| Start: | Apr 18, '10 12:00a |
| Location: | depok |
Friday, 9 April 2010
workshop menulis
Sunday, 4 April 2010
Lengkung Pelangi Sebuah Negeri (2) *tamat
“Umm, aku lelah…aku ingin tidur Umm”, rengek Shafiyah.
“Ayo, Nak tidurlah di sini, di pangkuan ummi…”, aku merengkuh tubuhnya. Membiarkan tubuhnya merebah di pangkuanku.
Malam ini kami tidur di sebuah flat yang masih selamat. Pemilik flat dengan senang hati mempersilahkan kami, berbagi bersama saudaranya yang lain. Kami di sini tidur berdesak-desakkan. Entah ada berapa keluarga yang kini menginap di dalam flat ini. Tanpa penerangan yang cukup karena lontaran dari burung nasar besi kemarin telah menghancurkan instalasi listrik di distrik ini. Kami tinggal berdesak-desakkan, tanpa pasokan air yang memadai, karena lontaran burung nasar besi itu juga telah menghancurkannya. Dan kami kini tinggal hanya dengan keyakinan penuh, bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakan kami.
Tak sampai tiga puluh menit Shafiyah terlelap, tiba-tiba…“Buum…..Bumm…Bum
“Umm….!”, Shafiyah terbangun dengan wajah ketakutan.
“Tenang, Nak. Berdzikirlah….Allah bersama kita”, Lirihku.
Aku dan Shafiyah buru-buru bangun dari tempat kami bersandar. Semua yang ada dalam ruangan ini panik, tak tahu harus mencari tempat berlindung kemana. Di tengah kekacauan dalam ruangan, dentuman pun semakin terdengar keras. Lantai yang kami injakpun turut bergetar hebat. Barang-barang di atas satu-satunya meja yang ada, sudah berhamburan jatuh ke lantai. Dan seketika itu jua, akhirnya bangunan yang terdiri dari dua lantai ini goyah. Meluruh ke tanah, tak kuat menahan beban akibat serangan tersebut. Seketika semuanya gelap. Sunyi dan sepi. Termasuk duniaku dan dunia anakku, Shafiyah.
***
“Umm, dapatkah aku melihat pelangi di langit Gaza ini?”, aku kembali mengingat pertanyaan yang sering dilontarkan Shafiyah waktu itu. Ia, tak berhasil terselamatkan saat flat yang kami tinggali runtuh akibat serangan bom. Memang, sejatinya bukan flat yang kami tinggali yang menjadi sasaran dari serangan dahsyat tersebut, melainkan gedung yang berada di sebelah kami. Akan tetapi karena dahsyatnya ledakan bom, membuat flat yang kami tinggali juga ikut luluh.
Aku dan Shafiyah, juga bersama penghuni di dalam flat itu dilarikan ke rumah sakit Sifa. Akan tetapi karena kehendakNya, nyawa Shafiyah tak dapat terselamatkan. Mungkin karena memang ia masih terlalu kecil untuk menahan luka yang menderanya. Padahal paman Husain, satu-satunya kerabat kami yang masih hidup, bersaksi bahwa Shafiyah masih dalam keadaan hidup saat dibawa ke rumah sakit Sifa.
“Umm, dapatkah aku melihat pelangi di surga nanti?”, lagi, pertanyaan itu kembali terngiang di kepalaku.
Tentu Nak, Insya Allah di Surganya kita akan melihat pelangi yang lebih indah dari pelangi yang ada di bumi.
“Umm, kelak akankah bersama, kita bisa menikmati indahnya pelangi di langit Gaza ini?”, sebuah pertanyaan tentang pengharapan yang juga selalu dilontarkan olehnya. Insya Allah, Nak. Meskipun bukan kita yang akan menikmatinya, tapi aku senantiasa percaya bahwa janji Allah pasti datang. Aku yakin, suatu saat kelak bangsa Palestina akan bisa menikmati indahnya lengkung pelangi di langit Gaza ini, tanpa teror dan tanpa penjajajahn dari zionis. Selama para pejuang tak pernah lelah berhenti mengabdikan dirinya untuk sebuah kemenangan dan kesejahteraan bangsa Palestina, selama doa dan pengharapan terus terlantun dari tiap jiwa untuk kemerdekaan palestina, dan selama sebuah asa masih senantiasa hadir dalam tiap hati bangsa Palestina. Kelak, Nak…Insya Allah, suatu saat kelak. Aku yakin sepenuhnya….
_o0o_
Depok, 3 Februari 2010
*atas kondisi yang dialami masjid Al-Aqsha akhir2 ini, yuk ikuti aksi palestina SALAM UI, LD se UI, dan FSLDK JADEBEK. Jum'at, 26 Maret Siang dari HI-RRI
Subscribe to:
Posts (Atom)