Friday, 5 June 2009

Sebuah Naungan keberkahan di Wisma Barokah



Dahulu, butuh perjuangan dan kesabaran untuk memasuki wisma ini. Kos-kosan yang terletak di salah satu gang yang ada di jalan margonda. Rumah sederhana dengan cat krem dan coklat pada kusen pintu dan jendelanya. Yup, itulah wisma Barokah. 

Jika kau datang ke Wisma ini kawan, maka kau akan disambut oleh aura ketenangan di wisma ini. Mereka yang datang pertama kali ke wisma ini akan merasakan betapa nyamannya berada di wisma ini.

Selama aku berada di wisma ini, canda, tawa, bahkan duka selalu menemani hari-hari penghuninya.

Ada kehangatan, persaudaraan yang begitu erat, kasih sayang yang mungkin tak akan aku dapatkan di kos-kosan lainnya.
Apalagi saat Ramadhan. Ya, meskipun aku baru melewati satu Ramadhan di wisma ini, namun kuharap keberkahan ini akan terus berlanjut di malam-malam Ramadhan berikutnya.
Maka, ketika bulan Ramadhan tiba, kau akan mendapatkan kami sahur bersama di depan ruang TV. Saling membangunkan sahur antara satu penghuni dan penghuni lainnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah di depan TV. Sempat aku mengusulkan untuk mengadakan kultum setelah shalat, hehe. Tetapi hal tersebut masih belum dapat terealisasikan.

Lalu, saat tarawih, kami akan pergi bersama-sama ke MUI. Dan saat malam sepuluh terakhir akan segera tiba, maka kami akan disibukkan untuk memutuskan kemana kami akan beritikaf.

Namun kawan, hal tersebut tak hanya terjadi saat hari-hari di bulan Ramadhan. Semua hari di wisma Barokah adalah hari-hari seperti Ramadhan. Ketika kami memang berkumpul di kosan, shalat Jamaah adalah hal yang akan kami lakukan. Saling terbangun untuk shalat Lail, dan saat senin-kamis pun adalah hari puasa bagi sebagian penghuninya.

Yup, itulah kos-kosanku. Maka aku tak akan pernah melupakan acara masak nasi goreng bersama di dapur. Terkadang aku yang memasakkan untuk mereka, namun terkadang pula mereka yang memasakkannya untukku. Di sini, kami sudah seperti keluarga. Jika ada yang sakit, maka secara otomatis semua akan bergantian merawat si sakit. Entah itu menyiapkan secangkir teh hangat, membelikan makan sampai merekomendasikan dan membelikan obat apa yang harus diminum. Dan saat ada yang belum pulang saat jam menunjukkan pukul 8 malam, maka kami akan mencari tahu kemana gerangan perginya ia.

Atau ketika ada yang sering meminum kopi atau makan mie instant, pengingatan sebagai tanda cinta langsung akan menghujam si tersangka.

Yap, itulah kos-kosanku. Ada Fariz, ka de2w, aku, teh yunda, teh anis, teh Rayi, Adel, Inez, Mba Debi, Mba Deli, Nurul, ka Dewi, dan mba yang selalu merawat wisma ini, mba Iis. Orang-orang baik dan menyenangkan. Ahh, semoga meskipun akan ada yang pergi dan yang datang di wisma ini, naungan keberkahan itu tetap akan ada di wisma ini. Ya, hal yang sangat aku syukuri…Sebuah Naungan Keberkahan di Wisma Barokah.



2 comments: