Palestina selalu menjadi pentas konflik agama dan politik antara bangsa-bangsa dalam kurun waktu yang lama. Kionflik ini berhenti setelah palestina berada dalam pelukan Islam. Khalifah Umar bin Khatab, masuk ke kota Al-Quds (dahulu bernama Elia) pada tahun 16 H. beliau masuk untuk membuka kota itu dan memberi jaminan keamanan bagi penduduk Al-Quds yang beragama nasrani dan pemeluk agama lainnya. Untuk selanjutnya apa yang dilakukan umar terkenal dengan nama “Deklarasi Umar” yang juga disaksikan oleh beberapa sahabat Rasulullah yang Agung.
Akan tetapi ternyata konflik kembali berkobar di Palestina. Apalagi penyebabnya kalau bukan bergesernya harmonisasi dari tiga agama langit (Islam, Yahudi, dan Nasrani) yang punya akar sejarah di sana. Negeri ini dan penduduknya, dengan agama dan masa yang berbeda, pernah hidup tenang dan damai dibawah naungan hokum islam dengan kesaksian semua orang sepanjang sejarah. Itulah agama yang menghormati semua agama langit. Tak ada bukti lebih kuat dibandingkan dengan deklarasi Umar terhadap penduduk Elia, pendeta Yahudi, dan Nasrani, yang melindungi jiwa, harta, anak, rumah tinggal, serta tempat ibadah mereka.
Hari dan tahun mulai bergulir. Mendung penjajahan kembai menerpa langit Palestina setelah perang dunia I tahun 1914-1918. Inggris dan sekutunya menjadi pemenang dan Daulah Utsmaniah merugi dan hancur. Palestina jatuh dalam penjajahan Inggris. Komandan perang Inggris, Admond Alanbe masuk Palestina tahun 1918. Dan sejarah mencatat, ketika komandan ini masuk kota Al-Quds, ia mengatakan “Hari ini perang Salin telah Usai”.
Mulailah eksodus Yahudi besar-besaran ke Palestina dari penjuru eropa berkat kemudahan yang diberikan oleh koloni Inggris. Tidak berhenti di sini, Inggris bahkan mulai memberikan kucuran dana, materi, senjata, dan memberikan latihan militer kepada Yahudi. Jumlah Yahudi pun kian bertambah dan mengancam penduduk Palestina . Pengaruh mereka semakin kuat di bawah perlindungan koloni Inggris.
Lalu David Ben Gurion memproklamirkan berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, dan sekaligus ia menjadi perdana menteri pertama Israel. Sepuluh detik usai proklamasi itu, Uni Soviet dan Amerika Serikat mengakui secara sah Negara tersebut. Hal ini menegaskan bahwa da konspirasi penjajahan terhadap rakyat Palestina yang tidak berdaya.
Rakyat Palestina yang terlucuti senjata dan perbekalan (kecuali senjata keimanan dan keyakinan akan kemenangan keadilan) terpaksa harus melakukan perlawanan sendiri dengan “tubuhnya yang telanjang” dan batu-batu yang menjadi senjata paling kuat bagi mereka. Tak ada yang punya senjata api, kecuali sangat sedikit.
Pada tanggal 8 desember, meletuslah intifadhoh I tang menjadi awal percikan api yang membakar kolonialisme. Inti gerakan Intifadhoh ini adalah rakyat palestina mempunyai hak untuk membela diri, tanah air, dan kehormatannya yang sudah terpenjara di bawah kaki najis musuhnya.
Ya, sampai saat ini kita dapat melihat bahwa perjuangan Hamas tak pernah mengenal kata henti. Bahkan dengan dalih melenyapkan Hamas, Israel yang frustasi karena selama lebih dari 60 tahun tak bisa melenyapkan warga Palestina) melakukan serangan yang membabi buta. Menembaki anak-anak dan wanita, agar kelak tak akan ada penerus yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
(diambil dari Biografi Abdul Aziz Al-Rantisi oleh Center for Midle East Study)
No comments:
Post a Comment