Kali ini di rabu pertama, aktivitas tersebut adalah TRACKING. Yup kali ini jalur tracking adalah menyusuri kelurahan bedahan melewati tempat pemancingan dan peternakan ayam. Jalur yang di tempuh lumayan berat menurutku, apalagi bagi teman-teman di SD1 dan SD 2. Aku saja yang sudah lumayan akrab dengan jalur tracking di puncak merasa kelahan juga. Jadi bisa dibayangkan betapa lumayan capeknya aktivitas kali ini.
Akan tetapi ternyata sebagian besar teman2 yang memang sudah berasal dari SADE (TKA dan TKB di sana maksudnya) sangat menikmati perjalanan tersebut. Mereka justru malah sibuk bermain2 dengan lingkungan sekitar. Apalagi ketika mereka harus melewati jembatan yang hanya terdiri dari 2 batang pohon palem yang dijejerkan. Hanya sebagian kecil yang merasa takut ketika melewati jembatan tersebut.
Dan ketika sampai di sebuah padang ilalang yang juga dipenuhi oleh hamparan tanah merah, mulailah mereka melakukan aktivitas yang membuat udara menjadi penuh tertutupi oleh debu tanah. Langsung saja salah seorang guru meminta mereka untuk menghentikan permaianan tersebut, “Maaf teman-teman, berjalan saja agar tanahnya tidak berterbangan”.
Dalam perjalanan di padang ilalang, aku mendampingi seorang teman SD1, sebut saja namanya Timy. Ketika berada di gundukan tersebut kulihat timy menyeret botol minumnya. Ia hanya memegang tali dan membiarkan tempat minumnya terseret bagai sebuah koper yang biasa dibawa di bandara-bandara. Akupun kemudian menegurnya agar ia mengambil dan mengalungkan tempat minum tersebut di lehernya.
“Maaf Timy, tidak menyeret tempat minummu, nanti kotor”, ucapku
Namun dengan santainya ia menjawab,”kalo kotor kan bisa dicuci, Bu”
Jleb. Sontak aku kaget “teguranku” dibalikkan dengan telak olehnya. Iya ya, bener juga ya kan kalo kotor bisa dicuci. Gitu aja kok repot.
Aku kemudian terdiam. Tak tahu harus merespon apa. Aku takut salah jika aku meladeni jawaban timy.
Akan tetapi tiba-tiba seorang guru ikhwan menghampiri Timy dan kemudian berkata, “Timy, kira-kira kalo tempat minumnya diseret seperti itu bagus tidak?”
Timy pun kemudian menjawab, “enggak”
Sang guru pun kemudian melanjutkan ucapannya, “terusi kalo tidak baik, kira-kira apa yang harus dilakukan?”
Dan ajaib. Timy pun langsung mengambil tali tempat minumnya dan menggantungkan di lehernya tanpa menyanggah lagi.
Yup, ini salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan saat tracking. Bahwa untuk memberitahukan seorang anak tentang suatu kesalahan bukan dengan melarangnya berbuat tersebut, namun mencoba membuatnya memahami dan menyadarkan kesalahan yang telah ia buat. Dan berusaha mengarahkannya untuk berpikir laku apa yang harus dilakukan kemudian untuk memperbaikinya. Dan saya belajar bahwa seorang bocah juga bisa diperlakukan seperti layaknya seorang dewasa. Mengajaknya berpikir untuk kemudian memutuskan hal yang baik bagi dirinya.
Satu lagi pelajaran berharga yang aku petik, tak sekedar hanya main larang, namun mengarahlan pada alasan logis, bahkan untuk seorang anak kecil sekalipun. Be Logic, Please!
No comments:
Post a Comment