“Huuu...hu…”, bayi dalam gendongannya kembali menangis. Ah, sedari pagi ia memang terus menangis. Sang Ibupun sepertinya kebingungan dan terlihat begitu khawatir. Ia tak tahu apa yang dirasakan anaknya. ‘Allah, jika Engkau berkenan memindahkan rasa sakitnya, maka biarkan aku yang merasakannya, jangan anakku, Allah’, sang ibu membatin dalam hati.
Sangat terlihat jelas dalam raut mukanya. Guratannya menggambarkan kelelahan yang luar biasa. Bayi dalam gendongannya memang sedang sakit. Sudah tiga hari ini sang Ibu terus menerus menggendong bayinya, tanpa lelah, dan tanpa sedikitpun mengeluh.
Matahari telah sepenggalan naik. Ara terbangun, namun ia terkejut karena berada di tempat yang tak ia kenal. Ini bukan kamarku, pikirnya dalam hati. Ara kemudian melangkah menuju pintu kamar yang sedikit terbuka. Kemudian ia mendengar suAra yang memekakkan telinga.
Ahh, suAra bayi yang menangis, sangat menyebalkan, pikirnya dalam hati.
Ara kembali menyusuri rumah itu. Masih mencari asal suAra tangisan bayi. Ara kemudian berhasil menemukannya. Ia kemudian menemukan seorang wanita muda yang tengah berusaha mendiamkan anak dalam gendongannya. Ahh, itu kan ibu, tapi kok lebih muda dan terlihat lebih gemuk ya? Aduh, sebenernya dimana aku ini??
“Ibu…ibu…ini ibu kan? Ibu lagi gendong siapa?”
“Ara sayang, ibu tahu kamu kesakitan, sudah ya sayang, jangan khawatir, ibu ada di sini ko, gak akan kemana-mana…”, sang ibu kembali menenangkan bayinya.
“Cup…cup sayang, tenang ya…”, sang ibu terus mencoba menenangkan bayinya. Ia tak mempedulikan pertanyaan Ara.
Ara kaget, ia makin tak mengerti. Benarkah bayi yang berada dalam gendongan ibu adalah dirinya? Lalu dimanakah ia sekarang berada?
Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Sang ibupun kemudian memutuskan masuk ke dalam sebuah kamar, masih tetap dengan bayi dalam gendongannya.
Ara kemudian mengikutinya. Ahh, meskipun ia tidak mengerti sedang berada di manakah ia? Dan sedang berada di alam apakah ia?
Lelaki itupun kemudian bangkit dari peraduannya. Tapi ia hanya terduduk di tempat tidur, tak beranjak. “emang Aranya rewel?”
“Udah kamu minumin obat belum?”
“Sudah, mas… makannya sekarang ia tertidur”
Sang Ibu hanya menarik nafas… terlihat jelas pada raut mukanya ia nampak kecewa, namun ia tak mau menzalimi suaminya yang mengeluh kelelahan. Maka malam ini sekali lagi ia mengalah untuk tidak tidur demi kenyamanan buah hatinya.
Ara terlihat geram melihat adegan tersebut. Rasanya ia ingin berteriak, memaki sang lelaki yang adalh ayahnya sendiri. Ah, bahkan kau tak mengetahui istrimu jauh lebih lelah dengan semua aktivitas yang ia jalani. Ia mengurusi segala keperluan anak-anakmu. Menyuapinya, memandikannya, bahkan masih tetap menggendong anak lainnya yang sedang sakit. Ahh, tahukah kau bahwa ia masih sempat juga memikirkan akan makan apa kamu malam ini.
Padahal jelas terlihat gurat kelelahan pada wajahnya. Padahal jelas terlihat pada kantung matanya yang membesar akibat tak cukup tidur.
Melihat pemandangan itu, tak terasa air mata Ara keluar. Oh, Ibu… begitu besarnya rasa sayangmu sampai kau rela terjaga demi melihat pulasnya anakmu tertidur. Air mata Ara kemudian mengalir deras, bahkan isakannya semakin keras, memecah keheningan malam hari itu.
Ara perlahan-lahan mencoba membuka matanya. Betapa bahagianya ia melihat wajah ibu di depannya. Dengan serta merta Ara kemudian memeluk ibunya , “Huu..hu, Ibu maafin Ara ya? Maafin kalo tadi Ara udah ngebentak ibu… Ara nyesel Bu. Ara tahu ibu sayang sama Ara, Ibu takut kan penyakit paru-paru Ara kambuh, makannya Ara gak dibolehin naik gunung. Maafin Ara ya Bu?”
“Ara sayang, dari kemarin ibu udah maafin kamu ko! Insya Allah ibu gak pernah dendam. Ibu juga minta maaf karena terlalu mengekang kebebasanmu. Ibu sadar ketakutan Ibu terlalu berlebihan. Ibu Cuma takut kehilangan kamu lagi”
Ara sekarang tak lagi peduli apakah ia diizinkan mendaki gunung atau tidak. Baginya membuat ibunya tidak lagi khawatir jauh lebih penting dibandingkan dengan pengalaman memetik edelwise di puncak gunung yang sudah lama diimpikannya. Sekarang hanya satu tekadnya, berusaha menyenangkan hati ibunya dengan tidak membuatnya khawatir. Karena ia tahu kasih ibu tak pernah dusta, karena ia tahu kasih ibu secantik namanya, Mutiara Azizah.
*kupersembahkan untuk ibuku tercinta
Juga untuk semua ibu yang penuh cinta
Untuk para calon ibu yang sedang memupuk cinta
Dan juga untuk para calon pendamping ibu yang akan membuktikan cinta
_Puti Ayu Setiani_
Subhanallah..
ReplyDeleteCerita yang sangat menggugah..
Jazakumullah Khairan For Sharing..
Subhanallah..
ReplyDeleteCerita yang sangat menggugah..
Jazakumullah Khairan For Sharing..
emang ngga baik metik bunga edelweis puti kecil..biarin dia tumbuh aja
ReplyDeletebeberapa hari lalu seorang tante bilang "ternyata jadi orang tua itu, meskipun punya anak banyak, semuanya disayang, ngga ada yang lebih disayang dari yang lain, semua disayang dengan rasa yang sama, berarti saya dulu udah suudzhon sama ibu saya"
gitu..
eniwei..keep writing..
tulisan yang menang kan ini?
ReplyDeletehiii...puti kecil...nama saya puti ayu tau ka pemi...
ReplyDeleteAlhamdulillah...iya
ReplyDeleteAlhamdulillah...
ReplyDeletehmmm iya sih, tapi dulu di MP kayanya pernah akunnya namanya puti kecil deh..
ReplyDeletelah ko situ bisa memutuskan memanggil saya ka pemi? si ira nih pasti..
hadoh..kaka kita kan pernah kenalan...
ReplyDeletepasti lupa...?!
akunnya sih dulu emang pernah puti kecil...
tapi sekarang udah gak, coz gak mau dianggap anak kecil mulu...
hadoooh juga, kayanya pernah emang, tapi aku ngga inget juga kalo ketemu, maaf ya, anak psiko yang ngeMPi banyak soalnya, yang jadi contact ku juga banyak, tapi yang suka maen ke tempatku cuma beberapa gelintir, makanya jadi ngga deket dan aku jadi lupa yang mana-mana aja orangnya..jadi maaf kalau begitu..
ReplyDeleteberarti ga salah juga kan aku bilang puti kecil, soalnya dirimu duluan yang menyebut begitu..