
Jika kau tanya kenapa aku memilihmu,
Itu karena Allah memberiku Cinta yang ditujukan padamu*
Aih, udah lama rasanya gak ketak-ketik di blog, hehe. Baiklah saatnya memperbaharui lagi isi 'rumah' ini. Berhubung Alhamdulillah kini status saya sudah double, makannya kali ini rumahnya mau diisi dengan cerita perjalanan cinta saya sampai bertemu suami… (:”>)
Pertemuan kami terbilang cukup unik, bahkan bisa dibilang agak ajaib. Orang-orang mungkin menyangka pertemuan saya dengan suami diperantarai oleh pasangan yang adalah juga teman kami, jadi si laki-laki merupakan junior suami saya di kampus, sedangkan si perempuannya merupakan senior saya di kampus. Tapi, ternyata scenario Allah untuk kami lebih dahsyat dari itu… dan di sini saya ingin berbagi, mudah-mudahan yang membaca tulisan ini dapat mengambil hikmah dari kisah perjalanan pertemuan saya dan suami.
Sebelumnya ingin berkenalan, saya dan suami saya memiliki beda usia 2 tahun. Suami saya merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi di Singapura, sedangkan saya mahasiswa psikologi UI. Kami bukan senior dan junior di SMA, SMP, atau bahkan SD. Bahkan kami tidak tinggal di satu wilayah yang sama. Dan kisah pertemuan saya dan suami bermula dari sini…
Ramadhan, 2010
Saat sedang ‘ngasong’ menyebar kuesioner di daerah cipulir, seorang teman sepe-‘ngasongan’ tiba-tiba bertanya tentang kesiapan saya untuk menikah, jleg…tentu saja keinginan menikah itu ada, tapi saya gak pernah ngebayangin akan ditawari ketika masih menjalani kuliah. Ia mengatakan ada seorang ikhwan, lulusan luar yang sedang mencari istri, maka di hari itu, saat masih berada dalam kebimbangan saya menjawab akan memikirkan dulu tawaran ini
Dan singkatnya ternyata hati saya masih ragu, pun ketika berbincang dengan orangtua saya, mereka masih keberatan, terlebih mengetahui kemungkinan saya akan diboyong ke luar. Dan sayapun memberi jawaban untuk saat ini saya masih belum mau berproses untuk menikah.
Dua bulan setelahnya,
Saya menjalani hari-hari seperti biasanya, dan didua bulan ini pula saya berusaha menjernihkan hati dan pikiran saya. Di titik ini pula saya mulai merasa bahwa saya butuh menikah (alasan tentang itu termuat dalam tulisan mengenai kisah taaruf yang saya kirim ke sayembara menulis asma nadia. Makannya doain tulisan saya dimuat ya biar bisa baca, hehehe ^^v). intinya di sini saya berazzam, Allah jikalau memang engkau mengirimkan siapapun kepada saya, maka insya Allah saya bersedia berproses dengannya.
November, 2010
Dan di akhir bulan yang sama itu pula Allah langsung mengijabah doa saya. Saat itu saya kembali bertanya kepada teman yang waktu itu ingin memproseskan seorang kenalannya pada saya. Dan ternyata ia kembali ingin memperantarai orang yang sama dengan yang di bulan ramadhan itu. Yah, begitulah…inilah scenario Allah yang sama sekali tidak bisa kita prediksi. Saya mana pernah terpikir akan berproses dengan seorang ikhwan yang dua bulan lalu juga di propose kepada saya. Ya, inilah scenario Allah. Maka pertukaran biodata anatara kami terjadi. Dan dari sinilah segalanya bermula…
Proses yang kami lalui terbilang singkat. Sebelum menikah, kami hanya bertemu sebanyak dua kali, saat bertemu diproses ta’aruf, dan saat proses khitbah. Jika ada yang bertanya pada saya kenapa saya bisa begitu yakin, jawabnya hanya satu, saya merasa Allah memberi saya cinta yang ditujukan kepadanya. Cinta itu diwujudkan dalam suatu bentuk ketenangan dan kenyamanan selama berlangsungnya proses. Pun tidak ada alasan bagi saya untuk menolak ikhwan ini, terlebih dari sisi agama dan akhlaknya.
Februari, 2011
Dan jadilah di tanggal 5 Februari 2011 ini sebuah mitsaqan ghaliza terucap darinya. Dan di tanggal inilah awal bermula bagi kami untuk mendewasa bersama
Dan semoga pernikahan kami selalu diberkahi olehNya, dengan ketentraman dan juga keberkahan, seperti doa yang terlantun dari penulis favorit saya:
To: Delta & Puti,
Semoga Sakinah Senantiasa**
*Asma Nadia, Muhasabah Cinta seorang Istri
**Asma Nadia, dalam sebuah doa yang diberikan di buku Sakinah Bersamamu

No comments:
Post a Comment