Sunday, 20 December 2009

Lengkung Pelangi Seorang perempuan

Aku, masih tergugu dalam kelamnya malam ini. Tergugu kaku, setiap malam, menghadapi semuanya sendiri. Oh, dengan sebuah titipan indah di rahimku. Sendirian dalam terror yang tak kunjung reda. Sendiri, tanpa penopang di sisi. Namun kutahu, Allah akan selalu ada, bersamaku.
Aku, hanyalah satu dari sekian ratusan wanita palestina yang telah menjadi janda. Ya, tentara zionis itu telah merenggut sejumput kebahagiaan dariku. Aku hanya bisa mencecap sedkit asa, sedikit asa ketika Yahya masih berada di sampingku. Sedikit asa ketika semuanya terlihat begitu indah. Begitu indah di tengah negeri yang masih terjajah.

Yahya, laki-laki yang tak pernah ku sangka akan menjadi suamiku. Ia, termasuk salah satu orang penting dari barisan Al-Qassam. Yahya, mampu membuatku menjadi wanita seutuhnya. Memuliakanku dengan kesantunan dan kesalehannya. Yahya, yang keras dalam sebuah jalan panjang pembebasan namun sangat lembut ketika memperlakukan seorang manusia. Yahya, yang dengan keberaniannya melamarku untuk hidup mendampinginya. Padahal ia tahu, aku juga adalah seorang wanita yang keras. Namun, Allah telah menakdirkanku untuk menjadi bidadari di hatinya.

Hari-hari pun kemudian kami lalui dengan penuh suka di tengah terpaan duka yang terus melanda tanah ini. Tadinya kupikir tak akan terlalu sulit mendampinginya karena kami mempunyai satu cita. Namun panjangnya jalan perjuangan ini membuatku kadang terhempas juga. Terhempas oleh keputusasaan ketika harus merelakan ia pergi untuk berjuang. Aku tahu itu tak boleh. Aku kembali mempertanyakan kemana semangatku dahulu yang dengan lantangnya aku serukan bahwa aku akan menafkahkan jiwaku dan keluargaku dalam perniagaan denganNya.

Aku memang hanyalah seorang wanita biasa. Tapi aku terlahir sebagai seorang wanita palestina. Wanita yang harusnya tegar menghadapi kenyataan bahwa dipundaknyalah semua harapan akan kemerdekaan terbentang. Wanita yang harus ikhlas ketika melihat suaminya terbujur kaku di tengah deru pesawat dan bom yang mendera. Maka aku tak boleh payah oleh nestapa. Aku harus menghadapi ini walaupun dengan tertatih. Ya, minimal aku harus kuat agar penerus perjuangan dapat terlahir dari rahimku ini.

Ah, janinku rasanya mulai tak sabar ingin keluar walaupun ia telah digariskan terlahir di tengah desingan peluru dan aroma kematian. Ya, walaupun begitu aku akan bahagia. Setidaknya aku akan menyumbangkan seorang jundi penegak agamaNya. Dan kemudian menuntaskan perniagaanku denganNya. Meski tangis tertahan sesak di dada menghadapi semua kenyataan ini, namun ketika aku mendengar suara bayi pecah di lorong rumah sakit ini, setidaknya aku bisa mengukir lengkung pelangi di tengah sejuta nestapa yang kelak akan datang menghadang.

Depok, 20 Desember 2009
17.37 WIB

Monday, 26 October 2009

Coping... di masa UTS

Jiah,,,UTS masih saja berlangsung...
stress dengan tugas dan beban bahan yang harus dipelajari? tentunya!
tapi...tapi...tenang, sekarang saya sudah mengidentifikasi coping mana yang paling efektif untuk diterapin....

  1. Masak, hahaha. coping terbaru yang baru dicoba akhir-akhir ini. gak tau entah kenapa tiba-tiba acara memasak di kosan menjadi suatu keasyikan bagi diri saya. padahal mah jangan harap kalo di rumah saya mengerjakan kegiatan yang satu ini. abis beda aja kalo di kosan tuh lebih bebas berkreasi. kalo di rumah mah udah jiper duluan sama Ibu. hehe, yang ada malah dibilang gerecokin ibu masak aja....
  2. nyanyi-nyayi lagu yang enerjik. tapi kadang lagu yang melow juga iya sih. sampe-sampe pernah dikira lagi konser di kosan sama ka dewi, haha. ini mah jenis coping yang kurang baik
  3. baca surat Favorit. yup, ini coping yang sebenernya paling baik, apalagi kalo bukan baca Al-Quran. My Favorite surah...Maryam, Ar-Rahman, dan As-Shaff
  4. Jalan-jalan muterin UI. ini sih tapi dilakuin pas ada di UI aja. tergantung mood. bisa naik bis kuning dengan arah yang gak jelas atau sepedaan sendirian aja

Yah, apapun itu, setidaknya bisa ngurangin tekanan stress yang lagi melanda lah...oh iya, Ng-mPy pun bisa jadi coping yang baik deh keknya...asal jangan keterusan aja suh, hihihi....

Nah, itu kan cara coping saya nieh...kalo Anda?????

Saturday, 24 October 2009

hanya manusia biasa

aku tahu semua ini akhirnya akan terjadi. sungguh, akupun sadar saat semaian rasa ini hadir. sadar akan semua konsekuensi yang nantinya mungkin akan aku dapatkan. salahku atau salahnyakah? entah... aku juga tak mengerti... dan akhirnya aku sedang menari di atas luka ini...



Penasaran apa yang sebenarnya terjadi??
tunggu cerita selengkapnya dalam serial Khanza yang akan segera hadir kembali,hehe (ngiklan mode: on)

Wednesday, 21 October 2009

welcome back to MP

Hihihi, udah lammmaaaaaaaaaaaa..... banget rasanya gak buka MP... iseng ah iseng, lama-lama kangen juga curhat di blog, hehe... lagi UTS nih, niatnya mau ngerjain essay ADD eh malah asyik masyuk berinternet ria di labkom (maap deh, self regulasinya hari ini kurang baik)

banyak kejadian yang oke dan penuh hikmah terjadi di semester ini...

betapa menyesal akan sesuatu hal yang kita pilih itu gak akan guna sama sekali. so, bagaimana caranya biar jadiin nasi yang udah jadi bubur biar jadi tambah enak...

betapa mengharap sesuatu secara berlebihan itu gak baik sama sekali. karena kalo udah terbang tinggi terus terhempas jatuh..uhh, sakitnya bukan main..

betapa menjadi inferior itu bukan suatu hal yang memalukan. But, ini jika inferiornya gak kelamaan. kalo gak bisa bangkit baru namanya memalukan. dan saya sedang belajar mengatasi segala macam keinferioran diri. gak perlu ngebanding-bandingin diri dengan orang lain. karena kalo kata teh Heggy kita akan kuat dengan cara kita

betapa rasa sayang yang berlebihan itu kadang gak baik. karena justru malah bisa menghambat perkembangan kemampuan diri. maka, untuk kakak-kakak dan para teman secohort, hehe. jangan terlalu memanjakan saya ya. nanti saya gak berkembang-kembang betapa sebuah keihkhlasan itu MAHAL harganya, terlebih jika yang memintamu sebelumnya telah menancapkan sebuah paku di hatimu. Kata maaf, insya Allah selalu ada. namun sepertinya "bekas"nya akan sulit untuk dihapuskan.

betapa rasa sayang dari seorang kakak itu amatlah besar (hal itulah yang saya rasakan). bayangkan, walaupun agak sering membuat sedikit rusak barang-barang yang ia hibahkan ke saya (ex: HP yang sering saya jatohin, MP5 yang gak bisa di cash karena cashannya yang rusak, dan laptop yang tergores-gores) namun tetap saja ketika saya butuh laptop pengganti (karena laptop yang ini mau di service) ia tetep saja dengan rela ,meminjamkan laptopnya demi penyelesaian tugas essay pengganti UTS

betapa kekhawatiran ibu merupakan tanda cinta bagi anaknya. kemarin, ibu pikir saya akan pulang ke rumah hari itu. beliau pun menyiapkan makanan kesukaan anak petempuannya ini. dan ternyata ibu salah mengira karena pada kenyataannya saya bilang akan pulang kamis ini (dan ternyata jadinya jumat deh)

dan betapa peneguran itu merupakan sebuah bentuk tanda cinta pula. karena merupakan sebuah hak bagi seorang saudara untuk mendapat teguran ketika berbuat salah. namun terkadang kita begitu enggan untuk menegur karena expectasi yang berlebihan pada saudara kita (ah, dia juga pasti tau kalo dia salah) atau karena alasan cinta (ah, nanti kalo saya tegur dia marah lagi. saya kan gak mau marahan sama dia). padahal sekali lagi, saudara kitapun terkadang juga butuh diingatkan....

 

Udah ah... cukup-cukup...balik lagi ngerjain papper... SEMANGAT!!!!

Tuesday, 23 June 2009

asmaku dalam naungan surga (bag 2)

Kutahu pilihan dan keputusan Allah pasti selalu yang terbaik

Malam telah larut. Ya, lagi-lagi aku terpaksa pulang malam hari ini. Sore tadi tiba-tiba salah satu teman lingkar kecilku mengabarkan, ia dirawat di rumah sakit karena kecelakaan yang dialaminya tadi siang. Huff, untungnya tak ada luka serius yang menimpanya. Beruntung karena aku saja bergidik ngeri melihat mobilnya yang rusak parah.

Dua cahaya kecilku pasti sudah tidur. Aku mendatangi  kamar mereka setelah mandi dan menunaikan shalat isya. Kamar Asma dan aisha masih kusatukan tapi dengan dua tempat tidur yang berbeda tentunya, sesuai dengan tuntunan Rasul. Meskipun mereka satu jenis kelamin, tapi tetap tak boleh berada di dalam satu selimut. Maka mas fathi dan aku memutuskan untuk memisahkan tempat tidur mereka sedari kecil.

Perlahan aku membuka pintu kamar mereka agar tidak mengeluarkan denyit. Aish kecilku tampak terlihat pulas. Namun sebuah suara kemudian menyapaku…”bunda udah pulang…”

Ahh, asmaku, ternyata ia belum tidur. Aku menghampirinya kemudian membelai rambutnya yang panjang. “asma gak marah kan sama bunda karena hari ini bunda gak nepatin janji?”

Asma tersenyum, ahh senyumnya manis mewarisi senyum ayahnya. “kenapa asma harus marah sama bunda? Bunda kan berbuat kebaikan?”

Jawaban itu sungguh melegakan hatiku. Aku takut asma mempunyai pikiran seperti dani. Ya, aku baru tahu mengapa dani sering membolos akhir-akhir ini. Penyebabnya Ia ingin diperhatikan oleh orangtuanya. Orangtuanya sering melanggar janji yang diucapkannya karena kesibukan kerja yang membelenggu mereka. Maka dani membolos dengan harapan orangtuanya lebih memperhatikan dirinya. Aku baru melihat dani menangis siang itu. Dani, anak lelaki yang berumur 17 tahun itu menangis seperti anak kecil.  Ia menangis karena merasa tidak diperlakukan sebagaimana anak diperlakukan oleh orangtuanya.

Ohh…terima kasih Allah karena Engkau telah menitipkan dua cahaya ini padaku….

“Bunda…bunda jaga kesehatan ya?  Bunda jangan sampai sakit. Kasihan dek aish nanti kalo bunda sakit gak ada yang jagain…”

Aku menatap asma, tak biasanya ia berkata seperti itu. Padahal ia sering menenangkanku dengan pernyataan kesediaannya untuk selalu menjaga aish.

“aku sayang sama bunda…”, asma kemudian merengkuh tubuhku. Memelukku dengan erat…erat sekali.

“aku juga sayang dirimu cahaya hatiku….”, kukecup dahinya. Ahh, entah mengapa tiba-tiba aku merasa seperti akan berpisah sangat jauh dengannya.

“udah, bunda istirahat. Bunda pasti capek kan? Asma juga mau tidur. Ngantuk bunda…udah lima watt nih matanya”, ia terkekeh. kuacak-acak rambutnya dan kemudian aku mencium keningnya.

 “Iya….selamat tidur ya sayang. Semoga mimpi indah. Jangan lupa berdoa ya!”

 

***

Aduh, kepala asma pusing sekali. Sepertinya berat sekali untuk bangun. Duh, gak boleh lemah asma. Kamu harus kuat. Jangan ngerepotin bunda, kasian bunda udah banyak kerjaan.

“Pagi sayang…” sapa bunda pada asma di dekat meja makan.

“Pagi bunda…” jawab asma sembari menahan sakit kepala ini.

“bunda asma mau bangunin dek aish dulu ya…”, asma kemudian bergegas menuju kamar untuk membangunkan dek aish.

“Adek  udah bangun ko, kak”, suara kecil dek aish menghentikan langkah asma.

“Hmm, anak pintar. Tuh Bunda… berarti gak perlu kak asma lagi kan untuk ngebangunin dek aish?”

 

***

Deg.

Lagi, mengapa pernyataan asma kali ini membuatku gusar kembali. Mas Fathi andai kau ada di sini pasti aku akan membagi kegusaran ini denganmu. Uhh, gak boleh Zahra, kamu gak boleh ganggu mas Fathi dulu. Ia sedang bertugas menjalankan amanahnya.

 

***

Duh, kepalaku masih terasa pusing. Berat sekali rasanya. Hmm, tapi aku gak boleh mudah ngeluh. Kasian pasti nanti bunda cemas kalo aku ceritain rasa pusing ini. Ahh, paling bentar lagi juga sembuh. Ayo asma kamu pasti kuat! Kamu kan bukan anak yang manja dan lemah.

 

***

Allah, mengapa hari ini aku sangat gelisah. Uhh, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mas Fathi. Ohh, Allah lindungi suamiku dalam perjalanan pulangnya menuju depok.

 

***

Huff, Alhamdulillah akhirnya selesai juga amanahku dalam dauroh kali ini. Rindu sekali rasanya dengan Zahra, serta dengan dua princess kecilku, asma dan aisha. Hmm, tapi sepertinya aku sangat merindukan asma kali ini. Uhh, asma…ayah bawain oleh-oleh gamis dengan warna biru kesukaanmu loh. Pasti ia akan sangat senang menerima ini. Tidak sabar rasanya melihat senyum manisnya yang pasti akan merekah indah menghiasi wajahnya.

 

***

Allah…kepala asma pusing banget. Duh, asma gak kuat rasanya. Pengin cepet-cepet sampai di rumah terus tidur. Allah, jangan sampai sakit ini ngebuat bunda dan ayah sampai repot.

 

***

Alhamdulillah, hari ini aku bisa sampai rumah di pukul 4 sore. Hmm, kangen juga udah lama gak jalan-jalan sore bareng asma dan aish.

Rumah sepi. Kemana  gerangan dua cahaya hatiku?

Aku kemudian menuju kamar mereka. Kulihat asma tertidur, tak biasanya ia tertidur sampai lewat waktu ashar. Aku mendekatinya. Ahh, mengapa wajahnya begitu pucat? Kupegang dahinya. Allah…. Mengapa panas sekali. Ada apa dengan asma kecilku?

Aku mengguncang-guncang tubuh asma, sembari memanggil-manggil namanya, “Asma…asma….bangun nak?”. Namun asma tak bangun jua. Aku panik. Benar-benar panik. Cahayaku, ada apa denganmu, Nak?

“Bi Imah… Pak Yasir….!” Aku berteriak memanggil dua khadimatku. Tergopoh-gopoh mereka datang memenuhi panggilanku.

Tanpa sempat mereka mempertanyakan, aku langsung memberikan komando, “Pak Yasir, cepat keluarin mobil, kita akan ke rumah sakit bunda. Bi imah, tolong cari aish, segera nyusul begitu aish ketemu.”

 

***

Aku tak sempat menginjakkan kakiku di bumi cimanggis karena telepon Zahra yang menyuruhku untuk segera datang ke rumah sakit Bunda. Asmaku, ia terbaring lemah. Terserang DBD kata dokter. Ohh, Allah, sembuhkan Asmaku, sembuhkan princess kecilku…

 

***

Ohh, aku merasa menjadi ibu yang gagal yang tidak peka terhadap anaknya. Dokter bilang asma sudah terkena DBD di titik yang sangat kritis. Allah, mengapa ia tak pernah bilang tentang sakitnya ini. Mengapa  Allah… mengapa asmaku harus menderita penyakit ini?

 

***

Hmm, dimana asma? Asma tak mengenal tempat ini?

Ohh, tapi asma mendengar lantunan merdu tilawah bunda. Tenang sekali rasanya. Ahh,  asma juga mendengar suara ayah. Mengharukan dan sangat dalam. Ayah dan bunda teruslah mengaji seperti ini. Asma merasa tentraaam…. sekali mendengarnya.

 

***

Tak ada tanda-tanda keadaan asma membaik. Bahkan kata dokter tadi kondisinya semakin parah. Pembuluh darah asma terancam pecah karena DBD yang sudah berada di titik puncaknya.

Kulihat Zahra, ahh aku tahu hal ini pasti sangat menyiksanya. Ibu mana yang tega melihat penderitaan anaknya seperti ini. Seluruh badan asma sudah dipenuhi alat-alat medis.

Zahra masih terus saja melantunkan surah yasin di telinga asma. Sesekali diiringi juga dengan isak tangisnya. Allah, aku sungguh tak tega melihat dua orang wanita yang kucintai harus mengalami keadaan ini.

 

***

Suara bunda masih asma dengar melantun dengan indahnya. Akan tetapi, asma mendengar bunda juga menangis. Allah, asma gak mau bunda menangis gara-gara asma. Maafin asma ya bunda karena udah ngerepotin dan membuatmu menangis. Allah, asma gak mau ngerepotin bundaa….

 

***

Allah, kuikhlaskan asma jika memang Engkau menghendakinya demikian. Sungguh, aku sangat  tak tega melihat cahaya kecilku menderita seperti ini. Nak, jika boleh aku menukar, maka lebih baik aku yang berada dalam posisimu ini.

Allah… berikan yang terbaik untuk asmaku.

 

***

Pukul 3 dini hari

Aku masih terlarut dalam sujud panjangku malam ini. Memohon agar Allah memberikan keputusan yang terbaik untuk asmaku. Zahra lalu datang menghampiriku di mushola rumah sakit ini. Ahh, semoga ia datang dengan membawa kabar terbaik.

asmaku dalam naungan surga...(bag 1)

Suara hati – karena sebenarnya aku rindu

Pagi ini kembali kulihat jadwal dalam agendaku. Hmm, ternyata ada dua kajian yang mesti aku isi hari ini. Siang ini di sebuah majelis ta’lim, dan sorenya mengisi di sebuah kajian keputrian di SMA.

Huff, sepertinya hari ini pun tak ada waktu untuk dua cahaya hatiku. Ahh, tak…tak…tak boleh mengeluh karena ini adalah jalan yang telah kupilih.

Aku lalu berjalan menuju dapur. Seperti biasa bersiap mempersembahkan bekal special untuk dua cahayaku, ahh…dan tentu saja  juga untuk pangeran hatiku. 

“bunda, kali ini bekal untuk asma apa?”, sebuah suara lembut menyapa di tengah aktivitasku mencincang potongan Bombay.

Asma menarik-narik gamisku, ia hendak melihat olahan bahan bekal yang berada di atas meja.

“bunda mau bikin spaghetti  untuk bekal hari ini sayang….”

Mata kubilnya mengerjap, ia kemudian memainkan lidahnya, menyapu bibir atasnya lalu berkata, “Hmm, pasti sedap….”

Aku kemudian mengacak rambutnya, “cahaya hatiku, bunda bisa minta tolong?”

Asma mengangguk kecil.

“Tolong bangunin dek aish ya… sekalian temenin dia mandi, kamu minta bantuan sama bi imah ya sayang…”

“Oke bos…” celoteh asma riang sambil mengacungkan jempolnya.

Ya, aku memang membiasakannya untuk mengasuh adiknya. Tak sepenuhnya mengandalkan khadimat (pembantu), agar tali kasih tumbuh makin erat di antara mereka.

Yap, hal ini aku terapkan karena aku ingin kedua cahaya hatiku mandiri sejak kecil. Dari dahulu khadimat kuanggap sebagai orang yang hanya benar-benar membantu. Sejatinya memang akulah yang menjadi pelaku dalam rumah tangga ini.

Saat asma lahir, akupun berusaha untuk mengasuhnya sendiri sampai batas waktu cutiku habis. Profesiku sebagai seorang guru BP memang memungkinkanku untuk mengasuh cahaya hatiku di siang harinya. Meskipun terkadang panggilan dakwah kerap mengambil waktuku di saat seharusnya aku  bercengkrama dengan mereka. Bukan suatu halangan memang, karena aku berhasil memainkan peranku sebagai ibu dengan baik. Buktinya tak pernah ada protes dari dua cahaya hatiku ketika bundanya tak dapat menemani hari-hari mereka, bahkan saat umur asma telah menginjak angka 11 tahun dan aisha yang berusia 6 tahun. Komunikasi yang baik yang menjadi kunci utamaku. Walaupun terkadang mereka protes saat aktivitasku sudah melampui batas. Namun aku senang, karena mereka telah memahami aktivitasku dan mas Fathi yang memang berada di atas jalan kebenaran.

***

Asma senang karena hari ini bunda ngebuatin spaghetti untuk bekal. Uhh, masakan bunda emang selalu ngebuat lidah asma merasa ketagihan. Asma kagum sama bunda, di tengah aktivitasnya yang padat bunda masih sempat membuatkan sarapan plus bekal buat ayah, asma, dan dek aish. Bunda juga selalu menyempatkan waktu untuk bercerita dan menanyakan aktivitas kami menjelang tidur.

Bunda asma emang wanita hebat. Pantes aja banyak orang yang selalu minta nasihat sama bunda. Bunda orang yang amat bijak. Bunda gak pernah ngebentak dan marahin asma walaupun terkadang asma udah ngelakuin kesalahan. Bunda sabar… banget ngadepin asma dan dek aish. Pokonya asma sayang bunda. Asma akan selalu nurutin apa kata bunda karena perkataan bunda yang emang selalu benar. Bunda selalu mempersembahkan yang terbaik buat asma dan dek aish. Makannya asma malu kalo berperilaku manja sama bunda. Asma gak mau ngerepotin bunda. Kasian bunda, banyak kerjaan yang menunggunya. Hmmm, asma juga harus ngajarin dek aish agar bisa mandiri dan gak ngerepotin bunda. Aku dan dek aish sayang… banget sama ayah dan bunda. Makasih Allah udah ngasih ayah dan bunda yang baik buat asma dan dek aish.

***

Aroma tumisan bawang mengharum di area sekitar dapur rumahku. Ahh, ini pasti masakan Zahra, isteriku tercinta. Ya, wanita yang telah kunikahi empat belas tahun silam. Susah juga awalnya meyakinkan dia untuk mau menikah denganku di tengah kesibukan pembuatan skripsinya. Akan tetapi dengan sedikit usaha dan doa akhirnya Zahra luluh juga. Yup, aku meyakinkannya bahwa pasti kami akan dapat membangun sebuah madrasah peradaban di tengah amanah yang sedang dijalaninya. Meskipun pada kenyataannya aku menikahinya 3 hari pasca sidang skripsinya.

Proses yang kami jalani memang terbilang unik. Aku dan dia adalah senior dan junior saat di SMANSA depok. Dan kami berdua adalah lulusan dari satu almamater yang sama. Namun kami baru kenal ketika tergabung dalam satu wadah alumni SMA. Dan baru benar-benar berkenalan di saat proses ta’aruf dahulu.

Zahra memang tak secantik viola (akhwat jurusan yang sempat aku taksir saat kuliah). Akan tetapi pribadinya memalingkan duniaku. Mungil dengan percaya diri yang tinggi. Dan menurutku ia memang wanita yang tepat untuk menjadi madrasah pertama dan yang utama bagi anak-anakku kelak. Kutahu dari teman-temannya, Zahraku adalah wanita yang aktif dan sangat kritis ketika di kampus. Akan tetapi ia bisa menjadi sangat lembut dan penyayang jika sudah berhubungan dengan dunia anak-anak. Dan terbukti, ia dapat memainkan perannya dengan baik di tengah seabreg aktivitas yang digelutinya. Ia sangat mandiri, sampai-sampai kedua princess kecil ku pun sekarang sudah mulai menunjukkan kemandiriannnya. Hal itu tentu saja karena bundanya yang mengajarkan mereka untuk berlaku demikian.

***

Hufff, aku menghela nafas lagi. Yup, yup…hari ini ternyata banyak kasus yang harus aku tangani. Hmm, ikhlas…Zahra…ikhlas. Memang ini bukan yang kau inginkan? Mencoba membantu menyelesaikan masalah yang menimpa anak-anak “istimewa” ini?

Aku membuka buku agenda. Tertera dengan jelas bahwa aku menjadwalkan bertemu dengan orangtua Dani hari ini. Sudah dua hari dalam minggu ini Dani bolos sekolah. Sebenarnya ia bukan tipe anak pembangkang menurutku. Prestasinya cukup baik, termasuk 10 besar umum di sekolah. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini penyakit bolosnya sering kambuh. Kemarin, aku sudah mencoba berbincang dengannya. Tapi dani bungkam. Ia  masih enggan menceritakan penyebab dibalik perilaku bolosnya itu. Maka akhirnya kuputuskan untuk memanggil kedua orangtuanya.

***

Yiee….hari ini Asma berhasil dapet 100 lagi di ulangan matematika. Alhamdulillah, bisa ngasih hadiah lagi buat ayah dan bunda hari ini. Padahal ulangannya lumayan susah. Cuma sekitar 40 persen loh siswa yang dapet nilai di atas enampuluh. Tapi asma kemarin belajar mati-matian, sambil ditemanin bunda tentunya. Asma ngutak-ngatik soal matematika sedangkan bunda larut dalam pekerjaannya. Gak papa, yang penting bunda ada di samping asma. Kalo ayah di rumah, pasti ayah juga nemenin asma. Sayangnya ayah lagi gak ada, lagi keluar kota. Ahh, kalo ayah teman-teman asma keluar kota karena dinas, tapi kalo ayah keluar kota karena harus ngisi dauroh. Hehe, ayah asma kan penjual bakso, jadi mana mungkin ke luar kota karena dinas. Wong warung cabangnya aja baru punya 4, dan itu adanya di daerah depok dan Jakarta doank, hihihi. Bakso ayah enak loh…! Resep khusus dari Kendal.

***

Sudah pukul 14.00. tiga puluh menit lagi waktunya asma dan aisha pulang. Duh, aku gelisah, sepertinya hari ini aku akan gagal lagi menjemput mereka ke sekolah. Padahal aku sudah rindu menjemput mereka. Orangtua Dani tadi cukup lama berbincang denganku sehingga jadwal mengisi kajian pun terpaksa kumolorkan  selama satu jam. Untungnya para akhwat ini maklum. Tapi imbasnya lagi-lagi aku tidak dapat menjemput asma dan aisha di sekolah. Maafin bunda ya dua cahaya kecilku….

***

“Kak…bunda gak jadi jemput kita ya?”, dek aish terus saja memberondong asma dengan pertanyaan ini. Tadi pagi bunda memang telah berjanji untuk menjemput kami karena katanya kajiannya hanya akan berlangsung sampai pukul 2 siang ini. Hmm, tapi 5 menit yang lalu asma menerima sms dari  bunda. Bunda meminta maaf bahwa kali ini ia tak dapat menepati janjinya. Hanya Pak Yasir yang akan menjemput kami lagi.

“bunda lagi nolong orang,dek. Makannya bunda gak bisa jemput kita…”, asma gak bohong kan sama dek aish? Emang bener bunda sedang menolong orang untuk mendapatkan kebenaran lewat kajian yang diberikannya kan?

Dek aish menunduk tapi sesaat kemudian matanya berkeliling. Tiba-tiba ia menunjuk seorang ibu dan anaknya yang tengah bergandengan tangan, mesra sekali.

“Ko, kita jarang bisa kayak gitu ya ka sama bunda…”, suara dek aish terdengar lirih hingga menyayat lubuk hati asma yang paling dalam.

Duh, dek aish… kak asma sebenarnya juga rindu dengan bunda. Akhir-akhir ini bunda emang terlihat sibuk banget. Bahkan kak asma sampai tak tega melihat wajah kisutnya saat sampai di rumah ketika rembulan sudah bertengger di peraduannya.

 Asma menarik nafas, mencoba mengumpulkan segenap kekuatan asma. Asma gak boleh lemah, asma harus tetap berada di sisi dek aish. Jangan sampai ia merasa kesepian. Asma memeluk dek aish yang tingginya hanya  setengah dari asma.

“Kamu harusnya bangga dek, punya bunda yang hebat, yang disayangin banyak orang…” asma mencoba menghibur dek aish.

Asma lihat kemudian mata dek aish berbinar. Nampaknya kata-kata asma membuatnya sedikit lega. Yup, bunda memang termasuk salah seorang ustadzah yang terkenal di lingkungan kami. Bahkan teman-teman dek aishpun sangat mengidolakan bunda karena keahlian bunda yang pandai mendongeng. Ya, bunda waktu itu pernah menjadi salah satu pengisi acara dalam festival sekolah kami.

Ahh, bunda hanya ini yang bisa asma lakukan untukmu.

 

-puti ayu setiani-

Friday, 5 June 2009

Sebuah Naungan keberkahan di Wisma Barokah



Dahulu, butuh perjuangan dan kesabaran untuk memasuki wisma ini. Kos-kosan yang terletak di salah satu gang yang ada di jalan margonda. Rumah sederhana dengan cat krem dan coklat pada kusen pintu dan jendelanya. Yup, itulah wisma Barokah. 

Jika kau datang ke Wisma ini kawan, maka kau akan disambut oleh aura ketenangan di wisma ini. Mereka yang datang pertama kali ke wisma ini akan merasakan betapa nyamannya berada di wisma ini.

Selama aku berada di wisma ini, canda, tawa, bahkan duka selalu menemani hari-hari penghuninya.

Ada kehangatan, persaudaraan yang begitu erat, kasih sayang yang mungkin tak akan aku dapatkan di kos-kosan lainnya.
Apalagi saat Ramadhan. Ya, meskipun aku baru melewati satu Ramadhan di wisma ini, namun kuharap keberkahan ini akan terus berlanjut di malam-malam Ramadhan berikutnya.
Maka, ketika bulan Ramadhan tiba, kau akan mendapatkan kami sahur bersama di depan ruang TV. Saling membangunkan sahur antara satu penghuni dan penghuni lainnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah di depan TV. Sempat aku mengusulkan untuk mengadakan kultum setelah shalat, hehe. Tetapi hal tersebut masih belum dapat terealisasikan.

Lalu, saat tarawih, kami akan pergi bersama-sama ke MUI. Dan saat malam sepuluh terakhir akan segera tiba, maka kami akan disibukkan untuk memutuskan kemana kami akan beritikaf.

Namun kawan, hal tersebut tak hanya terjadi saat hari-hari di bulan Ramadhan. Semua hari di wisma Barokah adalah hari-hari seperti Ramadhan. Ketika kami memang berkumpul di kosan, shalat Jamaah adalah hal yang akan kami lakukan. Saling terbangun untuk shalat Lail, dan saat senin-kamis pun adalah hari puasa bagi sebagian penghuninya.

Yup, itulah kos-kosanku. Maka aku tak akan pernah melupakan acara masak nasi goreng bersama di dapur. Terkadang aku yang memasakkan untuk mereka, namun terkadang pula mereka yang memasakkannya untukku. Di sini, kami sudah seperti keluarga. Jika ada yang sakit, maka secara otomatis semua akan bergantian merawat si sakit. Entah itu menyiapkan secangkir teh hangat, membelikan makan sampai merekomendasikan dan membelikan obat apa yang harus diminum. Dan saat ada yang belum pulang saat jam menunjukkan pukul 8 malam, maka kami akan mencari tahu kemana gerangan perginya ia.

Atau ketika ada yang sering meminum kopi atau makan mie instant, pengingatan sebagai tanda cinta langsung akan menghujam si tersangka.

Yap, itulah kos-kosanku. Ada Fariz, ka de2w, aku, teh yunda, teh anis, teh Rayi, Adel, Inez, Mba Debi, Mba Deli, Nurul, ka Dewi, dan mba yang selalu merawat wisma ini, mba Iis. Orang-orang baik dan menyenangkan. Ahh, semoga meskipun akan ada yang pergi dan yang datang di wisma ini, naungan keberkahan itu tetap akan ada di wisma ini. Ya, hal yang sangat aku syukuri…Sebuah Naungan Keberkahan di Wisma Barokah.



Thursday, 28 May 2009

Cukuplah pahami bagaimana cara saudaramu mencintaimu…

Cinta....
kata yang indah dan pasti disukai oleh kebanyakan manusia...

Dan kupikir tiap manusia mempunyai caranya sendiri untuk mengekspresikan cintanya...

maka disetiap larangan itu pasti ada cinta...
seperti masku yang melarangku memajang foto pada profile picture di tiap jejaring sosial yang aku miliki...Ya, itu dia lakukan karena ia mencintai adiknya yang bandel ini. 

maka disetiap perhatian itu ada cinta...
seperti perhatian ka dewi yang sering membuatkan nasi goreng di pagi hari sehabis ku berjibaku dengan segunung cucian
atau seperti perhatian kakak-kakak yang menyuruhku untuk tidak pulang malam karena khawatir dengan kemampuan menyebrangku yang berada pada level rendah...

maka di setiap teguran itu da cinta...
seperti teguran-teguran yang sering dilontarkan ka niso saat aku berperilaku terlalu lebay...

maka di setiap nasehat itu ada cinta...
seperti nasehat yang sering diberikan oleh ka tery...dengan kata-kata bijaknya, dengan segala kelembutannya. tak menyalahkanku...tapi menyadarkanku...

maka di setiap panggilan aneh itu ada cinta…
seperti teman-teman peerku yang memanggilku putimen…
atau seperti dea yang memanggilku cibuy…
atau seperti ke de2w yang memanggilku tembem
atau seperti iza yang memanggilku anak ayam
atau seperti kakak-kakakku yang lain yang memanggilku anak kecil…

maka di setiap “kekerasan” itu ada cinta…
seperti cubitan-cubitan yang selalu mampir pada pipi tembamku..
atau seperti “tabokan”ka kirun yang kadang menyakitkan, hehehe

maka di setiap tatapan mata itu ada cinta…
seperti tatapn sinis ka ira…hehehe, kalo ngeliat aku mulai melewati batas…

maka di setiap diam itu kuyakin ada cinta…
Ya…seperti seorang tetehku di kala itu…
Yang mendiamkan ku…ketika menurutnya aku telah berbuat kesalahan…
Ya, karena ia ingin aku mernyadari kesalahan itu…
Karena ia ingin aku merenungi kesalahan itu…


Maka…
Cukuplah pahami bagaimana saudaramu mencintaimu…
Hingga tak perlu ada lagi duri-duri yang menancap dalam bunga ukhuwah ini….




Tuesday, 26 May 2009

bingung....kecewa...ah, entahlah...

Arghh.....

Entahlah...

Minggu ini bener-bener ujian bagi hati.....

sangat merasa kecewa....

sakit....

tapi bingung karena ini hanya sekedar rasa empati...

Ahhh....entahlah...

gak jelas...

Ka Tery......TOLONG AKU.....!!!!!

Friday, 15 May 2009

Kasih Ibu Secantik Mutiara

“Emang ibu gak percaya kan sama aku…emang ibu pilih kasih kan sama aku!”“Brakkk…!!!, Ara membanting pintu kamarnya . untuk yang kedua kalinya dalam minggu ini ia bertengkar dengan ibunya. ‘emang ibu pilih kasih, sayangnya sama mas doank…apa-apa aku gak boleh, ah apa mungkin ya aku anak pungut? Jadinya ibu lebih sayang sama Mas Bagas’. Ara kembali bermain dengan pikirannya… Di dalam kamar ia merenungi nasibnya, menangis, sampai ia lelah, dan kemudian lelap tertidur.


“Huuu...hu…”, bayi dalam gendongannya kembali menangis. Ah, sedari pagi ia memang terus menangis. Sang Ibupun sepertinya kebingungan dan terlihat begitu khawatir. Ia tak tahu apa yang dirasakan anaknya. ‘Allah, jika Engkau berkenan memindahkan rasa sakitnya, maka biarkan aku yang merasakannya, jangan anakku, Allah’, sang ibu membatin dalam hati.

Sangat terlihat jelas dalam raut mukanya. Guratannya menggambarkan kelelahan yang luar biasa. Bayi dalam gendongannya memang sedang sakit. Sudah tiga hari ini sang Ibu terus menerus menggendong bayinya, tanpa lelah, dan tanpa sedikitpun mengeluh.

Matahari telah sepenggalan naik. Ara terbangun, namun ia terkejut karena berada di tempat yang tak ia kenal. Ini bukan kamarku, pikirnya dalam hati. Ara kemudian melangkah menuju pintu kamar yang sedikit terbuka. Kemudian ia mendengar suAra yang memekakkan telinga.

Ahh, suAra bayi yang menangis, sangat menyebalkan, pikirnya dalam hati.

Ara kemudian keluar dari kamar itu, berusaha mencari asal suAra yang menjengkelkan. Tapi kemudian ia terkejut saat melewati sebuah bupet. Ia kemudian mengamati sebuah bingkai foto. Ahh, itu kan aku waktu kecil, kenapa bisa ada di sini ya? Dimana sih sebenernya aku sekArang?, Tanya Ara dalam hati.

Ara kembali menyusuri rumah itu. Masih mencari asal suAra tangisan bayi. Ara kemudian berhasil menemukannya. Ia kemudian menemukan seorang wanita muda yang tengah berusaha mendiamkan anak dalam gendongannya. Ahh, itu kan ibu, tapi kok lebih muda dan terlihat lebih gemuk ya? Aduh, sebenernya dimana aku ini?? 

Ara makin bingung, ia tidak semakin tidak mengerti ada dimana ia sekArang? Ia kemudian mencoba memberanikan diri menegur wanita yang mirip dengan ibunya.

“Ibu…ibu…ini ibu kan? Ibu lagi gendong siapa?”

 “Ara sayang, ibu tahu kamu kesakitan, sudah ya sayang, jangan khawatir, ibu ada di sini ko, gak akan kemana-mana…”, sang ibu kembali menenangkan bayinya. 

“Ibu…ibu…”, Ara kembali memanggil ibunya, namun kelihatannya Ibunya tidak mengindahkan panggilannya. “Bayi siapa itu, Bu?”

 “Cup…cup sayang, tenang ya…”, sang ibu terus mencoba menenangkan bayinya. Ia tak mempedulikan pertanyaan Ara.

“Ara sayang, yang kuat ya… Ibu yakin kamu sebentar lagi sembuh ko… kamu kan Mutiara Azizah, makannya kamu harus kuat”

Ara kaget, ia makin tak mengerti. Benarkah bayi yang berada dalam gendongan ibu adalah dirinya? Lalu dimanakah ia sekarang berada?



Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Sang ibupun kemudian memutuskan masuk ke dalam sebuah kamar, masih tetap dengan bayi dalam gendongannya.

Ara kemudian mengikutinya. Ahh, meskipun ia tidak mengerti sedang berada di manakah ia? Dan sedang berada di alam apakah ia? 

Sang ibu kemudian mencoba membangunkan seorang lelaki yang tampaknya tertidur pulas. Tapi sebelum tangannya menjangkau tubuh lelaki itu, ia terlihat ragu, namun kemudian dengan suara penuh kelembutan ia membangunkan suaminya, “Mas, aku mau tidur sebentar, kamu bisa gak bantuin ngegantiin aku gendong Ara?”

Lelaki itupun kemudian bangkit dari peraduannya. Tapi ia hanya terduduk di tempat tidur, tak beranjak. “emang Aranya rewel?”

“dia udah tidur, aku khawatir kalo ditaruh ia akan bangun dan nangis lagi, kasihan ia, seharian ini nangis melulu, sepertinya ia Nampak kesakitan sekali”

“Udah kamu minumin obat belum?”

“Sudah, mas… makannya sekarang ia tertidur”

“Yaudah kalo gitu kamu taruh aja, lagian ia udah tidur ini kan? Udah ya aku ngantuk nih, capek, besok takut kesiangan, kan mesti berangkat pagi-pagi”, dan dengan tenangnya laki-laki itu kemudian menarik selimutnya. Kembali tidur meninggalkan istrinya yang sudah sangat kelelahan.

Sang Ibu hanya menarik nafas… terlihat jelas pada raut mukanya ia nampak kecewa, namun ia tak mau menzalimi suaminya yang mengeluh kelelahan. Maka malam ini sekali lagi ia mengalah untuk tidak tidur demi kenyamanan buah hatinya.

Ara terlihat geram melihat adegan tersebut. Rasanya ia ingin berteriak, memaki sang lelaki yang adalh ayahnya sendiri. Ah, bahkan kau tak mengetahui istrimu jauh lebih lelah dengan semua aktivitas yang ia jalani. Ia mengurusi segala keperluan anak-anakmu. Menyuapinya, memandikannya, bahkan masih tetap menggendong anak lainnya yang sedang sakit. Ahh, tahukah kau bahwa ia masih sempat juga memikirkan akan makan apa kamu malam ini.

Padahal jelas terlihat gurat kelelahan pada wajahnya. Padahal jelas terlihat pada kantung matanya yang membesar akibat tak cukup tidur.

Sang Ibu kemudian mencoba untuk duduk. Melepaskan kelelahannya sejenak. Namun, bayi dalam gendongannya kemudian menangis, seakan tak rela ibunya tertidur sejenak untuk berhenti menjaganya. Maka, Ibupun kembali berdiri. Mengayun-ngayun mencoba mendiamkan bayinya agar kembali tertidur.

Melihat pemandangan itu, tak terasa air mata Ara keluar. Oh, Ibu… begitu besarnya rasa sayangmu sampai kau rela terjaga demi melihat pulasnya anakmu tertidur. Air mata Ara kemudian mengalir deras, bahkan isakannya semakin keras, memecah keheningan malam hari itu.

“Ara…Ara bangun, Nak! Kenapa nangis sampai sesenggukan gitu…?”, Ibu terlihat khawatir, ia menggoncang-goncangkan tubuh Ara agar segera terbangun.

Ara perlahan-lahan mencoba membuka matanya. Betapa bahagianya ia melihat wajah ibu di depannya. Dengan serta merta Ara kemudian memeluk ibunya , “Huu..hu, Ibu maafin Ara ya? Maafin kalo tadi Ara udah ngebentak ibu… Ara nyesel Bu. Ara tahu ibu sayang sama Ara, Ibu takut kan penyakit paru-paru Ara kambuh, makannya Ara gak dibolehin naik gunung. Maafin Ara ya Bu?”

Ibupun kemudian tersenyum mendengar penuturan Ara. Ia merengkuh tubuh anaknya yang sedang terisak dalam tangisnya. Menghapus air matanya, kemudian memeluknya.

“Ara sayang, dari kemarin ibu udah maafin kamu ko! Insya Allah ibu gak pernah dendam. Ibu juga minta maaf karena terlalu mengekang kebebasanmu. Ibu sadar ketakutan Ibu terlalu berlebihan. Ibu Cuma takut kehilangan kamu lagi”

Ara memang sempat disangka meninggal waktu kecil akibat penyakit yang dideritanya. Akan tetapi sungguh suatu berkah, ia kembali bernafas dan menggerakkan jari-jari mungilnya. Dan setelah keberkahan itu, penyakitnya pun kemudian berangsur-angsur sembuh.

Ara sekarang tak lagi peduli apakah ia diizinkan mendaki gunung atau tidak. Baginya membuat ibunya tidak lagi khawatir jauh lebih penting dibandingkan dengan pengalaman memetik edelwise di puncak gunung yang sudah lama diimpikannya. Sekarang hanya satu tekadnya, berusaha menyenangkan hati ibunya dengan tidak membuatnya khawatir. Karena ia tahu kasih ibu tak pernah dusta, karena ia tahu kasih ibu secantik namanya, Mutiara Azizah. 



*kupersembahkan untuk ibuku tercinta
Juga untuk semua ibu yang penuh cinta 
Untuk para calon ibu yang sedang memupuk cinta
Dan juga untuk para calon pendamping ibu yang akan membuktikan cinta

_Puti Ayu Setiani_

Saturday, 9 May 2009

Tak Harus Selalu Menyembunyikan Luka

 

Pernahkah kalian memendam amarah?  Kemarin hal tersebut sempat aku lakukan tapi ternyata… aku tak kuat memendam begitu banyak hal yang menyesakkan di dada. Maka tumpahlah tangisanku ke pundak seorang kakak, kakak yang aku anggap cukup bijak mendengarkan segala keluh-kesah.

Minggu kemarin sepertinya semua masalah tumplek blek jadi satu, mulai dari masalah akademis (laporan-laporan yang deadlinenya hampir bersamaan), organisasi (MPM dan juklak-juknis PMB) tak luput juga masalah yang ada dalam ladang amal (PKM ku maksudnya). Ahh, berniat ingin memendam semua rasa kecewa dan amarah, karena aku hanya ingin memperlihatkan keceriaan kepada saudaraku. Tapi ternyata aku kalah juga. Maka tumpahlah isakan tangisku di Gd.H lantai 3. maka keluarlah segala ungkapan rasa kecewa. Di pundak seorang kakak, ya kakak yang tentunya halal bagiku.

Sempat terpikir untuk mencurahkan segala keluh kesah ini kepada ‘kakak’ lainnya. Ahh, tapi hati kecilku berontak. Tak pantas memang kalo aku mencurahkan kepada yang bukan tempatnya. Ya, bahkan aku tersadar, apalah artinya sebuah kelegaan jika ternyata membuat Allah murka. Maka aku memutuskan menumpahkannya pada pundak seseorang yang memang seharusnya. Dan setelah melepas segala gundah, hatiku pun tentram. Entah karena kelegaan mengalirkan segala duka atau karena nasihatnya yang telah membuat ku tentram.

Tak boleh lagi memakai persona, maka ungkapkan, jadilah seorang genuine karena kamu hanyalah manusia. Jangan salahkan saudaramu jika mereka tak tahu tentang lukamu akibat perbuatan mereka, maka kau tak bisa menuntut, karena kau tak mengungkapkannya, begitu katanya. Ya, nasihatnya membuat aku sadar. Bahwa tidak seluruh masalah harus dipecahkan dalam diam. Ada saatnya untuk bicara. Maka aku akan diam untuk menetralkan, bukan untuk menghindar. Maka akan  aku ungkapkan setelah aku diam. Ya diam memang emas, tapi tak berguna jika membuat lukamu semakin berkarat. Be genuine, mencoba memakai  I Massage. Yap aku akan mencoba untuk mengkomunikasikan semuanya, semua masalah yang ada dalam sebuah ikatan kebersamaan. Yup, muslim sejati tak selalu harus menyembunyikan luka, karena ia hanya manusia.

 

Special thx buat ke Dewi ‘nenek’ yangkeren yang udah mau meminjamkan pundaknya untukku

Lov u coz Allah…

Friday, 13 March 2009

Ada yang bisa bantu...???

Anak adalah aset bangsa. Anak sebagai asset bangsa seharusnya mendapat kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang layak dan dapat menunjang kehidupannya dimasa depan sehingga dapat turut serta dalam pembangunan negara. Namun, dapat kita lihat bahwa tidak setiap anak memiliki kesempatan untuk dapat hidup layak dan dapat mengembangkan diri dengan sehat sehingga mereka hidup dijalanan. Mereka inilah yang sering kita sebut dengan anak jalanan.

atas alasan di ataslah kami (rini-teri-maya-tami-puti)membuat sebuah program intervensi terhadap anak-anak jalanan. Dimana program tersebut berjudul "Days wthout Fight" yang telah lolos dan diberi dana hibah oleh dikti.

untuk menjalankan program tersebut kami membutuhkan banyak sukarelawan sebagai fasilitator dan pendamping anak-anak jalanan tersebut dalam setiap program yang akan dijalani. program ini bertujuan untuk menurunkan tingkat agresivitas anak jalanan dengan mengembangkan perilaku empati.

program ini insya Allah akan berjalan selama 2 bulan dan diadakan setiap hari sabtu dari pukul 09.00-13.30 WIB


Maka sekali lagi kami memohon partisipasi dari teman-teman semua untuk menjadi sukarellawan (fasilitator) dalam program kami tersebut.

Jika teman-teman bersedia cukup memberi komentar kesedian teman-teman dalam notes ini dan memngirimkan No. HP ke inbox fs saya.



Terima kasih atas perhatiannya
Ditunggu ya partisipasinya...

Salam Hangat!
-Rini-maya-teri-tami-puti-

CP: puti :085217561260


*sebagai tambahan

tugas fasilitator di sini adalah mendampingi para peserta program
jadi rencananya program ini akan diadakan di YABIM (yayasan Bina Insan Mandiri) yang ada di terminal depok.

usia peserta berkisar antara 9-12 tahun.
gambaran umum program:
Minggu 1 : puppet show (di sini tugas fasil adalah sebagai pendamping)
minggu 2 : temu tokoh (tugas fasil memimpin diskusi setelah temu tokoh selelsai)
minggu 3: kunjungan ke panti jompo (pendampingan)
minggu 4: games (arsitektur cilik)
minggu 5: perencanaan kewirausahaan
Minggu 6: idem
Minggu 7: menjalankan usaha
minggu 8: penutupan

kira2 gitu gambarannya...
jika ada pertanyaan...tolong langsung ditanay aja...
terimakasih

Thursday, 5 March 2009

Merasa tanpa daya...

ahh..
lagi dan lagi
si pipit kecil terbang kehilangan arah
terhempas oleh hembusan angin
jatuh dan kembali terjerembab dalam genangan

padahal
baru kemarin ia mengumpulkan kekuatan
untuk meggerakkan sayap-sayapnya yang patah
padahal
baru kemarin ia punya keyakinan
menemukan lembah hijau yang menentramkan

kenyataanya
tak ada separuh perjalanan
ia sudah koyak dimakan bayang badai

ahh
apakah memang saatnya belum tepat untuk terbang melayang membelah awan
ahh
apakah memang ia belum cukup kuat untuk melanglang buana menjemput kemilau titian pelangi


yang kutahu
ia amat merindu 
merindu untuk bertemu
CintaNya yang sejati...

Tuesday, 27 January 2009

Pipit Kecil Yang Beranjak Dewasa

ahulu pipit kecil ini tak pernah mempunyai keberanian untuk meninggalkan sangkarnya

Bahkan ia takut mengepakkan sayapnya, menerjang angin, dan menatap cahaya matahari yang akan mengkilaukan sayapnya
Ia sangat takut memikirkan jatuh ke debaman tanah yang keras saat ia memutuskan untuk terbang
Ahh, tapi itu dahulu…
Sekarang, pipit kecil ini sudah berani terbang, melayang di langit biru yang terlihat cerah
Melayang membersamai angin yang berhembus
Melayang bersamaan dengan cerahnya mentari yang menemani
Melayang, dan tidak takut lagi dengan debaman tanah yang menanti
Ahh, tapi kini aku khawatir…
Karena akhir-akhir ini sang pipit kecil terbang menuju ke dunia tanpa batas
Aku khawatir ia tak akan menemukan dan mendarat di lembah yang hijau dan menyejukkan
Bahkan malah akan terhempas ke jurang
Ahh, semoga ini hanya kekhawatiranku saja


Manusia dewasa karena masalahnya, dewasa karena ia berani mencoba, dewasa karena ia berani menyelesaikan bukannya malah meninggalkannya. Dan aku juga akan belajar menuju ke kedewasaan itu…




Sunday, 25 January 2009

My ShOW!

http://heggyangunikdanbedadanhebat.blog.friendster.com

jam_pasir_unik

http://jampasirunik.blogspot.com/

For a Fighting Idea

http://jundurrahman.wordpress.com

Karena kutahu, kau ada bukan untuk diriku (edisi Revisi)


 Hmm...senangnya kalo lagi acara kumpul keluarga besar. Ketemu sepupu-sepupu yang gokhil abis. Bisa becanda bareng, main basket bareng, and yang paling seru main tebak-tebakan bareng menjelang tidur. Ya, kami biasa tidur bareng-bareng kayak pepes di ruang tamu, hehehe. Setiap lebaran rumah mbahku memang selalu kayak pasar karena kedatangan cucu-cucunya yang cerewet. Yup, ritual main tebak-tebakan di malam hari adalah favoritku. Seperti biasa, dalam acara tebak-tebakan bareng, Mas Faris selalu jadi bintangnya. Anak dari budeku ini emang orang yang menyenangkan banget. Selain pintar (karena ia adalah mahasiswa ITB jurusan teknik Elektro), ia juga sholeh and ramah banget sehingga selalu menjadi teladan bagi saudara-saudara yang lainnya. Semua orang tua akan bilang ke anak-anaknya, “Tuh...kayak Mas Faris, keluyurannya ke Masjid, pinter lagi.... Yayaya, Mas Faris emang the bestlah....

 “Teh nya mau dituangin?”, suara Mas Faris mengagetkanku. Hehehe, dari tadi aku memang sedang bersusah payah menuangkan teh panas dari poci yang besar. Maklumlah, kalo di rumah, ibu selalu menuangkannya untukku. Duh, jadi malu deh sama Mas Faris, nuang teh aja gak bisa, padahal aku kan udah kelas 1 SMA.

 “Eh, iya Mas, boleh banget. Malah dari tadi nungguin bantuan”, ledekku kepadanya.

 Sambil menuangkan teh Mas Faris kemudian berujar, “Makannya Dek, jadi perempuan itu jangan takut panas, hehehe...gak ada hubungannya ya?”

 Ih, mulai lagi neh jahilnya. Meskipun Mas Faris lebih tua lima tahun dari aku, tapi ia selalu asyik kalo diajak bicara. Ia selalu saja berhasil menemukan topik yang menarik untuk mengobrol denganku, bahkan ia selalu bisa menjahiliku. Duh, pokoknya beda banget sama kakakku yang selalu menganggap aku anak kecil, hingga membuatku malas untuk mengobrol dengannya.

 “Mas Faris kenapa sih, ko sekarang gak mau salaman sama Khansa lagi ?”, akhirnya keluar juga pertanyaanku tentang sikapnya yang berubah akhir-akhir ini. 

 “Loh, iyaya? Abis tangan adek selalu kotor sih waktu mau Mas ajak salaman...!” Mas Faris berkilah. Duh, senangnya ia memanggilku dengan sebutan adek. Hehe, bahkan kakakku saja tidak memanggilku dengan sebutan adek. Cuma mas Faris...Ya, cuma dia.
 Tau kalau ia tak sungguh-sungguh dengan jawabannya, akupun memasang wajah cemberut,

“Ih, mas mulai lagi deh jahilnya....”

 “Duh, jangan marah donk Adek manis....Gini-gini, Mas gak mau salaman karena Mas menghormati kamu....”, Ia memberi alasan.

 “Maksud Mas Faris?”, tanyaku heran.

 ”Gini, Dek kecil, kita ini kan sepupuan, dan itu tandanya kita bukan mahram, jadi haram kalo sentuh-sentuhan”.

 “Woh, apaan tuh mahram, Mas?”, aku pura-pura tidak tahu.

 “Mahram itu kayak kamu sama ayah ibumu, kakakmu, pamanmu dari pihak ayah, sama yang berjenis kelamin sama denganmu, nah kalo sepupu itu bukan mahram dan gak halal kalo bersentuhan. Kan kita berbeda jenis kelamin, bukan?” Jelas Mas Faris.

 Aku hanya manggut-manggut. Yah, aku lumayan paham lah tentang apa yang namanya mahram, tapi aku baru tahu kalo sepupu ternyata bukan mahram ya? Pantesan dari kemaren diajak salaman, tapi Mas Faris cuma menelungkupkan tangan di depan dadanya.

 “Eh, Dek. Katanya kamu mau pakai jilbab ya?” Tanya Mas Faris tiba-tiba.

 “Iya, Mas, Insya Allah mulai awal semester 2 ini. Kan kata Mas Faris cewek itu lebih anggun kalo pakai jilbab, terus aku pikir-pikir ia juga sih. Lagian Mas, aku males aja dengan pandangan laki-laki yang selalu menikmati putihnya kulitku, hehehe...”, seloroh aku.

 “Iya Dek, makannya kecantikanmu gak usah dipamerin, biar buat suami aja ya nanti, hehehe!”, duh nih Mas satu mulai lagi deh.

  Aku senang pagi ini bisa mengobrol banyak dengan sepupu kesayanganku itu. Sudah lama juga ya aku tak bertemu dengannya. Entah kenapa pagi ini aku merasakan semangat yang sangat besar.

***

 “Assalamu’alaikum...”, sapa Mas Faris dari seberang telepon.

 “Wa’alaikumussalam, Mas Faris, Ya?” Terkaku.

 “Iya, Dek. Apa kabar? Gimana rasanya udah setahun pakai jilbab? Nyaman kan?” Tanyanya penuh semangat.

 “Eh, iya, Mas Alhamdulillah. Mas Faris apa kabar? Gimana kuliahnya?”

 “Alhamdulillah mas baik-baik aja, kuliahnya lancar, lagi nyiapin skripsi, doakan ya biar dimudahkan dan lulus tahun ini”

 “Oh, pasti mas, tapi biarpun gak lulus tahun ini gak papa lah...Wajar anak teknik mah, hehehe....”, candaku padanya.

 “Ih, ko kamu jahat gitu sih sama Mas! Eh, kakakmu ada di rumah gak? Atau masih di jalan?”

 “Oh, ada, Mas. Tadi barusan nyampe. Tunggu bentar ya...!”. Aku pun pergi memanggil kakakku. Entah apa yang mereka obrolkan, nampaknya urusan mahasiswa. Soalnya wajah kakakku begitu serius sekali ketika bicara dengannya. Atau sesama anak teknik emang serius ya kalo ngobrol?, hehehe. Tak tahulah.

***

 “Ayah, Ibu, hari senin nanti Ayash ikut aksi ya?”, pinta kakakku ketika kami sedang makan malam bersama.

 “Aksi dimana, Yash?”, tanya Ayah.

 “Itu, Yah, aksi kasus Akbar Tanjung, biar pengadilannya gak memihak..., Mas Faris juga ikut ko, Yah”, kakakku menjelaskan.

 “Ya udah, tapi kamu mesti hati-hati ya, Nak. Ayah khawatir rusuh...”, ujar Ayah.

 “Iya, nak. Kalo bisa kamu jangan di depan ya! Emangnya yang aksi darimana aja?”, tanya Ibu.

 “Pastinya dari UI, BEM jakarta Raya, terus BEM Bandung Raya juga.”

 “Wah, hati-hati ya, Ka. Pasti bakal rame banget tuh!”, nasehatku.

 “Yaiyalah, Neng! Kalo gak rame namanya gak pake raya atuh!!!!!”

 Hehehe, aku Cuma nyengir kuda. Sebenernya takut juga nih sama niat mas Faris dan Kakakku untuk ikutan aksi. Kalo udah rusuh kan polisi sukanya mukul dengan tak berperasaan. Ah, tapi bagi anak teknik kali ya, eh salah denk, bagi mas Faris dan kakakku lebih tepatnya, jadi border mah udah biasa. Huu...entahlah, tapi aku salut sama mereka. Ya, kalo kata Mas Faris setidaknya dengan mengikuti aksi mereka menunjukkan rasa cintanya terhadap tanah air, biar orang-orang kotor gak melulu bisa bebas dari jeratan hukum dan bisa bertindak seenaknya. 

***

 “Innalillahi...Terus gimana keadaannya?”, suara ibu terdengar gemetar ketika berbicara di telpon.

 “Alhamdulillah sekarang udah boleh pulang kok, Bu. Insya Allah gak serius banget!”, ujar kakakku.

 Duh, ada apa sebenarnya ini? Siapa yang terluka? Kakakku atau Mas Faris? Ya Allah lindungi mereka....

 Akupun langsung bertanya kepada ibu sesaat setelah beliau menaruh gagang telponnya, “Bu, siapa yang terluka?”

 Ibu mengambil nafas, berusaha menenangkan dirinya, “Mas Faris kena pukul aparat, kata Ka Ayash sih dia gak papa, tapi ibu gak tau pasti, tenang aja, Ayah udah ada di sana ngurusin Mas Faris. Budemu belum tahu soal Mas Faris. Biar nanti Ibu saja yang memberi kabar ke Bogor, tapi nanti setelah Ayah dan kakakmu membawa Mas Faris kesini”, Ibupun berusaha menenangkanku.

***

 Lima jam kemudian terdengar suara mobil. Oh, itu pasti Ayah. Aku langsung buru-buru membuka pagar. Kulihat kakakku membukakan pintu mobil untuk Mas Faris, lalu membantunya berjalan menuju ke dalam rumah. Alhamdulillah, ia masih dapat berdiri, karena aku tak melihat luka di kepala atau kakinya. Tapi, ternyata tangannya di perban. Duh, mudah-mudahan Ia gak papa.

 Setelah memasuki rumah, ibu langsung saja membuatkan secangkir teh hangat untuk Ayah, Ka Ayash, serta Mas Faris. Setelah menaruh tehnyadi atas meja, Ibu tak sabar mendengar cerita tentang apa yang sebenarnya menimpa Mas Faris.

 “Ko bisa sampai kaya gini toh, Ris?” Tanya Ibu cemas.

 “Gak Papa ko, Buk Lek, Cuma luka di tangan saja...”, jawab Mas Faris berusaha menenangkan Ibuku.

 “Gak papa apanya! Orang tanganmu remuk githu ko dibilang gak papa!!!”, ujar Ka Ayash kesal.

 “Masya Allah, ko bisa Mas?”, tanyaku sedikit panik.

 “Iya, tadi tuh Mas Faris coba ngelindungin akhwat yang mau dipukul sama aparat, eh jadinya malah kena pukul deh sama pentungan!”, kakakku malah yang menjawab.

 Subhanallah, Mas Faris. Betapa tidak aku bertambah kagum padamu. Uh, kau benar-benar seorang lelaki sejati, Mas. Gak sia-sia aku menjadi sepupunya.

 “Sudahlah, memang sudah takdir Allah kalo aku yang kebetulan menjadi pelindung mereka. Lagian, semua sudah terjadi...”, jawab Mas Faris.

 “Terus, akhwatnya gak papa, Ris?”, tanya ibuku.

 “Alhamdulillah, mereka baik-baik saja...”
 Sungguh, akupun terkesima mendengar cerita masku yang satu ini. Duh, Mas Faris. Bagaimana aku tak selalu bertambah mengagumimu, karena begitu banyak alasan buatku untuk mengagumi pribadimu.

***

 Tadi pagi Mas Faris mengabarkan kepada keluargaku, bahwa Ia akan diwisuda hari ini. Akhirnya setelah enam tahun berjibaku dengan tugas-tugas kuliah, sekarang ia bisa menikmati manisnya perjuangan itu. Meskipun tak lulus cumlaude, karena IPknya Cuma 3,35, tapi tetap saja Ia adalah orang hebat dimataku. Wong, lulusan Teknik Elektro ITB, IPk 3,35, gimana gak hebat!!!. Hmm, kudengar sebelum wisudapun beberapa perusahaan asing telah mengincarnya. Malah ada satu perusahaan Amerika yang berani menawarkan gaji yang lumayan besar bagi seorang fresh graduate, agar mau bekerja di perusahaannya. Tapi, Mas Faris tetaplah Mas Faris. Komitmennya begitu kuat untuk tidak mau bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang secara tidak langsung telah menjajah Indonesia. Akhirnya ia hanya bekerja pada sebuah perusahaan milik pribumi di daerah Batam.

 Setelah beberapa bulan bekerja, Mas Faris dikirim ke Amerika untuk menunaikan tugas belajar. Mas Faris...betapa semakin hari aku semakin mengagumimu. Mendengar ceritamu ketika tiba di Amerika, ditahan di bandara selama tiga jam lamanya hanya karena membawa buku-buku bernafaskan islam, seperti tafsir Ibnu Katsir dan sebagainya, hati ini rasanya semakin tak dapat dikendalikan lagi olehku. Oh, Mas, aku tahu, aku tak akan pernah mungkin bisa menjadi pendamping hidupmu. Tapi, salahkah aku karena mencintaimu?

***

 Tak terasa, sudah enam bulan lamanya Mas Faris berada di sana. Katanya bulan ini ia akan pulang. Wah, sepertinya hari kepulangannya akan berdekatan dengan pengumuman SPMB ku. Duh, aku tak sabar menunggu datangnya hari tu.

 Dan Mas Farispun akhirnya datang berkunjung ke rumahku, setelah satu minggu kepulangannya. Sekarang sikapnya sudah sangat berbeda kepadaku. Ia sudah tak mau lagi bercanda denganku, bahkan menatap wajahku pun tidak. Sepertinya ia menjaga jarak denganku. Entah karena aku yang sekarang sudah bertaransformasi menjadi seorang akhwat, ya, benar-benar akhwat sehingga mas faris terlihat begitu menjaga dirinya. Duh, aku tahu Mas kalo kita harus menjaga pandangan karena kita bukan mahram. Akan tetapi, aku belum siap, Mas kehilangan candaan dan senyuman manismu. Oh, Rabbi...salahkah aku jika mencintainya?

***

 Hari pengumuman SPMB pun tiba. Alhamdulillah, aku diterima di Teknik Sipil ITB. Aku bangga karena akhirnya aku bisa satu almamater dengan Mas Faris, meskipun sekarang ia sudah lulus, namun setidaknya aku akan mempunyai bahan obrolan ketika bertemu dengannya. Rasanya sudah tak sabar aku ingin memberitahunya.

 “Assalamu’alaikum...Mas Faris apa kabar? Lagi di mana, Mas? Di Bandung atau di Batam?”, sapaku dengan nada riang.

 “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Alhamdulillah baik, Dek. Sekarang Mas udah pindah ke Bandung ko. Eh, gimana hasil SPMB mu?” , tanyanya.

 “Alhamdulillah, Mas. Aku diterima di Teknik Sipil ITB. Kita satu almamater deh jadinya. Sayang sih, Mas udah lulus, hehehe...!”, candaku.

 “Wah, Subhanallah...Hari ini ternyata ada dua kebahagiaan yang hadir!”

 “Ehmm...Maksud Mas apa?”, tanyaku tak mengerti. Ahh, suasana hatiku tiba-tiba berubah drastis, ahh mudah-mudahan hanya perasaanku saja yang tak enak.

 “Iya, Dek. Alhamdulillah sebentar lagi kamu akan punya Mbak, insya Allah akad nikahnya bulan depan”, Mas Faris terdengar nampak ceria.

 Deg, jantungku tiba-tiba serasa berhenti. Hatiku begitu kacau, “Maksudnya, Mas akan...”, aku tak sanggup meneruskannya.

 “Iya, Mas sudah menemukan calon pendamping. Akhwatnya calon Hafidzhoh loh, Dek! Sudah hafal 20 juz, Subhanallah Ya?” Ia terdengar begitu bahagia.

 Tiba-tiba napasku sesak. Ingin rasanya aku menangis mendengar berita itu, namun aku sadar, aku tak pantas menangisi sesuatu yang memang bukan merupakan hakku. Sejak dahulu aku sudah sadar, bahwa Mas Faris pasti akan mendapatkan pendamping yang setara dengannya, bahkan lebih. Ya, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Kutarik napas dalam-dalam. Aku mencoba mengontrol suaraku agar tak terdengar seperti suara orang yang menahan tangis. Kucoba tegar menghadapi kenyataan ini, dan perlahan kuucapkan, “Selamat ya Mas, semoga mendapat keberkahan dari Allah...”.



Depok, 19 Mei 2008 pukul 21:43 WIB
Direvisi tanggal 16 januari 2009






Saturday, 24 January 2009

Bidadari Surgaku....

“Umm… kenapa aku diberi nama Haura”
“Karena Kami ingin kau menjadi bidadari…”

***

Hari mulai memasuki senja, tapi bagi penduduk kampung Shalahuddin, berjalannya waktu hampir tak ada bedanya bagi kami. Toh tetap saja kami tak dapat menjalani kehidupan seperti kebanyakan orang. Ahh, mungkin inilah keistimewaan bangsa palestina. Diuji dengan kesabaran keimanannya.

Langkah-langkah kecil terdengar bersamaan dengan seruan salam untukku. Ahh, itu pasti bidadari kecilku yang baru pulang menuntut ilmu di madrasah. 

“Umm….Assalamu’alaikum…”

 “Wa’alaikumussalam…sudah pulang,Nak?”

“iya…Umm…” 

Ahh, bidadariku, ia terlihat sangat riang. Ya, ia memang sangat menyukai saat-saat mengaji dengan Syeikh Azis. Ah, ya, hanya itulah yang dapat menyenangkan hatinya di tengah kehidupan kami yang penuh terror.

“Umm, tau gak, tadi kata Syeikh, umat Islam itu satu tubuh, jadi kalau satu terluka maka yang lainnya akan merasakan sakit….emang bener ya, Umm?”

“Mmm… Iya...”, 

“Berarti kalo kita diserang sama tentaraYahudi, umat islam yang lain akan merasa terluka juga ya, Umm?”

Ahh, bidadariku yang cerdas….harus kujawab apa pertanyaanmu? Aku pun tak tahu apakah saudara-saudara kita sesama muslim di belahan bumi yang lain ikut merasakan sakit yang sama saat kita dilukai oleh kaum Yahudi itu.

Ahh, tapi aku tak mau melukai hati bidadari kecilku, “Iya, insya Allah mereka juga ikut merasakan penderitaan kita…”

“Tapi, Umm..mengapa saat abi dan ka Fath ditangkap oleh tentara Yahudi tak ada satupun yang membela mereka, terus waktu rumah kita di Az-Zaitun dihancurkan oleh tank-tank yahudi, mengapa tak ada satupun yang menyalahkan kaum Yahudi itu Umm…?”

Ahh, kesangsian akhirnya keluar juga dari mulut cerdasnya.

“Bahkan, saudara-saudara muslim di sekitar kita pun tak pernah menentang pemboikotan atas kita, padahal mereka melihat kita hidup tak layak, padahal mereka dengan jelas melihat pengusiran dari rumah kita sendiri, padahal mereka melihat kita di sini hidup berkawan dengan penderitaan….”

Ahh, bidadari kecilku, penjajahan ini telah membuat pemikiranmu tak seperti anak yang berusia 8 tahun. 

“Dan saat Ka Faris dan teman-temannya diberondong dengan peluru oleh tentara-tentara yahudi itu, tak ada satupun dari saudara-saudara kita yang membela, padahal mereka hanya mengetapel tentara-tentara itu dengan batu, Umm…” 

Ahh, bidadari kecilku, kau masih saja mengingat peristiwa itu. Ya, satu persatu anggota keluargaku memang telah Syahid. Suami dan anak pertamaku, ia ditangkap oleh tentara yahudi karena disangka anggota Brigade Izzudin Al-Qassam. Ah, aku tahu itu hanya akal-akalan mereka saja. Karena tujuan mereka yang sebenarnya adalah menghabisi satu persatu warga palestina. Satu minggu setelah penangkapan itu aku mendengar kabar bahwa mereka telah Syahid, semua yang ditangkap disiksa oleh para tentara Yahudi, sampai izroil datang mencabut nyawanya. Anak keduaku, ahh…ia dan teman-temannya memang pantas disebut jundi Illahi. Ia bergabung dengan pemuda-pemuda palestina lainnnya “mengganggu” tentara Israel yang tengah berpatroli di dekat perkampungan kami di Az-Zaitun. Dan ratusan peluru pun mengantarkan mereka syahid menuju surga. Maka di bumi yang diberkahi ini, tinggallah aku dan bidadari kecilku. 

Dua bening Kristal satu persatu mulai keluar dari mataku…Ahh, cukuplah hanya Allah pelindung dan penolong kami….

Tangan kecil hauraa menyeka bulir air mataku yang jatuh, mulut kecilnya kemudian berucap lagi….”Ohh, Ummi maafkan aku…Pasti kau sedih ya, Umm mengingat peristiwa-peristiwa itu…? Ahh, Umm, sekali lagi maafkan aku….”

Bidadariku, sungguh aku justru bahagia karena kita telah mempunyai tabungan syuhada, karena aku yakin orang-orang yang kita sayangi telah bahagia di sisi Rabbnya. Aku menangis karena aku tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan padamu. Aku tak tahu mengapa saudara-saudara sesama muslim di sekitar kita seakan-akan menutup mata dengan perjuangan kita….ahh, sungguh aku benar-benar tak tahu….

“Sudah yuk Umm, kita makan….ini tadi aku diberi roti oleh Syeikh Aziz, roti ini yang diselundupkan dari terowongan oleh para pejuang….Alhamdulillah ya Umm, sekarang kita bisa makan setelah seharian kemarin kita menahan lapar….”

***

Buuumm…..Bummm….

Ahh, lagi-lagi kembali ada serangan. Tak punya nuranikah mereka menyerang kami bahkan di malam yang telah larut ini.

Aku langsung saja menyambar jilababku, mengambil sebuah tas dan memasukkan sisa roti yang tadi diberikan oleh Syeikh Aziz melalui hauraa. Oh, Hauraa….aku tak menemukan ia berada di sampingku….!!!

“Hauraaa…..Hauraaa….”

Aku berteriak di tengah dentuman bom yang memekakkan telinga. Ya, kami harus keluar dari rumah jika tak ingin menunggu giliran terkena reruntuhan bom…. 

“Hauraa…Hauraa….,dimana kamu , Nak?”, kembali aku memanggil haura.
Tergopoh-gopoh Haura kemudian datang, dengan memeluk sesuatu….
“Hauraa, ayo lekas kau berkemas….kita harus pergi dari sini…!”

Aku dan Haura pun bergegas keluar dari rumah. Langit gaza yang hitam kini diwarnai oleh semburan kembang api. Ahh, tapi tentu saja itu berasal dari bom curah yang dimuntahkan oleh pesawat-pesawat tempur Yahudi. Ya, akhir-akhir ini mereka menyerang dengan menggunakan bom itu. Bom yang tak mengenal rumah siapa yang dijatuhinya. Tapi, memang semua nyawa penduduk Gaza adalah target mereka. Tak peduli mereka termasuk kelompok Hamas, Jihad Islam, atau warga sipil. 

Dentuman demi dentuman terus saja terdengar menemani langkah-langkah kami bersama dengan warga lainnnya. Sejujurnya, kami tak tahu harus lari kemana. Karena lari keperbatasanpun kami akan disambut oleh pengusiran tentara-tentara Yahudi itu. 

Setelah agak lama aku dan Haura, juga bersama dengan puluhan warga Gaza berlari tanpa tujuan, akhirnya dentuman-dentuman bom berhenti juga. Entahlah aku tak tahu apakah kami mesti kembali ke kampung kami atau harus mengungsi ke kamp pengungsian. Ahh, tapi ini tanah air kami…. Ini adalah hak kami, maka setelah dirasa suasana sudah kembali aman, kami memutuskan untuk kembali ke rumah kami.

Puluhan rumah terlihat hancur dan luluh lantah dengan tanah. Maka, mereka yang rumahnya hancur lalu akan hidup menumpang ke rumah-rumah yang masih dapat ditempati. Di sini, kami memang sudah senasib sepenanggungan. Bahkan orang yang rumahnya masih dapat ditempati, dengan senang hati menawarkan tempat tinggal untuk mereka yang rumahnya telah hancur. Dan aku termasuk ke dalam orang-orang yang rumahnya masih “selamat”. Maka sekarang, aku hidup berbagi dengan Ummu Yahya beserta dua orang anaknya, Yahya dan Salma yang umurnya sebaya dengan Haura. Juga berbagi dengan Ummu Ahmad yang sudah sebatang kara.

***

“Haura… kemarin kamu mencari apa sampai-sampai ummi harus berkali-kali memanggilmu?”

Senyum Haura kemudian mengembang. Ia lalu pergi ke belakang mencari tasnya. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan memeluk sesuatu. 

“Aku mengambil harta yang paling berharga bagiku… Ini Umm…”, tangannya lalu menyerahkan sebuah bingkai foto kepadaku.

Kuraih bingkai foto itu. Foto utuh keluargaku. Foto yang diambil lima tahun yang lalu. Di sana suamiku, Khalid, duduk disampingku. Nampak gagah sekali ia. Fathi dan Faris remaja, yang juga terlihat gagah berdiri di belakang ayahnya, serta Haura yang sedang tertawa yang berada dalam pangkuanku. 

“Aku rinduu…, Umm. Aku rindu dengan mereka….”
Kutaruh bingkai itu, lalu langsung saja kudekap haura dengan kedua tanganku. Aku mendekapnya erat. Ahh, Haura aku juga sangat merindukan mereka. Aku terus mendekapnya tanpa bisa berkata-kata. Hanya isak tangis yang keluar dariku. Kudengar juga isakan tangis Haura. Maka, hari itu kami larut dalam kerinduan kami pada orang-orang terkasih. Kami rindu kapankah Allah berkenan memanggil kami agar kami dapat segera berkumpul dengan mereka. Agar kami dapat menyelesaikan semua perniagaan yang telah dijanjikan ini.

***

Setelah satu minggu sejak penyerangan, keadaan kembali normal. Ahh, meskipun aku tak 

tahu apakah kehidupan yang kami jalani bisa dikatakan normal. Tapi tiba-tiba dentuman keras kembali terdengar.

Buumm….Bummm….

Asap tebal membumbung tinggi, menutupi langit gaza yang cerah.Maka seketika itu pula langit gaza tertutupi awan kelam. Oh, Rabb….daerah mana lagi yang diserang? Oh, asapnya berada disebelah barat rumahku. Allah… sepertinya berada di dekat madrasah. 

Ahh, Hauraku… bukankah ia juga sedang menuntut ilmu di sana?

Hatikupun lalu dihantui rasa kekhawatiran yang luar biasa. Tanpa berpikir lagi aku langsung berlari menuju madrasah. Tak peduli dengan keselamatanku sendiri. Aku hanya ingin tahu apa yang telah dikenai oleh bom laknat Yahudi. Haura… apakah dirimu baik-baik saja…?

“Anakku, berbahaya di sana…”, Paman Abdul berteriak, berusaha menghentikan langhkahku.

“Sudahlah, ikhlaskan saja, Anakku… tak ada yang tersisa, semua yang berada di sana pasti telah Syahid, karena bangunannya luluh lantah dengan tanah”, kali ini Paman Abdul berhasil menghentikan langkahku. 

Aku tak mengerti ucapan paman Abdul, ikhlaskan? Memang apa yang telah diluluhlantahkan oleh Bom Yahudi?

Seakan mengerti suara hatiku paman Abdul kemudian berbicara lagi… "Kali ini madrasah yang menjadi sasaran, nampaknya tentara-tentara Yahudi itu sengaja menyerang ke sana karena ingin menghabisi penerus-penerus perjuangan pembebasan Palestina di masa depan"

Mendengar itu seketika saja kakiku lemas. Allah, anak-anak itu…. ? Biadab kalian bangsa Yahudi! Aku tertunduk dan terduduk diikuti dengan isakan tangisku yang keras. Ummu Yahya kemudian datang dan merengkuh tubuhku. Ia memelukku, lalu iapun juga menangis… “Sudahlah Ummu Fath, ini sudah takdir Allah, tidakkah kau harusnya gembira karena semua anggota keluargamu telah syahid di Jalan Illahi….”

Mendengar perkataan Ummu Yahya, tiba-tiba saja hatiku menjadi tegar. Ya, aku bangga, semua anggota keluargaku telah menjemput Syahid, sebentar lagi perniagaan dengan Rabbku pun akan segera selesai.

***

Setelah keadaan dirasa sudah cukup aman, aku segera berlari menuju madrasah tempat haura belajar. Ah, Haura bagaimana keadaanmu sekarang?. Kulihat medrasah yang tadinya berdiri kokoh kini sudah rata dengan tanah. Beberapa orang tengah mengevakuasi korban. Berpuluh jasad-jasad kecil sudah dijejerkan di dekat bangunan yang tidak terkena bom. Ahh, kucari tubuh haura. Tidak, tak ada Haura diantara jasad-jasad kecil yang terjejer di sana. Ahh, Haura, apakah kamu selamat, Nak?

Ummu Yahya datang mendekap jasad Salma, teman sekelas Haura, “Semua hancur, aku khawatir tak ada satupun dari mereka yang selamat?” 

Ahh, gadis kecil, wajahnya dipenuhi luka akibat serpihan bom, tangannya mengalami luka bakar yang sangat parah. Lalu Haura, bagaimana keadaanmu Nak?

Aku mengais reruntuhan madrasah itu. Kuangkat batu demi batu yang menimbun jasad-jasad kecil di sana. Setelah cukup lama mengais, aku menemukan sepotong jilbab berwarna hijau. Ahh, bukankah ini milik haura?

***

“Umm, mengapa aku diberi nama Haura?”

Pertanyaan itu kembali terngiang dalam ingatanku.

“Nama itu adalah sebuah doa anakku, maka kami beri kau nama Haura karena kami ingin kau menjadi salah satu bidadari di surgaNya kelak…”

Dan, Allah telah mengabulkan doaku. Maka, tunggulah aku untuk segera menyusul ke SurgaNya. Agar kita dapat berkumpul dan menjalani kebahagiaan abadi di sana.

Tangerang, 22 Januari 2009

22:41 WIB

Teruntuk saudaraku di sana

maaf, karena hanya ini yang dapat kupersembahkan...

*Puti Ayu Setiani


Thursday, 22 January 2009

Kemenangan Obama, Kemenangan Kaum Yahudi

Bagi Yahudi Amerika, kemenangan Barack Obama menjadi lambang kemenangan mereka. Para Yahudi AS itu mengatakan, perjalanan hidup seorang Obama yang berasal dari keturunan imigran kulit hitam hingga berhasil mencapai kursi kepresidenan AS, mirip dengan perjuangan kaum Yahudi yang datang ke AS sebagai imigran yang mencari kehidupan yang lebih baik setelah mereka selalu menjadi kaum terusir di berbagai penjuru dunia.

Salah seorang tokoh Yahudi AS yang beranggapan seperti itu antara lain David Axelrod penasehat senior Gedung Putih dan kepala strategi kampanye Obama, yang selalu berusaha menutup-tutupi latar belakang ke-Yahudi-annya. Dalam sebuah pesta untuk Obama yang didanai sejumlah organisasi Yahudi di AS, Axelrod mengatakan, prestasi Obama merupakan satu lagi langkah maju kaum Yahudi dalam perjalanan Amerika Raya, yang sebelumnya telah dilakukan ayah dan kakek neneknya ketika mengungsi dari Bessarabia ke AS.

"Mereka datang ke AS bukan cuma untuk mencari tempat yang aman, tapi mereka juga mencari tempat yang menjanjikan dan memberikan kesempatan. Dan Amerika adalah lambangnya," kata Axelrod.

Ia mengungkapkan harapannya, suatu saat nanti bukan hanya Obama yang bisa terpilih ke Gedung Putih, tapi anak-anak Yahudi lainnya seperti Rahm Emanuel yang ditunjuk Obama sebagai kepala staff Gedung Putih. Axelrod menyebut Emanuel sebagai "putera dari para imigran Israel."

Axelrod mengaku sangat puas dan bangga begitu melihat hasil pemilu kemarin, dan melihat besarnya dukungan Yahudi AS pada Obama. Yang menurutnya merupakan dukungan terbesar pada Partai Demokrat dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

Tokoh Yahudi lainnya yang memiliki pandangan sama dengan Axelrod dah ikut hadir dalam acara perayaan untuk Obama adalah aktor Bryan Greenberg. Ia mengaku hadir dalam perayaan itu untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pemerintahan baru AS ini membina hubungan dengan komunitas Yahudi dan menanggapi isu-isu ke-Yahudi-an. Buat Greenberg, kepentingan Israel harus tetap nomor satu.

Greenberg menceritakan bagaimana nenek moyangnya berhasil lolos dari Jerman pada masa holocaust dan pengalaman perjalanannya ke Israel. Dari pengalamannya itu, Greenberg merasa betapa pentingnya bagi Yahudi memiliki satu tempat, setelah terusir dari satu tempat ke tempat lain selama ribuan tahun.

Rekan Greenberg, Debra Winger, salah satu pendukung Obama dan pendukung Yahudi mengatakan bahwa doa mereka telah dikabulkan dengan terpilihnya Obama. Bahkan Abner Mikvner, juru bicara kaum Yahudi Zionis, mantan anggota Kongres, mantan hakim federal yang juga mentor Obama berkomentar,"Obama adalah presiden Yahudi pertama".

Tak heran, jika Barack Obama menunjukkan dukungan butanya pada Israel seperti juga presiden-presiden AS sebelumnya. Dan sama sekali tidak mengeluarkan pernyataan apapun melihat tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Melihat fakta yang terang benderang ini, bisakah Obama diandalkan menjadi pemimpin AS yang membawa perubahan bagi perdamaian dunia, terutama dunia Islam? (ln/JP)


sumber:http://www.eramuslim.com/berita/dunia/sukses-obama-suksesnya-kaum-yahudi.htm

Lagi-lagi Hilang.....

Arghhh...............

Lagi-lagi flashdisk biruku hilang...

Ini sudah yang ketiga kalinya....

waktu hilang pertama kali, tiga hari kemudian ia kembali melalui tangan seorang temanku....

Yang kedua kali, ia juga kembali setelah seminggu menginap di de ja vu

Maka yang ketiga.....

Ah, mudah-mudahan ia kembali lagi...

Karena ada beberapa file yang belum sempat kuhapus di sana....

Thursday, 15 January 2009

Banjir.....




Ya, foto ketika jalanan di rumahku tergenang air hujan...
Alhamdulillah belum sampai masuk ke dalam rumah...
tapi, kalo di jalanannya bisa-bisa sampai sebetis nih...hehehe

Ahh...betapa aku hanya bisa menghela nafas...

Hari ini aku kembali lagi ke sana...

Ahh, sudah lama rasanya tak mengunjungi adik-adikku di terminal...

Dengan setelan kaos putih + rok hitam, pagi tadi aku melangkah bersama teh yunda...

Ahh, rasanya senang...masihkah mereka inget padaku...?! Kakak mereka yang sudah lama tidak berbagi ilmu....

Dan saat tiba di terminal, dengan penampilanku (baca:bajuku) yang mirip setelan anak SMP, seorang supir angkot meneriakiku  "Woy, anak sekolah mater ye?...anak sekolah master ye?.."

Ah, pantaskah ia disebut sekolah....

Ah, aku pun hanya bisa menghela nafas...

Kekurangan kelas, kekurangan meja, kekurangan bangku, kekurangan buku, kekurangan pengajar...

Ahh, tapi ia memang tempat menimba ilmu anak-anak jalanan itu...

Ya...bagi mereka, ini adalah sekolah....