Tuesday, 20 May 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional, antara Kebanggaan dan Pemborosan

Acara peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional yang disiarkan langsung oleh seluruh stasiun TV mencerminkan betapa pemerintah kita lebih mementingkan penampilan dibanding keadaan riil bangsa. Bayangkan saja, acara tersebut pasti menelan biaya yang sangat besar. Mengapa aku bisa berpendapat seperti itu? Karena ada sebuah fakta bahwa mahasiswa UI angkatan 2007 saja, yang ditugaskan menjadi paduan suara mendapatkan “amplop” sebesar Rp. 50.000 tiap orangnya. Jika ada 4000-an mahasiswa yang ikut  berpartisipasi dalam paduan suara tersebut, berarti sekitar Rp. 200.000.000 telah dikeluarkan oleh negara. Belum lagi makan siang serta makan malam yang dibagikan. Makanan tersebut dipesan pada sebuah restoran cepat saji. Makan siang berupa burger, dan makan malam berupa paket nasi. Jika harga satu buah burger sekitar Rp. 8000, dan harga paket nasi sekitar Rp. 10.000, maka untuk biaya makan  yang dikeluarkan untuk mahasiswa UI saja kira-kira sebesar Rp. 72.000.000, belum lagi ditambah air minum serta sewa bis yang jumlahnya melebihi 50 armada. Itu baru dari sisi paduan suara, belum lagi dari pihak acara lainnya.

Entahlah sebagai mahasiswa UI aku tak tahu haruskah aku berbangga ketika mengisi acara tersebut? Aku jadi ingat perkataan seorang teman kemarin siang “Mendingan gue ikut padus daripada ikut aksi, setidaknya waktu gue ikut padus gue bisa bangga sebagai bangsa Indonesia...”. Jujur, aku tak sependapat dengannya. Di tengah krisis yang melanda bangsa, haruskah perayaan 100 tahun kebangkitan nasional dilaksanakan seperti itu? Aku justru malu ketika Jakun ini hanya berfungsi sebagai identitas kebanggaan mahasiswa saat  tampil di depan Presiden atau masuk kamera TV. Salah seorang sahabatku pun bertanya lewat SMS mengenai kegelisahan ini, “Put, dikau ikut yang hari selasa itu gak? Gw gak tega Put, masa di tengah kesengsaraan rakyat dengan naiknya harga BBM, kita sebagai mahasiswa ikut menikmati pemborosan uang negara untuk acara glamour kayak githu? Atas nama kebangkitan nasional, apakah realisasinya harus seperti itu? Duuh, Put. Gw jadi bingung antara idealisme dengan kebanggaan memakai Jakun...”

Akupun bingung bagaimana harus menyikapinya. Untungnya Allah memberiku sakit pada hari ini sehingga aku berpikir, memang mungkin aku tak diizinkan untuk mengikuti acara tersebut. Sahabatku pun juga begitu. Ia juga sedang sakit sekarang. Entahlah, mungkin aku hanyalah seorang awam yang tak mengerti tentang apa esensi dari perayaan glamour tersebut. Aku hanya mengikuti nuraniku sebagai seorang manusia, ketika masih banyak orang-orang yang kesusahan, pantaskah kita merayakan sesuatu secara berlebihan dengan mengatasnamakan Kebangkitan Nasional???????

 

Di bumi Depok, 20 Mei 2008 pukul 15.30 WIB

 

Karena Kutahu, Kau Ada Bukan Untuk Diriku

Hmm...senangnya kalo lagi acara kumpul keluarga besar. Ketemu sepupu-sepupu  yang gokhil abis. Bisa becanda bareng, main basket bareng,  n yang paling seru main tebak-tebakan bareng menjelang tidur. Seperti biasa, dalam acara tebak-tebakan bareng, Mas Faris selalu jadi bintangnya. Anak dari budeku ini emang orang yang menyenangkan banget. Selain pintar (karena ia adalah mahasiswa ITB jurusan teknik Elektro), ia juga sholeh n ramah banget sehingga selalu menjadi contoh teladan bagi saudara-saudara yang lainnya.

            “Teh nya mau dituangin?”, suara Mas Faris mengagetkanku. Hehehe, dari tadi aku memang sedang bersusah payah menuangkan teh panas dari poci yang besar. Maklumlah, kalo di rumah, ibu selalu menuangkannya untukku. Duh, jadi malu deh sama Mas Faris, nuang teh aja gak bisa, padahal aku kan udah kelas 1 SMA.

            “Eh, iya Mas, boleh banget. Malah dari tadi nungguin bantuan”, ledekku kepadanya.

            Sambil menuangkan teh tersebut Mas Faris berujar, “Makannya Dik, jadi perempuan itu jangan takut panas, hehehe...gak ada hubungannya ya?”

            Ih, mulai lagi neh jahilnya. Meskipun Mas Faris lebih tua lima tahun dari aku, tapi ia selalu asyik kalo diajak bicara. Ia selalu saja berhasil menemukan topik yang menarik untuk mengobrol denganku, bahkan ia selalu menjahiliku. Duh, pokoknya beda banget sama kakakku yang selalu menganggap aku anak kecil, hingga membuatnya malas mengajakku  mengobrol.

            “Mas Faris ko sekarang gak mau salaman sama Khanza lagi seh?”, akhirnya keluar juga pertanyaanku tentang sikapnya yang berubah padaku akhir-akhir ini.

            “Loh, iyaya? Abis tangan Zaza selalu kotor sih waktu mau Mas ajak salaman...!” Mas Faris berkilah. Duh, senangnya ia memanggilku dengan panggilan kesayangannya, Zaza.

            Tau kalau ia tak sungguh-sungguh dengan jawabannya, aku memasang wajah cemberut, “Ih, mas mulai lagi deh jahilnya....”

            “Duh, jangan marah donk Adik manis....Gini, Mas gak mau salaman karena Mas menghormati kamu....”, Ia memberi alasan.

            “Maksud Mas Faris?”, tanyaku heran.

            ”Gini, Dik kecil, kita ini kan sepupuan, dan itu tandanya kita bukan mahram, jadi haram kalo sentuh-sentuhan”.

            “Woh, apaan tuh mahram, Mas?”, aku pura-pura tidak tahu.

            “Mahram itu kayak kamu sama ayah ibumu, kakakmu, pamanmu dari pihak ayah, sama yang berjenis kelamin sama denganmu, nah kalo sepupu itu bukan mahram dan gak halal kalo bersentuhan. Kan kita berbeda jenis kelamin bukan?”  Jelas Mas Faris.

            Aku hanya manggut-manggut. Yah, aku lumayan paham lah tentang apa yang namanya mahram, tapi aku baru tahu kalo sepupu ternyata bukan mahram ya? Pantesan dari kemaren diajak salaman, tapi Mas Faris cuma menelungkupkan tangan di depan dadanya.

            “Eh, Dik. Katanya kamu mau pakai jilbab ya?” Tanya Mas Faris tiba-tiba.

            “Iya, Mas, Insya Allah mulai awal semester 2 ini. Kan kata Mas Faris cewek itu lebih anggun kalo pakai jilbab, terus aku pikir-pikir ia juga sih. Lagian Mas, aku males aja dengan pandangan laki-laki yang selalu menikmati putihnya kulitku, hehehe...”, seloroh aku.

            “Iya Dik, makannya kecantikanmu gak usah dipamerin, biar buat suami aja ya nanti, hehehe!”, duh nih Mas satu mulai lagi deh.

            Aku senang pagi ini bisa mengobrol banyak dengan sepupu kesayanganku itu. Sudah lama juga ya aku tak bertemu dengannya. Entah kenapa pagi ini aku merasakan semangat yang sangat besar.

***

            “Assalamu’alaikum...”, sapa Mas Faris dari seberang telepon.

            “Wa’alaikumussalam, Mas Faris, Ya?” Terkaku.

            “Iya, Dik. Apa kabar? Gimana rasanya udah setahun pakai jilbab? Nyaman kan?” Tanyanya penuh semangat.

            “Eh, iya, Mas Alhamdulillah. Mas Faris apa kabar? Gimana kuliahnya?”

            “Alhamdulillah mas baik-baik aja, kuliahnya lancar, lagi nyiapin skripsi, doakan ya biar dimudahkan dan lulus tahun ini”

            “Oh, pasti mas, tapi biarpun gak lulus tahun ini gak papa lah...Wajar anak teknik mah, hehehe....”, candaku padanya.

            “Ih, ko kamu jahat gitu sih sama Mas! Eh, kakakmu ada di rumah gak? Atau masih di jalan?”

            “Oh, ada, Mas. Tadi barusan nyampe. Tunggu bentar ya...!”. Aku pun pergi memanggil kakakku. Entah apa yang mereka obrolkan, nampaknya urusan mahasiswa. Soalnya wajah kakakku begitu serius sekali ketika bicara dengannya. Atau sesama anak teknik emang serius ya kalo ngobrol?, hehehe. Tak tahulah.

***

            “Ayah, Ibu, hari senin nanti Ayash ikut aksi ya?”, pinta kakakku ketika kami sedang makan malam bersama.

            “Aksi dimana, Yash?”, tanya Ayah.

            “Itu, Yah, aksi kasus Akbar Tanjung, biar pengadilannya gak memihak..., Mas Faris juga ikut ko, Yah”, kakaku menjelaskan.

            “Ya udah, tapi kamu mesti hati-hati ya, Nak. Ayah khawatir rusuh...”, ujar Ayah.

            “Iya, nak. Kalo bisa kamu jangan di depan ya! Emangnya yang aksi darimana aja?”, tanya Ibu.

            “Pastinya dari UI, BEM jakarta Raya, terus BEM Bandung Raya juga.”

            “Wah, hati-hati ya, Ka. Pasti bakal rame banget tuh!”, nasehatku.

            “Yaiyalah, Neng! Kalo gak rame namanya gak pake raya atuh!!!!!”

 

***

            “Innalillahi...Terus gimana keadaannya?”, suara ibu terdengar gemetar ketika berbicara di telpon.

            “Alhamdulillah sekarang udah boleh pulang kok, Bu. Insya Allah gak serius banget!”, ujar kakakku.

            Duh, ada apa sebenarnya ini? Siapa yang terluka? Kakakku atau Mas Faris? Ya Allah lindungi mereka....

            Setelah menutup telponnya aku langsung saja bertanya pada Ibu, “Bu, siapa yang terluka?”

            “Mas Faris kena pukul aparat, kata Ka Ayash sih dia gak papa, tapi ibu gak tau pasti, tenang aja, Ayah  udah ada di sana ngurusin Mas Faris. Budemu belum tahu soal Mas Faris. Biar nanti Ibu saja yang memberi kabar ke Bogor, tapi nanti setelah Ayah dan kakakmu membawa Mas Faris kesini”, Ibu berusaha menenangkanku.

***

            Lima jam kemudian terdengar suara mobil. Oh, itu pasti Ayah. Aku langsung buru-buru membuka pagar. Kulihat kakakku membukakan pintu mobil untuk Mas Faris, lalu membantunya berjalan menuju rumah. Alhamdulillah, ia masih dapat berdiri, karena aku tak melihat luka di kepala atau kakinya. Tapi, ternyata  tangannya di perban. Duh, mudah-mudahan Ia gak papa.

            Setelah memasuki rumah, ibu langsung saja membuatkan secangkir teh hangat untuk Ayah, Ka Ayash, serta Mas Faris. Ibu tak sabar mendengar cerita tentang apa yang sebenarnya menimpa Mas Faris.

            “Ko bisa sampai kaya gini toh, Ris?” Tanya Ibu cemas.

            “Gak Papa ko, Buk Lek, Cuma luka di tangan saja...”, jawab Mas Faris menenangkan Ibuku.

            “Gak papa apanya! Orang tanganmu remuk githu ko dibilang gak papa!!!”, ujar Ka Ayash kesal.

            “Masya Allah, ko bisa Mas?”, tanyaku sedikit panik.

            “Iya, tadi tuh Mas Faris coba ngelindungin akhwat yang mau dipukul sama aparat, eh jadinya malah kena pukul deh sama pentungan!”, kakakku malah yang menjawab.

            Subhanallah, Mas Faris. Betapa tidak aku bertambah kagum padamu. Uh, kau benar-benar seorang lelaki sejati, Mas. Gak sia-sia aku kagum padamu.

            “Sudahlah, memang sudah takdir Allah kalo aku yang kebetulan menjadi pelindung mereka. Lagian, semua sudah terjadi...”, jawab Mas Faris.

            “Terus, akhwatnya gak papa, Ris?”, tanya ibuku.

            “Alhamdulillah, mereka baik-baik saja...”

            Duh, Mas Faris. Bagaimana aku tak selalu bertambah mengagumimu, karena begitu banyak alasan buatku untuk mengagumi pribadimu.

***

            Tadi pagi Mas Faris mengabarkan kepada keluargaku, bahwa Ia akan diwisuda hari ini. Akhirnya setelah enam tahun berjibaku dengan tugas-tugas kuliah, sekarang ia bisa menikmati manisnya perjuangan itu. Meskipun tak lulus cumlaude, karena IPknya Cuma 3,35, tapi tetap saja Ia adalah orang hebat dimataku. Wong, lulusan Teknik Elektro ITB, IPk 3,35, gimana gak hebat!!!. Hmm, kudengar sebelum wisudapun beberapa perusahaan asing telah mengincarnya. Malah ada satu perusahaan Amerika yang berani menawarkan gaji yang lumayan besar bagi seorang yang baru lulus, agar mau bekerja di perusahaannya. Tapi, Mas Faris tetaplah Mas Faris. Komitmennya begitu kuat untuk tidak mau bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang secara tidak langsung telah menjajah Indonesia. Akhirnya ia hanya bekerja pada sebuah perusahaan milik pribumi di daerah Batam.

            Setelah beberapa bulan bekerja, Mas Faris dikirim ke Amerika untuk menunaikan tugas belajar. Mas Faris...betapa semakin hari aku semakin mengagumimu. Mendengar ceritamu ketika tiba di Amerika, ditahan di bandara selama tiga jam lamanya hanya karena membawa buku-buku agama seperti tafsir Ibnu Katsir dan sebagainya, hati ini rasanya semakin tak dapat dikendalikan lagi olehku. Oh, Mas, aku tahu, aku tak akan pernah mungkin bisa menjadi pendamping hidupmu. Tapi, salahkah aku karena mencintaimu?

***

            Tak terasa, sudah enam bulan lamanya Mas Faris berada di sana. Katanya bulan ini ia akan pulang. Wah, sepertinya hari kepulangannya akan berdekatan dengan pengumuman SPMB ku. Duh, aku tak sabar menunggu datangnya hari tu.

            Mas Faris datang berkunjung ke rumahku, setelah satu minggu kepulangannya. Sekarang sikapnya sudah sangat berbeda kepadaku. Ia sudah tak mau lagi bercanda denganku, bahkan menatap wajahku pun tidak. Duh, aku tahu Mas kalo kita harus menjaga pandangan karena kita bukan mahram. Akan tetapi, aku belum siap, Mas kehilangan candaan dan senyuman manismu. Oh, Rabbi...salahkah aku jika mencintainya?

***

 

            Hari pengumuman SPMB pun tiba. Alhamdulillah, aku diterima di Teknik Sipil ITB. Aku bangga karena akhirnya aku bisa satu almamater dengan Mas Faris, meskipun sekarang ia sudah lulus, namun setidaknya aku akan mempunyai bahan obrolan ketika bertemu dengannya. Rasanya sudah tak sabar aku ingin memberitahunya.

            “Assalamu’alaikum...Mas Faris apa kabar? Lagi di mana, Mas? Di Bandung atau di Batam?”, sapaku dengan nada riang.

            “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Alhamdulillah baik, Dik. Sekarang Mas udah pindah ke Bandung ko. Eh, gimana hasil SPMB mu?” , tanyanya.

            “Alhamdulillah, Mas. Aku diterima di Teknik Sipil ITB. Kita satu almamater deh jadinya. Sayang sih, Mas udah lulus, hehehe...!”, candaku.

            “Wah, Subhanallah...Hari ini ternyata ada dua kebahagiaan yang hadir!”

            “Maksud Mas apa?”, tanyaku tak mengerti.

            “Iya, Dik. Alhamdulillah sebentar lagi kamu akan punya Mbak, insya Allah akad nikahnya bulan depan”, Mas Faris nampak ceria.

            Deg, jantungku tiba-tiba serasa berhenti. Hatiku begitu kacau, “Maksudnya, Mas akan...”, aku tak sanggup meneruskannya.

            “Iya, Mas sudah menemukan calon pendamping. Akhwatnya calon Hafidzhoh loh, Dik! Sudah hafal 15 juz, Subhanallah Ya!” Ia terdengar begitu bahagia.

            Tiba-tiba napasku sesak. Ingin rasanya aku menangis mendengar berita itu, namun aku sadar, aku tak pantas menangisi yang memang bukan merupakan hakku. Sejak dahulu aku memang sudah sadar, bahwa Mas Faris pasti akan mendapatkan pendamping yang setara dengannya, bahkan lebih. Ya, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Kutarik napas dalam-dalam. Aku mencoba mengontrol suaraku agar tak terdengar seperti suara orang yang menahan tangis. Kucoba tegar menghadapi kenyataan ini, dan perlahan kuucapkan, “Selamat ya Mas, semoga mendapat keberkahan dari Allah...”.

 

 

                                    Semoga pernikahanmu barakah, Mas!

Depok, 19 Mei 2008 pukul 21:43 WIB

_Puti Kecil_

Sunday, 18 May 2008

HIDAYAH UNTUK SAHABATKU

Uh, penuh semua neh bangkunya. Lana memutar pandangannya mencari bangku ke arah lain. Nah, itu ada yang masih kosong, tapi belakangnya cowok-cowok, ke sana gak ya? Setelah berpikir sebentar akhirnya kaki Lana melangkah juga ke barisan paling atas bag D di Balairung. Wah, posisinya gak pas neh untuk motret Dian Sastro, hehehe….

Wisuda kali ini memang spesial, karena ada dua artis yang juga diwisuda. Satunya penyanyi, satunya aktris. So pasti anak-anak MaBa (Mahasiswa Baru) yang emang selalu ditugasin jadi paduan suara pada berebutan untuk ngambil posisi yang pas agar dapat memotret kedua artis tersebut.

Ah, tak ada seorangpun neh yang aku kenal. Anak Psikologi pada kemane seh? Salah aku juga sih tadi gak ngisi pulsa dulu. Gini neh jadinya, bagai anak ayam kehilangan induknya, kebingungan sendiri jadinya.

Tiba-tiba ada seorang cewek cantik berambut panjang, dan memakai kacamata mendekati Lana. “Bangku di sini kosong?”, tanyanya.

“Eh, iya kosong kok…”, jawab Lana agak kaget.

 Wah mulai deh neh anak mengeluarkan keahlian SKSD nya. “Dari fakultas n jurusan apa?”.

 “Oh, Keysha dari MiPa jurusan Farmasi.”, jawab cewek itu lengkap.

 “Oh kalo aku, Lana dari Psikologi, gudangnya cewek-cewek cantik, hahaha…!”, (Duh, siapa juga ya yang nanya? Si Lana mah emang SKSD banget).

Keysha terkikik juga. Aneh banget ya neh anak, pikirnya. Tiba-tiba Lana memberondong Keysha dengan rentetan pertanyaan lagi, “Dari SMA mana? Asalnya dari mana? Ngekost di mana? Kenal gak sama Fitri? Dia anak farmasi juga loh….Temen aku SMA!”

(Sabar ya Keysha, Lana orangnya emang githu). Keysha agak terkejut juga mendengar rentetan pertanyaan Lana. “Mmm, coba ya Lana pelan-pelan aja nanyanya…Keysha bingung neh, banyak banget pertanyaaannya.”

Lana senyam-senyum doank. “Hehe, maap ya Key, boleh kan aku panggil Key? Atau mau aku panggil kunci?” (Wah jayus banget seh neh anak).

Keysha tersenyum geli. Baru kali ini dia ngeliat cewek berjilbab panjang yang gokhil abis. Biasanya, cewek-cewek berjilbab kayak si Lana mah kalem. Tapi, neh anak satu ajaib banget.

“Aku dari SMA 1 Kupang. Di sini ngekost sama kakakku. Dia juga di MiPa, matematika tapi. Sekarang Alhamdulillah di wisuda, tapi mau lanjut S2.”

“O…!” Lana manggut-manggut. “Kenal sama Fitri gak?”

“Fitri yang make jilbab dan bekacamata ya?”

“Yaph, anda benar” Lana berlagak seperti pembawa acara kuis cerdas cermat.

“Wah, kenal banget. Eh, iya aku muallaf loh!”, ujar Keysha.

Lana yang gak ngeh sama sekali sama apa yang barusan diucapkan Keysha hanya ber-O ria. “Oooo….!”. Tapi tiba-tiba Ia sadar juga. “Hah, Muallaf?”, Lana setengah berteriak. Duh, udah masuk UI tapi otaknya masih Pentium I juga. Gak salah makannya kalo sewaktu di SMA nih anak dijulikin MaMot, alias Manusia Lemot. Hihihi….

“Ia, Lan. Baru tadi pagi aku Syahadat di MUI”. Jangan salah ya, MUI yang dimaksud Keysha bukan Majalis Ulama Indonesia, tapi maksudnya Masjid Ukhuwah Islamiyah.

“Wah, Subhanallah. Selamat ya, Key. Mudah-mudahan selalu istiqomah.” Lana takjub banget. Duh, jadi inget sama Hani.

“Makasih ya, Lan. Aku seneng banget deh banyak yang ngedukung aku. Tadinya aku juga gak nyangka bakal jadi seorang muslimah hari ini. Soalnya, aku juga baru tau kalo kakakku mau syahadat hari ini. Jadi, aku pengin sekalian aja. Tadi sempet ada masalah juga, coz surat-surat aku belum lengkap, Lan. Jadi katanya disuruh ngelengkapin dulu. Terus mama bilang ke pengurusnya gini, “Masa mau ke jalan kebaikan aja berbelit-belit? Kalo surat mah bisa nyusul nanti, kalo misalnya nyawa anak saya cuma ampe hari ini, emang syahadatnya bisa nyusul apa?”. Wah, keren banget tuh mamanya Keysha!

 “Oh, iya, Lan. Mama sama papa ku beda agama. Mamaku Islam, Papa Kristen. Papa belum tau kalo aku udah muslim”

“Emang kenapa, Key? Ko belum dikasih tau?” Tanya Lana penasaran.

“Belum, Lan. Aku masih gak berani. Waktu papa tau aku belajar ngaji pas SMP aja, aku diusir dari rumah, Lan” Keysha menjawab dengan mata yang berkaca-kaca.

Si Lana jadi gak enak hati. Duh, emang perjalanan jadi muallaf penuh perjuangan banget. Lana jadi teringat sama Hani, sahabatnya sewaktu SMA yang baru jadi muallaf juga.

 

***

 

            “Lan, aku pengin belajar Islam…” Pernyataan Hani begitu mengagetkan Lana. Sampai-sampai neh anak yang lagi minum tersedak.

            “Uhuk…uhuk….Aku gak salah denger, Han?”

            “Enggak, Lan. Aku emang beneran pengin belajar Islam.”

            “Emang kenapa?” Lana penasaran abis.

            Hani menjawab sambil berbisik, “Aku belum yakin sama agama ku yang sekarang, Lan….”

            Lana jelas-jelas senang mendengar ini. Yes, semoga Hani benar-benar mendapatkan hidayah-Nya.

            “Lan, tapi tolong rahasiakan ini ya?” Pinta Hani.

            “Woh, pastinya, Han. Tapi kamu mau mulai darimana? Maksud aku mau tentang apa dulu?” Lana agak bingung juga.

            “Lan, aku mau belajar sholat.” Jawab Hani dengan senyum merekah.

            Rasanya Lana sudah tak sabar ingin mengajarkan Hani tentang tata cara sholat plus bacaannya. Duh, jadi ngebayangin gimana ya nanti kalo seandainya Hani beneran udah jadi seorang muslimah? Wah, berarti di geng-ku Islam semua dong jadinya. Gak perlu repot-repot pake jilbab kalo ada acara nginep bareng. Hehehe….

            “Han, gimana kalo siang nanti di selasar laboratorium Biologi kita mulai belajar bacaan sholat? Kan di sana lumayan sepi”, Lana memberi saran.

            “Ehm…tapi aku mau nge-net dulu ya, nyari bahan buat kimia.”

            “Ok, ok.” Jawab Lana penuh semangat.

 

***

           

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Musholla yang letaknya persis di depan selasar laboratorium Biologi mulai terlihat sepi. Hanya ada beberapa siswa kelas satu yang akan menunaikan sholat dzuhur. Huh, dasar anak-anak ini, pasti tadi main-main dulu, masa udah jam dua baru mau pada sholat? (si Lana suudzon aja nih!).

Hani belum juga kelihatan. Si Lana males juga kalo harus bolak-balik ruang computer-Lab. Biologi. Bukannya sombong, tapi emang sekolah Lana tuh paling gede n luas di kotanya. Jadi, kalo mau bolak-balik ruang computer yang letaknya deket gerbang masuk, ke Lab. Biologi yang letaknya paling belakang, lebih enak kalo pakai otopetnya si Poo. Hehehe.

            Malah si Lana pernah bawa sepatu roda waktu acara Seminar Umum. Katanya sih biar mengefektifkan waktu karena dia harus bolak-balik ke lapangan depan-musholla untuk mengecek apa-apa saja yang masih kurang. Salah panitia juga sih naruh logistiknya di musholla, jadinya kalo waktu lagi ngedekor panggung n tiba-tiba kurang sesuatu, ya mau gak mau harus balik ke musholla yang letaknya paling belakang.

            Setelah penantian yang panjang, akhirnya Hani datang juga. Lana langsung memasang wajah sumringah. “Akhirnya datang juga…!”

            Dengan agak malu-malu Hani meminta maaf, “Maaf ya, Lan. Tadi aku nungguin Pa Jati untuk nge-print.”

            “Oh, justru aku yang minta maaf, soalnya aku gak bantuin kamu.” (Akhirnya Lana sadar juga kalo dia kurang berkontribusi dalam tugas kelompok ini. Emang sih, Hani ditugasin untuk nyari data dan nanti sisanya diolah bersama-sama). Hehe, tapi si Lana agak merasa bersalah juga n cuma bisa cengar-cengir doank.

            “Oke, Han. Kita belajar bacaan sholat dulu, ya?” Ucap Lana memulai pelajaran

            “Lan, sebenernya aku dah bisa bacaan sholat, tapi tinggal bacaan tasyahud aja”, ujar Hani malu-malu.

            “Subhanallah, wah kamu ternyata emang niat banget ya, Han mau masuk Islam” (Duh, si Lana mulai lagi neh dengan otak Pentium satunya).

            “Ya iyalah, Lan. Kalo gak niat mana mungkin aku mau belajar sama Kamu?” Jawab Hani sambil tertawa.

Lana Cuma terkekeh-kekeh gak jelas. Hehehe, emang neh akhwat satu agak rada-rada.

***

           

            Alhamdulillah, setelah belajar beberapa kali, Hani sudah mulai melakukan gerakan sholat dan bacaannya dengan benar. Ia pun telah belajar hal-hal dasar tentang Islam. Tentang rukun Islam, rukun Iman, Nabi-nabi, Malaikat, Puasa, dsb. Satu hal yang membuat Lana kagum dengan Hani. Ternyata sejak Ramadhan kemarin, ia telah mulai belajar puasa. Dan yang hebatnya lagi, ia selalu melaksanakan puasa senin-kamis. Tapi justru karena itu Lana kasihan dengannya. Mengapa begitu? Karena ketika Hani belum berIslam, maka amalan yang dilakukannya tidak akan diterima di sisi Allah (Bukankah begitu?). Oleh karena itu, Lana terus mendesak Hani agar secepatnya bersyahadat.

            Akhirnya waktu tersebut datang juga. Tepat ketika tanggal 1 Hijriah tahun 2007 lalu, Hani mengikrarkan dirinya menjadi seorang muslim. Akan tetapi, di sekolah, ia belum berani untuk mengungkapkan jati dirinya. Jadilah ketika dzuhur tiba, Lana harus menyelundupkannya untuk shalat di Al-Ahzom, sebuah masjid yang tidak jauh dari sekolah. Untungnya ada teman-teman yang senantiasa selalu membantu mereka. Memang, tidak semua teman-teman sekelas tahu tentang keislaman Hani. Hanya ada lima orang (termasuk Lana) yang tahu tentang keislaman Hani. Siang itu jadilah Oki yang menjadi tukang ojek untuk Hani. Memang berat untuk setiap hari menyelundupkan Hani pergi shalat dzuhur, tapi inilah yang dinamakan perjuangan.

 

***

 

            Di suatu siang, Oki sudah bersiap untuk mengantarkan Hani. Namun tiba-tiba terdengar kabar bahwa Frans, salah satu anak RokRis mulai curiga dan berniat untuk membuntuti Hani. Mendengar itu Hani menjadi cemas, bahkan Ia menangis karena masih belum siap jika jati dirinya terungkap. Ia menginginkan pengungkapan jati dirinya setelah nanti ia lulus. Untungnya, mereka berlima sigap. Salah satu teman Lana langsung saja berpura-pura mengajak ngobrol Frans, dan Oki pun buru-buru mengantarkan Hani untuk menunaikan shalat Dzuhur. Alhamdulillah, sampai ketika Hani berani mengungkapkan jati dirinya, Lana dan teman-temannya senantiasa selalu dapat melindunginya.

 

***

 

“Eh, Lan! Kamu mau shalat Ashar dulu atau langsung pulang?” Keysha membuyarkan lamunan Lana.

“Oh, aku mau shalat dulu, Key di MUI, Kamu mau ikut?” Jawab Lana

“Oke, sekalian aja kita bareng. Tapi aku mau ngenalin kamu dulu ya sama mamaku.” Ujar Keysha.

Lana agak takut juga (Kok takut seh? Emangnya mamanya Keysha macan apa? hehehe).

Keysha dan Lana segera bangkit dan menyusuri tangga Balairung. Duh, penuh banget neh, kayak lautan manusia aja. Keysha lalu menghampiri seorang wanita paruh baya yang cantik. Wah, ini pasti mamanya Keysha, nih! Tebak Lana.

“Ma, kenalkan ini Lana, temen baru Keysha”

“Assalamu’alaikum, Tante!” Ucap Lana dengan ramah sambil mencium tangan wanita itu.

“Eh, wa’alaikumussalam” Jawabnya.

“Ma, aku mau shalat Ashar dulu, Ya sama Lana”, Keysha meminta izin.

“Oh, yaudah…tapi abis itu langsung balik ke sini ya, kan kakakmu mau foto sama kamu”

Jadilah sore itu pertama kalinya Lana sholat bersama muallaf sahabat barunya. Lana bersyukur karena ia dapat dipertemukan dengan Keysha oleh Allah. Ia jadi bisa mensyukuri, betapa beruntungnya ia terlahir sebagai seorang Muslim. Karena merupakan suatu perjuanagan berat untuk dapat menemukan serta mempertahankah suatu hidayah tersebut.

 

 

 

 

 

Hal yang sangat indah dan tak akan pernah terlupakan dalam sebuah episode hidupku. Semoga Allah senatiasa memberikan hidayah kepada kita dan semoga Allah selalu mempererat tali persaudaraan kita.

Untuk Amalia dan Gisha, Aku sayang kalian!

_Puti Kecil_

Ibu, Aku Ingin Kuliah...


“Kamu gak ikut UM (Ujian Masuk) UGM, Put?” Alifah bertanya kepadaku. Mendengar pertanyaannya aku hanya bisa tersenyum. Hmmf...Oh, Rabbi...dapatkah aku kuliah setelah lulus nanti?

 

 

“Ibu, aku ingin kuliah...” aku merajuk kepada Ibu di suatu malam. Hmm, tak ada sepatah pun kata yang terucap dari bibirnya. Kulihat kemudian matanya nanar, lalu perlahan satu persatu butiran air matanya menetes keluar. Aku bingung, kenapa ibu tiba-tiba menangis? Adakah yang salah dari perkataanku? Sampai-sampai hatinya tersayat hingga menyebabkan air matanya jatuh? Kemudian ibu menarik napas. Sambil meneruskan me-ngesum rok SMA pesanan Lia, tetanggaku, ia kemudian berujar, “Nak, ibu manapun ingin agar anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Ibupun demikian. Ibu tahu bahwa pendidikan sekarang amatlah penting. Apalagi kamu termasuk anak yang cerdas...” Suaranya bergetar, ia tak dapat menahan tangisnya.

“Kau tahu kan, Nak! Ayahmu hanyalah seorang montir mobil di sebuah perusahaan kecil. Kau tahu kan,  sebentar lagi ayah akan di PHK karena perusahaannya bangkrut. Darimana, Nak orangtuamu ini akan membayar uang kuliahmu. Sementara hiduppun kita  pas-pasan....”

“Ibu tak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Ibu tahu, ibu dan ayah adalah orangtua yang gagal karena kami tak bisa menyekolahkan anak-anaknya sesuai dengan cita-citanya. Jika bukan karena “keterpaksaan” untuk berkuliah di STAN, mungkin masmu kini sudah menjadi seorang sarjana Teknik Nuklir. Tapi Allah berkehendak lain, masmu pun bisa kuliah karena Allah memberinya rezeki di STAN yang memang gratis, Nak...” Ibu semakin terisak. Aku sungguh tak tega melihatnya menangis. Maka kucukupkan saja perbincangan yang pada akhirnya kusesali ini.

“Ibu, engkau bukan orangtua yang gagal. Justru Ibu dan Ayah adalah orangtua yang hebat karena telah dapat membesarkan anak-anak yang bisa meraih prestasi di sekolahnya. Ibu telah membesarkan anak laki-laki yang selalu juara umum, Bu! Ibu telah membesarkan aku, menjadi seorang muslimah yang dapat mempersembahkan sebuah prestasi meskipun bukan prestasi yang terlalu tinggi”

 Aku mencoba menenangkan ibu. Sungguh, aku amat menyesal telah membuat ia menangis. Kini aku telah menambah beban pikirannya lagi. Ibu sudah cukup lelah berjuang untuk menutupi kebutuhan kami yang tak sepenuhnya tertutupi oleh penghasilan Ayah. Meskipun sekarang masku telah bekerja dan menjadi CPNS, namun ibu tetap saja enggan untuk menerima bantuan sepenuhnya dari masku karena beliau merasa tidak enak untuk terlalu membebani masku yang baru 2 tahun bekerja.

Aku kemudian pergi ke kamar. Kupandangi dinding kamar yang dipenuhi oleh gambar serta tulisan tentang semua cita-citaku. Ya, aku harus kuliah. Bagaimanapun aku harus kuliah, entah itu di PTN atau di sekolah ikatan dinas. Aku memandang sebuah gambar muslimah yang memakai toga, dibawahnya bertuliskan “Aku calon Psikolog”. Hmmf...aku menarik napas panjang. Kembali kuingat perkataan ibu ketika beliau melihat gambar itu “Nak, ibu mengerti akan cita-citamu, tapi jika kamu ingin kuliah, maka kamu hanya bisa kuliah di sekolah ikatan dinas, Nak! Bukan bermaksud untuk menghalangimu bermimpi, tapi kau tahu kan nak bagaimana keadaan ekonomi keluarga kita?”.

Ya..ya..aku sangat memahami perasaan yang beliau rasakan. Kini, aku berniat untuk sedikit mengubur cita-cita menjadi seorang Psikolog. Ya, aku tak boleh mengecewakan Ibu. Aku harus bisa masuk STAN agar bisa mengurangi beban orangtuaku.

 

 

Meskipun aku tak berniat mengikuti SPMB, akan tetapi masku menyuruhku mengikuti bimbingan belajar di NF sampai masa intensif SPMB. Ya, Alhamdulillah masku bersedia membayar biaya lesku sampai intensif SPMB. Kata dia, sekalian mengasah otak untuk mempersiapkan ujian STAN. Maka, setelah selesai UAN, hari-hariku diisi dengan kegiatan intensif SPMB. Tahukah Kawan, meskipun cita-citaku adalah masuk ke Psikologi UI, namun aku mengambil paket IPA  dalam intensif ini. Ya, karena memang aku dari IPA, dan karena aku pun sudah mengubur cita-cita untuk ikut SPMB. Seperti kata masku, les ini hanya untuk mengasah otakku agar tidak tumpul.

 

 

Tak terasa hari-hari menjelang SPMB tiba. Semua teman-temanku telah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka sibuk berlatih soal-soal, sementara mungkin aku satu-satunya orang yang tidak larut dalam kesibukan itu. Aku hanya berlatih tanpa sama sekali mempunyai ruh di dalamnya. Meskipun begitu, aku tetap serius mempelajari setiap butir soal yang dijelaskan oleh para tentor. Sebenarnya aku sudah lelah dan selalu berpikir bahwa ini sia-sia, karena kupikir toh aku juga tak akan pernah mengikuti SPMB.

 

 

Alhamdulillah, aku lulus UAN dengan nilai yang cukup memuaskan. Meskipun masih banyak yang lebih bagus dari nilaiku, tapi aku bangga karena ini nilai MURNI hasil jerih payahku sendiri. Kau tentu tahu Kawan, bagaimana kecurangan saat UAN itu terjadi hampir di tiap sekolah. Tak terkecuali sekolah-sekolah unggulan. Banyak SMS jawaban yang menyebar hampir ke setiap HP para siswa. Akan tetapi, aku telah berazzam untuk tidak melakukan satupun tindak kecurangan, karena aku takut Allah tak akan pernah membantuku lagi ketika Ia melihat, aku berbuat suatu perbuatan yang amat dibencinya.

 

 

Hari ini hari terakhir pemesanan formulir SPMB. Tahu kah kau Kawan, kalau hari ini suasana hatiku amat kacau. Aku iri dengan teman-teman yang dapat mengikuti SPMB. Oh, Rabbi...aku tahu bahwa Engkau tak akan pernah menyia-nyiakan hambaMu ini. Dengan tekad yang kuat kuberanikan diri menelpon masku yang  bekerja di Garut.

 “Mas, hari ini kan hari terakhir pemesanan formulir SPMB, boleh gak mas kalo Putri ikutan mesen?” Suaraku terdengar parau. “Terus nanti bayarnya kapan?” . “Hari senin, Mas!”. “Yaudah, pesen aja, insya Allah nanti rezeki mah ada aja, nanti sore mas pulang, kok!”

Mendengarnya, pikiran yang tadinya gersang ini serasa tertetesi embun yang menyejukkan. Ada satu keoptimisan yang muncul dalam diriku, meskipun hanya sedikit.

Oh, Rabbi jika engkau memang mengizinkan, maka mudahkan jalanku, Rabb untuk dapat mengejar semua mimpi-mimpiku.

 

 

Tak terasa hari yang menegangkan itu tiba. Perlu engkau ketahui kawan, aku mengambil program IPC dalam SPMB ini. Suatu hal yang amat sangat nekat karena aku sama sekali tidak mempelajari sedikitpun pelajaran IPS. Modalku hanya dalam kemampuan dasar serta pelajaran sejarah yang memang aku sukai. Kawan, aku menganggap ini hanya sebuah tebak-tebak berhadiah. Toh, akupun tak tahu jika aku memang lolos pada akhirnya nanti, apakah akan kuambil atau tidak.

Hari seleksi pun terlewati. Kini aku harus kembali fokus dengan ujian yang memang menjadi tumpuan hidupku. Ya, aku harus mempersipakan untuk ujian STAN bulan Agustus ini.

 

 

Waktu cepat berlalu. Kau tahu Kawan, malam ini adalah malam pengumuman hasil SPMB lewat internet, dan pasti akan menjadi malam yang menegangkan bagi seluruh peserta yang mengikuti SPMB. Tapi tidak denganku. Aku sama sekali tak peduli, meskipun aku sebenarnya juga ingin mengetahui apakah aku berhasil lolos atau tidak. Aku hanya terdiam dikamar sambil terus mencoba berkonsentrasi dengan setumpuk contoh soal-soal UM STAN. Tiba-tiba HP ku bergetar. Ternyata sebuah SMS dari sahabatku, Alifah. Ia mengabarkan bahwa dirinya diterima di jurusan Biologi UI. Sesuatu yang memang diimpikannya sejak dulu. Aku mengucap syukur atas keberhasilan sahabatku ini. Mungkin UI memang tempat yang terbaik yang diberikan Allah untuknya, karena sewaktu UM UGM kemarin ia tidak berhasil lolos. Alifah kemudian menanyakan no peserta SPMB ku. Karena penasaran kukirimkan saja nomor itu. Kawan, aku sama sekali tak berharap lolos dalam SPMB ini, karena aku sama sekali hanya menebak ketika mengerjakan soal-soal kemampuan IPS. Kalaupun aku masuk, aku yakin pasti aku hanya akan masuk Psikologi Pendidikan di sebuah universitas  negeri di Jakarta.

Kau tahu kawan, ternyata Allah berkehendak lain. Tak lama kemudian Alifah mengirim SMS yang benar-benar mengagetkanku. Ya, aku diterima di satu universitas yang sama dengannya. Itu artinya aku diterima di Psikologi UI, fakultas yang selama ini aku idam-idamkan. Mungkin aku satu-satunya orang yang nelangsa ketika mendengar berita bahwa dirinya diterima di UI. Sebuah perguruan tinggi idaman anak negeri. 

Kawan, sebenarnya aku bahagia, tapi aku sedih karena suatu kenyataan yang tak dapat aku hindarkan. Biaya, adalah masalah utama yang menjadi penghalangku. Tahukah kau, Kawan berapa yang harus aku bayar untuk masuk Psikologi UI? Sepuluh juta rupiah untuk uang pangkalnya. Aku sungguh tak tega membicarakan hal tersebut kepada orangtuaku. Mereka pasti akan bersedih karena ketidakberdayaan yang dimilikinya. Aku hanya bisa menangis di dalam kamarku. Sampai tiba-tiba ibu menemukanku telah bersimbah air mata. “Ada apa, Put? Mengapa menangis?”. Aku tak sanggup menyampaikan kabar yang entah bahagia atau sedih ini. Akhirnya aku mencoba memberanikan diri “Bu, aku diterima di UI”

Kulihat mata ibuku nanar. Ibu, aku tak bermaksud membebani pikiranmu lagi. Namun tiba-tiba ibu berkata, “Nak, ketika Allah memberikan sesuatu, pasti ada jalan untuk menjalaninya kelak”. Oh, Ibu perkataan itu menjadi penyejuk kalbuku. Yah, pasti Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan  hambanya sedikitpun.

 

 

Keesokan harinya, setelah tadi malam kutelpon, masku tiba-tiba saja langsung datang dari Garut. Yah, kebetulan memang hari itu hari sabtu. Ibu langsung menelponku untuk segera pulang karena masku telah menunggu di rumah. Saat itu memang aku sedang berada di sekolah untuk melaporkan tentang kelulusanku. Di sekolahpun hanya aku yang terlihat sedih saat memberitahukan kabar yang semestinya membahagiakan ini. Alifah pun memahami kegundahanku. Ia terus mendukungku dan menyemangatiku bahwa ada beribu macam beasiswa yang tersebar di sana. Entahlah, aku tak tahu harus berbuat apalagi?

Sesampainya di rumah, kulihat sebuah laptop berada di samping telpon. Oh, ternyata ini laptop baru yang dibeli  masku. Mas Ivan yang melihat kedatanganku tiba-tiba saja tersenyum. “Allah memang tak akan pernah menyia-nyiakan hambanya, Put! Kau tahu, SK PNS ku baru saja turun dan aku sekarang dipiindah tugaskan ke KanWil Bandung, itu artinya kemungkinan besar aku akan bisa membiayai kuliahmu. Tapi, kamu juga harus berusaha mencari beasiswa ya! Biar meringankan bebanku. Dan juga jangan sampai IPK mu nanti dibawah 3, Oke?”

Subhanallah, Maha Suci Engkau Rabbi...

Aku tak sanggup lagi berkata-kata, Kawan. Hanya airmata yang mengalir yang menjadi saksi betapa bahagianya aku. Oh, Rabbi...betapa besar karunia-Mu terhadap hamba. Terima kasih Rabb atas semua anugerah tak terhingga yang telah engkau berikan kepada keluargaku....

 

***

 

Kawan, sekarang aku telah menjadi seorang mahasiswa Psikologi UI, yang semua biaya kuliah dan biaya hidupku, serta hidup keluargaku, ditanggung oleh beasiswa dan jerih payah hasil keringat masku. Kau tahu, Kawan,  aku tak diterima dalam UM STAN. Dan itu artinya memang Psikologi UI-lah tempat terbaik untukku. Kawan, satu pesanku, jangan pernah takut untuk bermimpi, karena Allah tak akan pernah sedikitpun menyia-nyiakan hambaNya yang terus berusaha. Maka bermimpilah, Kawan....!karena Allah akan memeluk Mimpi-mipimu!!!!!

 

 

Hari yang melelahkan setelah mengikuti NgoBaR di Balai Sidang BNI

Mengingatkan aku akan sebuah episode dalam perjalanan hidupku

(Di kamar kosanku, 16 Mei 2008 pukul 20:40 WIB)

_Puti Kecil_

 

 

                              

Wednesday, 14 May 2008

Indahnya Ukhuwah




Foto-foto bersama teman-teman waktu SMA

Pagelaran Seni di FIB

Start:     May 14, '08 2:00p
End:     May 15, '08
Dalam acara ini, semua yang ditampilkan adalah karya mahasiswa semester 2 dalam mata kuliah Seni. Ada juga pertunjukkan seni loh dari Karawitan jawa, karawitan dan tari bali, teater, juga wayang. Dateng ya!!!! Coz aku juga akan tampil neh dalam pertunjukkan karawitan jawa kamis ini jam 2 siang.

Makhluk itu Bernama Wanita

Makhluk itu bernama wanita

Rahimnya membawa secercah harapan

Kasihnya membentuk  pribadi yang dibutuhkan zaman

Cintanya abadi sepanjang masa

 

Makhluk itu bernama wanita

Kelembutannya menyimpan berjuta kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan

Pelukannya dapat menyembuhkan kekecewaan dan keterpurukan

Senyumnya tanda keikhlasan

 

Makhluk itu bernama wanita

Rela berkorban demi seseorang yang dicintainya

Mampu tersenyum saat hatinya penuh luka

Mampu menyembuhkan diri kala teraniaya

 

Makhluk itu bernama wanita

Terlihat lelah dan rapuh 

Namun mampu berdiri tegak melawan ketidakadilan

Mampu menanggung beban melebihi laki-laki

 

 

 

 

Makhluk itu bernama wanita

Ia lupa bahwa cintanya dapat menjerumuskan

Pesonanya dapat menyebabkan permusuhan

Dan terkadang ia lupa betapa berharganya dirinya

 

 

 

 

Oleh:

Puti Ayu Setiani