11 Desember 2007
Ry, hari ini hari terakhir aku UAS. Itu berarti besok aku udah bisa pulang ke Tangerang, cihuy….Bertemu keluargaku yang udah lima bulan ini kutinggalkan demi cita-cita ku menjadi seorang Psikolog (Jeuh, lebai banget ya!).
Sebenernya sih aku udah kerasan tinggal di Jogja. Apalagi ternyata teman-teman mahasiswa ku di kampus baik-baik semua. Serasa bertemu teman-teman SMA. Tapi, rasa kangen sama keluarga mah gak bisa tergantikan ya, Ry.
Hihihi…sebenernya sebulan sekali sih mama selalu nengokin aku, tapi gimana ya… tetep aja rasanya kangen banget. Duh, gak sabar deh ketemu mama, papa, dan kakak laki-laki semata wayangku, hihihi…tambah gendutkah ia sekarang?
12 Desember 2007
Ry, sekarang aku lagi di kereta Argo Bromo neh, menuju rumah tercinta. Sengaja pilih perjalanan malem, biar capeknya gak kerasa. Oh, ya Ry, tadi pagi aku dapet SMS dari Laras, katanya minggu depan dia dah libur, Ry. Untung ya Ry, jadwal UASnya dan UASku gak jauh beda. Jadi, aku bisa melepas kangen sama dia.
Aku kangen banget Ry sama dia. Padahal komunukasi kami berjalan cukup baik lewat SMS. Tapi kok ya rasanya ada yang kurang…gitu. Ya, namanya juga lewat SMS doank ya, Ry. Jadinya kurang dalem curhat-curhatannya.
13 Desember 2007
Ry, akhirnya aku berada di kamarku lagi. Duh, kangen banget rasanya. Padahal, waktu lebaran kemarin bisa aja aku pulang. Tiket pasawat juga udah disiapin sama mama. Tapi,aku gak mau soalnya pengin ngerasain kayak temen-temenku yang dari daerah. Gak bisa pulang karena ya itu, ongkos pas-pasan.
Aku kan udah bertekad ya, Ry. Gak mau jadi anak manja lagi. Meskipun mama khawatir banget sama aku, tapi aku tetep keukeuh gak mau pulang. Lagian di Jogja aku bisa lebaran di tempat Bude Isa. Ngerasain gimana suasana lebaran dikampung. Ternyata emang lebih meriah, Ry di sana. Kekeluargaaan antar tetangga tuh akrab banget. Semua orang bener-bener keluar tanpa harus menunggu rumahnya di datengin untuk sekedar bermaaf-maafan. Beda banget sama di tempat tinggalku. Yang merasa kaya tinggal di rumah menunggu orang meminta maaf.
18 Desember 2007
Wah Ry, akhirnya saat yang kunantikan akan segera tiba. Sabtu nanti ada pertemuan mantan pengurus rohis, biasa, ngebuat rencana rihlah untuk adik-adik di SMA. So pasti aku akan bertemu dengan Laras. Akhirnya, setelah seminggu di sini aku akan berjumpa dengan teman-teman seperjuanganku. Meskipun gak semuanya bisa hadir, coz ternyata masih ada yang UAS juga, Ry. Untung anak-anak Depok udah UAS ya, Ry. Jadi aku dan Laras bisa membuka sesi curhat Sabtu nanti, hihihi….
22 Desember 2007
Ry, entah mengapa sesi curhat yang aku nantikan malah membuahkan kekecewaan. Ry, tenyata Laras telah berubah. Apa karena lingkungan kuliah yang mempengaruhinya ya, Ry?
Masih inget kan Ry tentang perasaan Laras terhadap Farhan, ikhwan yang gokil abis, bandel tetapi ramah terhadap semua orang? Ternyata masih ia pendam, Ry sampai sekarang. Tau gak Ry perbuatan apa yang membuatku kecewa? Ia berani mengutarakan rasa cintanya kepada Farhan. Bagiku Ry, itu suatu perbuatan yang menjatuhkan harga diri seorang akhwat dihadapan laki-laki.
Entahlah Ry, aku juga bingung mengapa Ia bisa senekat itu. Padahal Ry, sewaktu SMA idealismenya terhadap pergaulan antar lawan jenis benar-benar tinggi. Ia benar-benar menjaga banget Ry pergaulannya. Meskipun begitu, bukan berarti ia tidak mempunyai teman laki-laki. Justru karena sikapnya itu ia sangat di hargai oleh teman-teman laki-lakinya. Mereka senang dengan Laras karena memang Ia nyambung kalo diajak ngobrol. Tapi, mereka juga segan karena Laras memang tidak pernah mau disentuh sama yang bukan mahramnya. Justru itu yang membuat nilai lebih di mata mereka. Karena menurut mereka, cewek seperti itu adalah permata yang mahal yang udah jarang banget ada di dunia. Mereka salut loh Ry, dengan orang-orang seperti Laras yang beda banget dengan cewek-cewek jaman sekarang, yang dengan bebas bisa dipegang-pegang bahkan dipeluk.
Tapi Ry pengungkapan rasa cintanya kepada Farhan benar-benar membuatku kecewa. Aku sangat paham kok Ry, kalo rasa cinta itu amatlah wajar. Tapi, bukan berarti kita mancari pembenaran kan, Ry terhadapnya? Padahal dahulu Laras yang membimbingku agar menjadi seorang akhwat yang sebenar-benarnya. Ia yang mengenalkan aku soal liqo, mengajakku mengikuti aksi solidaritas terhadap saudara-saudara kita di Palestina, mengingatkan aku agar berhati-hati untuk tidak jatuh cinta kepada seorang yang belum halal untukku. Bahwa jatuh cinta kepada suami kita kelaklah yang akan benar-benar membuat kita bahagia.
Hasrat mencintai yang direalisasikan melalui kegiatan pacaran tentulah mengandung resiko yang amat besar. Selain dosa yang di dapat, pacaran hanyalah perbuatan yang akan sangat merugikan bagi seorang wanita, karena dengan dalih cinta, seorang laki-laki bisa dengan bebas memegang, memeluk, bahkan mencumbu pacarnya. Dan itu Ry, yang masih aku pegang sampai sekarang. Bahwa aku hanya ingin benar-benar jatuh cinta kepada suamiku. Aku hanya ingin menjaga kemurnian cintaku hanya untuk lelaki yang akan menjadi suamiku. Dan sungguh, perbuatan Laras amat sangat mengecewakan untukku.
23 Desember 2007
Ry, ini benar-benar hari terburuk dalam hidupku. Laras marah Ry karena SMS yang aku kirimkan kepadanya. Aku memang mengaku salah Ry telah mengirimkan SMS itu. SMS yang menyatakan kekecewaanku terhadap perbuatan nekatnya. Aku katakan bahwa keinginan untuk mencintai dan dicintai itu wajar, tetapi bukan berarti kita mencari pembenaran terhadapnya.
Jujur Ry, aku gak bermaksud untuk mengguruinya. Sebagai seorang sahabat yang baik, aku hanya ingin mengingatkannya. Dan ternyata dia marah besar, RY. Dia membalas dengan mengirimkan SMS permintaan maaf (dengan nada marah, menurutku). Ia menggunakan kata-kata GW, Ry. Suatu sapaan yang jarang ia berikan kepadaku. Sungguh Ry, aku menyesal telah mengirimkan SMS itu. Aku langsung mengirim SMS permintaan maafku padanya. Aku meminta maaf karena tidak bisa memahami perasaannya. Mungkin memang ia benar-benar tengah merasakan beban cinta yang begitu berat, sehingga ia terlalu menuruti keinginannya. Aku sekarang merasa menjadi sahabat yang tidak berguna, Ry. Yang benar-benar tidak memahami apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya.
Aku hanya bisa memvonis tanpa tahu sesungguhnya perasaan cinta seperti apakah yang telah menyiksanya. Aku hanya bisa memvonis tanpa menanyakan lebih lanjut alasannya melakukan itu. Bahkan, Ry aku tak sempat menanyakan tentang bagaimana perasaannya setelah melakukan pengungkapan itu? Bagaimana reaksi Farhan ketika mengetahui bahwa teman seperjuangannya sewaktu di Rohis SMA ternyata menyukainya? Ry, aku benar-benar tidak berguna ya? Waktu itu aku hanya memikirkan rasa kecewaku. Aku langsung bangkit meninggalkan Laras tanpa mendengar penjelasan lagi darinya. Bodoh benar aku. Sahabat macam apa ya, Ry aku ini? Aku gak mau, Ry, hal ini merusak benang ukhuwah indah yang telah lama aku rajut bersamanya.
29 Desember 2007
Ry, ternyata Laras memang benar-benar marah kepadaku. Dari sikapnya di rapat rihlah tadi, aku dan dia seperti orang yang baru kenal. Tak satu patah pun keluar dari mulutnya, meskipun saat hendak sholat dzuhur aku berada di sebelahnya. Ry aku gak mau Ry keadaan seperti ini terjadi di sisa umurku.
4 Januari 2008
Ry, sekarang aku sedang terbaring di rumah sakit. Aku gak bisa ikut dalam acara rihlah yang dilaksanakan hari ini. Padahal aku kan koordinator transportasinya, Ry. Untungnya, papa bersedia meminjamkan dua bus dari rentalnya meskipun aku tidak ikut dalam rihlah tersebut (Papa emang baik ya, Ry!). Kenapa ya Ry, penyakitku datang di saat seperti ini. Padahal aku ingin sekali lagi meminta maaf sama Laras pada sesi muhasabah nanti.
7 januari 2008
Ry, udah 4 hari aku dirawat di Honoris, gara-gara penyakit di kepalaku ini. Aku sedih Ry, karena sampai hari ini teman-teman seangkatanku di rohis, termasuk Laras belum menjengukku. Hanya ada 5 SMS ucapan semoga cepat sembuh (Yang salah satunya berasal dari Laras), dan kunjungan dari beberapa seniorku di Rohis SMA dulu. Tapi, aku harus selalu positive thinking ya, Ry. Mungkin aja mereka kelelahan dengan perjalanan rihlah. Aku juga maklum kok, karena sebagian teman-teman memang masih ada yang harus kembali ke kampus untuk kuliah.
9 Januari 2008
Ry, hari ini aku udah boleh pulang ke Rumah. Sebenernya sih aku yang maksa karena memang penyakitku ini sudah sulit di sembuhkan. Toh, dokter juga sudah memvonis umurku hanya akan bertahan enam bulan lagi. Jadi, daripada aku hanya terbaring di rumah sakit, lebih baik aku membantu Kak Sinta, kakak iparku tersayang, mengajar di playgroup yang didirikannya di waktu libur ini. Sekalian mempraktikan ilmu psikologi yang telah aku terima. Meskipun memang gak seberapa sih, tapi yang penting aku suka anak-anak, hihihi….
Dengan ini aku ingin melupakan sejenak masalahku dengan Laras yang masih belum baik sampai sekarang. Meskipun jujur Ry, pikiranku masih terganggu dengan semua itu. Kalo bisa aku mengulang waktu, aku ingin mencegah diriku di waktu itu agar tidak mengirim SMS tersebut. Ry, aku benar-benar merasa kehilangan sesuatu dari jiwaku. Aku merasa telah kehilangan bagian tubuhku sendiri, Ry.
Sebenarnya aku ingin menceritakan tentang rasa sakit yang aku derita di kepalaku ini, sampai-sampai ketika rasa sakit ini muncul, aku membayangkan bahwa kematian mungkin memang lebih baik untukku. Aku memang tidak menceritakan penyakitku ini kepada teman-temanku. Aku tak mau dikasihani, Ry. Tapi jujur Ry, aku benar-benar rindu kepadanya. Rindu pada kata-katanya yang akan selalu menyejukkan kalbuku, rindu akan pelukannya yang bisa menenangkan isak tangisku. Aku rindu kepadanya Ry, seperti seorang petani di musim kemarau yang sangat merindukan hujan turun di sawahnya yang kering. Aku rindu kepadanya Ry, seperti rembulan yang menantikan hadirnya bintang yang akan menemaninya di waktu malam. Pasti luka yang telah aku goreskan benar-benar dalam ya, Ry? Sampai-sampai hingga saat ini Ia masih enggan bertemu denganku. Ya Allah, ampuni aku karena telah menyakiti hatinya….
10 Januari 2008
Ry, tanggal 12 nanti Laras berulang tahun. Aku ingin memberi sebuah kejutan kepadanya. Meskipun Ia bilang bahwa Ia sudah tidak marah kepadaku lewat telpon tadi, tapi nada bicaranya yang seakan terpaksa yang membuatku yakin bahwa Ia masih marah kepadaku. Aku sekali lagi ingin meminta maaf kepadanya, Ry. Mudah-mudahan hadiah yang aku berikan nanti, akan menjadi kado yang sangat berkesan di hari ulang tahunnya.
Laras membaca lembar terakhir dalam Diary sahabatnya. Sahabat yang selama ini ternyata telah tersakiti olehnya. Ingin rasanya Laras memeluk sahabatnya dan meminta maaf atas semua sikapnya selama ini. Laras benar-benar menyesal telah menghindari sahabatnya yang ternyata sedang merasakan sakit yang jauh lebih besar dibanding rasa sakit yang dialaminya. Laras menganggap justru selama ini dialah yang sama sekali tidak memahami sahabatnya sendiri.
Sebenarnya Laras sadar bahwa apa yang dikatakan oleh sahabatnya waktu itu benar. Kenekatannya tersebut amat mengecewakan baik bagi dirinya sendiri maupun sahabatnya. Egonya terlalu besar untuk menerima dengan ikhlas nasehat dari sahabatnya itu. Sampai-sampai Ia enggan untuk bertemu sahabatnya. Namun, penyesalan tinggallah penyesalan. Embun kini telah tenang di dalam peristirahatannya. Ia tidak akan pernah merasakan sakit yang tertahankan di kepalanya serta perasaan bersalah di hatinya. Embun meninggal dalam kecelakaan motor 12 Januari kemarin, dalam perjalanannya ke rumah Laras. Ia ingin memberikan hadiah di hari ulang tahun sahabatnya itu. Dan tenyata, tekad Embun memberikan hadiah yang sangat berkesan untuk Laras tercapai juga.
Di tangan Laras tergenggam satu buah bingkai buatan tangan yang menghiasi foto dirinya dan Embun. Foto di saat mereka merayakan kelulusan ketika diterima di universitas negeri idamannya masing-masing. Dan di waktu itu pulalah terakhir kalinya Laras berfoto bersama Embun. Juga ada secarik kertas yang bertuliskan puisi permohonan maaf kepada Laras…
Sahabatku,
Aku mungkin bukanlah malaikat yang tak pernah berbuat salah
Tetapi aku hanya seorang sahabat yang menginginkan yang terbaik untuk saudaranya
Maafkan jika kata-kataku waktu itu tenyata telah menggoreskan luka yang mendalam di hatimu
Sungguh sahabat, aku hanya ingin menjadi sebatang lilin yang menerangimu ketika kau berjalan kehilangan arah
Aku hanya ingin menjadi awan yang akan selalu meneduhkan lingkungan yang dinaunginya
Dan aku hanya ingin menjadi embun yang menyejukkan di waktu pagi tiba
Sungguh, bukan maksudku untuk melukai hatimu
Namun beginilah caraku mencintaimu
Maafkan sahabatmu,
Embun
put ini beneran?
ReplyDeleteterharu deh bacanya.
pernah ada di posisi yg sama kyk embun..