Tuesday, 20 May 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional, antara Kebanggaan dan Pemborosan

Acara peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional yang disiarkan langsung oleh seluruh stasiun TV mencerminkan betapa pemerintah kita lebih mementingkan penampilan dibanding keadaan riil bangsa. Bayangkan saja, acara tersebut pasti menelan biaya yang sangat besar. Mengapa aku bisa berpendapat seperti itu? Karena ada sebuah fakta bahwa mahasiswa UI angkatan 2007 saja, yang ditugaskan menjadi paduan suara mendapatkan “amplop” sebesar Rp. 50.000 tiap orangnya. Jika ada 4000-an mahasiswa yang ikut  berpartisipasi dalam paduan suara tersebut, berarti sekitar Rp. 200.000.000 telah dikeluarkan oleh negara. Belum lagi makan siang serta makan malam yang dibagikan. Makanan tersebut dipesan pada sebuah restoran cepat saji. Makan siang berupa burger, dan makan malam berupa paket nasi. Jika harga satu buah burger sekitar Rp. 8000, dan harga paket nasi sekitar Rp. 10.000, maka untuk biaya makan  yang dikeluarkan untuk mahasiswa UI saja kira-kira sebesar Rp. 72.000.000, belum lagi ditambah air minum serta sewa bis yang jumlahnya melebihi 50 armada. Itu baru dari sisi paduan suara, belum lagi dari pihak acara lainnya.

Entahlah sebagai mahasiswa UI aku tak tahu haruskah aku berbangga ketika mengisi acara tersebut? Aku jadi ingat perkataan seorang teman kemarin siang “Mendingan gue ikut padus daripada ikut aksi, setidaknya waktu gue ikut padus gue bisa bangga sebagai bangsa Indonesia...”. Jujur, aku tak sependapat dengannya. Di tengah krisis yang melanda bangsa, haruskah perayaan 100 tahun kebangkitan nasional dilaksanakan seperti itu? Aku justru malu ketika Jakun ini hanya berfungsi sebagai identitas kebanggaan mahasiswa saat  tampil di depan Presiden atau masuk kamera TV. Salah seorang sahabatku pun bertanya lewat SMS mengenai kegelisahan ini, “Put, dikau ikut yang hari selasa itu gak? Gw gak tega Put, masa di tengah kesengsaraan rakyat dengan naiknya harga BBM, kita sebagai mahasiswa ikut menikmati pemborosan uang negara untuk acara glamour kayak githu? Atas nama kebangkitan nasional, apakah realisasinya harus seperti itu? Duuh, Put. Gw jadi bingung antara idealisme dengan kebanggaan memakai Jakun...”

Akupun bingung bagaimana harus menyikapinya. Untungnya Allah memberiku sakit pada hari ini sehingga aku berpikir, memang mungkin aku tak diizinkan untuk mengikuti acara tersebut. Sahabatku pun juga begitu. Ia juga sedang sakit sekarang. Entahlah, mungkin aku hanyalah seorang awam yang tak mengerti tentang apa esensi dari perayaan glamour tersebut. Aku hanya mengikuti nuraniku sebagai seorang manusia, ketika masih banyak orang-orang yang kesusahan, pantaskah kita merayakan sesuatu secara berlebihan dengan mengatasnamakan Kebangkitan Nasional???????

 

Di bumi Depok, 20 Mei 2008 pukul 15.30 WIB

 

4 comments:

  1. keren! sepakat! kadang sakit emang multifungsi ya put:)

    ReplyDelete
  2. semoga dikau lebih tahu apa yang dibalik itu semua,

    ReplyDelete
  3. emang apa yar?? pemberian kegembiraan sesaat bagi rakyat untuk melupakan hiruk pikuk masalah yang akan atau sedang membelit mereka?

    ReplyDelete
  4. hohoho,,,serba bingung yah?? ga ikut juga berarti qta memboroskan uang yang udah dikeluarin buat sewa bis, beli makana dsb itu,, tapi kalo ikut juga kaya membodohi rakyat dengan kemegahan semu,, hmm

    ReplyDelete