Hmm...senangnya kalo lagi acara kumpul keluarga besar. Ketemu sepupu-sepupu yang gokhil abis. Bisa becanda bareng, main basket bareng, and yang paling seru main tebak-tebakan bareng menjelang tidur. Ya, kami biasa tidur bareng-bareng kayak pepes di ruang tamu, hehehe. Setiap lebaran rumah mbahku memang selalu kayak pasar karena kedatangan cucu-cucunya yang cerewet. Yup, ritual main tebak-tebakan di malam hari adalah favoritku. Seperti biasa, dalam acara tebak-tebakan bareng, Mas Faris selalu jadi bintangnya. Anak dari budeku ini emang orang yang menyenangkan banget. Selain pintar (karena ia adalah mahasiswa ITB jurusan teknik Elektro), ia juga sholeh and ramah banget sehingga selalu menjadi teladan bagi saudara-saudara yang lainnya. Semua orang tua akan bilang ke anak-anaknya, “Tuh...kayak Mas Faris, keluyurannya ke Masjid, pinter lagi.... Yayaya, Mas Faris emang the bestlah....
“Teh nya mau dituangin?”, suara Mas Faris mengagetkanku. Hehehe, dari tadi aku memang sedang bersusah payah menuangkan teh panas dari poci yang besar. Maklumlah, kalo di rumah, ibu selalu menuangkannya untukku. Duh, jadi malu deh sama Mas Faris, nuang teh aja gak bisa, padahal aku kan udah kelas 1 SMA.
“Eh, iya Mas, boleh banget. Malah dari tadi nungguin bantuan”, ledekku kepadanya.
Sambil menuangkan teh Mas Faris kemudian berujar, “Makannya Dek, jadi perempuan itu jangan takut panas, hehehe...gak ada hubungannya ya?”
Ih, mulai lagi neh jahilnya. Meskipun Mas Faris lebih tua lima tahun dari aku, tapi ia selalu asyik kalo diajak bicara. Ia selalu saja berhasil menemukan topik yang menarik untuk mengobrol denganku, bahkan ia selalu bisa menjahiliku. Duh, pokoknya beda banget sama kakakku yang selalu menganggap aku anak kecil, hingga membuatku malas untuk mengobrol dengannya.
“Mas Faris kenapa sih, ko sekarang gak mau salaman sama Khansa lagi ?”, akhirnya keluar juga pertanyaanku tentang sikapnya yang berubah akhir-akhir ini.
“Loh, iyaya? Abis tangan adek selalu kotor sih waktu mau Mas ajak salaman...!” Mas Faris berkilah. Duh, senangnya ia memanggilku dengan sebutan adek. Hehe, bahkan kakakku saja tidak memanggilku dengan sebutan adek. Cuma mas Faris...Ya, cuma dia.
Tau kalau ia tak sungguh-sungguh dengan jawabannya, akupun memasang wajah cemberut,
“Ih, mas mulai lagi deh jahilnya....”
“Duh, jangan marah donk Adek manis....Gini-gini, Mas gak mau salaman karena Mas menghormati kamu....”, Ia memberi alasan.
“Maksud Mas Faris?”, tanyaku heran.
”Gini, Dek kecil, kita ini kan sepupuan, dan itu tandanya kita bukan mahram, jadi haram kalo sentuh-sentuhan”.
“Woh, apaan tuh mahram, Mas?”, aku pura-pura tidak tahu.
“Mahram itu kayak kamu sama ayah ibumu, kakakmu, pamanmu dari pihak ayah, sama yang berjenis kelamin sama denganmu, nah kalo sepupu itu bukan mahram dan gak halal kalo bersentuhan. Kan kita berbeda jenis kelamin, bukan?” Jelas Mas Faris.
Aku hanya manggut-manggut. Yah, aku lumayan paham lah tentang apa yang namanya mahram, tapi aku baru tahu kalo sepupu ternyata bukan mahram ya? Pantesan dari kemaren diajak salaman, tapi Mas Faris cuma menelungkupkan tangan di depan dadanya.
“Eh, Dek. Katanya kamu mau pakai jilbab ya?” Tanya Mas Faris tiba-tiba.
“Iya, Mas, Insya Allah mulai awal semester 2 ini. Kan kata Mas Faris cewek itu lebih anggun kalo pakai jilbab, terus aku pikir-pikir ia juga sih. Lagian Mas, aku males aja dengan pandangan laki-laki yang selalu menikmati putihnya kulitku, hehehe...”, seloroh aku.
“Iya Dek, makannya kecantikanmu gak usah dipamerin, biar buat suami aja ya nanti, hehehe!”, duh nih Mas satu mulai lagi deh.
Aku senang pagi ini bisa mengobrol banyak dengan sepupu kesayanganku itu. Sudah lama juga ya aku tak bertemu dengannya. Entah kenapa pagi ini aku merasakan semangat yang sangat besar.
***
“Assalamu’alaikum...”, sapa Mas Faris dari seberang telepon.
“Wa’alaikumussalam, Mas Faris, Ya?” Terkaku.
“Iya, Dek. Apa kabar? Gimana rasanya udah setahun pakai jilbab? Nyaman kan?” Tanyanya penuh semangat.
“Eh, iya, Mas Alhamdulillah. Mas Faris apa kabar? Gimana kuliahnya?”
“Alhamdulillah mas baik-baik aja, kuliahnya lancar, lagi nyiapin skripsi, doakan ya biar dimudahkan dan lulus tahun ini”
“Oh, pasti mas, tapi biarpun gak lulus tahun ini gak papa lah...Wajar anak teknik mah, hehehe....”, candaku padanya.
“Ih, ko kamu jahat gitu sih sama Mas! Eh, kakakmu ada di rumah gak? Atau masih di jalan?”
“Oh, ada, Mas. Tadi barusan nyampe. Tunggu bentar ya...!”. Aku pun pergi memanggil kakakku. Entah apa yang mereka obrolkan, nampaknya urusan mahasiswa. Soalnya wajah kakakku begitu serius sekali ketika bicara dengannya. Atau sesama anak teknik emang serius ya kalo ngobrol?, hehehe. Tak tahulah.
***
“Ayah, Ibu, hari senin nanti Ayash ikut aksi ya?”, pinta kakakku ketika kami sedang makan malam bersama.
“Aksi dimana, Yash?”, tanya Ayah.
“Itu, Yah, aksi kasus Akbar Tanjung, biar pengadilannya gak memihak..., Mas Faris juga ikut ko, Yah”, kakakku menjelaskan.
“Ya udah, tapi kamu mesti hati-hati ya, Nak. Ayah khawatir rusuh...”, ujar Ayah.
“Iya, nak. Kalo bisa kamu jangan di depan ya! Emangnya yang aksi darimana aja?”, tanya Ibu.
“Pastinya dari UI, BEM jakarta Raya, terus BEM Bandung Raya juga.”
“Wah, hati-hati ya, Ka. Pasti bakal rame banget tuh!”, nasehatku.
“Yaiyalah, Neng! Kalo gak rame namanya gak pake raya atuh!!!!!”
Hehehe, aku Cuma nyengir kuda. Sebenernya takut juga nih sama niat mas Faris dan Kakakku untuk ikutan aksi. Kalo udah rusuh kan polisi sukanya mukul dengan tak berperasaan. Ah, tapi bagi anak teknik kali ya, eh salah denk, bagi mas Faris dan kakakku lebih tepatnya, jadi border mah udah biasa. Huu...entahlah, tapi aku salut sama mereka. Ya, kalo kata Mas Faris setidaknya dengan mengikuti aksi mereka menunjukkan rasa cintanya terhadap tanah air, biar orang-orang kotor gak melulu bisa bebas dari jeratan hukum dan bisa bertindak seenaknya.
***
“Innalillahi...Terus gimana keadaannya?”, suara ibu terdengar gemetar ketika berbicara di telpon.
“Alhamdulillah sekarang udah boleh pulang kok, Bu. Insya Allah gak serius banget!”, ujar kakakku.
Duh, ada apa sebenarnya ini? Siapa yang terluka? Kakakku atau Mas Faris? Ya Allah lindungi mereka....
Akupun langsung bertanya kepada ibu sesaat setelah beliau menaruh gagang telponnya, “Bu, siapa yang terluka?”
Ibu mengambil nafas, berusaha menenangkan dirinya, “Mas Faris kena pukul aparat, kata Ka Ayash sih dia gak papa, tapi ibu gak tau pasti, tenang aja, Ayah udah ada di sana ngurusin Mas Faris. Budemu belum tahu soal Mas Faris. Biar nanti Ibu saja yang memberi kabar ke Bogor, tapi nanti setelah Ayah dan kakakmu membawa Mas Faris kesini”, Ibupun berusaha menenangkanku.
***
Lima jam kemudian terdengar suara mobil. Oh, itu pasti Ayah. Aku langsung buru-buru membuka pagar. Kulihat kakakku membukakan pintu mobil untuk Mas Faris, lalu membantunya berjalan menuju ke dalam rumah. Alhamdulillah, ia masih dapat berdiri, karena aku tak melihat luka di kepala atau kakinya. Tapi, ternyata tangannya di perban. Duh, mudah-mudahan Ia gak papa.
Setelah memasuki rumah, ibu langsung saja membuatkan secangkir teh hangat untuk Ayah, Ka Ayash, serta Mas Faris. Setelah menaruh tehnyadi atas meja, Ibu tak sabar mendengar cerita tentang apa yang sebenarnya menimpa Mas Faris.
“Ko bisa sampai kaya gini toh, Ris?” Tanya Ibu cemas.
“Gak Papa ko, Buk Lek, Cuma luka di tangan saja...”, jawab Mas Faris berusaha menenangkan Ibuku.
“Gak papa apanya! Orang tanganmu remuk githu ko dibilang gak papa!!!”, ujar Ka Ayash kesal.
“Masya Allah, ko bisa Mas?”, tanyaku sedikit panik.
“Iya, tadi tuh Mas Faris coba ngelindungin akhwat yang mau dipukul sama aparat, eh jadinya malah kena pukul deh sama pentungan!”, kakakku malah yang menjawab.
Subhanallah, Mas Faris. Betapa tidak aku bertambah kagum padamu. Uh, kau benar-benar seorang lelaki sejati, Mas. Gak sia-sia aku menjadi sepupunya.
“Sudahlah, memang sudah takdir Allah kalo aku yang kebetulan menjadi pelindung mereka. Lagian, semua sudah terjadi...”, jawab Mas Faris.
“Terus, akhwatnya gak papa, Ris?”, tanya ibuku.
“Alhamdulillah, mereka baik-baik saja...”
Sungguh, akupun terkesima mendengar cerita masku yang satu ini. Duh, Mas Faris. Bagaimana aku tak selalu bertambah mengagumimu, karena begitu banyak alasan buatku untuk mengagumi pribadimu.
***
Tadi pagi Mas Faris mengabarkan kepada keluargaku, bahwa Ia akan diwisuda hari ini. Akhirnya setelah enam tahun berjibaku dengan tugas-tugas kuliah, sekarang ia bisa menikmati manisnya perjuangan itu. Meskipun tak lulus cumlaude, karena IPknya Cuma 3,35, tapi tetap saja Ia adalah orang hebat dimataku. Wong, lulusan Teknik Elektro ITB, IPk 3,35, gimana gak hebat!!!. Hmm, kudengar sebelum wisudapun beberapa perusahaan asing telah mengincarnya. Malah ada satu perusahaan Amerika yang berani menawarkan gaji yang lumayan besar bagi seorang fresh graduate, agar mau bekerja di perusahaannya. Tapi, Mas Faris tetaplah Mas Faris. Komitmennya begitu kuat untuk tidak mau bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang secara tidak langsung telah menjajah Indonesia. Akhirnya ia hanya bekerja pada sebuah perusahaan milik pribumi di daerah Batam.
Setelah beberapa bulan bekerja, Mas Faris dikirim ke Amerika untuk menunaikan tugas belajar. Mas Faris...betapa semakin hari aku semakin mengagumimu. Mendengar ceritamu ketika tiba di Amerika, ditahan di bandara selama tiga jam lamanya hanya karena membawa buku-buku bernafaskan islam, seperti tafsir Ibnu Katsir dan sebagainya, hati ini rasanya semakin tak dapat dikendalikan lagi olehku. Oh, Mas, aku tahu, aku tak akan pernah mungkin bisa menjadi pendamping hidupmu. Tapi, salahkah aku karena mencintaimu?
***
Tak terasa, sudah enam bulan lamanya Mas Faris berada di sana. Katanya bulan ini ia akan pulang. Wah, sepertinya hari kepulangannya akan berdekatan dengan pengumuman SPMB ku. Duh, aku tak sabar menunggu datangnya hari tu.
Dan Mas Farispun akhirnya datang berkunjung ke rumahku, setelah satu minggu kepulangannya. Sekarang sikapnya sudah sangat berbeda kepadaku. Ia sudah tak mau lagi bercanda denganku, bahkan menatap wajahku pun tidak. Sepertinya ia menjaga jarak denganku. Entah karena aku yang sekarang sudah bertaransformasi menjadi seorang akhwat, ya, benar-benar akhwat sehingga mas faris terlihat begitu menjaga dirinya. Duh, aku tahu Mas kalo kita harus menjaga pandangan karena kita bukan mahram. Akan tetapi, aku belum siap, Mas kehilangan candaan dan senyuman manismu. Oh, Rabbi...salahkah aku jika mencintainya?
***
Hari pengumuman SPMB pun tiba. Alhamdulillah, aku diterima di Teknik Sipil ITB. Aku bangga karena akhirnya aku bisa satu almamater dengan Mas Faris, meskipun sekarang ia sudah lulus, namun setidaknya aku akan mempunyai bahan obrolan ketika bertemu dengannya. Rasanya sudah tak sabar aku ingin memberitahunya.
“Assalamu’alaikum...Mas Faris apa kabar? Lagi di mana, Mas? Di Bandung atau di Batam?”, sapaku dengan nada riang.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah, Alhamdulillah baik, Dek. Sekarang Mas udah pindah ke Bandung ko. Eh, gimana hasil SPMB mu?” , tanyanya.
“Alhamdulillah, Mas. Aku diterima di Teknik Sipil ITB. Kita satu almamater deh jadinya. Sayang sih, Mas udah lulus, hehehe...!”, candaku.
“Wah, Subhanallah...Hari ini ternyata ada dua kebahagiaan yang hadir!”
“Ehmm...Maksud Mas apa?”, tanyaku tak mengerti. Ahh, suasana hatiku tiba-tiba berubah drastis, ahh mudah-mudahan hanya perasaanku saja yang tak enak.
“Iya, Dek. Alhamdulillah sebentar lagi kamu akan punya Mbak, insya Allah akad nikahnya bulan depan”, Mas Faris terdengar nampak ceria.
Deg, jantungku tiba-tiba serasa berhenti. Hatiku begitu kacau, “Maksudnya, Mas akan...”, aku tak sanggup meneruskannya.
“Iya, Mas sudah menemukan calon pendamping. Akhwatnya calon Hafidzhoh loh, Dek! Sudah hafal 20 juz, Subhanallah Ya?” Ia terdengar begitu bahagia.
Tiba-tiba napasku sesak. Ingin rasanya aku menangis mendengar berita itu, namun aku sadar, aku tak pantas menangisi sesuatu yang memang bukan merupakan hakku. Sejak dahulu aku sudah sadar, bahwa Mas Faris pasti akan mendapatkan pendamping yang setara dengannya, bahkan lebih. Ya, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Kutarik napas dalam-dalam. Aku mencoba mengontrol suaraku agar tak terdengar seperti suara orang yang menahan tangis. Kucoba tegar menghadapi kenyataan ini, dan perlahan kuucapkan, “Selamat ya Mas, semoga mendapat keberkahan dari Allah...”.

Depok, 19 Mei 2008 pukul 21:43 WIB
Direvisi tanggal 16 januari 2009