Monday, 22 December 2008

Cintaku Padanya...

Ibu, sebuah panggilan yang indah, yang setiap perempuan pasti menginginkan panggilanindah itu. Menjadi ibu bukanlah persoalan mudah, karena dari tangannyalah akan terbentuk seorang calon pemimpin, perubah, bahkan seorang penjahat sekalipun. Ya, itulah seorang ibu, madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Ibuku, seorang wanita yang tangguh, dan selalu rendah hati. Ibuku seorang pekerja keras, pendidik yang baik, dan seorang yang menjadi sandaran yang menyejukkan.

Ibuku, hanya sempat bersekolah di SMP. Tetapi, hal tersebut tidaklah menjadi halangan baginya untuk mendidik kami dengan baik. Ketika kecil, ibu selalu menomorsatukan pendidikan agama bagi kami. Mengajari kami sopan-santun, serta mengajari kami untuk selalu berprestasi di tengah keterbatasan. Dahulu pernah, ketika aku malas mengaji di TPA, ibu menyubitku dengan cubitan yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Amat sakit, sehingga mampu membuatku menangis selama 1 jam. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi untuk malas mengaji, dan akupun berterima kasih kepada beliau, karena aku sangat menikmati buah dari ketegasan beliau sampai sekarang.

Ibuku, selalu rendah hati. Baginya, kesuksesan (meskipun memang terlalu dini untuk dibilang sukses) yang diperoleh anak-anaknya, sama sekali bukan karena usaha keras beliau. Ibu, selalu merasa tidak pernah memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Selalu merasa tidak membahagiakan kedua anaknya. Meskipun di mata para tetangga ibuku adalah seorang yang berhasil karena mempunyai dua orang anak yang pintar. Anak pertama yang dapat berhasil masuk STAN, sekolah yang menurut tetangga-tetanggaku hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang cerdas, dan anak keduanya yang dapat memasuki UI, dengan segala keterbatasan biaya yang dimiliki.

Seperti yang aku bilang, ibuku tak pernah merasa membahagiakan kedua anaknya, karena menurut beliau, anak-anaknya berhasil dengan jerih payah mereka sendiri. Kakakku, selama SMP mendapat beasiswa sehingga ibu tak perlu mengeluarkan uang untuk membayar SPP tiap bulannya. Dan saat akan memasuki bangku kuliahpun, ibu merasa bahwa kakakkulah yang berusaha dan berlelah sendiri, mulai dari proses (mencari uang) untuk pendaftaran, sampai ia lulus dari sekolah tersebut. Dan ketika aku juga akan memasuki bangku kuliah, ibu juga merasa tidak memberikan hak yang seharusnya dimiliki oleh anak-anaknya untuk dapat bersekolah setingi-tingginya. karena kuliah ku pun dibiayai oleh kakakku serta beasiswa yang aku cari.

Tapi bagi kami, ibu adalah seorang yang hebat. Karena ia bersabar di tengah keterbatasan uang yang diberikan oleh bapak untuk kehidupan kami. Dari dulu sampai sekarang, ibu selalu dapat menutupi dan memenuhi kebutuhan pokok hidup kami dengan usahanya, mulai dari menjahit sampai dititipi anak tetangga.  

Dan sekarang, ketika kami telah beranjak dewasa, sama sekali ibu tak pernah berhenti mencurahkan kasih sayangnya kepada kami. Saat aku dan kakakku lupa memberi kabar sampainya kami di tempat masing-masing (depok dan bandung), maka hal tersebut akan membuatnya kehilangan nafsu makan dan berusaha menelpon kami, bahkan sampai puluhan kali ketika kami tidak sengaja tidak mengangkat telpon tersebut. Bahkan di tengah aktivitas kemahasiswaanku, ibu selalu menanyakan kabarku. Saat ia mengetahui akan ada aksi dari televisi, maka ia langsung mengkonfirmasi keikutsertaanku dalam aksi tersebut. Ketika terjadi pembunuhan di dekat UI, ibu yang tahu bahwa aku yang seringkali harus pulang malam karena rapat dan mengerjakan tugas di kampus, langsung menanyakan kabarku dan memastikan bahwa aku pulang ke kosan tidak sendirian dan sampai dengan selamat. Ketika beberapa minggu terakhir ini aku hanya seperti menumpang tidur di rumah, karena hanya berada di rumah dari jam 6 di sabtu sore, dan harus kembali ke depok jam 6 paginya, ibu selalu saja menyiapkan segala kebutuhan yang sama sekali kadang aku lupakan, menyiapkan perbekalan, dan memaklumi kelelahan anaknya dengan menyuruhku untuk segera tidur saat beliau menangkapku masih berada di depan laptop pada pukul 1 pagi.

Ya...itulah ibuku...
Maka, maafkan aku ibu, jika aku selalu meyepelekan untuk tidak memberi kabar padamu,
Maafkan aku ibu, jika aku tidak pernah bisa selalu menjadi tempat curahan hatimu
Maafkan aku ibu, jika sampai saat ini aku masih selalu menyusahkanmu
Maafkan aku ibu, jika sampai saat ini aku belum bisa membahagiakanmu
Maafkan aku ibu, jika dengan segala keegoisanku telah meyakiti hatimu yang lembut
Satu hal, Kau tak akan pernah akan tergeser setelah Allah dan Rasulnya, dalam cinta di relung hatiku...

SELAMAT HARI IBU...
Semoga kelak aku dapat menjadi sepertimu, memberikan keteladanan bagi anak-anaknya kelak dan dapat menjadi madrasah pencetak jundi-jundi Illahi...
Allah...jagalah selalu ibuku...

Bagaimana dengan kisahmu dan ibumu, teman???

*akhirnya berhasil diposting...

6 comments:

  1. wah2x, ibunya benar2 perhatian ya ^_^

    ReplyDelete
  2. Subhanallaah, Allaah benar-benar Maha Tahu Segalanya sehingga Dia Menempatkan kedurhakaan kepada kedua orang tua sebagai dosa besar ke-2 setelah musyrik kepada-Nya. Yakinlah kasih sayang semua ibu itu sama, yaitu pengorbanan untuk memiliki keturunan yang lebih baik daripada dia.

    Bersyukurlah, punya ibu seperti dia. Dia mampu mencetak seorang kakak yang mampu membantu adik-adiknya dan kebutuhan keluarga. Juga dia mampu pula mencetak seperti kamu yang mampu mengamati dan memahami dia sehingga kamu sanggup menulis curahan hati yang telah kamu posting dan membuat saya (yans) terharu.

    Teruslah berkarya untuk orang-orang yang kita cintai.

    May be that

    ReplyDelete
  3. oia lupa. Saran: tulisan perbaris jangan terlalu panjang sehingga dapat melelahkan pembaca. Solusinya aturlah agar tiap baris itu setidaknya memiliki 10 kata atau kamu bisa mengatur theme kamu sehingga pembaca tidak lelah dalam membaca tulisan kamu.

    may be that

    ReplyDelete
  4. udah tuh...dah saya ganti, hehehe
    makasih sarannya...

    ReplyDelete