“Umm, kapan semua ini akan berakhir?”, pertanyaan ini kembali terlontar dari mulut kecil Shafiyah, “Karena aku ingin, Umm, menikmati indahnya pelangi….”
Dan aku kembali mendesah untuk yang kesekian kalinya….
***
“Umm, adakah sesuatu yang indah yang menghiasi langit selain awan, bulan dan matahari?”, celoteh Shafiyah di suatu ketika.
“Adakah, Umm?”, lagi, pertanyaannya mengulang.
“Pelangi, Umm? Apa itu Umm?”, tanyanya penuh keingintahuan.
“Indahkah Umm?”, keingintahuan menderanya
Matanya kemudian mengerjap, “Umm, dapatkah aku melihatnya?”
***
“Zing………Buum….bumm…bummmm…..”
“duar…………..duar…duar…”
“Allahhu akbar…Allahu akbar….”
“Umm, aku takut…”, Shafiyah memelukku dengan erat. Mencengkeram abayaku yang sudah kumal.
“Berdzikirlah Nak, mohonlah kemenangan pada Rabbmu, sungguh sekali-kalipun Ia tak akan pernah menyia-nyiakan kita”
“Zing………Buum….bumm…bummmm…..”, dentuman bom kembali mengguncang di malam yang kelam ini.
Kukuatkan pelukanku….sambil kuberucap “Hasbiallahwanikmal wakil, niklmal maula wa nikmannatsir… Cukuplah Allah menjadi pelindung dan ia adalah sebaik-baik penolong”
***
“Umm, coba ceritakan lagi tentang pelangi…”, Lagi, sebuah pertanyaan tentang pelangi terlontar dari mulut kecilnya.
“Pelangi itu indah, Nak. Keberadaannya membuat langit semakin mempesona”, ujarku.
“Sebuah lengkung besar dengan tujuh campuran warna yang menghiasnya. Ada Merah, Jingga, Kuning, Biru, Nila, dan Ungu. Pelangi seperti sebuah jembatan yang membentang, menyatukan sisi bumi yang satu dengan yang lain. Ia ibarat jembatan yang berhasil menyatukan sinar matahari dan titik hujan, berpadu dan menjelma menjadi sebuah lengkung yang sangat mempesona. ”, jelasku panjang.
***
Pagi. Tak secerah seperti kebanyakan pagi di bumi lain. Terlebih setelah serangan kemarin malam.
Jika kebanyakan bumi menyambut pagi dengan hangatnya mentari, harumnya pepohonan, dan sejuknya embun, di sini, kami menyambut pagi dengan bau anyir darah manusia, debu reruntuhan bangunan, dan tentunya gelimpangan tubuh yang telah kembali pada Rabbnya.
“Sabar, Nak. Ini hanya sebuah episode kehidupan yang mesti kita jalani. Bahkan, kita pun akan mengalami hal yang sama dengan mereka. Kematian itu suatu hal yang pasti, Nak.Sungguh., tinggal bagaimana keridhoan Allah yang membedakan kematian itu sendiri”
“Nak, ada sebuah kehidupan abadi yang menanti kita. Jika Allah ridho dengan kehidupan kita di dunia ini, kelak… Allah akan memberikan penghidupan yang lebih baik di akhirat sana….”
Aku menarik nafas…. Kemudian kuanggukkan kepalaku. “Ingatlah Nak, dahulu Rasulullah pernah bersabda bahwa bumi ini, tanah yang kita injak ini adalah tanah yang diberkahi”
Shafiyah memiringkan kepalanya ke kanan, tanda ia masih belum mengerti, “Memang kalo diberkahi apa artinya, Umm?”
“Termasuk juga meraih Surga, Umm?”, kembali ia bertanya.
Kulihat binar di mata Shafiyah. Oh, Nak tentu insya Allah kehidupan kita, di sini, akan selalu diberkahi olehNya.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, “Iya Nak, bahkan pelangi yang lebih indah dari pelangi yang ada di bumi, Insya Allah”.
***
“Umm, coba ceritakan padaku tentang indahnya pelangi…?”, Shafiyah melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku, lagi, seputar pelangi.
“Pernahkah kau melihatnya, Umm di langit gaza ini…?”, tanya mulut kecilnya lagi
“Umm…?”, Shafiyah memecah lamunanku.
***
Rumah sakit, tak ubahnya seperti sebuah hidangan pesta pora bagi burung-burung Nasar. Luka yang menganga di dada dan kepala akibat peluru yang menghujam atau serpihan bom yang mendera. Aku dan Shafiyah berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah penuh dengan gelimang tubuh anak palestina. Tangisan, rintihan, dan ratapan tak ubahnya terdengar seperti sebuah melodi yang menyayat hati.
“Umm, aku takut….”, Shafiyah mengenggam erat tanganku.
Kami kembali menyusuri lorong, menuju halaman belakang rumah sakit Sifa. Di belakang sana, para pejuang tengah membagi-bagikan air dan sepotong roti. Aku mengantri bersama ratusan manusia yang masih tersisa. Kugenggam erat-erat tangan Shafiyah, agar ia tak terlepas dari jangkauan. Oh Allah, sungguh aku tak pernah tahu apa jadinya jika tak ada para pejuang ini. Mereka yang rela menyelundupkan bahan makanan agar kami, warga Gaza tak kelaparan. Mereka yang mengikhlaskan nyawanya, menerobos blockade yang bahkan dilakukan oleh saudara kami sendiri, pemerintah negara mesir. Allah sabarkan dan berikan mereka kekuatan, karena mereka perantara hidup kami. Berikan mereka kesabaran Allah, dengan tuduhan teroris yang dialamatkan pada mereka. Tinggikan Allah, tinggikan kedudukan mereka di JannahMu kelak.
“Umm, sampai kapan kita akan seperti ini?”, pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut mungil anakku, Shafiyah.
“Umm….tak adakah yang akan membantu kita keluar dari penjajahan ini, Umm?”, mata Shafiyah mengerjap, penuh pengharapan.
“Insya Allah, Nak. Tak akan pernah putus doa yang dilantunkan oleh saudara-saudara kita di sana. Percayalah, Nak!”, yakinku padanya.
***
Umm, salahkah bila aku merindukan menikmati indahnya pelangi di langit negeriku sendiri? Umm, engkau selalu bercerita, bahwa pelangi itu indah. Perpaduan semburat sinar mentari yang membias dengan tetesan air hujan, yang kemudian menghasilkan suatu keindahan simfoni warna sebagi hasilnya. Umm, engkau selalu bercerita, terdapat tujuh warna yang menyusun spektrum besar lengkung tersebut, ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.
Ahh, sungguh aku ingin sekali melihatnya, Umm. Indah pasti melihat warna-warna itu bertengger di atas langit gaza ini. Entahlah aku tak tahu apakah aku bisa melihat pelangi itu. Sampai-sampai aku pernah mengira bahwa engkau berbohong, Umm. Selalu saja, dengan segenap keyakinanmu engkau bilang bersama, suatu saat pasti kita akan bisa menikmati indahnya pelangi di langit Gaza. Tanpa khawatir dengan deru burung nasir raksasa yang memburu, dan tentu saja tanpa halangan dari gumpalan debu yang ditimbulkan oleh burung raksasa tersebut di langit ini.
bersambung
Jfs kak! MasyaaAllah..
ReplyDeletePasti pnuh harubiru skali munasharah td..
=)ditunggu sambungannya
ReplyDelete