“Kamu gak ikut UM (Ujian Masuk) UGM, Put?” Alifah bertanya kepadaku. Mendengar pertanyaannya aku hanya bisa tersenyum. Hmmf...Oh, Rabbi...dapatkah aku kuliah setelah lulus nanti?
“Ibu, aku ingin kuliah...” aku merajuk kepada Ibu di suatu malam. Hmm, tak ada sepatah pun kata yang terucap dari bibirnya. Kulihat kemudian matanya nanar, lalu perlahan satu persatu butiran air matanya menetes keluar. Aku bingung, kenapa ibu tiba-tiba menangis? Adakah yang salah dari perkataanku? Sampai-sampai hatinya tersayat hingga menyebabkan air matanya jatuh? Kemudian ibu menarik napas. Sambil meneruskan me-ngesum rok SMA pesanan Lia, tetanggaku, ia kemudian berujar, “Nak, ibu manapun ingin agar anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Ibupun demikian. Ibu tahu bahwa pendidikan sekarang amatlah penting. Apalagi kamu termasuk anak yang cerdas...” Suaranya bergetar, ia tak dapat menahan tangisnya.
“Kau tahu
“Ibu tak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Ibu tahu, ibu dan ayah adalah orangtua yang gagal karena kami tak bisa menyekolahkan anak-anaknya sesuai dengan cita-citanya. Jika bukan karena “keterpaksaan” untuk berkuliah di STAN, mungkin masmu kini sudah menjadi seorang sarjana Teknik Nuklir. Tapi Allah berkehendak lain, masmu pun bisa kuliah karena Allah memberinya rezeki di STAN yang memang gratis, Nak...” Ibu semakin terisak. Aku sungguh tak tega melihatnya menangis. Maka kucukupkan saja perbincangan yang pada akhirnya kusesali ini.
“Ibu, engkau bukan orangtua yang gagal. Justru Ibu dan Ayah adalah orangtua yang hebat karena telah dapat membesarkan anak-anak yang bisa meraih prestasi di sekolahnya. Ibu telah membesarkan anak laki-laki yang selalu juara umum, Bu! Ibu telah membesarkan aku, menjadi seorang muslimah yang dapat mempersembahkan sebuah prestasi meskipun bukan prestasi yang terlalu tinggi”
Aku mencoba menenangkan ibu. Sungguh, aku amat menyesal telah membuat ia menangis. Kini aku telah menambah beban pikirannya lagi. Ibu sudah cukup lelah berjuang untuk menutupi kebutuhan kami yang tak sepenuhnya tertutupi oleh penghasilan Ayah. Meskipun sekarang masku telah bekerja dan menjadi CPNS, namun ibu tetap saja enggan untuk menerima bantuan sepenuhnya dari masku karena beliau merasa tidak enak untuk terlalu membebani masku yang baru 2 tahun bekerja.
Aku kemudian pergi ke kamar. Kupandangi dinding kamar yang dipenuhi oleh gambar serta tulisan tentang semua cita-citaku. Ya, aku harus kuliah. Bagaimanapun aku harus kuliah, entah itu di PTN atau di sekolah ikatan dinas. Aku memandang sebuah gambar muslimah yang memakai toga, dibawahnya bertuliskan “Aku calon Psikolog”. Hmmf...aku menarik napas panjang. Kembali kuingat perkataan ibu ketika beliau melihat gambar itu “Nak, ibu mengerti akan cita-citamu, tapi jika kamu ingin kuliah, maka kamu hanya bisa kuliah di sekolah ikatan dinas, Nak! Bukan bermaksud untuk menghalangimu bermimpi, tapi kau tahu
Ya..ya..aku sangat memahami perasaan yang beliau rasakan. Kini, aku berniat untuk sedikit mengubur cita-cita menjadi seorang Psikolog. Ya, aku tak boleh mengecewakan Ibu. Aku harus bisa masuk STAN agar bisa mengurangi beban orangtuaku.
Meskipun aku tak berniat mengikuti SPMB, akan tetapi masku menyuruhku mengikuti bimbingan belajar di NF sampai masa intensif SPMB. Ya, Alhamdulillah masku bersedia membayar biaya lesku sampai intensif SPMB. Kata dia, sekalian mengasah otak untuk mempersiapkan ujian STAN. Maka, setelah selesai UAN, hari-hariku diisi dengan kegiatan intensif SPMB. Tahukah Kawan, meskipun cita-citaku adalah masuk ke Psikologi UI, namun aku mengambil paket IPA dalam intensif ini. Ya, karena memang aku dari IPA, dan karena aku pun sudah mengubur cita-cita untuk ikut SPMB. Seperti kata masku, les ini hanya untuk mengasah otakku agar tidak tumpul.
Tak terasa hari-hari menjelang SPMB tiba. Semua teman-temanku telah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka sibuk berlatih soal-soal, sementara mungkin aku satu-satunya orang yang tidak larut dalam kesibukan itu. Aku hanya berlatih tanpa sama sekali mempunyai ruh di dalamnya. Meskipun begitu, aku tetap serius mempelajari setiap butir soal yang dijelaskan oleh para tentor. Sebenarnya aku sudah lelah dan selalu berpikir bahwa ini sia-sia, karena kupikir toh aku juga tak akan pernah mengikuti SPMB.
Alhamdulillah, aku lulus UAN dengan nilai yang cukup memuaskan. Meskipun masih banyak yang lebih bagus dari nilaiku, tapi aku bangga karena ini nilai MURNI hasil jerih payahku sendiri. Kau tentu tahu Kawan, bagaimana kecurangan saat UAN itu terjadi hampir di tiap sekolah. Tak terkecuali sekolah-sekolah unggulan. Banyak SMS jawaban yang menyebar hampir ke setiap HP para siswa. Akan tetapi, aku telah berazzam untuk tidak melakukan satupun tindak kecurangan, karena aku takut Allah tak akan pernah membantuku lagi ketika Ia melihat, aku berbuat suatu perbuatan yang amat dibencinya.
Hari ini hari terakhir pemesanan formulir SPMB. Tahu kah kau Kawan, kalau hari ini suasana hatiku amat kacau. Aku iri dengan teman-teman yang dapat mengikuti SPMB. Oh, Rabbi...aku tahu bahwa Engkau tak akan pernah menyia-nyiakan hambaMu ini. Dengan tekad yang kuat kuberanikan diri menelpon masku yang bekerja di Garut.
“Mas, hari ini
Mendengarnya, pikiran yang tadinya gersang ini serasa tertetesi embun yang menyejukkan.
Oh, Rabbi jika engkau memang mengizinkan, maka mudahkan jalanku, Rabb untuk dapat mengejar semua mimpi-mimpiku.
Tak terasa hari yang menegangkan itu tiba. Perlu engkau ketahui kawan, aku mengambil program IPC dalam SPMB ini. Suatu hal yang amat sangat nekat karena aku sama sekali tidak mempelajari sedikitpun pelajaran IPS. Modalku hanya dalam kemampuan dasar serta pelajaran sejarah yang memang aku sukai. Kawan, aku menganggap ini hanya sebuah tebak-tebak berhadiah. Toh, akupun tak tahu jika aku memang lolos pada akhirnya nanti, apakah akan kuambil atau tidak.
Hari seleksi pun terlewati. Kini aku harus kembali fokus dengan ujian yang memang menjadi tumpuan hidupku. Ya, aku harus mempersipakan untuk ujian STAN bulan Agustus ini.
Waktu cepat berlalu. Kau tahu Kawan, malam ini adalah malam pengumuman hasil SPMB lewat internet, dan pasti akan menjadi malam yang menegangkan bagi seluruh peserta yang mengikuti SPMB. Tapi tidak denganku. Aku sama sekali tak peduli, meskipun aku sebenarnya juga ingin mengetahui apakah aku berhasil lolos atau tidak. Aku hanya terdiam dikamar sambil terus mencoba berkonsentrasi dengan setumpuk contoh soal-soal UM STAN. Tiba-tiba HP ku bergetar. Ternyata sebuah SMS dari sahabatku, Alifah. Ia mengabarkan bahwa dirinya diterima di jurusan Biologi UI. Sesuatu yang memang diimpikannya sejak dulu. Aku mengucap syukur atas keberhasilan sahabatku ini. Mungkin UI memang tempat yang terbaik yang diberikan Allah untuknya, karena sewaktu UM UGM kemarin ia tidak berhasil lolos. Alifah kemudian menanyakan no peserta SPMB ku. Karena penasaran kukirimkan saja nomor itu. Kawan, aku sama sekali tak berharap lolos dalam SPMB ini, karena aku sama sekali hanya menebak ketika mengerjakan soal-soal kemampuan IPS. Kalaupun aku masuk, aku yakin pasti aku hanya akan masuk Psikologi Pendidikan di sebuah universitas negeri di
Kau tahu kawan, ternyata Allah berkehendak lain. Tak lama kemudian Alifah mengirim SMS yang benar-benar mengagetkanku. Ya, aku diterima di satu universitas yang sama dengannya. Itu artinya aku diterima di Psikologi UI, fakultas yang selama ini aku idam-idamkan. Mungkin aku satu-satunya orang yang nelangsa ketika mendengar berita bahwa dirinya diterima di UI. Sebuah perguruan tinggi idaman anak negeri.
Kawan, sebenarnya aku bahagia, tapi aku sedih karena suatu kenyataan yang tak dapat aku hindarkan. Biaya, adalah masalah utama yang menjadi penghalangku. Tahukah kau, Kawan berapa yang harus aku bayar untuk masuk Psikologi UI? Sepuluh juta rupiah untuk uang pangkalnya. Aku sungguh tak tega membicarakan hal tersebut kepada orangtuaku. Mereka pasti akan bersedih karena ketidakberdayaan yang dimilikinya. Aku hanya bisa menangis di dalam kamarku. Sampai tiba-tiba ibu menemukanku telah bersimbah air mata. “
Kulihat mata ibuku nanar. Ibu, aku tak bermaksud membebani pikiranmu lagi. Namun tiba-tiba ibu berkata, “Nak, ketika Allah memberikan sesuatu, pasti ada jalan untuk menjalaninya kelak”. Oh, Ibu perkataan itu menjadi penyejuk kalbuku. Yah, pasti Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambanya sedikitpun.
Keesokan harinya, setelah tadi malam kutelpon, masku tiba-tiba saja langsung datang dari Garut. Yah, kebetulan memang hari itu hari sabtu. Ibu langsung menelponku untuk segera pulang karena masku telah menunggu di rumah. Saat itu memang aku sedang berada di sekolah untuk melaporkan tentang kelulusanku. Di sekolahpun hanya aku yang terlihat sedih saat memberitahukan kabar yang semestinya membahagiakan ini. Alifah pun memahami kegundahanku. Ia terus mendukungku dan menyemangatiku bahwa ada beribu macam beasiswa yang tersebar di
Sesampainya di rumah, kulihat sebuah laptop berada di samping telpon. Oh, ternyata ini laptop baru yang dibeli masku. Mas Ivan yang melihat kedatanganku tiba-tiba saja tersenyum. “Allah memang tak akan pernah menyia-nyiakan hambanya, Put! Kau tahu, SK PNS ku baru saja turun dan aku sekarang dipiindah tugaskan ke KanWil Bandung, itu artinya kemungkinan besar aku akan bisa membiayai kuliahmu. Tapi, kamu juga harus berusaha mencari beasiswa ya! Biar meringankan bebanku. Dan juga jangan sampai IPK mu nanti dibawah 3, Oke?”
Subhanallah, Maha Suci Engkau Rabbi...
Aku tak sanggup lagi berkata-kata, Kawan. Hanya airmata yang mengalir yang menjadi saksi betapa bahagianya aku. Oh, Rabbi...betapa besar karunia-Mu terhadap hamba. Terima kasih Rabb atas semua anugerah tak terhingga yang telah engkau berikan kepada keluargaku....
***
Kawan, sekarang aku telah menjadi seorang mahasiswa Psikologi UI, yang semua biaya kuliah dan biaya hidupku, serta hidup keluargaku, ditanggung oleh beasiswa dan jerih payah hasil keringat masku. Kau tahu, Kawan, aku tak diterima dalam UM STAN. Dan itu artinya memang Psikologi UI-lah tempat terbaik untukku. Kawan, satu pesanku, jangan pernah takut untuk bermimpi, karena Allah tak akan pernah sedikitpun menyia-nyiakan hambaNya yang terus berusaha. Maka bermimpilah, Kawan....!karena Allah akan memeluk Mimpi-mipimu!!!!!
Hari yang melelahkan setelah mengikuti NgoBaR di Balai Sidang BNI
Mengingatkan aku akan sebuah episode dalam perjalanan hidupku
(Di kamar kosanku, 16 Mei 2008 pukul
_Puti Kecil_
Dengan Keyakinan hati serta doa yang tulus kepada Allah...insyaallah bisa mendapatkan apa yang diinginkan...:-)
ReplyDeleteNice story...and thank's :-)
ALLAHUAKBAR!!! ukhti, tahukah... bahwa kejadian itu yang sedang dialami oleh ku saat ini...doakan semoga ana bisa seberuntung ukhti... Allah sesuai dengan prasangka hambanya...Allah tahu apa yang ukhti harap, Allah juga tahu apa yang ku harap... semoga Allah memberikan yang terbaik untukku... amin...
ReplyDeleteSubhanallah. Cerita yg menggugah. Mirip dgn cerita saya, saya tmsk dr keluarga yg pas2an. Namun penuh cinta. Sungguh luar biasa kedua orangtua dek putri dan sang kakak. Moga tetap istiqomah ya
ReplyDeleteSubhanallah. Cerita yg menggugah. Mirip dgn cerita saya, saya tmsk dr keluarga yg pas2an. Namun penuh cinta. Sungguh luar biasa kedua orangtua dek putri dan sang kakak. Moga tetap istiqomah ya
ReplyDeletebaca cerita ini bikin gw flash back ke dua tahun yang lalu..
ReplyDeleteInsya Allah...Semoga mendapatkan yang terbaik! ^_^
ReplyDeleteInsya Allah
ReplyDeleteSubhanallah, intinya jangan takut bermimpi juga ya... Salam kenal, btw kakaknya angkatan 2006 ya?
ReplyDelete