Sunday, 8 May 2011
Masak-masak (Chicken Drum Stick)
Saturday, 7 May 2011
Pelukan (FF)
“Harusnya aku gak ngelakuin itu ya a’? Kenapa aku bisa begitu bodoh sih?”
Lelaki itu masih setia mendengarkan keluhku, ia tak beranjak meski malam kini telah larut
“Manusia itu wajar kalo salah, Sayang. Kalo bener terus gak belajar donk?”
Aku terdiam, bulir-bulir air mata ini masih tetap saja mengalir
“Duh, jangan nangis donk, kalo kamu nangis aku sedih nih”
Lelaki itu mendekatkan tangannya, mencoba menyeka air mataku, “Sini..kupeluk dulu deh”, sedetik kemudian ia memberikan sebuah boneka beruang kehadapku
Aku tersenyum meski tak ada yang kurasakan, hanya angin yang membelai tubuhku, “Hampa, a’…”
“Ah, Dek. Andai aku bisa menerobos layar ini…”
Inilah Awal Bermula

Jika kau tanya kenapa aku memilihmu,
Itu karena Allah memberiku Cinta yang ditujukan padamu*
Aih, udah lama rasanya gak ketak-ketik di blog, hehe. Baiklah saatnya memperbaharui lagi isi 'rumah' ini. Berhubung Alhamdulillah kini status saya sudah double, makannya kali ini rumahnya mau diisi dengan cerita perjalanan cinta saya sampai bertemu suami… (:”>)
Pertemuan kami terbilang cukup unik, bahkan bisa dibilang agak ajaib. Orang-orang mungkin menyangka pertemuan saya dengan suami diperantarai oleh pasangan yang adalah juga teman kami, jadi si laki-laki merupakan junior suami saya di kampus, sedangkan si perempuannya merupakan senior saya di kampus. Tapi, ternyata scenario Allah untuk kami lebih dahsyat dari itu… dan di sini saya ingin berbagi, mudah-mudahan yang membaca tulisan ini dapat mengambil hikmah dari kisah perjalanan pertemuan saya dan suami.
Sebelumnya ingin berkenalan, saya dan suami saya memiliki beda usia 2 tahun. Suami saya merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi di Singapura, sedangkan saya mahasiswa psikologi UI. Kami bukan senior dan junior di SMA, SMP, atau bahkan SD. Bahkan kami tidak tinggal di satu wilayah yang sama. Dan kisah pertemuan saya dan suami bermula dari sini…
Ramadhan, 2010
Saat sedang ‘ngasong’ menyebar kuesioner di daerah cipulir, seorang teman sepe-‘ngasongan’ tiba-tiba bertanya tentang kesiapan saya untuk menikah, jleg…tentu saja keinginan menikah itu ada, tapi saya gak pernah ngebayangin akan ditawari ketika masih menjalani kuliah. Ia mengatakan ada seorang ikhwan, lulusan luar yang sedang mencari istri, maka di hari itu, saat masih berada dalam kebimbangan saya menjawab akan memikirkan dulu tawaran ini
Dan singkatnya ternyata hati saya masih ragu, pun ketika berbincang dengan orangtua saya, mereka masih keberatan, terlebih mengetahui kemungkinan saya akan diboyong ke luar. Dan sayapun memberi jawaban untuk saat ini saya masih belum mau berproses untuk menikah.
Dua bulan setelahnya,
Saya menjalani hari-hari seperti biasanya, dan didua bulan ini pula saya berusaha menjernihkan hati dan pikiran saya. Di titik ini pula saya mulai merasa bahwa saya butuh menikah (alasan tentang itu termuat dalam tulisan mengenai kisah taaruf yang saya kirim ke sayembara menulis asma nadia. Makannya doain tulisan saya dimuat ya biar bisa baca, hehehe ^^v). intinya di sini saya berazzam, Allah jikalau memang engkau mengirimkan siapapun kepada saya, maka insya Allah saya bersedia berproses dengannya.
November, 2010
Dan di akhir bulan yang sama itu pula Allah langsung mengijabah doa saya. Saat itu saya kembali bertanya kepada teman yang waktu itu ingin memproseskan seorang kenalannya pada saya. Dan ternyata ia kembali ingin memperantarai orang yang sama dengan yang di bulan ramadhan itu. Yah, begitulah…inilah scenario Allah yang sama sekali tidak bisa kita prediksi. Saya mana pernah terpikir akan berproses dengan seorang ikhwan yang dua bulan lalu juga di propose kepada saya. Ya, inilah scenario Allah. Maka pertukaran biodata anatara kami terjadi. Dan dari sinilah segalanya bermula…
Proses yang kami lalui terbilang singkat. Sebelum menikah, kami hanya bertemu sebanyak dua kali, saat bertemu diproses ta’aruf, dan saat proses khitbah. Jika ada yang bertanya pada saya kenapa saya bisa begitu yakin, jawabnya hanya satu, saya merasa Allah memberi saya cinta yang ditujukan kepadanya. Cinta itu diwujudkan dalam suatu bentuk ketenangan dan kenyamanan selama berlangsungnya proses. Pun tidak ada alasan bagi saya untuk menolak ikhwan ini, terlebih dari sisi agama dan akhlaknya.
Februari, 2011
Dan jadilah di tanggal 5 Februari 2011 ini sebuah mitsaqan ghaliza terucap darinya. Dan di tanggal inilah awal bermula bagi kami untuk mendewasa bersama
Dan semoga pernikahan kami selalu diberkahi olehNya, dengan ketentraman dan juga keberkahan, seperti doa yang terlantun dari penulis favorit saya:
To: Delta & Puti,
Semoga Sakinah Senantiasa**
*Asma Nadia, Muhasabah Cinta seorang Istri
**Asma Nadia, dalam sebuah doa yang diberikan di buku Sakinah Bersamamu

Peran Baru
Hiyaaa....
jujur ini peran yang gak gampang, dan saya masih terus belajar tentunya...(yaiyalah)
tapi seneng juga sih, bener juga kalo kata kakak kelas saya bahwa menikah itu adalah proses untuk sama-sama berdewasa...
yup..yup, n ternyata emang bener banget...
ini beberapa hal yang terjadi dan menurut saya merupakan hal yang sangat memproses kedewasaan kita:
- belajar berbagi, yang namanya sudah dikaruniakan teman hidup, bahkan oleh Allah suami istri diumpakan layanya pakaian, yang namanya berbagi adalah hal yang memang ada di dalam kehidupan rumah tangga ini. Berbagi perasaan, berbagi kasih sayang, berbagi gundah gulana, berbagi kesedihan, bahkan berbagi rezeki,
- saling sabar, gak selamanya bahtera ini akan berjalan mulus, yang namanya tinggal berdua, pasti deh ada gesekan-gesekan yang terjadi. Untungnya suami saya termasuk tipe orang yang sabar dalam menghadapi istrinya yang ekspresif ini (Alhamdulillah). Dan kami punya cara tersendiri jika singgungan tersebut sedang terjadi. Jadi, kalo kami sedang dalam keadaan 'bersinggungan', misal suami saya marah sama sikap saya, maka dia akan lebih memilih untuk diam. Eits, tapi diam di sini bukannya dipendam aja ya, karena kalo dipendam aja kan nanti jadi bom waktu. Diam di sini maksudnya adalah diutarakan kemarahannya ketika marahnya sudah reda. Soalnya kalo kata suami saya, kalo langsung marah saat itu juga khawatirnya marahnya dibarengi syahwat (syetan), hehe. Dan Alhamdulillah, ini sudah berhasil kami terapkan dalam perjalanan pernikahan kami yang sudah 3 bulan ini.
- saling menasehati. Hihi, dengan saling menasehati ini maka konsekuensinya saya juga harus senantiasa memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk saya. Misalnya kalo suami saya yang berada di seberang pulau sana terlambat makan, maka pasti saya langsung 'marah' dan menyuruhnya makan, dan mau gak mau saya juga akan 'bergerak' untuk segera makan (maklum, soalnya saya juga suka nunda-nunda makan, hihihi
). Kan biar gak Kaburomaktan
Aih, semoga selalu belajar dalam setiap derap langkah bersamanya...
Meyapa kembali
Aaaaah............ *teriak mode:on
lama banget rasanya gak menyinggahi rumah saya sesungguhnya...
baiklah, mulai sekarang akan bertekad untuk selalu menambah aksesoris (tulisan sih maksudnya) rumah saya ini minimal sebulan sekali...
emang kemane aje sih, Neng ampe lupa ngurus rumahnya?
hihihi, maklum kemarin-kemarin disibukan urusan persiapan penggantian status (nikah maksudnya), ditambah lagi merawat si skripsweet agar 'terlahir' dengan baik...(mohon doanya ya makannya,
alright, sekarang waktunya ketak-ketik lagi di sini...banyak sekali ide-ide yang menunggu untuk ditumphkan. mudah-mudahan selalu diberi keistiqomahan dalam menulisnya...
yoyoyo, mari mengucap Welcome Back to Multiply.........