“Tapi bila kuraba dalam hati
Datang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini
Berdegup jantung di dada kendalikan diri
Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuat kuingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya
Akhirnya aku segera tersadar
Hanya pada Allahlah tempat aku bersandar”
*Hasrat hatiku: Suara persaudaraan
Hmm…Hmm..Hmm…hanya ingin menekankan sebelumnya, aku nulis ini hanya ingin berbagi ilmu dari seminar pranikah kemarin loh…!
Ya, dulu sewaktu SMA selalu ngebayangin, nanti mau menikah ah pas umur 20….Hehehe, maklumlah namanya juga anak SMA, taunya mungkin yang indah-indah doank tentang pernikahan. Apalagi bacaannya Nikah Dini Keren-nya Haekal Siregar sama Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahannya Salim A Fillah. Hoho, jadi ceritanya udah gak punya keinginan untuk nikah dini neh?
Eits…eits…tunggu dulu…tunggu dulu…jangan ngambil kesimpulan gitu dulu donk. Ada baiknya baca dulu bahasan tentang pertanyaan yang aku ajukan kemarin ke Akh Salim.
Aku memecah kesunyian auditorium psiko kala itu dengan pertanyaan pembukaan yang dahsyat (hehe, itu sih menurutku). Ya, abis bingung sih membedakan menyegera dengan tergesa-gesa. Pasalnya, akhir-akhir ini aku lagi membicarakan pernikahan dini (saat kuliah) dengan beberapa orang. Seperti biasalah, ada yang pro ada yang kontra. Yang pro bilang “kenapa mau melaksanakan kebaikan mesti ditunda?”. Hehe, aku sih sepakat bahwa yang namanya kebaikan gak boleh ditunda. Tapi coba denger pendapat yang kontra “Realistis aja deh, mau hidup pake apa nanti, zaman lagi sulit begini…” Huff, aku juga tak menampik pendapat ini. Iya, juga ya, kalo dua-duanya sama-sama lagi kuliah ataupun si laki-laki udah kerja, tetep aja dia mesti nanggung hidup + biaya kuliah mereka berdua/ istrinya. Kan otomatis orangtua udah lepas tanggung jawab. Ah, jadi bingung…Eh, ko malah ngalor ngidul begini sih???
Hmm, tapi Akh Salim menjelaskan bahwa perlu ada beberapa persiapan menuju pernikahan, yaitu:
Meliputi kesiapan mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggungjawab, bersedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada coz kan kalo udah nikah udah hidup berdua dengan orang lain (istri/suami). Sabar dan Syukur serta menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya
2. Persiapan Ilmu
Bersiap menata rumah tangga. Bagi akhwat, harus menjadi seorang manajer handal, coz dialah yang akan mengelola keuangan rumah tangga. Ilmu tentang komunikasi, ilmu tentang Ad-diin, ilmu tentang menjadi orangtua yang baik (parenting). Hehe, Akh Salim sendiri katanya mempelajari ilmu Parenting sejak SMA. (Huhu, bagi kami anak Psikologi, ini mah udah jadi makanan sehari-hari, hehehe).
Yang punya penyakit2, harus segera diobati
4. Persiapan Maadiyah (material)
Komitmen untuk segera mandiri
Hmm, ini nih gak kalah penting, coz pasti kita juga akan terjun ke masyarakat bukan? Dan yang pasti harus memiliki visi dan misi kebaikan di lingkungan masyarakat kelak.
Nah, itu tuh persiapan-persiapan yang harus dilakukan. Tapi, yang namanya persiapan, artinya sebuah proses yang tiada henti. Maka, ukuran sampai mana harus dicapai sebelum menikah adalah juga relative. Hualah…dari tadi relative mulu? Hehehe, tapi ada satu parameter yang jelas dari Rasul, lohh…
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian telah bermampu Ba’ah, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hehe, jelas kan. Yang diperintah adalah bagi mereka yang mampu, kalo belum mampu…ya Puasa aja. Tapi, bagi mereka yang mampu, maka janganlah menunda-nunda!
hmmm, gitu toh
ReplyDelete:D
padahal belum baca tuntas, hehehe
copas dulu ya, mau dipelajari :D
oh.... gitu....
ReplyDelete(sok2 an faham, padahal agak2 bingung jg)
hehe,,,,
pernikahan... sebuah kata yang begitu sarat mengikat segalanya, menyatukan dan mendinamiskan...
ReplyDeleteberuntunglah kita yang terlahir dan hidup dalam berislam, karena Alloh begitu ramah mempersilahkan kita untuk dapat mengenggamnya tanpa merasa bersalah,
bahkan segalanya menjadi ibadah...
benar, pernikahan tak hanya sekedar berijab qabul...
ada banyak hal yang kita harus perhitungkan
belajar... dan terus belajar...
tak perlu merasa malu...
meski
tak perlu pula mengungkapnya lebih jauh saat kita baru mampu hanya sebatas shaum...
hahahaha...!!!!!!!!!!!!!
ReplyDeletetery curcol!!!
hehehe... tapi yang kalimat terakhir tidak untukku dong yas!!!
ReplyDeleteiya, deh....
ReplyDeleteiya......
Ehmmm
ReplyDeleteyoi..ter...sepaket banget...kadang terlalu antusias sama topik begini, lalu lupa kontrol diri. padahal ini topik bukan main kepalang seriusnya...
ReplyDeleteini quotes dari mana?
apa bikinan tery sendiri?
insya Alloh yang benar itu datangnya dari Alloh.... :)
ReplyDeleteho-oh..setuju banget sama terry...(tadinya mau komen sebelum ka ira nii)
ReplyDeleteHoho...tolong digaris bawahi ya...!!
ReplyDeletetulisan ini cuma untuk share!!!
jadi gak usah komen yang macem2 deh..!!!
wehehehe, nice sharing ^_^
ReplyDelete*menanti sharing2 yang lainnya dari puti :D
hwhehehehe... yang nulis marah!!! hahahah jadi seneng liat dik puti marah!? hehhehehehe *isengmodeON
ReplyDeleteiye.. iye... maaf.. maaf... Insya Alloh postingannya bermanfaat kok dik! hihihihii TFS!!! *hihihimasihketawa
tapi gak mau lagi ah bahas soal ini...
ReplyDeleteabis...disangkanya macem2 sih...
komennya juga agak gimana gitu...hehehe
Duh duh,,kok sewot neng..
ReplyDeleteabisnya nyabelin, hehehe
ReplyDelete