Thursday, 15 January 2009

Buat Yang Masih Belum Tahu...

Palestina selalu menjadi pentas konflik agama dan politik antara bangsa-bangsa dalam kurun waktu yang lama. Kionflik ini berhenti setelah palestina berada dalam pelukan Islam. Khalifah Umar bin Khatab, masuk ke kota Al-Quds (dahulu bernama Elia) pada tahun 16 H. beliau masuk untuk membuka kota itu dan memberi jaminan keamanan bagi penduduk Al-Quds yang beragama nasrani dan pemeluk agama lainnya. Untuk selanjutnya apa yang dilakukan umar terkenal dengan nama “Deklarasi Umar” yang juga disaksikan oleh beberapa sahabat Rasulullah yang Agung. 

Akan tetapi ternyata konflik kembali berkobar di Palestina. Apalagi penyebabnya kalau bukan bergesernya harmonisasi dari tiga agama langit (Islam, Yahudi, dan Nasrani) yang punya akar sejarah di sana. Negeri ini dan penduduknya, dengan agama dan masa yang berbeda, pernah hidup tenang dan damai dibawah naungan hokum islam dengan kesaksian semua orang sepanjang sejarah. Itulah agama yang menghormati semua agama langit. Tak ada bukti lebih kuat dibandingkan dengan deklarasi Umar terhadap penduduk Elia, pendeta Yahudi, dan Nasrani, yang melindungi jiwa, harta, anak, rumah tinggal, serta tempat ibadah mereka. 

Sebaliknya, penduduk negeri ini mengalami sekian banyak penderitaaan ketika dijajah dan dikuasai oleh kaum Salibis pada akhir abad XI hingga akhir abad XII Masehi. Sejarah membuktikan bahwa darah kaum muslimin yang ditumpahkan kaum salib di Palestina tak terhitung banyaknya. Kemudian Shalahudin Al-Ayyubu, pahlawan Muslim yang unik ini mampu membebaskan Al-Aqsa untuk kedua kalinya dan mengembalikan Al-Aqsa dalam naungan keamanan dan kedamaian dibawah pangkuan Islam dan kaum muslimin.

Hari dan tahun mulai bergulir. Mendung penjajahan kembai menerpa langit Palestina setelah perang dunia I tahun 1914-1918. Inggris dan sekutunya menjadi pemenang dan Daulah Utsmaniah merugi dan hancur. Palestina jatuh dalam penjajahan Inggris. Komandan perang Inggris, Admond Alanbe masuk Palestina tahun 1918. Dan sejarah mencatat, ketika komandan ini masuk kota Al-Quds, ia mengatakan “Hari ini perang Salin telah Usai”.

Seperti lazimnya sebuah kolonialisme, penjajahan Inggris di Palestina menyebabkan kerusukan di bumi serta bagi manusia yang menghuninya. Kejahatan dan kezaliman Nampak ketika Inggris memberikan janji kepada Yahudi untuk mendirikan sebuah Negara nasional di Palestina. Janji tersebut dikenal dengan nama janji Balfour pada tanggal 2 september 1917 yang lebih tepat disebut “orang yang tidak memiliki (apa-apa), memberikan sesuatu kepada yang tidak berhak. 

Mulailah eksodus Yahudi besar-besaran ke Palestina dari penjuru eropa berkat kemudahan yang diberikan oleh koloni Inggris. Tidak berhenti di sini, Inggris bahkan mulai memberikan kucuran dana, materi, senjata, dan memberikan latihan militer kepada Yahudi. Jumlah Yahudi pun kian bertambah dan mengancam penduduk Palestina . Pengaruh mereka semakin kuat di bawah perlindungan koloni Inggris. 

Ketika benar-benar yakin Yahudi telah kuat, terlatih, melindungi diri, dan mendirikan sebuah Negara, Inggris mengumumkan meninggalkan Palestina dan membiarkan penduduknya menentukan nasib mereka sendiri. Langkah jahat Inggris memuluskan jalan bagi Yahudi untuk memproklamirkan berdirinya Negara Israel di sore hari, di hari yang sama saat Inggris menarik diri meninggalkan Palestina pada tanggal 15 Mei 1948.

Lalu David Ben Gurion memproklamirkan berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, dan sekaligus ia menjadi perdana menteri pertama Israel. Sepuluh detik usai proklamasi itu, Uni Soviet dan Amerika Serikat mengakui secara sah Negara tersebut. Hal ini menegaskan bahwa da konspirasi penjajahan terhadap rakyat Palestina yang tidak berdaya.

Negara Israel telah berdiri, maka dimulailah kezaliman yahudi setelah sebelumnya kezaliman kaum salibis Inggris. Israel mulai menyembelih kaum laki-laki, perempuan, seta anak-anak yang terkucilkan. Mereka diteror dan diusir dari rumah mereka, seperti yang terjadi di Der Yasin, Al-Quds, Haifa, Qabiah, Aka, dan di kota atau desa lainnya si pelosok Palestina. 
Rakyat Palestina yang terlucuti senjata dan perbekalan (kecuali senjata keimanan dan keyakinan akan kemenangan keadilan) terpaksa harus melakukan perlawanan sendiri dengan “tubuhnya yang telanjang” dan batu-batu yang menjadi senjata paling kuat bagi mereka. Tak ada yang punya senjata api, kecuali sangat sedikit.

Pada tanggal 8 desember, meletuslah intifadhoh I tang menjadi awal percikan api yang membakar kolonialisme. Inti gerakan Intifadhoh ini adalah rakyat palestina mempunyai hak untuk membela diri, tanah air, dan kehormatannya yang sudah terpenjara di bawah kaki najis musuhnya.

Maka intifadoh bergulir dengan massif dan meluas. Yang pertama kali menggulirkannya adalah sekelompok tokoh yang dikenal public Palestina sebagai orang yang tulus dan cinta terhadap Negara dan agamanya. Sepekan usai Launching gerakan Intifadhoh, mereka mengeluarkan siaran pernyataan pertama Intifadhoh pada tanggal 15 Desember 1987. Di dalamnya mereka mengajak rakyat Palestina untuk bersabar, bersabar menghadapi musuh, bersatu dan melakukan jihad. Bersamaan dengan itu, mereka mengumumkan berdirinya gerakan Perlawanan Islam (Hamas) yang menjadi pioneer Intifadhoh ini bersama dengan faksi-faksi perlawanan lainnya.

Ya, sampai saat ini kita dapat melihat bahwa perjuangan Hamas tak pernah mengenal kata henti. Bahkan dengan dalih melenyapkan Hamas, Israel yang frustasi karena selama lebih dari 60 tahun tak bisa melenyapkan warga Palestina) melakukan serangan yang membabi buta. Menembaki anak-anak dan wanita, agar kelak tak akan ada penerus yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina.


(diambil dari Biografi Abdul Aziz Al-Rantisi oleh Center for Midle East Study)


No comments:

Post a Comment