Thursday, 14 August 2008

Catatan dari Jalanan (dari Depan gedung sebuah Lembaga [yang ngakunya ] Dewan Perwakilan Rakyat [ tapi nyatanya kayaknya Dewan Pengkhianat Rakyat deh?!])

 





Tanggal 12 Agustus kemarin, kembali aku mengikuti aksi. Isu yang diangkat kali ini adalahsoal RUU BHP yang tinggal menunggu waktu saja untuk disahkan. Padahal sudah hampir 4 tahun RUU ini diperjuangkan untuk ditolak oleh mahasiswa. Karena jika pendidikan saja akan di privatisasi, mau jadi apa bangsa ini kedepannya. Padahal pendidikan merupakan kunci utama untuk bangkit serta membangun sebuah bangsa. Ketika dahulu bangsa Jepang di bom atom, kaisar Jepang pada saat itu tidak menanyakan berapa tentara yang tersisa, akan tetapi ia bertanya berapa guru yang masih hidup. Itu tandanya pendidikan memang sangat penting untuk membangun sebuah bangsa yang maju.

Entahlah aku tak tahu apa yang terjadi di negeriku. Padahal menurut pembukaan UUD 1945, tertulis bahwa tujuan dari dibentuknya Negara Indonesia ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. UUD Negara Republik IndonesiaPasal 28 C : “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan. Serta Pasal 31 ayat (1) : “Setiap warganegara berhak mendapatkan pendidikan”. Tapi nyatanya....


Lantas, bagaimana bangsa ini bisa cerdas jika pendidikannya pun dikomersialisasikan?!

Ada satu kisah yang sangat menyentuh dari aksi kemarin. Jadi ceritanya ka Randi (setelah selesai shalat dzuhur) membeli ketupat sayur di dekat gedung MPR/DPR. Nah si bapak penjual itu bertanya “Mau demo apa Dek?”. “Oh ini Pak, BHP” (dan lalu ka Randi menjelaskan panjang lebar mengenai BHP), tahukah teman apa yang dikatakan bapak itu “Wah, kalo gitu saya boleh ikut demo gak dek? Saya juga sedang membiayai anak saya di SMA dan SMK. Katanya ada apa tuh? Dana BOS ya? Tapi tetep aja saya harus daftar ulang dengan jumlah yang besar, sedangkan sehari-hari aja saya kesulitan, makannya dek, boleh gak saya ikutan demo?” . “Wah, kalo bapak ikutan demo, nanti siapa yang jualan pak? Kan Bapak juga harus mencari nafkah hari ini buat keluarga bapak?” (kira-kira begitu deh dialognya...).

Mendengar itu, aku jadi semakin yakin bahwa ini hal benar yang harus dilakukan kami mahasiswa. Bahwa ternyata masih ada harapan-harapan yang menggantung pada kami. Bahwa perjuangan kami di sini ternyata sangat didukung oleh rakyat yang telah terampas hak-haknya. Sebelum RUU BHP di sahkan saja, sudah banyak orangtua yang susah membiayai pendidikan anak-anaknya, dan sudah banyak pula kasus anak yang lebih memilih untuk mati gantung diri karena tidak mau membebani orangtua yang menanngung pengeluaran akibat biaya pendidikan mereka yang besar.

Harus berapa anak lagi yang meninggal hingga anggota2 DPR itu mau mendengar jerit hati rakyat???

Sebel banget pokoknya...kemarin tuh gak ada anggota dewan dari komisi 10 yang nemuin kami coz katanya sedang dalam masa reses. Yang lucunya, ketika perwakilan dari kami bergerilya untuk mencari anggota dewan, mereka bertemu dengan dua orang anggota dewan. Tahukah teman apa yang dikatan anggota dewan tersebut, “Mau negebahas soal apa, BPH ya?”...weitz...keseleo lidah ato emang gak tau tuh kalo ada yang namanya RUU BHP???. Ato jangan-jangan selama ini mereka gak tau lagi apa yang mereka bahas selama ini???


Entahlah, ku harap sih masih ada anggota2 dewan di sana yang benar2 menjadi anggota dewan yang mewakili rakyatnya. Bukan menjadi pengkhianat2 terhadap suara yang memilihnya.



4 comments:

  1. @genkeis
    karena sudah "tersesat di jalan yang benar" jadi pasti tetap semangat i.Allah..^_^

    ReplyDelete
  2. yuk, mari bersama melintasi jalan tak peduli terik menerjang kulit ataukah hujan menghantam tubuh... ^_^

    ReplyDelete