sang ustadz pertama kali membuka dengan berbagai kesepakatan, kesepakatan yang hampir membuat semua peserta bertanya-tanya apa gerangan yang akan diminta oleh ustadz ini. sekaligus membuat saya sangat deg-degan dan penasaran tentang kesepakatan tersebut.
dan ternyata sang ustadz membuat kesepakatan bahwa simulasi yang akan dilakukan tidak boleh diceritakan kepada orang selain di ruangan itu. maka dengan hati deg-degan sekaligus penasaran para peserta pun menyepakati kesepakatan tersebut. (karena simulasinya rahasia maka tidak akan saya ceritakan ya, hehe)
pasca simulasi kemudian sang ustadz pun merangkum apa yang sesungguhnya akan disampaikannya hari ini. yang pertama kali beliau singgung adalah soal hadist mengenai iman. kalian tahu kan tentang hadist ini? ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban).
ustadz tersebut menanyakan seperti ini:
ustadz: iman itu wajar gak naik dan turun?
dan seluruh peserta pun dengan kompak menjawab: wajar
lalu sang usatdzpun berkata dengan keras: Nah itu tuh salah kaprah memaknai hadist tersebut, makannya jadi gak masalah kalo imannya turun terus, karena pada dasarnya pikiran kita sudah membenarkan, sehingga yang terjadi turunnya banyak, tapi naiknya gak seberapa
saya pun tersentak, wew...apa iya ya selama ini kata wajar tersebut yang kemudian membuat saya menjadi begitu maklum ketika terjadi penurunan keimanan, misalnya ibadah saya salah satunya
sang ustadzpun kemudian berucap lagi: coba kalo kita maknai begini, bahwa hadist tersebut adalah suatu peringatan "Woy, hati2 jaga iman tuh jangan sampe turun"
ya ampuun, betapa bodohnya saya selama ini yang menganggap penurunan iman adalah suatu kewajaran, padahal kalo kata ustadz itu, terjadinya penurunan iman hanya satu karena kita kebanyakan maksiat
astagfirullah, lagi-lagi saya hanya bisa beristighfar
sang ustadzpun kemudian berucap lagi: terus nanti apa pertanggungjawaban kita saat di yaumil hisab nanti, mau nyalahin setan nih karena dia yang ngajak kita bermaksiat? padahal jelas-jelas Allah sudah mengingatkan manusia dengan firmanNya di surah Ibrahim : 22: Berkata Syaithan “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan padamu janji yang benar,dan akupun telah menjanjikan kepadamu,tetapi akau menyalahinya.Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu (manusia),melainkan (sekedar) aku menyeru kamu,lalu kamu mematuhi seruanku,,Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku ,tetapi cercalah dirimu sendiri.Aku sekali kali tidak dapat menolongmu,dan engkaupun tidak dapat menolongku .Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukanku (dengan Allah) sejak dahulu.Sesungguhnya orang yang zalim itu mendapat siksaaan yang pedih"
astagfirullah...
mungkin selama ini saya masih belum bisa memaknai apa arti dari sebuah komitmen menjaga keimanan. betapa ternyata peningkatan serta penurunan keimanan adalah sebuah pilihan. betapa selama ini mungkin saya telah banyak tertipu dan terlenakan oleh hal-hal duniawi, sampai2 menomorduakan masalah bagaiamana cara saya tetap menjaga keimanan saya ini dari segala tipu daya dunia dan isinya, menjadikan Al-quran benar-benar menjadi nomor satu di hati dengan melakukan banyak interaksi dengannya. betapa saya masih tidak menggantungkan seluruh kehidupan saya hanya pada Allah, karena orientasi hidup saya yang mulai bergeser dari baik-buruk menjadi untung- rugi. astagfirullah...
karena yang namanya komitmen itu simpel saja menurut saya,lakukan tanpa banyak alasan, kata sang ustadz lagi, semoga Allah selalu memberikan nikmat hidayah kepada setiap diri ini, agar kita dapat sama-sama terus berusaha menjalani komitmen kita menjadikan Allah saja di hati, doa sang ustadz
dan saya pun mengaminkan. ahh, semoga ini menjadi awal saya membentuk komitmen terhadap diri sendiri, untuk terus meningkatkan dan menjaga keimanan. terlebih dalam menghadapi rammadhan ini...
semoga tulisan ini bermanfaat.
maafkan jikalau ada salah-salah kata. semoga Allah memaafkan kesalahan dan kekhilafan saya.
*25 Juli 2010
No comments:
Post a Comment