Dimanakah semesta saat aku menatapmu?
Hanya hujan yang menampar-nampar muka
Tak ada tempat yang berpijak selain gemuruh
Langit menjelma kaca kita yang retak
Lara cuaca
Namun akau harus pelangi, seperti katamu
Muncul sewaktu-waktu
Dan menyisakan warna birunya selalu
Dalam kamus sunyiku
Aku masih terpekur dalam kegelapan. Terlarut dalam isakan. Tiba-tiba sosok itu datang, lara.
“mengapa kau datangi hidupku?”
Ia mengukir senyum diwajahnya.
“mengapa lara, mengapa kau datang di saat ini?”
Tak berkata, ia hanya kembali tersenyum
“Kenapa tak menjawab? Kau merasa sangat bersalah ya sampai-sampai tak bisa menjawab pertanyaanku?”, nafasku menderu, tatapanku tajam.
Lagi-lagi, ia hanya kembali tersenyum.
Sekian detik, aku hanya menatapnya penuh kebencian. Entah apa lagi yang harus kukatakan kepadanya, aku begitu membencinya.
“ungkapkan semua perih yang kau rasakan!”, perintahnya masih tetap dengan senyum di wajahnya.
Aku menyeka air mataku, “Oh, kau masih peduli dengan perasaanku?”, ujarku sinis.
“Ungkapkan semua perih yang kau rasakan” lagi, ia mengulangi perintahnya.
“Aku membencimu!”, kataku penuh kemarahan, “Aku membencimu karena telah mengambilnya dariku…”
Lagi, ia hanya tersenyum mendengar ucapanku
“Justru aku menyelamatkanmu”, ucapnya datar
“HAH?KAU BILANG KAU ME-NYE-LA-MAT-KAN-KU? KAU TELAH MERAMPAS ORANG YANG MULAI AKU CINTAI!”
Alih-alih takut, kembali ia hanya tersenyum, “teruskan…keluarkan semuanya!”
“Kau telah merampas saat-saat bahagiaku Lara. Kau merampasnya hingga ia tak dapat kugenggam. Dan kau bilang kau menyelamatkanku?”
“Aku tak pernah merampasnya darimu, salah sendiri kau yang telah menggenggam nya dalam harapmu”
Aku terdiam.
“cobalah kau jernih dalam berpikir, aku datang justru untuk menyelamatkanmu…!”, Kini, lara seperti berbalik menyerangku
Aku mencoba merenung
“Kau menggenggam harapan terlalu jauh padanya. Sampai-sampai harapan tersebut memayahkanmu. Hei, sadarkah kau bahwa selama ini kau telah terjerembab oleh angan yang kau ciptakan sendiri. Kau mencurahkan semuanya untuknya, cintamu, perhatianmu, harapanmu, anganmu. Hei, padahal kau tahu itu semua hanyalah semu. Hei padahal kau tahu kau telah mulai melangar batas-batas yang sudah Ia tetapkan!”
Ucapan lara membuatku gemetar, rasa bersalah dan amarah kemudian tercampur menjad satu di dalam batinku kini.
“Allah yang mengirimku padamu karena ia ingin kau kembali seperti dahulu, menempatkan cinta untukNya di tempat tertinggi di dalam hatimu”, Suara lara kini terdengar lembut, mengelus sendi-sendi amarahku
Aku limbung. Allah… sebegitu besarkah rasa cintaku padanya sampai-sampai aku lupa memupuk cintaku padaMU?
“Allah mencintaimu, dan mempersiapkan yang terbaik untukmu…”, Lara berkata lirih
Allah…
“Jadi, terimalah ini dengan keluasan samudera hatimu. Ikhlaskan ia, dan pupuklah kembali rasa cintamu padaNya, agar ia semakin subur, agar Ia semakin mencintaimu…”
Aku terisak, namun kali ini bukan isakan penyesalan karena lara datang menghampiri hidupku. Ini sebuah isakan rasa bersalahku padaNya.
Aku semakin terisak. Lara menghampiriku, memelukku dengan erat. Kembalilah mempertahankan izzahmu. Percayalah, kau pasti akan mendapatkan yang terbaik dariNya. Segera, dari arah yang tidak kau sangka-sangka.
Aku semakin terisak… Aku menangis sekencang-kencangnya. Beristighfar di tengah derasan air mataku yang tak dapat dibendung lagi.
Lamat-lamat kudengar Azan Subuh berkumandang. Perlahan mataku terbuka. Aku tertidur di atas sajadah, lengkap dengan balutan mukena didiriku dan handphone masih tergenggam erat ditangan kananku. Kutatap kembali pesan yang terpampang dalam layarnya, sebuah kalimat terakhir masih terlihat dan terbaca “Doakan, semoga pernikahan kami penuh barokah” .
Perlahan kucoba meraba hatiku, ahh…kini terasa jauh lebih ringan.
"Lara, semoga perihnya cepat sembuh"
depok, 11 oktober 2010
*Interlude, Helvy Tiana Rosa
No comments:
Post a Comment