Saturday, 9 August 2008
Catatan Dari Terminal 1 (Bocah- Bocah Haus Cinta)
“Puti ayu berangkat…!”, teh Yunda kembali memanggilku.
“Wah, namaku kan emang Puti Ayu teh, hehehe!”
“Udah, cepetan yuk, udah jam 8 kurang 15 nih, nanti kita terlambat lagi”
“Eh, iya…iya teh, tapi aku ke kamar mandi dulu yap”
“Huu…dasar neh anak setiap mau pergi pasti harus mampir ke kamar mandi dulu…”
Hehehe, aku hanya tersenyum menanggapi omongan Teh Yunda. Tau neh selalu saja seperti itu.
Lima menit kemudian aku sudah benar-benar siap berangkat. Loh, ko sepi ?! Kemana neh Teh Yunda and Teh Anis. Sambil mengunci pintu kamar, aku kemudian memanggil mereka, “Teh Yunda….Teh Anis….!, udah berangkat ya?” Duh, kalo udah berangkat mana mungkin ya mereka bisa jawab, hihihi.
“Iya udah berangkat…”, teriak Teh Yunda dari ruang tamu.
“Hehehe, yuks berangkat…” Sambil terkekeh-kekeh aku membuka pintu kosan.
“Udah…udah ayo cepetan!”
***
Hari ini suasana terminal tak beda dari biasanya. Saat turun angkot D11, bau pesingpun langsung menyambut kami. Heran, kenapa ya rata-rata terminal pasti bau pesing?! Aku, Teh Yunda, dan Teh Anis kemudian berjalan diantara bus-bus dan angkot yang sedang ngetem. Tempat belajar ini memang berada tepat di belakang terminal depok. Yah, memang tak layak untuk bisa disebut sekolah. Tapi hanya inilah tempat yang bersedia memberikan ilmu bagi anak-anak jalanan yang tak dapat bersekolah. Bagaimana mungkin mereka bisa membayar biaya pendidikan yang kian lama semakin mahal, sedangkan untuk makan saja mereka begitu kekurangan.
***
Pukul 08.05 WIB kami tiba di kelas. Jangan pernah membayangkan ada meja, kursi, lemari, dan suasana belajar yang nyaman di sana. Karena apa yang kusebut kelas tadi adalah sebuah ruangan yang berisi meja seperti yang ada di TPA-TPA, dua buah papan tulis, dua buah lampu neon, serta rak-rakan tempat menaruh buku-buku yang telah usang. Ruangan ini dibagi menjadi dua kelas yang hanya dipisahkan oleh sedikit jarak. Walhasil ketika mengajar, antar kelaspun saling “mengganggu” satu sama lainnya.
Kelas ini pada pukul 08.00-10.00 dipakai oleh anak-anak kelas satu. Kelasnya dibagi berdasarkan yang sudah bisa membaca dan yang belum bisa membaca. Aku, Teh Yunda, dan Teh anis mengajar di kelas yang anak-anaknya belum bisa membaca, sedangkan Tami, dan dua orang rekannya mengajar di kelas yang sudah bisa membaca.
“Assalamu’alaikum”, ucap ku saat memasuki ruangan kelas.
“Wa’alaikumsalam”
Langsung saja uluran tangan-tangan kecil menyambut kedatangan kami.
“Udah selesai belum ngajinya?”, Tanya Teh Yunda pada mereka
“Udah Ka…”
“Yawdah, yuk kita masuk yuk…”
***
Dimulainya kelas diawali dengan membaca surat Al-Fatihah lalu dilanjutkan dengan doa mau belajar. Tapi sebelum memulainya, seperti biasa Teh Yunda menanyakan kepada mereka siapa yang bersedia menjadi pemimpin doa. Langsung saja teriakan-terikan yang ingin mengajukan diri memenuhi ruangan itu. Namun, lagi-lagi dua bocah perempuan, Aan dan Viska yang sudah maju duluan ke depan yang memimpin berdoa di pagi itu.
Setelah berdoa, Teh Yunda kemudian sibuk menulis kalimat ejaan di depan kelas. Aku dan Teh Anis memantau keadaan kelas. Menegur kalau-kalau ada yang masih memainkan keong di dalam kelas.
“Ayo, sekarang kita baca sama-sama ya…i-n.i ni, dibacanya…..”
Setelah belajar mengeja bersama kemudian mereka disuruh menyalinnya ke dalam buku mereka sehalaman penuh. Tapi ternyata rengekan ketidaksetujuan membuat suasana kelas kembali gaduh.
“Ya kaka…setengah aja ya ka, aku kan nanti capek…” Egi merajuk manja padaku.
“Ya, nanti kalo tulisannya gak penuh ya gak dapet bintang…” Aku berusaha memotivasinya.
Teh Yunda memang menerapkan sistem reinforcement berupa bintang jika adik-adik itu menulisnya rajin, tidak berantem, tidak menangis, tidak memukuk-mukul meja, dan bisa lancar saat sesi membaca. Sebenernya Teh Yunda juga gak ingin menjadi seorang behavioris karena ingin memperlakukan mereka secara humanis (ralat ya Teh kalo salah), tapi sepertinya adik-adik ini harus dipacu dengan cara seperti ini deh.
***
“Kaka…Dimas nih ka…!”, teriak salah seorang adik
Duh, lagi-lagi anak ini mengganggu temannya. Bocah yang satu ini memang sering sekali menjadi tersangka utama ketika ada yang menangis. Terdakwa utama saat kegaduhan melanda kelas, dan provokator utama untuk mempengaruhi teman-temannya untuk tidak menuruti perintah kami. Mungkin bocah ini termasuk ke dalam kategori anak agresif. Karena dalam buku Psikologi perkembangan anaknya Reni Akbari-Hawadi yang kubaca, tipe anak agresif diantaranya: cenderung menampilkan sikap yang menyerang, mengejek-ngejek, senag bermusuhan, serta tidak mempedulikan harapan dan hak orang lain.
***
“Apa lo…!”, kulihat dimas sedang memulai pertengkaran dengan Gilang. Karena sedang mengajari Andi membaca, aku hanya mengamati mereka dari kejauhan. Akan tetapi yang terjadi kemudian adalah adegan tendang-tendangan mulai mewarnai perkelahian mereka. Dimas yang memiliki badan yang lebih besar mendaratkan tendangannya ke paha Gilang yang jauh lebih kecil darinya. Walhasil Gilang langsung menangis meratapi pahanya yang sakit.
“Dimas…!!” teriakku.
“’Abis dia duluan tuh ka yang nendang saya…”, ujarnya membela diri.
“Udah-udah, mana tulisan kamu? Belum selesai kan? Cepet selesaiin sekarang!”, ujarku sedikit emosi.Aku lalu menghampiri Gilang yang sedang menangis. “Udah ya, Lang, sekarang mendingan duduknya pindah di sana yuk, biar gak diganggu sama Dimas”. Kubujuk gilang agar duduk menjauh dari Dimas. Namun ni bocah satu malah enggan beranjak dari tempat duduknya. Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya aku memutuskan untuk menunggui Dimas sampai selesai menulis. Baru saja aku ingin menghampirinya, namun kudengar pertengkaran lagi, kali ini Udin lawan Dimas+Agung+Wawan.
“Hei…hei…hei…kenapa lagi ini?” Aku geleng-geleng kepala.
“Itu tuh ka, Dimas nyoret-nyoret buku saya…”, Udin mengadu padaku.
“Dia duluan tuh ka..” seperti biasa, Dimas membela diri.
“Iya tuh ka, udin juga ngatain orang tua saya, pengemis-pengemis, daripada elo din, mungutin gelas!” Agung menimpali omongan dimas.
“Yee, emang bener ibu lo pengemis…”
“Udah-udah, gak boleh saling ngata-ngatain. Sekarang mana tulisan kalian? Dimas tadi kakak suruh apa? Udin juga mana tulisannya? Wawan, Agung?”
“Aku baru segini ka…” Dimas kemudian menunjukkan setengah halaman yang berisis tulisannya padaku. Karena mereka tetep keukeuh tidak mau dipindahkan duduknya, kuputuskan untuk duduk diantara Udin dan Dimas. Agung dan Wawan berada di sebelah Dimas.
Melihat aku duduk disebelahnya, tanpa dikomando, Udin dan dimas langsung meneruskan pekerjaan mereka, namun tidak dengan Wawan dan Agung. Mereka bersikeras untuk hanya menulis setengah halaman. Aku sudah kehabisan akal membujuk mereka.
Aku memperhatikan ketika Dimas menulis. Meyadari dirinya diperhatikan, tiba-tiba saja sikapnya berubah menjadi lebih manis, “Kaka, abis ini huruf A ya?”
“Iya sayang….”, ucapku penuk kemesraan.
Udinpun seperti tak mau kalah, “Ka, nulisnya sampai bawah ya?”
“Iya-iya, sampai bawah”
Aku terus saja mendampingi mereka sampai selesai mengerjakan pekerjaannya.
Kayaknya mereka emang haus perhatian deh. Terbukti saat duduk di antara mereka berdua, yang ada hanya sikap manis dan rajukan-rajukan manja. Sesekali memang kuacak-acak rambut mereka dan kucubit pipi mereka saat salah menulis huruf. Entahlah, aku jadi semakin bertekad menaklukkan keagresifan anak-anak ini. Jadi termotivasi untuk mengambil peminatan psikologi perkembangan dan pendidikan deh. Hihihi
[bersambung]
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
T: "Ka Puti, Ka Puti!! Kalo udah nulis huruf D-E-D-E-W, abis itu apa lagi?"
ReplyDeleteJ: "Abis itu tulis K-E-R-E-N donk!"
Hehehee..tetep semangat put..Aku iri dg semangatmu, Ka Yunda, Anis, dan pejuang2 pendidikan lainnya. Doakan aq bisa seperti kalian yak..SEMANGKA!!! ^^v
Karena mereka di sana... untuk kita cintai, ya Put...?
ReplyDeleteayo, teruskan perjuangan ini!!!
Yup...semoga Allah mengistiqomahkan kita ya, Tam...!
ReplyDelete