Thursday, 4 December 2008

Aku mau suami yang…..(sebuah pelajaran dari seminar pranikah kamis kemarin) bag 1

Bagi kita yang belum menikah, terkadang mempunyai keinginan untuk mendapatkan suami atau istri yang mendekati sempurna menjadi harapan yang ingin dicapai. Tapi taukah kawan, ternyata tak selamanya yang terlihat baik dan alim pada awalnya akan tetap sama sampai di akhir nanti karena manusia itu dinamis. Hmm, mempunyai expectacy yang berlebihan terhadap calon suami atau istri kita justru malah akan membuat kita sakit hati nantinya ketika ternyata ia sangat jauh dari harapan.

Contohnya, seorang akhwat menginginkan menikah dengan ikhwan x karena ia terkenal dan terlihat alim, bagus hafalannya, dan baik interpersonal skillsnya. Ia membayangkan indahnya shalat berjamaah berdua, Qiyamul lail berdua, romantisme saat diajari membaca dan murojaah Al-Qur’an. Pokoknya kalo suaminya si X pasti aku akan lebih terupgrade, begitu dalam pikirannya.

Tapi pada kenyataannya, ternyata suami yang alim itu malah susah diajak QL berjamaah, malah marah ketika dibangunkan untuk shalat subuh berjamaah, bahkan sampai-sampai tak punya waktu untuk mengajarinya mengaji apalagi melakukan murajaah bersama.

Apa yang didapat oleh akhwat ini? Sakit hati tentunya karena suami yang ia harapkan dapat membimbingnya malah sama sekali jauh dari expectacynya. 

Akhwat ini pada awalnya sudah terlalu mengandalkan suaminya untuk mencapai perbaikan bagi dirinya sendiri. Sudah terlalu menggantungkan harapan yang terlalu tinggi pada suaminya untuk perubahan amalannya sendiri.

Maka dari itu, ketika memutuskan untuk menikahi seseorang, jangan terlalu menggantungkan harapan yang berlebihan karena peng-upgrade-an diri merupakan tanggungjawab kita masing-masing. Kita dapat menjadi sholeh bukan karena si dia yang akan selalu memonitor kita. Namun hendaknya kesadaran untuk memperbaiki diri berada pada diri kita masing-masing.

Dan Barakahlah bagi keduanya. Saling mengingatkan dan mengisi tanpa ada yang bergantung pada salah satunya. Karena memperbaiki diri pada dasarnya adalah tugas dan tanggungjawab masing-masing makhlukNya.


21 comments:

  1. oh..oh..baru bagian I ya? ditunggu deh bagian 2 nya

    *males ikutan seminar ataupun training pranikah tapi kalo ilmunya bagus jadi pengen tau juga*

    ReplyDelete
  2. ckckckc..kecil-kecil udah ngomongin nikah-nikahan...

    :p

    ReplyDelete
  3. ckckck..ngga mau ngomongin nikah-nikahan kok maen kesini dan kemarin juga dateng seminarnya

    ckckck.. :D

    ReplyDelete
  4. dateng pas bedah buku not the seminar...
    aku kan datang bahkan mencari seminar seperti itu jika sudah butuh nanti...
    tapi buku Jalan Cinta Para PEjuang itu keknya ok...
    ada yang mau ngasih saya?
    *ngarep*

    ReplyDelete
  5. "jika sudah butuh ka?"

    hhe, buat SPMB aja kita nyiapin diri setahun, dua, bahkan tiga dan empat tahun sebelumnya.

    Well,
    peran istri, keluarga, Ibu, Madrasah pertama dan utama generasi rabbani Ka,

    yakin mau "prokras"?

    hhe..

    *piss,, no offense

    ini bukan masalah mau atau mampu.

    tapi ini masalah ilmu!

    ^^

    *menilik dari cerita Mas Salim bahwa beliau sudah baca buku parenting sejak SMA!
    Dahsyat! ^^

    ReplyDelete
  6. Ayo kita bareng-bareng memahami ilmu pranikah sebelum kita menikah dengan jalinan suci.

    ReplyDelete
  7. hmm...
    *gakmaukomenlebihjauhlagi*

    ReplyDelete
  8. Assalaamu'alaykum, salam ukhuwah.
    wah..saya terlewat seminarnya, jadi saya tunggu sharing selanjutnya y..
    jazaakillaah..

    ReplyDelete
  9. Huuuh, sayang seminarnya cewek only..sebel gua..!

    Eh jadi di psiko siapa yang jadi ketua BEM?

    ReplyDelete
  10. Huuuh, sayang seminarnya cewek only..sebel gua..!

    Eh jadi di psiko siapa yang jadi ketua BEM?

    ReplyDelete
  11. nice journal.
    menurut gue yah put, cari suami itu mau gak mau suka gak suka emang kudu ngelewatin apa yg namanya pacaran.
    ya whatever lah namanya, yg penting gak bisa ujug2 kita ngamatin dia terus mau aja diajak nikah.
    we need more than just an observation.

    btw, tidak ada orang yang mendekati sempurna.
    gue aja cuma kasih nilai 90 buat nabi dari skala 0-100.
    so, kira2 nilai 70 lumayan deh buat nyari jodoh. heuheu..
    lagipula nggak ada orang yang tajir ganteng alim rajin solat baik hati bla bla bla.
    yang ada hanyalah bagaimana kita mau mencintai dia dan membuat dia *dan kita tentunya* merasa sempurna dengan segala ketidak sempurnaan yang ada.
    kecewa itu nggak dilarang, tapi yang penting adalah gimana kita bisa dealing dengan kekecewaan itu dan tetap menjadikan dia *si suami* sebagai the best man i can get. orang gak selamanya baik dan selamanya jelek.
    kesempurnaan cuma punya Allah SWT. ;p

    setuju ama tami. gak bisa prokras buat nyiapin diri jadi istri yang baik.
    so, gue gak bosen2nya ngingetin.
    udah semester 3 nih tam. hihihi
    *kabuuuuuur*

    ReplyDelete
  12. pacaran hanyalah sarana yang syaitan beserta cicit-nya gunakan untuk memperalat kita, sodarikyu...

    biarlah kita mengenal dia dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang Allah murkai..

    biarlah keberkahan pernikahan itu mengalir dari proses yang benar..

    ReplyDelete
  13. Achie sayank, tapi pacaran juga gak ngejamin bahwa kita akan mengenal "dia" seutuhnya, karena yang namanya proses pengenalan diri itu akan berjalan sepanjang hidup. Banyak ko sarana-sarana lain selain pacaran insya Allah. kalo puti sih, nanti nyewa "detektif" buat tau calon suami puti kayak gimana, hehehe. ^^v

    Oh, iya, saudara-saudara puti juga banyak yang nikah tanpa melalui proses pacaran. Alhamdulillah mereka hidup bahagia sampai sekarang. Malah sudah punya anak yang lucu-lucu. Mesra banget ngeliatnya, ngebuat iri euy...

    Hehe, tapi puti sepakat sama achie buat ngingetin tami kalo sekarang udah semester 3 nih...!!!!!
    Kapan tam2?
    *ikutan kabuuur ahhhh....Achie...tungguin gw donk, sendal lo ketinggalan nih...!!!!!

    ReplyDelete
  14. menurut gue yah put, cari suami itu mau gak mau suka gak suka emang kudu ngelewatin apa yg namanya pacaran.ya whatever lah namanya, yg penting gak bisa ujug2 kita ngamatin dia terus mau aja diajak nikah.we need more than just an observation.

    wah Chie, nonton film para pencari tuhan ga ramadhan kemaren?

    kata Bang Jack,
    "Udah gua bilang, jangan sekali-kali memulai sesuai yang baik dengan cara-cara yang ga baik!"

    Menikah adalah sumber kebaikan,
    maka raihlah dengan jalan-jalan yang baik pula,


    hihiy, kalo kata temen SMA saya.
    pacaran trus nikah itu ibarat hukum Gossen di Ekonomi mengenai tingkat kepuasan dalam konsumsi

    saat pacaran grafik kepuasan naik naik naik naik dan terus naik.

    hingga puncaknya yaaa saat nikah itu.

    terus gimana bentuk grafiknya pas udah nikah?

    ya ituu laahhh, tinggal nunggu turunnya doaang,.
    '

    hehe...
    Islam tu agama solutif ko' Chie,
    ga ada aer buat wudhu, disediain alternatif tayamum

    so,
    ktika konsep pacaran banyak melanggar perintah-perintahNya,
    pastinya Allah ngasih jalan lain yang lebih indah dooonggg.. wong Maha Pemberi Solusi gitu kok!

    hhe,
    hanya saja kepekaan nurani untuk menerima konsep ini memang berbeda ko' antara satu individu dgn individu yang lain.

    Ga apa Chie,
    tiga tahun yang lalu, saat tami masih kelas 1 SMA, tami termasuk salah satu yg plg gigih menegasi pendapat Mba-Abang rohis mengenai tiadanya pacaran dalam Islam.

    tapi kini?
    Yu huuuu......... Islam punya jalur "pacarn" lain yang membuat pacaran zaman kini menjadi begitu tidak berarti,,
    Jauh euy indahnya dibanding yang Islam punya!!!
    ^^

    ReplyDelete
  15. nah.. menurut gue yah, balik lagi ke orangnya masing2.
    gimana dia mau mendefinisikan pacaran itu seperti apa.


    *oiya sendal gue ketinggalan! ayo puti kabur bareng!*

    ReplyDelete
  16. Dah dpt ilmuny, tinggal Kpn ilmunya di praktekan?

    ReplyDelete
  17. Dah dpt ilmuny, tinggal Kpn ilmunya di praktekan?

    ReplyDelete
  18. Dah dpt ilmuny, tinggal Kpn ilmunya di praktekan?

    ReplyDelete