Tuesday, 12 October 2010

(FF) Episode Pemimpin

Riuh rendah suasana di dalam gedung, beratus pasang mata kini tertuju padanya.

 

Lelaki itu kemudian mengambil microphone yang telah disediakan. Ia lalu berdiri tepat di tengah beratus pasang mata yang kini  bisa melihatnya

 

"Nggging....". gesekan suara microphone menggema dalam ruangan

 

Lelaki itu terlihat menghela, kemudian kata-kata meluncur dari mulutnya, "Ketika saya berada di sini...", ia berhenti lalu menatap ratusan pasang mata yang memperhatikannya....

 

Hening, senyap

 

"di akhirat kelak, waktu hisab saya akan jauuh lebih lama dari kalian..."

 

Semua diam. semua menghela

 

"Waktu tidur saya akan jauh lebih sedikit, begitupun waktu luang saya..."

 

Aku gemetar, membayangkan beban berat yang akan jatuh dipundaknya

 

Alih-alih matanya berkaca, ia malah tersenyum. Ketegaran dan Kekuatan tergurat jelas di wajahnya.  "Tapi, insya Allah semua akan dapat dengan mudah terlewati ketika Allah sajalah yang menjadi tujuan". 

 

Semua terpana, lalu tersenyum

 

Sejumput cahaya kini mewarna di dalam gedung. menyajikan siluet indah bagi masa depan

 

 

Depok, 12 oktober 2010

ketika mentari sepehenggalan naik

 

*Setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang telah dipimpinnya. mendapat rahmat dari kebaikan yang dihadirkannya, dan mendapatkan hitungan dari segala keburukan yang diadakannya


Monday, 11 October 2010

Episode Lara

Dimanakah semesta saat aku menatapmu?

Hanya hujan yang menampar-nampar muka

Tak ada tempat yang berpijak selain gemuruh

Langit menjelma kaca kita yang retak

Lara cuaca

 

Namun akau harus pelangi, seperti katamu

Muncul sewaktu-waktu

Dan menyisakan warna birunya selalu

Dalam kamus sunyiku

 

Aku masih terpekur dalam kegelapan. Terlarut dalam isakan. Tiba-tiba sosok itu datang, lara.

“mengapa kau datangi hidupku?”

Ia  mengukir senyum diwajahnya.

“mengapa lara, mengapa kau datang  di saat ini?”

Tak berkata, ia hanya kembali tersenyum

“Kenapa tak menjawab? Kau merasa sangat bersalah ya sampai-sampai tak bisa menjawab pertanyaanku?”, nafasku menderu, tatapanku tajam.

Lagi-lagi, ia hanya kembali tersenyum.

Sekian detik, aku hanya menatapnya penuh kebencian. Entah apa lagi yang harus kukatakan kepadanya, aku begitu membencinya.

“ungkapkan semua perih yang kau rasakan!”, perintahnya masih tetap dengan senyum di wajahnya.

Aku menyeka air mataku, “Oh, kau masih peduli dengan perasaanku?”, ujarku sinis.

“Ungkapkan semua perih yang kau rasakan” lagi, ia mengulangi perintahnya.

“Aku membencimu!”, kataku penuh kemarahan, “Aku membencimu karena telah mengambilnya dariku…”

Lagi, ia hanya tersenyum mendengar ucapanku

“Justru aku menyelamatkanmu”, ucapnya datar

“HAH?KAU BILANG KAU ME-NYE-LA-MAT-KAN-KU? KAU TELAH MERAMPAS ORANG YANG MULAI AKU CINTAI!”

Alih-alih takut, kembali ia hanya tersenyum, “teruskan…keluarkan semuanya!”

“Kau telah merampas saat-saat bahagiaku Lara. Kau merampasnya hingga ia tak dapat kugenggam. Dan kau bilang kau menyelamatkanku?”

“Aku tak pernah merampasnya darimu, salah sendiri kau yang telah menggenggam nya dalam harapmu”

Aku terdiam.

“cobalah kau jernih dalam berpikir, aku datang justru untuk menyelamatkanmu…!”, Kini, lara seperti berbalik menyerangku

Aku mencoba merenung

“Kau menggenggam harapan terlalu jauh padanya. Sampai-sampai harapan tersebut memayahkanmu. Hei, sadarkah kau bahwa selama ini kau telah terjerembab oleh angan yang kau ciptakan sendiri. Kau mencurahkan semuanya untuknya, cintamu, perhatianmu, harapanmu, anganmu. Hei, padahal kau tahu itu semua hanyalah semu. Hei padahal kau tahu kau telah mulai melangar batas-batas yang sudah Ia tetapkan!”

Ucapan lara membuatku  gemetar, rasa bersalah dan amarah kemudian tercampur  menjad satu di dalam batinku kini.

“Allah yang mengirimku padamu karena ia ingin kau kembali seperti dahulu, menempatkan cinta untukNya di tempat tertinggi di dalam hatimu”, Suara lara kini terdengar lembut, mengelus sendi-sendi amarahku

Aku limbung. Allah… sebegitu besarkah rasa cintaku padanya sampai-sampai aku lupa memupuk cintaku padaMU?

“Allah mencintaimu, dan mempersiapkan yang terbaik untukmu…”, Lara berkata lirih

Allah…

“Jadi, terimalah ini dengan keluasan samudera hatimu. Ikhlaskan ia, dan pupuklah kembali rasa cintamu padaNya, agar ia semakin subur, agar Ia semakin mencintaimu…”

Aku terisak, namun kali ini bukan isakan penyesalan karena lara datang menghampiri hidupku. Ini sebuah isakan rasa bersalahku padaNya.

Aku semakin terisak. Lara menghampiriku, memelukku dengan erat. Kembalilah mempertahankan izzahmu. Percayalah, kau pasti akan mendapatkan yang terbaik dariNya. Segera, dari arah yang tidak kau sangka-sangka.

Aku semakin terisak… Aku menangis sekencang-kencangnya. Beristighfar di tengah derasan air mataku yang tak dapat dibendung lagi.

Lamat-lamat kudengar Azan Subuh berkumandang. Perlahan mataku terbuka. Aku tertidur di atas sajadah, lengkap dengan balutan mukena didiriku dan handphone masih tergenggam erat ditangan kananku. Kutatap kembali pesan yang terpampang dalam layarnya, sebuah kalimat terakhir masih terlihat dan terbaca “Doakan, semoga pernikahan kami penuh barokah” .

Perlahan kucoba meraba hatiku, ahh…kini terasa jauh lebih ringan.

 

"Lara, semoga perihnya cepat sembuh"

depok, 11 oktober 2010

 

*Interlude, Helvy Tiana Rosa

Thursday, 26 August 2010

who wants to be a good daddy?

terik matahari semakin mengganas di luar kelas. huff, untunglah kelas ini sangat 'terbuka' di sisi dindingnya sehingga aku tak perlu mengibas2kan tangan ke arah diri. kulihat anak2 masih tetap asyik masyuk dengan gambar dan karangan yang dibuatnya.

aku lalu menghampiri sekelompok panglima2 kecil. kulihat corat-coretan mereka. meskipun belum tergambar sempurna namun aku masih bisa menangkap sedikit2 maksud yang mereka ingin sampaikan. lalu, aku tertarik melihat gambar dimas, muridku yang paling ganteng dikelas, hehe. kemudian aku mencoba menanyakan apa yang sedang dipikirkannya untuk tema kelompok kali ini.

aku: ayah yang hebat menurutmu seperti apa, dim?
dimas: *ayah yang aku mau...itu seperti ayahku, ditambah seperti ayahnya mildan, ditambah ayahnya oka, dan ayahnya reynarld, itu baru oke bu.
aku: waw...banyak sekali gabungannya, bisa ceritakan ke ibu kenapa kamu mau jadi ayah hebat seperti gabungan semua itu?
dimas: ayah mildan itu oke bu. ia tau segala macem tentang motor.

memang dari dulu dimas sangat ingin bisa naik motor, tetapi selalu dilarang ayahnya karena masih kecil. maklumlah dimas memang masih berusia 9 tahun. namun ayah mildan tak pernah menunjukkan sikap yang mengecilkan dimas. kalo dimas datang ke bengkel kecil miliknya, dia selalu menerangkan dan membolehkan dimas mencoba. seperti mengegas, belajar mengendurkan sekrup, naik di atas motor yang sedang direparasi, menyalakan mesin, dan mereka suka berteriak-teriak di tengah deru gas yang dimainkan oleh dimas

ayah mildan tak pernah mengecilkan mereka. ayah mildan selalu menerangkan, sebelum bisa menaiki motor, maka yang harus dimiliki adalah ilmu mengenai motor, penyakit2nya, cara mengatasinya, proses bekerjanya motor, serta cara merawatnya.

dimas: iya bu, aku suka sama ayah mildan solanya dia selalu ngasih nasihat sama ku soal motor. trik2, dan macem2. ia pernah bilang " ama motor, kita mesti kenal dulu, jangan ampe dia jatohin kite, kayak kuda yang masih liar. motor juga punya rahasia. kagak kayak anak2 yang nekat noh..pada berani nekat doank. pada ngebut2an, eg giliran jatoh baru tuh pada nyesel.die kire naik motor bisa seenaknya. kagak dim..nih makannya belajar dari ahlinye..." gitu, bu. aku sih ya bu sebenernya juga udah tau kalo anak kecil belum boleh naik motor. tapi kalo ama ayah mildan aku tuh seneng, aku gak pernah dilarang untuk nyoba naik motor. bahkan aku diajarin macem2 bu.

aku manggut2. oh ternyata anak kecil juga tidak suka dikecilkan ya oleh orang dewasa. mrereka harus diposisikan sebagai orang yang ingin dihargai dan dihormati seperti orang dewasa. anak-anak memang harus diberikan sebuah ruang yang nyaman untuk memenuhi rasa penasarannya. tanpa mengecilkan tapi tetap menjaga mereka dari kenekatan-kenekatan dan kekeliruan. ooh, jadi ini nih tipe ayah yang baik.

aku: terus, kalo ayah oka kenapa?
dimas: aku seneng sama ayah oka soalnya setiap aku main ke rumah oka, ayahnya selalu memanggil aku dengan panggilan2 aneh bu. terus tiba2 aku disambut dengan tosan2 aneh, gaya2 yang aneh kaya tari2 indian, macem deh bu. ayah oka tuh menyenangkan banget.

hmm, aku kembali manggut2. ya, ya. ayah oka memang seorang entrepreneur. pantas saja ia bisa sering berjumpa dengan teman anak2nya ketika mereka sedang bermain ke rumah oka. ayah oka memang terlihat ramah. terbukti saat pengambilan raport semester awal hampir semua anak lelaki di kelas ini kenal dengan ayah oka. bahkan mereka seperti bertemu dengan temannya sendiri. ooh, menjadi seperti teman dan membuat kedekatan dengan julukan dan gayayang menyenangkan, itu salah satu kuncinya lagi.

aku: terus kalo dari ayahnya reynard apa dim?
dimas: kalo ayah reynard itu dia pinterrr...banget. dia selalu tau bu soal apa aja. kalo aku main ke rumah reynard, pasti ayahnya banyak bercerita soal kehidupan binantang, penelitian luar angkasa, UFO, alien, HP terbaru, kesenian dan budaya...pokoknya apa aja dia tau bu...aku seneng jadinya, kalo diajak ngobrol asik banget, meskipun gak serame ayahnya mildan dan oka. tapi aku suka kalo ngobrol sama ayah reynard"

aku kembali manggut untuk kesekian kalinya. ooh..ohh..jadi ini toh gambaran seorang ayah hebat yang dimiliki oleh seorang dimas.

dimas: makannya bu, kalo aku besar nanti aku mau jadi kayak mereka

aih, subhanallah. anak sekecil ini sudah mempunyai gambaran seorang ayah yang hebat didirinya.


ayah hebat untuk anak yang hebat

seorang ayah memang memiliki peranan yang sangat penting. setidaknya hal ini pernah saya ungkapkan di sebuah notes saya. Kelekatan dan keterlibatan seorang ayah dengan anaknya berasosiasi dengan perkembangan kognitif serta social anak. kelekatan emosi antara ayah dan anaknya dapat mempengaruhi kesejahteraan anak, perkembangan kognitif, serta perkembangan social secara positif Bahkan keterlibatan seorang ayah juga berkorelasi positif dengan kecerdasan yang dimiliki oleh anaknya.

untuk melakukan pendidikan dan membentuk karakter anak dalam pengasuhan, gak mungkin lah peran seorang ibu akan optimal kalo gak pernah didukung dengan seorang ayah yang hebat. seorang ibu yang sudah semaksimal mungkin dalam kegiatan pengasuhan tetap tidak akan optimal peran dan fungsinya kalo tidak mendapatkan pasokan perhatian, keterlibatan, serta keterikatan ayah dalam hal pengasuhan anak. dan bukankah peran seorang ayah juga sudah tertulis dalam sebuah peristiwa di zaman Umar bin kHatab:

Seorang datang kepada Umar r.a. berkata: "Puteraku ini durhaka kepadaku." Maka datang Umar r.a. berkata kepada anak lelaki itu: "Apakah kau tidak takut kepada Allah s.w.t? Engkau telah berbuat durhaka terhadap ayahmu, engkau tahu kewajiban anak untuk orang tuanya ......(begini dan begitu). Lalu anak itu bertanya: "Ya Amirul mu'minin, apakah anak itu tidak berhak terhadap ayahnya?" Jawab Umar: "Ada hak yakni harus memilihkan ibu yang bangsawan, jangan sampai tercela kerana ibunya, harus memberi nama yang baik, harus mengajari kitab Allah s.w.t." Maka berkata anak itu: "Demi Allah, dia tidak memilihkan untukku ibuku, dia membeli budak wanita dengan harga 400 dirham dan itu ibuku, dia tidak memberi nama yang baik untukku, saya dinamai kelawar jantan dan saya tidak diajari kitab Allah s.w.t. walau satu ayat." Maka Umar r.a. menoleh kepada ayahnya dan berkata: "Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia durhaka kepadamu. Pergilah engkau dari sini."

jadi sekali lagi, untuk membentuk seorang anak yang hebat, tak hanya ibu yang harus hebat, tapi ayahnya juga harus hebat. intinya saling bantu membantulah...

dan...yuk dari sekarang wahai para calon orangtua, mari rumuskan akan menjadi orangtua yang seperti apa kita nantinya dan akan mendekatkan diri dengan anak dengan cara yang seperti apa...tapi kalo ibu mah saya yakin akan lebih mudah terlibat emosinya dengan anak, secara 9 bulan satu tubuh plus menyusui selama 1 tahun gitu.


namun, yang ayah jangan khawatir, mari rumuskan dari sekarang dan bersiap to be a good daddy...





*hasil kolaborasi pemikiran saya dan kisah yang diambil dari artikel kongres ayah dalam buku semua ayah adalah bintang (neno warisman)

Topeng Kewajaran

hari ini saya mengikuti suatu jalasah ruhiyah di tangerang dengan tema merenungi kematian. pertama kali melihat perilaku ustadznya, terkesan galak dan tegas, hehe. tapi ternyata begitu banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari jalasahh ruhiyah kali ini.

sang ustadz pertama kali membuka dengan berbagai kesepakatan, kesepakatan yang hampir membuat semua peserta bertanya-tanya apa gerangan yang akan diminta oleh ustadz ini. sekaligus membuat saya sangat deg-degan dan penasaran tentang kesepakatan tersebut.

dan ternyata sang ustadz membuat kesepakatan bahwa simulasi yang akan dilakukan tidak boleh diceritakan kepada orang selain di ruangan itu. maka dengan hati deg-degan sekaligus penasaran para peserta pun menyepakati kesepakatan tersebut. (karena simulasinya rahasia maka tidak akan saya ceritakan ya, hehe)

pasca simulasi kemudian sang ustadz pun merangkum apa yang sesungguhnya akan disampaikannya hari ini. yang pertama kali beliau singgung adalah soal hadist mengenai iman. kalian tahu kan tentang hadist ini? ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban).

ustadz tersebut menanyakan seperti ini:
ustadz: iman itu wajar gak naik dan turun?

dan seluruh peserta pun dengan kompak menjawab: wajar

lalu sang usatdzpun berkata dengan keras: Nah itu tuh salah kaprah memaknai hadist tersebut, makannya jadi gak masalah kalo imannya turun terus, karena pada dasarnya pikiran kita sudah membenarkan, sehingga yang terjadi turunnya banyak, tapi naiknya gak seberapa

saya pun tersentak, wew...apa iya ya selama ini kata wajar tersebut yang kemudian membuat saya menjadi begitu maklum ketika terjadi penurunan keimanan, misalnya ibadah saya salah satunya

sang ustadzpun kemudian berucap lagi: coba kalo kita maknai begini, bahwa hadist tersebut adalah suatu peringatan "Woy, hati2 jaga iman tuh jangan sampe turun"

ya ampuun, betapa bodohnya saya selama ini yang menganggap penurunan iman adalah suatu kewajaran, padahal kalo kata ustadz itu, terjadinya penurunan iman hanya satu karena kita kebanyakan maksiat

astagfirullah, lagi-lagi saya hanya bisa beristighfar

sang ustadzpun kemudian berucap lagi: terus nanti apa pertanggungjawaban kita saat di yaumil hisab nanti, mau nyalahin setan nih karena dia yang ngajak kita bermaksiat? padahal jelas-jelas Allah sudah mengingatkan manusia dengan firmanNya di surah Ibrahim : 22: Berkata Syaithan “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan padamu janji yang benar,dan akupun telah menjanjikan kepadamu,tetapi akau menyalahinya.Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu (manusia),melainkan (sekedar) aku menyeru kamu,lalu kamu mematuhi seruanku,,Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku ,tetapi cercalah dirimu sendiri.Aku sekali kali tidak dapat menolongmu,dan engkaupun tidak dapat menolongku .Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukanku (dengan Allah) sejak dahulu.Sesungguhnya orang yang zalim itu mendapat siksaaan yang pedih"

astagfirullah...

mungkin selama ini saya masih belum bisa memaknai apa arti dari sebuah komitmen menjaga keimanan. betapa ternyata peningkatan serta penurunan keimanan adalah sebuah pilihan. betapa selama ini mungkin saya telah banyak tertipu dan terlenakan oleh hal-hal duniawi, sampai2 menomorduakan masalah bagaiamana cara saya tetap menjaga keimanan saya ini dari segala tipu daya dunia dan isinya, menjadikan Al-quran benar-benar menjadi nomor satu di hati dengan melakukan banyak interaksi dengannya. betapa saya masih tidak menggantungkan seluruh kehidupan saya hanya pada Allah, karena orientasi hidup saya yang mulai bergeser dari baik-buruk menjadi untung- rugi. astagfirullah...

karena yang namanya komitmen itu simpel saja menurut saya,lakukan tanpa banyak alasan, kata sang ustadz lagi, semoga Allah selalu memberikan nikmat hidayah kepada setiap diri ini, agar kita dapat sama-sama terus berusaha menjalani komitmen kita menjadikan Allah saja di hati, doa sang ustadz

dan saya pun mengaminkan. ahh, semoga ini menjadi awal saya membentuk komitmen terhadap diri sendiri, untuk terus meningkatkan dan menjaga keimanan. terlebih dalam  menghadapi rammadhan ini...


semoga tulisan ini bermanfaat.

maafkan jikalau ada salah-salah kata. semoga Allah memaafkan kesalahan dan kekhilafan saya.

*25 Juli 2010

Monday, 23 August 2010

Be Logic, Please!

Di setiap hari rabu, SADE memang mengagendakan aktivitas-aktivitas seru yang memupuk jiwa kepemimpinan serta ketangguhan fisik anak-anaknya, maka setiap hari rabu aktivitas bisa diisi dengan ragam acara tersebut, seperti tracking menyusuri alam bedahan (bisa sampe nyebur di sungai bahkan terjun ke lumpur), outbond (dari yang mudah sampe yang tersulit bagi seumuran mereka bahkan mungkin saya, seperti manjat ban, spider web climbing, naik di simpul tali yang diikat (lupa namanya), berjalan di atas tambang di atas ketinggian 1,5 meter, sampai flying fox yang membelah sekolah), serta yang tak kalah mengasyikkan adalah berenang.

Kali ini di rabu pertama, aktivitas tersebut adalah TRACKING. Yup kali ini jalur tracking adalah menyusuri kelurahan bedahan melewati tempat pemancingan dan peternakan ayam. Jalur yang di tempuh lumayan berat menurutku, apalagi bagi teman-teman di SD1 dan SD 2. Aku saja yang sudah lumayan akrab dengan jalur tracking di puncak merasa kelahan juga. Jadi bisa dibayangkan betapa lumayan capeknya aktivitas kali ini.

Akan tetapi ternyata sebagian besar teman2 yang memang sudah berasal dari SADE (TKA dan TKB di sana maksudnya) sangat menikmati perjalanan tersebut. Mereka justru malah sibuk bermain2 dengan lingkungan sekitar. Apalagi ketika mereka harus melewati jembatan yang hanya terdiri dari 2 batang pohon palem yang dijejerkan. Hanya sebagian kecil yang merasa takut ketika melewati jembatan tersebut.

Dan ketika sampai di sebuah padang ilalang yang juga dipenuhi oleh hamparan tanah merah, mulailah mereka melakukan aktivitas yang membuat udara menjadi penuh tertutupi oleh debu tanah. Langsung saja salah seorang guru meminta mereka untuk menghentikan permaianan tersebut, “Maaf teman-teman, berjalan saja agar tanahnya tidak berterbangan”.

Dalam perjalanan di padang ilalang, aku mendampingi seorang teman SD1, sebut saja namanya Timy. Ketika berada di gundukan tersebut kulihat timy menyeret botol minumnya. Ia hanya memegang tali dan membiarkan tempat minumnya terseret bagai sebuah koper yang biasa dibawa di bandara-bandara. Akupun kemudian menegurnya agar ia mengambil dan mengalungkan tempat minum tersebut di lehernya.

“Maaf Timy, tidak menyeret tempat minummu, nanti kotor”, ucapku

Namun dengan santainya ia menjawab,”kalo kotor kan bisa dicuci, Bu”

Jleb. Sontak aku kaget “teguranku” dibalikkan dengan telak olehnya. Iya ya, bener juga ya kan kalo kotor bisa dicuci. Gitu aja kok repot.

Aku kemudian terdiam. Tak tahu harus merespon apa. Aku takut salah jika aku meladeni jawaban timy.

Akan tetapi tiba-tiba seorang guru ikhwan menghampiri Timy dan kemudian berkata, “Timy, kira-kira kalo tempat minumnya diseret seperti itu bagus tidak?”

Timy pun kemudian menjawab, “enggak”

Sang guru pun kemudian melanjutkan ucapannya, “terusi kalo tidak baik, kira-kira apa yang harus dilakukan?”

Dan ajaib. Timy pun langsung mengambil tali tempat minumnya dan menggantungkan di lehernya tanpa menyanggah lagi.

Yup, ini salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan saat tracking. Bahwa untuk memberitahukan seorang anak tentang suatu kesalahan bukan dengan melarangnya berbuat tersebut, namun mencoba membuatnya memahami dan menyadarkan kesalahan yang telah ia buat. Dan berusaha mengarahkannya untuk berpikir laku apa yang harus dilakukan kemudian untuk memperbaikinya. Dan saya belajar bahwa seorang bocah juga bisa diperlakukan seperti layaknya seorang dewasa. Mengajaknya berpikir untuk kemudian memutuskan hal yang baik bagi dirinya.

Satu lagi pelajaran berharga yang aku petik, tak sekedar hanya main larang, namun mengarahlan pada alasan logis, bahkan untuk seorang anak kecil sekalipun. Be Logic, Please!

Kerinduan Ayah [FF Lomba]

Lelaki tua itu masih memandangi foto di dekat telepon. Seorang Pria berkemeja biru yang tengah berdiri di depan prasasti Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala. Di tangannya ia juga menggenggam secarik kertas bertuliskan nama dan nomor handphone area Jakarta.

Ia sudah terlalu lama memendam rindu. Sampai suatu hari lima orang pemuda seumuran anaknya datang dan menjadi pelipur lara baginya selama satu bulan.

Tsunami, telah menyesapkan duka yang mendalam baginya. Anak semata wayangnya menghilang dan sampai saat inipun jasadnya tak pernah diketahui keberadaannya.

Seorang wanita yang sudah mendampinginya selama hampir 30 tahun kemudian menghampirinya, "telpon saja, Pak. Tidak usah ragu", ucapnya lembut.

Lelaki tua itu masih memandangi secarik kertas tersebut, tangannya hampir meraih gagang telepon, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya lagi, "Aku takut mengganggu mereka."

Wanita itu tersenyum, "Mereka sudah menganggap kita sebagai orangtuanya selama sebulan penuh di sini"

Ucapan tersebut kemudian membuat sang lelaki tak ragu lagi menekan tombol angka di telepon. Terdengar nada memanggil di sana.

Tak lama, suara pemuda yang dituju pun terdengar, "Assalamu'alaikum, maaf ini siapa ya?"

Gugup bercampur senang, lelaki itu kemudian berkata, "Ini Pak Hasan, Pak Hasan yang waktu itu jadi Home Stay di Sabang"

"Ohh...Ayah toh, apa kabar , Yah?"

Mendengar dipanggil ayah, tak terasa bulir bening jatuh dari mata sang lelaki tua itu. Ayah, sebutan yang sudah lama ia rindukan semenjak kepergian anak semata wayangnya 4 tahun yang lalu. Ayah, sebuah permintaan agar ia dipanggil seperti itu oleh anak-anak mahasiswa K2N UI saat melepas mereka di bandara satu bulan yang lalu.

Dengan terbata kemudian ia berkata, "Ayah baik-baik saja, Nak", ucapnya dengan penuh keharuan.



*Artikel kedua yang aku ikutkan dalam lomba FFnya mba Intan. Kali ini bertema Ayah-Anak
cekidot http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

Sunday, 22 August 2010

Pengingatan dari Teman Kecil

Ramadhan hari ke-13, tapi fisikku telah payah oleh lelah. Lelah yang ditimbulkan oleh management hidup yang kurang baik. Beraktivitas full di kampus, tapi tak ditopang oleh asupan gizi yang baik saat sahur dan berbuka.

Fisikkpun rasanya tak kuasa untuk beribadah, bahkan untuk sekedar membaca Al-Quran. akhirnya kuputuskan untuk mendengar lantunan suara Misyari Rasyid dalam 3 surat yang menjadi favoritku akhir-akhir ini, abasa, as-shaff, dan al-insaan. Lantunan tersebut membawaku terlelap dalam tidur sehabis subuh ini. Mungkin panadol biru juga mengambil andil dalam tidurku kali ini.

Jam 10.00. Astagfirullahaldzim, kepalaku masih berat. Ingin rasanya aku bangun dan bersegera menunaikan dhuha, tapi apa daya, berat di kepala terlalu mendominasi untuk tidak bersegera melakukannya. Allah, padahal ini Ramadhan....

Tiba-tiba dari earphone yang kupakai terdengar suara sms. Kulihat nama sang pengirim di layar. dari Mba Andhar, supervisorku saat magang di Sekolah Alam Depok.

Aslm. Innalillahi wa inna ilaihi roo'jiun.Tlah berpulang ke Rahmatullah,puteri qta tercinta,Shobrina Taqiyya Fakhrurrazi,SD-2 Bimasakti,sekitar pukul 4 karena dbd di RSCM.Semoga Allah m'berikan tempat terbaik untuknya.Aamin.

Shobrina, teman kecilku yang saat tahfidz merayuku untuk murajaah hanya dari surah al-zalzalah. Shobrina, yang mengkoreksiku ketika aku salah melafalkan namanya, "panggilnya Shabrina, Bu, tapi tulisannya Shobrina".

Tiba-tiba kekuatan untuk bersegera bangun muncul. Aku bergegas pergi ke kamar mandi, dan bersegera menunaikan dhuha dan sholat gaib untuknya. Sambil mendoakannya kemudian aku berjanji dalam hati untuk tidak menyia-nyiakan waktuku di Ramadhan kali ini, karena sungguh kita tak akan pernah tahu kapan kematian akan datang menjemput.

*tulisan ini kudedikasikan untuk Shobrina yang telah berpulang menemui Rabbnya. Semoga kelak kita akan bertemu di JannahNya

**tulisan ini juga kuikutkan pada lomba http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

Thursday, 10 June 2010

karena (awalnya) aku takut kehilangan...

sore menjelang, tiba-tiba ingin menuliskan hal ini sebagai ungkapan betapa aku mencintanya..

sedih dan merasa takut kehilangan...
hal itulah yang aku rasakan di awal saat mereka mengabarkan kabar bahagia itu

sedih dan merasa takut kehilangan...
karena aku berpikir setelah menikah nanti tak akan ada perhatian-perhatian lagi untukku..

itu yang aku rasakan saat mendengar kabar bahwa mereka akan menikah
karena merekalah selama ini tempat ku mencurah isi hati
karena merekalah selama ini tempat ku meminjam bahu-bahu sebagai penopang tetap tegaknya diriku menghadapi dunia ini

ahahay...tapi mungkin itu hanya sekejap saja.
toh aku harus berpikir dewasa bahwa mereka pun akan mengukir takdirnya masing-masing

harusnya aku merasa bahagia karena mereka pun akan mencecap sebuah kebahagiaan yang telah mereka nantikan...

ohohoi....mereka tetap kakakku, mereka tetap sahabatku....
pun selama ini mereka masih memperhatikanku...
dan aku yakin sejumput doa masih mengalir untukku dalam alunan doa yang mereka lantunkan...

dan sekarang akupun harus belajar menapaki kehidupanku..mengukir sendiri takdirku dengan penuh kedewasaan...dan akhirnya semoga menemukan kebahagiaan seperti yang telah mereka rasai...

dan lagi-lagi hanya ingin mengucap
terima kasih atas segala perhatian dan kasih sayangnya selama ini...
^^'



(kupersembahkan untuk ka dewi, ka yunda, ka tery, ka kirun, dan tam2)

Friday, 21 May 2010

Karena Ayah Juga Bisa Jadi Juara

Yup, tiba-tiba saya ingin menuliskan ini setelah mengerjakan UAS take home mata kuliah motivasi pendidikan. motivasi dalam pendidikan amatlah penting dalam berlangsungnya pendidikan anak. Karena dengan motivasi, anak-anak dapat menampilkan performa terbaiknya untuk meraih prestasi yang setinggi-tingginya.

Untuk menumbuhkan motivasi pendidikan tersebut, ada beberapa faktor yang sangat berperan penting diantaranya, keluarga, peer (teman sebaya), serta lingkungan sekolah. Dalam notes ini saya hanya ingin memfokuskan pada penjabaran tentang faktor keluarga (orangtua).

Ibu, mungkin kita sudah mengetahui betapa pentingnya peran seorang ibu dalam pendidikan anak-anaknya. Ibu adalah madrasah pertama dan yang utama bagi anak. Bahkan, Rasulullah SAW menekankan, mendapatkan ibu yang baik merupakan salah satu hak yang harus didapatkan anak dari bapaknya. Ibu, bagi saya khususnya, adalah orang yang paling responsive ketika anaknya mengalami sesuatu. Dan ternyata responsivitas ibu dalam hal tumbuh kembang anak mempunyai interaksi positif dalam hasil akademis anak-anaknya. Kepedulian seorang ibu memiliki efek yang besar dibanding dengan pengaruh dari teman sebaya pada masa remaja. Pada masa remaja pengaruh peer akan lebih kuat dibanding dengan pengaruh keluarga, sehingga ketika seorang anak memiliki ibu yang responsive, maka ia akan terjaga dari pengaruh negative yang diberikan oleh lingkungan teman sebayanya.

Eits…tapi tak hanya ibu loh yang memiliki peran besar dalam tumbuh kembang dan prestasi seorang anak. Ternyata ayah juga memiliki peran yang juga sangat penting. Kelekatan dan keterlibatan seorang ayah dengan anaknya ternyata berasosiasi dengan perkembangan kognitif serta social anak. Kesejahteraan seorang anak, perkembangan kognitif, serta perkembangan social secara positif dipengaruhi oleh ketersediaan sumber materi, kelekatan, serta emosi dari ayah. Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh Yogman, dkk (1995) menemukan bahwa keterlibatan seorang ayah berkorelasi positif dengan kecerdasan yang dimiliki oleh anaknya. Keterlibatan seorang ayah juga dapat memberikan rasa aman dan nyaman pada anak sehingga dapat berpengaruh positif terhadap motivasi pendidikannya.

So, pesan saya bagi para kaum adam, kelak ketika nanti kalian sudah mempunyai anak , jangan lupa untuk selalu terlibat dalam segala aktivitas anak. Memberikan rasa aman dan nyaman, agar nantinya dapat tumbuh generasi berprestasi yang dapat merubah Indonesia menjadi lebih baik.

Friday, 9 April 2010

workshop menulis

Start:     Apr 18, '10 12:00a
Location:     depok
bareng mba asma, mba helvy, dan pak Isa

Sunday, 4 April 2010

Puti Ayu Setiani | Facebook

http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=1016479043
facebook saya...

Lengkung Pelangi Sebuah Negeri (2) *tamat

Rona merah mulai menghiasi langit Gaza. Aku, shafiyah, dan bersama saudara palestina yang lainnya mulai merangsek mencari perlindungan ke bangunan yang masih berdiri. Berdiri karena ia masih bisa luput dari serangan kemarin malam. Goresan kelelahan sangat tersirat di wajah kami. Fisik maupun psikis, semua tergerus oleh serangan Israel sejak dua hari kemarin. Entahlah, aku tak tahu mengapa mereka lagi-lagi menyerang kami. Mereka bilang mereka memburu teroris yang sejatinya adalah HAMAS, pemenang sah pemilu yang terpilih secara demokratis. Mereka bilang memburu para teroris, namun faktanya bangunan tempat warga sipil bernaunglah yang mereka serang. Inilah salah satu tipudaya yang sedari dulu telah mereka mainkan.

“Umm, aku lelah…aku ingin tidur Umm”, rengek Shafiyah.

“Ayo, Nak tidurlah di sini, di pangkuan ummi…”, aku merengkuh tubuhnya. Membiarkan tubuhnya merebah di pangkuanku.

Malam ini kami tidur di sebuah flat yang masih selamat. Pemilik flat dengan senang hati mempersilahkan kami, berbagi bersama saudaranya yang lain. Kami di sini tidur berdesak-desakkan. Entah ada berapa keluarga yang kini menginap di dalam flat ini. Tanpa penerangan yang cukup karena lontaran dari burung nasar besi kemarin telah menghancurkan instalasi listrik di distrik ini. Kami tinggal berdesak-desakkan, tanpa pasokan air yang memadai, karena lontaran burung nasar besi itu juga telah menghancurkannya. Dan kami kini tinggal hanya dengan keyakinan penuh, bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakan kami.

Tak sampai tiga puluh menit Shafiyah terlelap, tiba-tiba…“Buum…..Bumm…Bum
mm…”, dentuman keras kembali mengguncang tanah ini. Allah, nampaknya Ehud Olmert menepati janjinya, untuk tidak pernah membiarkan penduduk Gaza tidur di malam hari.

“Umm….!”, Shafiyah terbangun dengan wajah ketakutan.

“Tenang, Nak. Berdzikirlah….Allah bersama kita”, Lirihku.

Aku dan Shafiyah buru-buru bangun dari tempat kami bersandar. Semua yang ada dalam ruangan ini panik, tak tahu harus mencari tempat berlindung kemana. Di tengah kekacauan dalam ruangan, dentuman pun semakin terdengar keras. Lantai yang kami injakpun turut bergetar hebat. Barang-barang di atas satu-satunya meja yang ada, sudah berhamburan jatuh ke lantai. Dan seketika itu jua, akhirnya bangunan yang terdiri dari dua lantai ini goyah. Meluruh ke tanah, tak kuat menahan beban akibat serangan tersebut. Seketika semuanya gelap. Sunyi dan sepi. Termasuk duniaku dan dunia anakku, Shafiyah.

***

“Umm, dapatkah aku melihat pelangi di langit Gaza ini?”, aku kembali mengingat pertanyaan yang sering dilontarkan Shafiyah waktu itu. Ia, tak berhasil terselamatkan saat flat yang kami tinggali runtuh akibat serangan bom. Memang, sejatinya bukan flat yang kami tinggali yang menjadi sasaran dari serangan dahsyat tersebut, melainkan gedung yang berada di sebelah kami. Akan tetapi karena dahsyatnya ledakan bom, membuat flat yang kami tinggali juga ikut luluh.

Aku dan Shafiyah, juga bersama penghuni di dalam flat itu dilarikan ke rumah sakit Sifa. Akan tetapi karena kehendakNya, nyawa Shafiyah tak dapat terselamatkan. Mungkin karena memang ia masih terlalu kecil untuk menahan luka yang menderanya. Padahal paman Husain, satu-satunya kerabat kami yang masih hidup, bersaksi bahwa Shafiyah masih dalam keadaan hidup saat dibawa ke rumah sakit Sifa.

“Umm, dapatkah aku melihat pelangi di surga nanti?”, lagi, pertanyaan itu kembali terngiang di kepalaku.
Tentu Nak, Insya Allah di Surganya kita akan melihat pelangi yang lebih indah dari pelangi yang ada di bumi.

“Umm, kelak akankah bersama, kita bisa menikmati indahnya pelangi di langit Gaza ini?”, sebuah pertanyaan tentang pengharapan yang juga selalu dilontarkan olehnya. Insya Allah, Nak. Meskipun bukan kita yang akan menikmatinya, tapi aku senantiasa percaya bahwa janji Allah pasti datang. Aku yakin, suatu saat kelak bangsa Palestina akan bisa menikmati indahnya lengkung pelangi di langit Gaza ini, tanpa teror dan tanpa penjajajahn dari zionis. Selama para pejuang tak pernah lelah berhenti mengabdikan dirinya untuk sebuah kemenangan dan kesejahteraan bangsa Palestina, selama doa dan pengharapan terus terlantun dari tiap jiwa untuk kemerdekaan palestina, dan selama sebuah asa masih senantiasa hadir dalam tiap hati bangsa Palestina. Kelak, Nak…Insya Allah, suatu saat kelak. Aku yakin sepenuhnya….

_o0o_



Depok, 3 Februari 2010


*atas kondisi yang dialami masjid Al-Aqsha akhir2 ini, yuk ikuti aksi palestina SALAM UI, LD se UI, dan FSLDK JADEBEK. Jum'at, 26 Maret Siang dari HI-RRI

Saturday, 20 March 2010

Lengkung Pelangi sebuah Negeri (1)

“Umm, kapan semua ini akan berakhir?”, pertanyaan ini kembali terlontar dari mulut kecil Shafiyah, “Karena aku ingin, Umm, menikmati indahnya pelangi….”

Dan aku kembali mendesah untuk yang kesekian kalinya….


***

“Umm, adakah sesuatu yang indah yang menghiasi langit selain awan, bulan dan matahari?”, celoteh Shafiyah di suatu ketika.

Aku menghela. Masihkah ada yang tersisa dari keindahan langit di gaza?

“Adakah, Umm?”, lagi, pertanyaannya mengulang.

“Pelangi, Nak….”, ucapku kemudian

“Pelangi, Umm? Apa itu Umm?”, tanyanya penuh keingintahuan.

“Pelangi itu akan hadir ketika hujan turun memberkahi bumi disertai dengan sinar mentari yang menemaninya….”, jelasku

“Indahkah Umm?”, keingintahuan menderanya

“Indah, sangat indah, Nak…”

Matanya kemudian mengerjap, “Umm, dapatkah aku melihatnya?”


***

 “Zing………Buum….bumm…bummmm…..” 

“Nguing….nguing….nguing….”

“duar…………..duar…duar…”

“Allahhu akbar…Allahu akbar….”

Lagi, serangan kembali dihujamkan kepada kami. Allah, tak pernahkah mereka berpuas dengan lahan yang telah mereka ambil. Allah, tak bisakah mereka berpuas dengan genangan darah yang sengaja mereka tumpahkan di tanah ini. Allah, sungguh berikanlah kami kesabaran dengan segala perbuatan dan tipu daya mereka.

“Umm, aku takut…”, Shafiyah memelukku dengan erat. Mencengkeram abayaku yang sudah kumal. 

Kueratkan dekapanku, mencoba membuatnya tenang, padahal sungguh akupun sama dengannya, dilanda ketakutan yang menyayat jiwa.

“Berdzikirlah Nak, mohonlah kemenangan pada Rabbmu, sungguh sekali-kalipun Ia tak akan pernah menyia-nyiakan kita”

Ia memandangku. Bola matanya menyiratkan bahwa ia teramat ketakutan.

“Zing………Buum….bumm…bummmm…..”, dentuman bom kembali mengguncang di malam yang kelam ini.

“Umm, sungguh aku takut…” Sedetik kemudian air matanya menetes, dan lama kelamaan semakin menderas.

Kukuatkan pelukanku….sambil kuberucap “Hasbiallahwanikmal wakil, niklmal maula wa nikmannatsir… Cukuplah Allah menjadi pelindung dan ia adalah sebaik-baik penolong”


***

“Umm, coba ceritakan lagi tentang pelangi…”, Lagi, sebuah pertanyaan tentang pelangi terlontar dari mulut kecilnya.

“Pelangi itu indah, Nak. Keberadaannya membuat langit semakin mempesona”, ujarku.

Kulihat binar di mata Shafiyah, nampaknya ia sangat antusias mendengar ceritaku, “Seperti apa memang bentuknya, Umm?”

“Sebuah lengkung besar dengan tujuh campuran warna yang menghiasnya. Ada Merah, Jingga, Kuning, Biru, Nila, dan Ungu. Pelangi seperti sebuah jembatan yang membentang, menyatukan sisi bumi yang satu dengan yang lain. Ia ibarat jembatan yang berhasil menyatukan sinar matahari dan titik hujan, berpadu dan menjelma menjadi sebuah lengkung yang sangat mempesona. ”, jelasku panjang.



***

Pagi. Tak secerah seperti kebanyakan pagi di bumi lain. Terlebih setelah serangan kemarin malam.

Jika kebanyakan bumi menyambut pagi dengan hangatnya mentari, harumnya pepohonan, dan sejuknya embun, di sini, kami menyambut pagi dengan bau anyir darah manusia, debu reruntuhan bangunan, dan tentunya gelimpangan tubuh yang telah kembali pada Rabbnya.

“Umm…”, Shafiyah merajuk, bukan rajukan manja tentunya, tetapi sebuah rajukan kegelisahan. Kegelisahan karena melihat teman-teman sebayanya telah menjadi seonggok daging yang sudah tak bernyawa.

“Sabar, Nak. Ini hanya sebuah episode kehidupan yang mesti kita jalani. Bahkan, kita pun akan mengalami hal yang sama dengan mereka. Kematian itu suatu hal yang pasti, Nak.Sungguh., tinggal bagaimana keridhoan Allah yang membedakan kematian itu sendiri”

Shafiyah mengernyit. Kuusap kepalanya, sambil kemudian membetulkan kerudung yang dipakainya. Ahh, Shafiyahku… bocah berusia tujuh tahun, tentu ia masih belum sepenuhnya paham dengan ucapanku.

“Nak, ada sebuah kehidupan abadi yang menanti kita. Jika Allah ridho dengan kehidupan kita di dunia ini, kelak… Allah akan memberikan penghidupan yang lebih baik di akhirat sana….”

Shafiyah menggaruk kepalanya, “Mmmm, sungguh Um?”, Ujarnya sangsi.

Aku menarik nafas…. Kemudian kuanggukkan kepalaku. “Ingatlah Nak, dahulu Rasulullah pernah bersabda bahwa bumi ini, tanah yang kita injak ini adalah tanah yang diberkahi”

Shafiyah memiringkan kepalanya ke kanan, tanda ia masih belum mengerti, “Memang kalo diberkahi apa artinya, Umm?”

Aku tersenyum melihatnya, kemudian mencoba memberinya penjelasan,“Semua yang engkau jalani Nak, baik itu sebuah cobaan ataupun sebuah kenikmatan jika hal tersebut berkah dari Allah maka hal tersebut senantiasa akan membuatmu selalu dekat denganNya….”

“Termasuk juga meraih Surga, Umm?”, kembali ia bertanya.

“Iya, bahkan surga sekalipun.”, ucapku penuh keyakinan.

Kulihat binar di mata Shafiyah. Oh, Nak tentu insya Allah kehidupan kita, di sini, akan selalu diberkahi olehNya.

“Akankah aku dapat menikmati indahnya pelangi, Umm di surga sana?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, “Iya Nak, bahkan pelangi yang lebih indah dari pelangi yang ada di bumi, Insya Allah”.

Sedetik kemudian Shafiyah tersenyum dengan senyum termanisnya. Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju rumah sakit Sifa. Ahh, semoga kami bisa menemukan setetes air di sana untuk menghilangkan dahaga dan luka ini

***

“Umm, coba ceritakan padaku tentang indahnya pelangi…?”, Shafiyah melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku, lagi, seputar pelangi.

“Pelangi itu indah….Ia melukis langit dengan harmonisasi dari berbagai warna….Jika kau memandangnya, maka kau akan merasakan kedamaian. Damai karena pelangi memadu warna dalam simfoni yang indah. Damai karena kau seperti melihat perbedaan yang berpadu dalam irama.”, Jelasku padanya. 

“Pernahkah kau melihatnya, Umm di langit gaza ini…?”, tanya mulut kecilnya lagi

Aku menerawang mencari jawaban. Bahkan, Nak, akupun merindukan melihat pelangi dalam keindahan yang sebenarnya. Tanpa harus takut dengan deru dari burung nasir raksasa milik zionis itu. Tanpa harus terhalang oleh gumpalan debu yang disebabkan olehnya. Tanpa takut dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Dan tanpa teror yang mengada laksana buruan yang terus dimangsa.

“Umm…?”, Shafiyah memecah lamunanku.

“Dulu Nak, dahulu sekali. Itupun aku belum bisa menikmati keindahannya sepenuhnya….”

***

Rumah sakit, tak ubahnya seperti sebuah hidangan pesta pora bagi burung-burung Nasar. Luka yang menganga di dada dan kepala akibat peluru yang menghujam atau serpihan bom yang mendera. Aku dan Shafiyah berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah penuh dengan gelimang tubuh anak palestina. Tangisan, rintihan, dan ratapan tak ubahnya terdengar seperti sebuah melodi yang menyayat hati. 

“Umm, aku takut….”, Shafiyah mengenggam erat tanganku.

“Tenang sayang, semua akan baik-baik saja….”, aku mengusap kepalanya.

Kami kembali menyusuri lorong, menuju halaman belakang rumah sakit Sifa. Di belakang sana, para pejuang tengah membagi-bagikan air dan sepotong roti. Aku mengantri bersama ratusan manusia yang masih tersisa. Kugenggam erat-erat tangan Shafiyah, agar ia tak terlepas dari jangkauan. Oh Allah, sungguh aku tak pernah tahu apa jadinya jika tak ada para pejuang ini. Mereka yang rela menyelundupkan bahan makanan agar kami, warga Gaza tak kelaparan. Mereka yang mengikhlaskan nyawanya, menerobos blockade yang bahkan dilakukan oleh saudara kami sendiri, pemerintah negara mesir. Allah sabarkan dan berikan mereka kekuatan, karena mereka perantara hidup kami. Berikan mereka kesabaran Allah, dengan tuduhan teroris yang dialamatkan pada mereka. Tinggikan Allah, tinggikan kedudukan mereka di JannahMu kelak.

Satu persatu orang kemudian maju mengambil bagian makanannya. Panjangnya antrian dan tak seimbangnya bahan makanan yang ada membuat kami harus puas dengan sepotong roti dan sebotol air mineral ukuran enam ratus ml. Tak ada yang berebut memang karena tiap orang menginsyafi bahwa dirinya harus berbagi dengan ratusan jiwa lainnya. Aku mendapatkan bagianku dan Shafiyah, dua potong roti dan dua botol air mineral.

“Umm, sampai kapan kita akan seperti ini?”, pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut mungil anakku, Shafiyah.

Aku terdiam. Entahlah, Nak. Pertanyaan itupun dahulu selalu aku lontarkan kepada Nenekmu. Pertanyaan yang sama yang kulontarkan saat aku harus melihat kakekmu terbujur kaku di tepian gedung yang telah luluh lantah. Pertanyaan yang sama ketika aku harus kehilangan saudaraku, Fatih dan kawan sebayanya di umur 12 tahun, saat mereka terkena muntahan peluru sebagai balasan dari lemparan batu yang mereka lontarkan kepada tentara zionis itu. Pertanyaan yang sama yang aku lontarkan juga saat aku harus kehilangan ayahmu, Nak. Melihatnya tertembak di depan mataku sendiri ketika gerombolan tentara itu datang ke rumah, menyeretnya dan memperlakukannya seperti binatang. Pertanyaan yang sama yang aku lontarkan ketika kepayahan saat melahirkamu di tengan deru burung-burung nasar besi yang siap meluluhlantahkan bumi ini.

“Umm….tak adakah yang akan membantu kita keluar dari penjajahan ini, Umm?”, mata Shafiyah mengerjap, penuh pengharapan.

Aku menarik nafas lagi. Ahh, meskipun aku tak tahu pasti, Nak tapi aku yakin saudara-sauadara muslim di belahan bumi sana masih ada yang tetap mendoakan kita. Meskipun aku melihat kenyataan bahwa pemerintah mesir menancapkan tembok besinya untuk mengurung kita, tapi aku yakin, Nak. Saudara-saudara kita di mesir sana justru tersayat hatinya dengan kebijakan yang diambil oleh pemimpinnya sendiri. Karena yang kutahu, dan dahulu sejarah telah berbicara, para ikhwan dari mesir itu pernah turut membela kehormatan kita, bangsa Palestina.

“Insya Allah, Nak. Tak akan pernah putus doa yang dilantunkan oleh saudara-saudara kita di sana. Percayalah, Nak!”, yakinku padanya.


***

Umm, salahkah bila aku merindukan menikmati indahnya pelangi di langit negeriku sendiri? Umm, engkau selalu bercerita, bahwa pelangi itu indah. Perpaduan semburat sinar mentari yang membias dengan tetesan air hujan, yang kemudian menghasilkan suatu keindahan simfoni warna sebagi hasilnya. Umm, engkau selalu bercerita, terdapat tujuh warna yang menyusun spektrum besar lengkung tersebut, ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

Ahh, sungguh aku ingin sekali melihatnya, Umm. Indah pasti melihat warna-warna itu bertengger di atas langit gaza ini. Entahlah aku tak tahu apakah aku bisa melihat pelangi itu. Sampai-sampai aku pernah mengira bahwa engkau berbohong, Umm. Selalu saja, dengan segenap keyakinanmu engkau bilang bersama, suatu saat pasti kita akan bisa menikmati indahnya pelangi di langit Gaza. Tanpa khawatir dengan deru burung nasir raksasa yang memburu, dan tentu saja tanpa halangan dari gumpalan debu yang ditimbulkan oleh burung raksasa tersebut di langit ini.

Umm, meskipun keindahan pelangi tak dapat kunikmati sejak lahir, sama halnya seperti aku juga tidak dapat menikmati indahnya memandang paras seorang lelaki yang disebut ayah, tapi sungguh, Umm, sungguh aku yakin akan kata-katamu. Bahwa hari itu akan tiba. Bahwa suatu saat, kita akan bisa menikmati kemilau perpaduan warna itu. Dan aku yakin Umm, perjuangan panjang ini akan menghasilkan, seperti hujan yang harus turun terlebih dahulu sebelum datangnya sapuan warna di langit, yang sering kau sebut sebagai pelangi

bersambung