunyikan luka, karena ia hanya manusia.

 

Special thx buat ke Dewi ‘nenek’ yangkeren yang udah mau meminjamkan pundaknya untukku

Lov u coz Allah…