Friday, 29 August 2008

Sejuta Cinta Untuk Adik-adikku...

Huff, senin ini aku akan kembali ke rutinitas sebagai mahasiswa, bergelut dengan banyaknya tugas kelompok, dan tentunya kembali masuk ke kelas untuk mendengarkan ceramah para dosen .

Ya, memang sudah tiga bulan ini aku libur. Hmm, tapi aku tak merasakan apa itu yang namanya libur. Terjebak oleh SP dan rutinitas kehidupan kepanitiaan. Hehe, tapi aku masih sempet “melarikan” diri selama sekitar 2 minggu. Seminggu untuk refresh pikiran dengan mengunjungi kampoeng halaman orangtuaku, dan seminggu lagi atas izin Allah yang memberi aku sakit (hehe, jadinya sekalian untuk istirahat ).

Alhamdulillah, libur semester kali ini banyak memberikan pelajaran padaku. Aku merasa semakin percaya diri dan merasa otakku “berisi” saat aku mendapatkan materi dari program MENGGEMA UI nya ZCA+Akprop BEM UI. Gak tau, pokoknya jadi ngerasa punya keberanian yang cukup tinggi setelah mengikuti kegiatan itu. Entah karena aku telah “termakan”  omongan-omongan  dari para pembicaranya dengan materi nya yang yahud punya, atau memang sebenarnya aku baru menemukan siapa diriku sebenarnya.

Selain MENGGEMA UI, ada satu hal lagi yang membuatku merasa bermanfaat sebagai manusia. Ketika Teh Yunda menawariku untuk membantunya mengajar di sekolah MasTer  (Masjid Terminal)  Depok, sungguh banyak pelajaran yang kuambil di sana. Belajar tentang kesabaran dalam arti sebenarnya (hehe, maklumlah di sana aku mengajar anak-anak yang bisa dibilang liar), belajar untuk berbagi cinta (yah, karena mereka tak cukup menerima cinta dari lingkungannya), belajar tentang perjuangan hidup (hidup yang benar-benar butuh perjuangan), serta belajar untuk selalu tersenyum saat kepala serasa hampir mau pecah (maklumlah, meladeni 10 orang anak dengan permintaan yang macem-macem pula, ditemplokin, cari perhatian, merengek gara-gara gak mau nulis, dan masih macem-macem lagi). Tapi aku senang karena ternyata mereka juga menyayangiku dan merindukanku.

Mengapa aku bisa bilang mereka menyayangiku dan merindukanku? Hehe, jadi ceritanya karena harus bertugas sebagai mentor dalam PSAF Psikologi, selama 4 hari aku gak pergi ke sana. Terus kata Teh Yunda banyak anak-anak yang nayain aku (huhu, terharu T_T), terus waktu hari kamis kemarin aku datang, mereka menyambutku dengan penuh suka cita. Bahkan, aku melihat perubahan yang cukup baik dari Mario. Ya, semenjak peristiwa aku ingin menjitaknya (hehe, tapi gak jadi ko), aku sudah mengancamnya bahwa jika ia terus merengek karena gak mau nulis (lebih tepatnya nih anak caper banget!!!), aku gak mau datang lagi ke sana. Dan ternyata memang selama 4 hari aku kan gak datang, jadi waktu kemarin aku ke sana surprise banget nih anak udah kagak ngerengek-ngerengek lagi waktu nulis. Udah gitu hari ini dia nyubit pipiku lagi (Aduh, ternyata pipiku punya magnet yang cukup kuat ya?!), dan tau gak waktu aku pelototin dia gara-gara itu, dia bilang “Abis gemes sama kaka”, hahaha...dasar tuh anak.

Ada satu hal lagi yang membuatku senang hari ini, jadi waktu itu saat eki ingin mengembalikan pulpen kepadaku tau gak dia bilang apa? Dia ngomong gini “Kakak Cantik ini pulpennya...”. Wahahaha, aku dibilang cantik, jadi enak nih!

 

Oh, Rabbi...

Tapi kali ini aku harus meninggalkan mereka (sementara). Ya, karena jadwal kuliahku yang tak memungkinkan untukku dapat mengajar di sana. Semester ini setiap hari aku harus masuk jam 8 pagi, padahal biasanya pasti ada hari liburnya, kalo gak senin ya jumat. Haruskah aku kehilangan saat-saat indah bersama mereka? Saat dimana aku merasa bermanfaat sebagai manusia, saat dimana aku belajar untuk memahami mereka, saat dimana naluri keibuanku (ya meskipun belum jadi ibu sih) sedikit demi sedikit terasah di sana, saat dimana aku merasa begitu bersyukur sebagai manusia (dibandingkan dengan keadaan mereka yang sangat memprihatinkan)...

Yah, mudah-mudahan ini hanya sementara. Toh saat merasa penat dengan beban akademis, sekali-kali aku bisa “kabur” untuk mengunjungi mereka (hehehe, udah diniatin banget keknya). Tapi yang pasti aku tak kan pernah melupakan mereka. Yah, mereka bagian dari puzzle-puzzle indah dalam hidupku. Saat merasa jatuh terpuruk, hatiku sembuh dengan sebuah senyuman dan celoteh riang mereka. Yah, pasti aku akan sangat merindukan saat-saat indah bersama mereka.

Rabbi...

Kutitipkan sejuta cinta untuk mereka padaMU

 

1 comment: