Tuesday, 23 June 2009

asmaku dalam naungan surga...(bag 1)

Suara hati – karena sebenarnya aku rindu

Pagi ini kembali kulihat jadwal dalam agendaku. Hmm, ternyata ada dua kajian yang mesti aku isi hari ini. Siang ini di sebuah majelis ta’lim, dan sorenya mengisi di sebuah kajian keputrian di SMA.

Huff, sepertinya hari ini pun tak ada waktu untuk dua cahaya hatiku. Ahh, tak…tak…tak boleh mengeluh karena ini adalah jalan yang telah kupilih.

Aku lalu berjalan menuju dapur. Seperti biasa bersiap mempersembahkan bekal special untuk dua cahayaku, ahh…dan tentu saja  juga untuk pangeran hatiku. 

“bunda, kali ini bekal untuk asma apa?”, sebuah suara lembut menyapa di tengah aktivitasku mencincang potongan Bombay.

Asma menarik-narik gamisku, ia hendak melihat olahan bahan bekal yang berada di atas meja.

“bunda mau bikin spaghetti  untuk bekal hari ini sayang….”

Mata kubilnya mengerjap, ia kemudian memainkan lidahnya, menyapu bibir atasnya lalu berkata, “Hmm, pasti sedap….”

Aku kemudian mengacak rambutnya, “cahaya hatiku, bunda bisa minta tolong?”

Asma mengangguk kecil.

“Tolong bangunin dek aish ya… sekalian temenin dia mandi, kamu minta bantuan sama bi imah ya sayang…”

“Oke bos…” celoteh asma riang sambil mengacungkan jempolnya.

Ya, aku memang membiasakannya untuk mengasuh adiknya. Tak sepenuhnya mengandalkan khadimat (pembantu), agar tali kasih tumbuh makin erat di antara mereka.

Yap, hal ini aku terapkan karena aku ingin kedua cahaya hatiku mandiri sejak kecil. Dari dahulu khadimat kuanggap sebagai orang yang hanya benar-benar membantu. Sejatinya memang akulah yang menjadi pelaku dalam rumah tangga ini.

Saat asma lahir, akupun berusaha untuk mengasuhnya sendiri sampai batas waktu cutiku habis. Profesiku sebagai seorang guru BP memang memungkinkanku untuk mengasuh cahaya hatiku di siang harinya. Meskipun terkadang panggilan dakwah kerap mengambil waktuku di saat seharusnya aku  bercengkrama dengan mereka. Bukan suatu halangan memang, karena aku berhasil memainkan peranku sebagai ibu dengan baik. Buktinya tak pernah ada protes dari dua cahaya hatiku ketika bundanya tak dapat menemani hari-hari mereka, bahkan saat umur asma telah menginjak angka 11 tahun dan aisha yang berusia 6 tahun. Komunikasi yang baik yang menjadi kunci utamaku. Walaupun terkadang mereka protes saat aktivitasku sudah melampui batas. Namun aku senang, karena mereka telah memahami aktivitasku dan mas Fathi yang memang berada di atas jalan kebenaran.

***

Asma senang karena hari ini bunda ngebuatin spaghetti untuk bekal. Uhh, masakan bunda emang selalu ngebuat lidah asma merasa ketagihan. Asma kagum sama bunda, di tengah aktivitasnya yang padat bunda masih sempat membuatkan sarapan plus bekal buat ayah, asma, dan dek aish. Bunda juga selalu menyempatkan waktu untuk bercerita dan menanyakan aktivitas kami menjelang tidur.

Bunda asma emang wanita hebat. Pantes aja banyak orang yang selalu minta nasihat sama bunda. Bunda orang yang amat bijak. Bunda gak pernah ngebentak dan marahin asma walaupun terkadang asma udah ngelakuin kesalahan. Bunda sabar… banget ngadepin asma dan dek aish. Pokonya asma sayang bunda. Asma akan selalu nurutin apa kata bunda karena perkataan bunda yang emang selalu benar. Bunda selalu mempersembahkan yang terbaik buat asma dan dek aish. Makannya asma malu kalo berperilaku manja sama bunda. Asma gak mau ngerepotin bunda. Kasian bunda, banyak kerjaan yang menunggunya. Hmmm, asma juga harus ngajarin dek aish agar bisa mandiri dan gak ngerepotin bunda. Aku dan dek aish sayang… banget sama ayah dan bunda. Makasih Allah udah ngasih ayah dan bunda yang baik buat asma dan dek aish.

***

Aroma tumisan bawang mengharum di area sekitar dapur rumahku. Ahh, ini pasti masakan Zahra, isteriku tercinta. Ya, wanita yang telah kunikahi empat belas tahun silam. Susah juga awalnya meyakinkan dia untuk mau menikah denganku di tengah kesibukan pembuatan skripsinya. Akan tetapi dengan sedikit usaha dan doa akhirnya Zahra luluh juga. Yup, aku meyakinkannya bahwa pasti kami akan dapat membangun sebuah madrasah peradaban di tengah amanah yang sedang dijalaninya. Meskipun pada kenyataannya aku menikahinya 3 hari pasca sidang skripsinya.

Proses yang kami jalani memang terbilang unik. Aku dan dia adalah senior dan junior saat di SMANSA depok. Dan kami berdua adalah lulusan dari satu almamater yang sama. Namun kami baru kenal ketika tergabung dalam satu wadah alumni SMA. Dan baru benar-benar berkenalan di saat proses ta’aruf dahulu.

Zahra memang tak secantik viola (akhwat jurusan yang sempat aku taksir saat kuliah). Akan tetapi pribadinya memalingkan duniaku. Mungil dengan percaya diri yang tinggi. Dan menurutku ia memang wanita yang tepat untuk menjadi madrasah pertama dan yang utama bagi anak-anakku kelak. Kutahu dari teman-temannya, Zahraku adalah wanita yang aktif dan sangat kritis ketika di kampus. Akan tetapi ia bisa menjadi sangat lembut dan penyayang jika sudah berhubungan dengan dunia anak-anak. Dan terbukti, ia dapat memainkan perannya dengan baik di tengah seabreg aktivitas yang digelutinya. Ia sangat mandiri, sampai-sampai kedua princess kecil ku pun sekarang sudah mulai menunjukkan kemandiriannnya. Hal itu tentu saja karena bundanya yang mengajarkan mereka untuk berlaku demikian.

***

Hufff, aku menghela nafas lagi. Yup, yup…hari ini ternyata banyak kasus yang harus aku tangani. Hmm, ikhlas…Zahra…ikhlas. Memang ini bukan yang kau inginkan? Mencoba membantu menyelesaikan masalah yang menimpa anak-anak “istimewa” ini?

Aku membuka buku agenda. Tertera dengan jelas bahwa aku menjadwalkan bertemu dengan orangtua Dani hari ini. Sudah dua hari dalam minggu ini Dani bolos sekolah. Sebenarnya ia bukan tipe anak pembangkang menurutku. Prestasinya cukup baik, termasuk 10 besar umum di sekolah. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini penyakit bolosnya sering kambuh. Kemarin, aku sudah mencoba berbincang dengannya. Tapi dani bungkam. Ia  masih enggan menceritakan penyebab dibalik perilaku bolosnya itu. Maka akhirnya kuputuskan untuk memanggil kedua orangtuanya.

***

Yiee….hari ini Asma berhasil dapet 100 lagi di ulangan matematika. Alhamdulillah, bisa ngasih hadiah lagi buat ayah dan bunda hari ini. Padahal ulangannya lumayan susah. Cuma sekitar 40 persen loh siswa yang dapet nilai di atas enampuluh. Tapi asma kemarin belajar mati-matian, sambil ditemanin bunda tentunya. Asma ngutak-ngatik soal matematika sedangkan bunda larut dalam pekerjaannya. Gak papa, yang penting bunda ada di samping asma. Kalo ayah di rumah, pasti ayah juga nemenin asma. Sayangnya ayah lagi gak ada, lagi keluar kota. Ahh, kalo ayah teman-teman asma keluar kota karena dinas, tapi kalo ayah keluar kota karena harus ngisi dauroh. Hehe, ayah asma kan penjual bakso, jadi mana mungkin ke luar kota karena dinas. Wong warung cabangnya aja baru punya 4, dan itu adanya di daerah depok dan Jakarta doank, hihihi. Bakso ayah enak loh…! Resep khusus dari Kendal.

***

Sudah pukul 14.00. tiga puluh menit lagi waktunya asma dan aisha pulang. Duh, aku gelisah, sepertinya hari ini aku akan gagal lagi menjemput mereka ke sekolah. Padahal aku sudah rindu menjemput mereka. Orangtua Dani tadi cukup lama berbincang denganku sehingga jadwal mengisi kajian pun terpaksa kumolorkan  selama satu jam. Untungnya para akhwat ini maklum. Tapi imbasnya lagi-lagi aku tidak dapat menjemput asma dan aisha di sekolah. Maafin bunda ya dua cahaya kecilku….

***

“Kak…bunda gak jadi jemput kita ya?”, dek aish terus saja memberondong asma dengan pertanyaan ini. Tadi pagi bunda memang telah berjanji untuk menjemput kami karena katanya kajiannya hanya akan berlangsung sampai pukul 2 siang ini. Hmm, tapi 5 menit yang lalu asma menerima sms dari  bunda. Bunda meminta maaf bahwa kali ini ia tak dapat menepati janjinya. Hanya Pak Yasir yang akan menjemput kami lagi.

“bunda lagi nolong orang,dek. Makannya bunda gak bisa jemput kita…”, asma gak bohong kan sama dek aish? Emang bener bunda sedang menolong orang untuk mendapatkan kebenaran lewat kajian yang diberikannya kan?

Dek aish menunduk tapi sesaat kemudian matanya berkeliling. Tiba-tiba ia menunjuk seorang ibu dan anaknya yang tengah bergandengan tangan, mesra sekali.

“Ko, kita jarang bisa kayak gitu ya ka sama bunda…”, suara dek aish terdengar lirih hingga menyayat lubuk hati asma yang paling dalam.

Duh, dek aish… kak asma sebenarnya juga rindu dengan bunda. Akhir-akhir ini bunda emang terlihat sibuk banget. Bahkan kak asma sampai tak tega melihat wajah kisutnya saat sampai di rumah ketika rembulan sudah bertengger di peraduannya.

 Asma menarik nafas, mencoba mengumpulkan segenap kekuatan asma. Asma gak boleh lemah, asma harus tetap berada di sisi dek aish. Jangan sampai ia merasa kesepian. Asma memeluk dek aish yang tingginya hanya  setengah dari asma.

“Kamu harusnya bangga dek, punya bunda yang hebat, yang disayangin banyak orang…” asma mencoba menghibur dek aish.

Asma lihat kemudian mata dek aish berbinar. Nampaknya kata-kata asma membuatnya sedikit lega. Yup, bunda memang termasuk salah seorang ustadzah yang terkenal di lingkungan kami. Bahkan teman-teman dek aishpun sangat mengidolakan bunda karena keahlian bunda yang pandai mendongeng. Ya, bunda waktu itu pernah menjadi salah satu pengisi acara dalam festival sekolah kami.

Ahh, bunda hanya ini yang bisa asma lakukan untukmu.

 

-puti ayu setiani-

1 comment:

  1. aku kira kamu asma put, hihiii
    good story...continue! (hahhaa abis klo pake b.indonesia ntar dikira kampanye.. ^^)

    ReplyDelete