Aku, masih tergugu dalam kelamnya malam ini. Tergugu kaku, setiap malam, menghadapi semuanya sendiri. Oh, dengan sebuah titipan indah di rahimku. Sendirian dalam terror yang tak kunjung reda. Sendiri, tanpa penopang di sisi. Namun kutahu, Allah akan selalu ada, bersamaku.
Aku, hanyalah satu dari sekian ratusan wanita palestina yang telah menjadi janda. Ya, tentara zionis itu telah merenggut sejumput kebahagiaan dariku. Aku hanya bisa mencecap sedkit asa, sedikit asa ketika Yahya masih berada di sampingku. Sedikit asa ketika semuanya terlihat begitu indah. Begitu indah di tengah negeri yang masih terjajah.
Yahya, laki-laki yang tak pernah ku sangka akan menjadi suamiku. Ia, termasuk salah satu orang penting dari barisan Al-Qassam. Yahya, mampu membuatku menjadi wanita seutuhnya. Memuliakanku dengan kesantunan dan kesalehannya. Yahya, yang keras dalam sebuah jalan panjang pembebasan namun sangat lembut ketika memperlakukan seorang manusia. Yahya, yang dengan keberaniannya melamarku untuk hidup mendampinginya. Padahal ia tahu, aku juga adalah seorang wanita yang keras. Namun, Allah telah menakdirkanku untuk menjadi bidadari di hatinya.
Hari-hari pun kemudian kami lalui dengan penuh suka di tengah terpaan duka yang terus melanda tanah ini. Tadinya kupikir tak akan terlalu sulit mendampinginya karena kami mempunyai satu cita. Namun panjangnya jalan perjuangan ini membuatku kadang terhempas juga. Terhempas oleh keputusasaan ketika harus merelakan ia pergi untuk berjuang. Aku tahu itu tak boleh. Aku kembali mempertanyakan kemana semangatku dahulu yang dengan lantangnya aku serukan bahwa aku akan menafkahkan jiwaku dan keluargaku dalam perniagaan denganNya.
Aku memang hanyalah seorang wanita biasa. Tapi aku terlahir sebagai seorang wanita palestina. Wanita yang harusnya tegar menghadapi kenyataan bahwa dipundaknyalah semua harapan akan kemerdekaan terbentang. Wanita yang harus ikhlas ketika melihat suaminya terbujur kaku di tengah deru pesawat dan bom yang mendera. Maka aku tak boleh payah oleh nestapa. Aku harus menghadapi ini walaupun dengan tertatih. Ya, minimal aku harus kuat agar penerus perjuangan dapat terlahir dari rahimku ini.
Ah, janinku rasanya mulai tak sabar ingin keluar walaupun ia telah digariskan terlahir di tengah desingan peluru dan aroma kematian. Ya, walaupun begitu aku akan bahagia. Setidaknya aku akan menyumbangkan seorang jundi penegak agamaNya. Dan kemudian menuntaskan perniagaanku denganNya. Meski tangis tertahan sesak di dada menghadapi semua kenyataan ini, namun ketika aku mendengar suara bayi pecah di lorong rumah sakit ini, setidaknya aku bisa mengukir lengkung pelangi di tengah sejuta nestapa yang kelak akan datang menghadang.
Depok, 20 Desember 2009
17.37 WIB
semoga aku dapat menyumbang jundi/yah penegak Agama Nya, Allahumma aamiin
ReplyDelete