Monday, 21 July 2008

Benarkah Semua Salah Cinta...?

 

Sebuah Dialog Antara Aku dan Cinta....

Cinta...

Kenapa sih kamu hadir di saat ini? Gara-gara kamu pikiranku jadi terganggu dengan bayang-bayangnya. Gara-gara kamu ibadahku jadi terganggu. Gara-gara kamu aku jadi selalu mengharapkan bisa berbicara dengannya. Aku selalu saja berangan-angan tentang dirinya. Aku jadi seperti orang kurang waras, Cinta. Kenapa sih kamu tega banget sama aku. Padahal sekarang aku kan ingin fokus sama studiku. Aku ingin fokus sama organisasiku. Aku ingin total sama hobiku. Lantas, kenapa kamu tega ngerusaknya sih? Tau gak, aku tuh jadi gak fokus sama segala yang aku hadapi. Gak bisa fokus sama pelajaran, gak bisa fokus sama tanggungjawabku, gak bisa natural dalam tulisanku. Kenapa sih Cinta, kenapa harus saat ini? Aku masih mau mengoptimalkan segala potensiku untuk kuberikan pada negeri ini. Tau-tau kamu datang dan memenuhi otakku dengan semua tentangnya.... Kenapa kamu memilihku Cinta? Kenapa harus saat ini? Kenapa Cinta, kenapa...?

 

Sayang...

Aku tidak pernah memilihmu. Tapi kamu sendiri yang mempersilahkan aku masuk. Ingat tidak ketika aku datang dengan wajah anak-anak jalanan yang memerlukan pengajaran darimu? Kau menolakku kan dengan alasan tak mempunyai waktu. Lalu aku datang dengan rupa sahabatmu yang tengah berada di dalam kesulitan. Kau memang membiarkanku masuk, tapi kau hanya memberikan sedikit ruang bagiku. Sekarang ketika aku masuk dengan sosok  seorang laki-laki, kau menyalahkanku. Kau menyalahkanku karena kesuburan cinta yang hadir untuknya. Sadarkah kau Sayang, bahwa dirimu sendirilah yang menyuburkannya. Okelah, kau memang tetap memupuk rasa cintamu terhadap Tuhanmu, orangtuamu, juga terhadap saudaramu. Tapi kau dengan tekun terus saja menumbuh suburkan aku dalam sosok seorang laki-laki. Lantas kau dengan egoisnya menyalahkan aku. Padahal kau sendiri yang membiarkan ia tumbuh subur. Padahal kau sendiri yang memberikan ruangan besar di hatimu untuk tempat tumbuhnya. Kau kan sudah tau bahwa belum saatnya kau memupuknya. Kau sangat paham Sayang, kapan ia harus diberi ruang agar dapat tumbuh dengan amat subur. Masihkah kau menyalahkanku atas semua ini????

 

Cinta...

Maafkan aku. Ya, aku sadar akulah yang salah. Andai saja aku dapat menutup semua celah agar kau dengan sosoknya tak dapat tumbuh subur di saat ini, mungkin aku tak kan menjadi seperti sekarang ini. Entahlah, Cinta, apakah memang aku tak mau atau karena aku tak mampu?  Yang pasti aku tak bisa terus menyalahkanmu, Cinta. Karena itu sama saja aku menyalahkan Sang Maha Pencinta.

 

 

(KalauIniBenarTerjadiPadakuSaatIniBisaGawatDeh,HeHeHe...)

*HanyaSebuahImajinasiTulisanMengenaiCinta

 

 

8 comments:

  1. imajinasi yang,,,,,, apa ya???
    hehehe,,,,

    ReplyDelete
  2. hmmm... kasihan si cinta disalah2in ^_^

    ReplyDelete
  3. Hayyah...itu kan cuma imajinasi doank...

    ReplyDelete
  4. hehe.. puti2.. kayaknya ga cuma imajinasi deh..haha! piss put! Sbenernya c, cinta itu ga salah say.. tapi slalu aja kalo kita udah masuk terlalu dalam n membekas,, mmm.. biasanya kita selalu menyalahkan cinta! Gw juga c.. hehe. Tp kalo semua manusia ga punya cinta, kyknya hidup ini ga seindah yg kita jalanin.. Itulah tujuan cinta datang, untuk membuat hidup kita berliku2... Bgitu pula, kita juga akan selalu diuji untuk menjaga cinta sejati kita kpd-Nya.

    ReplyDelete
  5. Nafsu itu.... ah, kasian si cinta...

    (kata2 nya Mas Salim A. Fillah)

    ReplyDelete
  6. @titiknadir
    Hehe,ngmng2 tntng salim a filliah,keknya bukumu msh ada d aq ya dek?

    ReplyDelete