Saturday, 20 March 2010

Lengkung Pelangi sebuah Negeri (1)

“Umm, kapan semua ini akan berakhir?”, pertanyaan ini kembali terlontar dari mulut kecil Shafiyah, “Karena aku ingin, Umm, menikmati indahnya pelangi….”

Dan aku kembali mendesah untuk yang kesekian kalinya….


***

“Umm, adakah sesuatu yang indah yang menghiasi langit selain awan, bulan dan matahari?”, celoteh Shafiyah di suatu ketika.

Aku menghela. Masihkah ada yang tersisa dari keindahan langit di gaza?

“Adakah, Umm?”, lagi, pertanyaannya mengulang.

“Pelangi, Nak….”, ucapku kemudian

“Pelangi, Umm? Apa itu Umm?”, tanyanya penuh keingintahuan.

“Pelangi itu akan hadir ketika hujan turun memberkahi bumi disertai dengan sinar mentari yang menemaninya….”, jelasku

“Indahkah Umm?”, keingintahuan menderanya

“Indah, sangat indah, Nak…”

Matanya kemudian mengerjap, “Umm, dapatkah aku melihatnya?”


***

 “Zing………Buum….bumm…bummmm…..” 

“Nguing….nguing….nguing….”

“duar…………..duar…duar…”

“Allahhu akbar…Allahu akbar….”

Lagi, serangan kembali dihujamkan kepada kami. Allah, tak pernahkah mereka berpuas dengan lahan yang telah mereka ambil. Allah, tak bisakah mereka berpuas dengan genangan darah yang sengaja mereka tumpahkan di tanah ini. Allah, sungguh berikanlah kami kesabaran dengan segala perbuatan dan tipu daya mereka.

“Umm, aku takut…”, Shafiyah memelukku dengan erat. Mencengkeram abayaku yang sudah kumal. 

Kueratkan dekapanku, mencoba membuatnya tenang, padahal sungguh akupun sama dengannya, dilanda ketakutan yang menyayat jiwa.

“Berdzikirlah Nak, mohonlah kemenangan pada Rabbmu, sungguh sekali-kalipun Ia tak akan pernah menyia-nyiakan kita”

Ia memandangku. Bola matanya menyiratkan bahwa ia teramat ketakutan.

“Zing………Buum….bumm…bummmm…..”, dentuman bom kembali mengguncang di malam yang kelam ini.

“Umm, sungguh aku takut…” Sedetik kemudian air matanya menetes, dan lama kelamaan semakin menderas.

Kukuatkan pelukanku….sambil kuberucap “Hasbiallahwanikmal wakil, niklmal maula wa nikmannatsir… Cukuplah Allah menjadi pelindung dan ia adalah sebaik-baik penolong”


***

“Umm, coba ceritakan lagi tentang pelangi…”, Lagi, sebuah pertanyaan tentang pelangi terlontar dari mulut kecilnya.

“Pelangi itu indah, Nak. Keberadaannya membuat langit semakin mempesona”, ujarku.

Kulihat binar di mata Shafiyah, nampaknya ia sangat antusias mendengar ceritaku, “Seperti apa memang bentuknya, Umm?”

“Sebuah lengkung besar dengan tujuh campuran warna yang menghiasnya. Ada Merah, Jingga, Kuning, Biru, Nila, dan Ungu. Pelangi seperti sebuah jembatan yang membentang, menyatukan sisi bumi yang satu dengan yang lain. Ia ibarat jembatan yang berhasil menyatukan sinar matahari dan titik hujan, berpadu dan menjelma menjadi sebuah lengkung yang sangat mempesona. ”, jelasku panjang.



***

Pagi. Tak secerah seperti kebanyakan pagi di bumi lain. Terlebih setelah serangan kemarin malam.

Jika kebanyakan bumi menyambut pagi dengan hangatnya mentari, harumnya pepohonan, dan sejuknya embun, di sini, kami menyambut pagi dengan bau anyir darah manusia, debu reruntuhan bangunan, dan tentunya gelimpangan tubuh yang telah kembali pada Rabbnya.

“Umm…”, Shafiyah merajuk, bukan rajukan manja tentunya, tetapi sebuah rajukan kegelisahan. Kegelisahan karena melihat teman-teman sebayanya telah menjadi seonggok daging yang sudah tak bernyawa.

“Sabar, Nak. Ini hanya sebuah episode kehidupan yang mesti kita jalani. Bahkan, kita pun akan mengalami hal yang sama dengan mereka. Kematian itu suatu hal yang pasti, Nak.Sungguh., tinggal bagaimana keridhoan Allah yang membedakan kematian itu sendiri”

Shafiyah mengernyit. Kuusap kepalanya, sambil kemudian membetulkan kerudung yang dipakainya. Ahh, Shafiyahku… bocah berusia tujuh tahun, tentu ia masih belum sepenuhnya paham dengan ucapanku.

“Nak, ada sebuah kehidupan abadi yang menanti kita. Jika Allah ridho dengan kehidupan kita di dunia ini, kelak… Allah akan memberikan penghidupan yang lebih baik di akhirat sana….”

Shafiyah menggaruk kepalanya, “Mmmm, sungguh Um?”, Ujarnya sangsi.

Aku menarik nafas…. Kemudian kuanggukkan kepalaku. “Ingatlah Nak, dahulu Rasulullah pernah bersabda bahwa bumi ini, tanah yang kita injak ini adalah tanah yang diberkahi”

Shafiyah memiringkan kepalanya ke kanan, tanda ia masih belum mengerti, “Memang kalo diberkahi apa artinya, Umm?”

Aku tersenyum melihatnya, kemudian mencoba memberinya penjelasan,“Semua yang engkau jalani Nak, baik itu sebuah cobaan ataupun sebuah kenikmatan jika hal tersebut berkah dari Allah maka hal tersebut senantiasa akan membuatmu selalu dekat denganNya….”

“Termasuk juga meraih Surga, Umm?”, kembali ia bertanya.

“Iya, bahkan surga sekalipun.”, ucapku penuh keyakinan.

Kulihat binar di mata Shafiyah. Oh, Nak tentu insya Allah kehidupan kita, di sini, akan selalu diberkahi olehNya.

“Akankah aku dapat menikmati indahnya pelangi, Umm di surga sana?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, “Iya Nak, bahkan pelangi yang lebih indah dari pelangi yang ada di bumi, Insya Allah”.

Sedetik kemudian Shafiyah tersenyum dengan senyum termanisnya. Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju rumah sakit Sifa. Ahh, semoga kami bisa menemukan setetes air di sana untuk menghilangkan dahaga dan luka ini

***

“Umm, coba ceritakan padaku tentang indahnya pelangi…?”, Shafiyah melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku, lagi, seputar pelangi.

“Pelangi itu indah….Ia melukis langit dengan harmonisasi dari berbagai warna….Jika kau memandangnya, maka kau akan merasakan kedamaian. Damai karena pelangi memadu warna dalam simfoni yang indah. Damai karena kau seperti melihat perbedaan yang berpadu dalam irama.”, Jelasku padanya. 

“Pernahkah kau melihatnya, Umm di langit gaza ini…?”, tanya mulut kecilnya lagi

Aku menerawang mencari jawaban. Bahkan, Nak, akupun merindukan melihat pelangi dalam keindahan yang sebenarnya. Tanpa harus takut dengan deru dari burung nasir raksasa milik zionis itu. Tanpa harus terhalang oleh gumpalan debu yang disebabkan olehnya. Tanpa takut dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Dan tanpa teror yang mengada laksana buruan yang terus dimangsa.

“Umm…?”, Shafiyah memecah lamunanku.

“Dulu Nak, dahulu sekali. Itupun aku belum bisa menikmati keindahannya sepenuhnya….”

***

Rumah sakit, tak ubahnya seperti sebuah hidangan pesta pora bagi burung-burung Nasar. Luka yang menganga di dada dan kepala akibat peluru yang menghujam atau serpihan bom yang mendera. Aku dan Shafiyah berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah penuh dengan gelimang tubuh anak palestina. Tangisan, rintihan, dan ratapan tak ubahnya terdengar seperti sebuah melodi yang menyayat hati. 

“Umm, aku takut….”, Shafiyah mengenggam erat tanganku.

“Tenang sayang, semua akan baik-baik saja….”, aku mengusap kepalanya.

Kami kembali menyusuri lorong, menuju halaman belakang rumah sakit Sifa. Di belakang sana, para pejuang tengah membagi-bagikan air dan sepotong roti. Aku mengantri bersama ratusan manusia yang masih tersisa. Kugenggam erat-erat tangan Shafiyah, agar ia tak terlepas dari jangkauan. Oh Allah, sungguh aku tak pernah tahu apa jadinya jika tak ada para pejuang ini. Mereka yang rela menyelundupkan bahan makanan agar kami, warga Gaza tak kelaparan. Mereka yang mengikhlaskan nyawanya, menerobos blockade yang bahkan dilakukan oleh saudara kami sendiri, pemerintah negara mesir. Allah sabarkan dan berikan mereka kekuatan, karena mereka perantara hidup kami. Berikan mereka kesabaran Allah, dengan tuduhan teroris yang dialamatkan pada mereka. Tinggikan Allah, tinggikan kedudukan mereka di JannahMu kelak.

Satu persatu orang kemudian maju mengambil bagian makanannya. Panjangnya antrian dan tak seimbangnya bahan makanan yang ada membuat kami harus puas dengan sepotong roti dan sebotol air mineral ukuran enam ratus ml. Tak ada yang berebut memang karena tiap orang menginsyafi bahwa dirinya harus berbagi dengan ratusan jiwa lainnya. Aku mendapatkan bagianku dan Shafiyah, dua potong roti dan dua botol air mineral.

“Umm, sampai kapan kita akan seperti ini?”, pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut mungil anakku, Shafiyah.

Aku terdiam. Entahlah, Nak. Pertanyaan itupun dahulu selalu aku lontarkan kepada Nenekmu. Pertanyaan yang sama yang kulontarkan saat aku harus melihat kakekmu terbujur kaku di tepian gedung yang telah luluh lantah. Pertanyaan yang sama ketika aku harus kehilangan saudaraku, Fatih dan kawan sebayanya di umur 12 tahun, saat mereka terkena muntahan peluru sebagai balasan dari lemparan batu yang mereka lontarkan kepada tentara zionis itu. Pertanyaan yang sama yang aku lontarkan juga saat aku harus kehilangan ayahmu, Nak. Melihatnya tertembak di depan mataku sendiri ketika gerombolan tentara itu datang ke rumah, menyeretnya dan memperlakukannya seperti binatang. Pertanyaan yang sama yang aku lontarkan ketika kepayahan saat melahirkamu di tengan deru burung-burung nasar besi yang siap meluluhlantahkan bumi ini.

“Umm….tak adakah yang akan membantu kita keluar dari penjajahan ini, Umm?”, mata Shafiyah mengerjap, penuh pengharapan.

Aku menarik nafas lagi. Ahh, meskipun aku tak tahu pasti, Nak tapi aku yakin saudara-sauadara muslim di belahan bumi sana masih ada yang tetap mendoakan kita. Meskipun aku melihat kenyataan bahwa pemerintah mesir menancapkan tembok besinya untuk mengurung kita, tapi aku yakin, Nak. Saudara-saudara kita di mesir sana justru tersayat hatinya dengan kebijakan yang diambil oleh pemimpinnya sendiri. Karena yang kutahu, dan dahulu sejarah telah berbicara, para ikhwan dari mesir itu pernah turut membela kehormatan kita, bangsa Palestina.

“Insya Allah, Nak. Tak akan pernah putus doa yang dilantunkan oleh saudara-saudara kita di sana. Percayalah, Nak!”, yakinku padanya.


***

Umm, salahkah bila aku merindukan menikmati indahnya pelangi di langit negeriku sendiri? Umm, engkau selalu bercerita, bahwa pelangi itu indah. Perpaduan semburat sinar mentari yang membias dengan tetesan air hujan, yang kemudian menghasilkan suatu keindahan simfoni warna sebagi hasilnya. Umm, engkau selalu bercerita, terdapat tujuh warna yang menyusun spektrum besar lengkung tersebut, ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

Ahh, sungguh aku ingin sekali melihatnya, Umm. Indah pasti melihat warna-warna itu bertengger di atas langit gaza ini. Entahlah aku tak tahu apakah aku bisa melihat pelangi itu. Sampai-sampai aku pernah mengira bahwa engkau berbohong, Umm. Selalu saja, dengan segenap keyakinanmu engkau bilang bersama, suatu saat pasti kita akan bisa menikmati indahnya pelangi di langit Gaza. Tanpa khawatir dengan deru burung nasir raksasa yang memburu, dan tentu saja tanpa halangan dari gumpalan debu yang ditimbulkan oleh burung raksasa tersebut di langit ini.

Umm, meskipun keindahan pelangi tak dapat kunikmati sejak lahir, sama halnya seperti aku juga tidak dapat menikmati indahnya memandang paras seorang lelaki yang disebut ayah, tapi sungguh, Umm, sungguh aku yakin akan kata-katamu. Bahwa hari itu akan tiba. Bahwa suatu saat, kita akan bisa menikmati kemilau perpaduan warna itu. Dan aku yakin Umm, perjuangan panjang ini akan menghasilkan, seperti hujan yang harus turun terlebih dahulu sebelum datangnya sapuan warna di langit, yang sering kau sebut sebagai pelangi

bersambung