Saturday, 9 May 2009

Tak Harus Selalu Menyembunyikan Luka

 

Pernahkah kalian memendam amarah?  Kemarin hal tersebut sempat aku lakukan tapi ternyata… aku tak kuat memendam begitu banyak hal yang menyesakkan di dada. Maka tumpahlah tangisanku ke pundak seorang kakak, kakak yang aku anggap cukup bijak mendengarkan segala keluh-kesah.

Minggu kemarin sepertinya semua masalah tumplek blek jadi satu, mulai dari masalah akademis (laporan-laporan yang deadlinenya hampir bersamaan), organisasi (MPM dan juklak-juknis PMB) tak luput juga masalah yang ada dalam ladang amal (PKM ku maksudnya). Ahh, berniat ingin memendam semua rasa kecewa dan amarah, karena aku hanya ingin memperlihatkan keceriaan kepada saudaraku. Tapi ternyata aku kalah juga. Maka tumpahlah isakan tangisku di Gd.H lantai 3. maka keluarlah segala ungkapan rasa kecewa. Di pundak seorang kakak, ya kakak yang tentunya halal bagiku.

Sempat terpikir untuk mencurahkan segala keluh kesah ini kepada ‘kakak’ lainnya. Ahh, tapi hati kecilku berontak. Tak pantas memang kalo aku mencurahkan kepada yang bukan tempatnya. Ya, bahkan aku tersadar, apalah artinya sebuah kelegaan jika ternyata membuat Allah murka. Maka aku memutuskan menumpahkannya pada pundak seseorang yang memang seharusnya. Dan setelah melepas segala gundah, hatiku pun tentram. Entah karena kelegaan mengalirkan segala duka atau karena nasihatnya yang telah membuat ku tentram.

Tak boleh lagi memakai persona, maka ungkapkan, jadilah seorang genuine karena kamu hanyalah manusia. Jangan salahkan saudaramu jika mereka tak tahu tentang lukamu akibat perbuatan mereka, maka kau tak bisa menuntut, karena kau tak mengungkapkannya, begitu katanya. Ya, nasihatnya membuat aku sadar. Bahwa tidak seluruh masalah harus dipecahkan dalam diam. Ada saatnya untuk bicara. Maka aku akan diam untuk menetralkan, bukan untuk menghindar. Maka akan  aku ungkapkan setelah aku diam. Ya diam memang emas, tapi tak berguna jika membuat lukamu semakin berkarat. Be genuine, mencoba memakai  I Massage. Yap aku akan mencoba untuk mengkomunikasikan semuanya, semua masalah yang ada dalam sebuah ikatan kebersamaan. Yup, muslim sejati tak selalu harus menyembunyikan luka, karena ia hanya manusia.

 

Special thx buat ke Dewi ‘nenek’ yangkeren yang udah mau meminjamkan pundaknya untukku

Lov u coz Allah…

9 comments:

  1. menulis itu ..............
    seperti atas lah...lega....

    ReplyDelete
  2. Belajar memahami arti saudara aja siy..Mereka ada bukan hanya untuk saat2 bahagia aja kok..Dalam duka pun harus siap sedia..

    ReplyDelete
  3. nangisnya berapa lama put.? ^_^ hehehe

    ReplyDelete
  4. hem... berbahagialah karena masih bisa berbagi kesedihan pada orang lain...

    *tery masih butuh banyak belajar kalo udah menyangkut msalah curhat mencurhat niih! heheheh

    ReplyDelete
  5. ooo kakanya dewi ya..*mencoba menebak kakak lainnya*

    *sadar*

    ga jadi deh...

    hehe

    ReplyDelete